Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Aku pergi


__ADS_3

Hari ini, Marya sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Kanzo yang terlebih dahulu turun dari mobil yang mengantar mereka, membantu Marya keluar dari dalam mobil. Belum sempat Marya melangkahkan kakinya, tiba tiba seorang wanita memeluk tubuhnya dan menangis.


"Maafin Mama sayang, Mama tidak ada saat kamu melahirkan cucu Mama" ucap Ibu Liana. Jelas wanita yang tak lagi muda itu bertambah sedih, mendengar kabar cucunya yang baru lahir meninggal.


Marya terdiam mematung di pelukan wanita itu. Ia tidak menyangka, keluarga Kanzo akan datang. Meski kecewa dengan Kanzo, jujur, Marya juga terharu dengan kebaikan Ibu Liana terhadapnya. Ibu mertuanya itu, terlihat tulus menerimanya meski dia berasal dari keluarga sederhana.


"Gak apa apa Ma, Mama juga kan harus menjaga Ezio di rumah sakit" balas Marya.


Situasi memang membuat mereka sulit. Mungkin sudah takdirnya seperti itu, dia harus berjuang sendiri melahirkan anaknya. Seandainya Kanzo mengangkat telephon nya saat itu, tidak mungkin juga Kanzo harus langsung berbalik arah, sedangkan saat itu Ezio sedang meninggal. Tapi yang Marya kecewakan, setidaknya Kanzo mengabarinya. Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu. Baik atau buruknya, semua terjadi atas kehendak Tuhan.


Ibu Liana melepas pelukannya dari tubuh Marya, lalu membelai wajah wanita itu, menatapnya sedih dan iba.


"Kamu yang sabar ya, sayang. Semoga nanti kalian cepat mendapat gantinya" ucap Wanita itu, sambil melap cairan bening yang keluar dari sudut mata Marya.


Marya menganggukkan kepalanya, mencoba untuk tabah dan ikhlas dalam menerima cobaan yang di berikan Tuhan untuknya.


"Anak pertama kami juga meninggal saat baru lahir. Anak kedua kami meninggal, setelah dewasa" desah Pak Bagus yang berdiri di belakang Ibu Liana. Mata pria tua itu nampak berkaca kaca, mengingatkannya ke masa lalu.


Marya dan yang lainnya pun mengarahkan pandangan mereka ke arah Pak Bagus.


Pak Bagus pun melangkahkan kakinya mendekati Marya. Lalu mengangkat satu tangannya mengusap ujung kepala menantunya itu.


"Maafkan Papa, Maafkan anak Papa, Nak. Papa yang gagal mendidiknya menjadi suami yang bertanggung jawab" ucap Pria tua itu.


Marya menggelengkan kepalanya, Pria tua itu tidak bersalah. Yang salah adalah anaknya yang menikahinya secara diam diam, dan tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami.


"Pantas saja Kanzo menyukaimu, Nak. Kamu adalah wanita yang baik, kuat dan sabar. Setelah ini, semoga Tuhan memudahkan jalan hidupmu, dan memberimu kebahagiaan dari segala arah" ucap Pak Bagus.

__ADS_1


Marya semakin menangis terisak, sangking terharunya.


"Papa membuat istriku semakin menangis" tegur Kanzo, menarik Marya ke dalam pelukannya, lalu menuntun wanita itu untuk masuk ke dalam rumah. Di ikuti Ibu Liana, Pak Bagus, Ibu Hayati dan Adi yang menggendong Areta yang terus menempelnya dari tadi.


**


Waktu pun berlalu


Kini kesehatan Marya sudah berangsur pulih. Meski wajahnya masih terlihat sedih karena kehilangan anaknya yang baru lahir, tapi Marya sudah beraktifitas kembali sekedar mengunjungi perkebunan cabe nya.


Sedangkan Kanzo, selama dua Bulan ini, ia memutuskan untuk tinggal di kampung untuk mengurus Marya, sesekali ia kembali ke kota jika ada pertemuan penting saja.


"Sayang!" panggil Kanzo tersenyum, dia baru pulang dari kota dan langsung menemui Marya ke kebun.


Marya yang duduk termenung di saung yang berada di pinggir kebun, refleks menoleh ke arah Kanzo yang mendekatinya. Wajahnya nampak datar tanpa ekspresi.


"Aku sudah sehat, aku rasa sudah waktunya kita membicarakan hubungan kita Pak Kanzo" ucap Marya tanpa melihat pria itu.


Senyum Kanzo langsung saja memudar. Selama dua Bulan ini, Kanzo rasa hubungan mereka baik baik saja. Kanzo pikir, Marya sudah menerimanya, karna Marya tidak pernah mengatakan apa pun, dan tidak menolak ketika Kanzo mengurusnya. Dan bahkan selama dua Bulan ini mereka tidur di ranjang yang sama, meski tidak melakukan hubungan suami istri.


"Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, Aku butuh waktu untuk sendiri, aku perlu menata hati ini, tanpa ada Pak Kanzo."


Kanzo terdiam menatap dalam manik mata indah wanita itu. Mencari ke jujuran, apakah wanita itu serius. Mencari apakah sudah tidak ada cinta di mata wanita itu untuknya.


"Secara ekonomi, kehidupanku memang jauh lebih baik, berkat uang yang di berikan Pak Kanzo sama aku. Tapi, bersamaan dengan itu, penderitaan itu juga sangat menyakitkan atas sikap Pak Kanzo. Aku ingin memulai hidup baru, Pak" ucap Marya lagi.


Kanzo menarik napasnya dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Ternyata luka hati wanita itu sudah terlalu menganga, sehingga sulit di sembuhkan.

__ADS_1


"Apa memang sedikit pun cinta itu sudah tidak ada untukku, Marya?." Kanzo menelan air ludahnya dengan susah, karena ada yang mengganjal di tenggorokannya. Ia sadar, sudah melakukan kesalahan, justru itu Kanzo ingin memperbaiki kesalahannya.


Marya tersenyum getir, cintanya untuk pria itu sepertinya sulit untuk di hilangkan. Tapi jika mencintai pria itu menjadi sebuah derita, untuk apa?.


"Pasti ada, tapi aku butuh waktu untuk sendiri, untuk mengobati rasa sakit di hati ini" jawab Marya.


Kanzo menarik napasnya dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.


"Kalau memang kamu hanya butuh waktu, baiklah. Aku akan memberikan waktu itu untukmu" pasrah Kanzo. Tak terasa air matanya pun menetes sama seperti Marya. Ia sudah banyak membuat wanita itu menderita. Baiklah, biarlah saat ini ia melepas wanita itu, jika itu yang membuat Marya bisa hidup bahagia. Jika memang mereka masih ada rezeki berjodoh, pasti Marya akan menjadi miliknya kembali.


Kanzo pun mengangkat kedua tangannya, membingkai wajah cantik istrinya itu. Wanita pertama yang mencintainya. Dimana Kanzo pertama kali merasa di cintai. Tapi keadaan membuatnya harus mengabaikan wanita itu.


"Asal kamu bahagia, aku rela melepasmu, sayang" ucap Kanzo lirih dengan air mata mengalir deras dari sudut matanya." Tapi berjanjilah untuk tetap bahagia. Jangan pernah lagi aku melihat air mata kesedihan ini" ucap Kanzo lagi, menghapus air mata yang mengalir di pipi Marya." Jangan sia siakan pengorbananku melepasmu. Karna ini tidak mudah bagiku. Jika suatu saat kamu mengalami masalah atau ke sulitan, jangan sungkan meminta bantuan ku. Aku sangat mencintaimu, Marya. Semoga setelah ini kamu menemukan kebahagiaan."


Kanzo pun mengecup lama kening Marya dengan penuh perasaan. Bukan maksud Kanzo ingin menyerah, atau tidak mencintai wanita itu lagi. Tapi jika Marya tidak bahagia bersamanya, lebih baik Kanzo melepasnya.


Kanzo melepasnya, tapi ingat, bukan berarti Kanzo tidak akan berjuang mendapatkan wanita itu lagi.


"Aku pergi" pamit Kanzo setelah melepas kecupannya, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang Marya.


Marya yang di tinggalkan, terus menatap punggung Kanzo dari belakang, sampai bayangan pria itu menghilang di kejauhan.


Sampai di rumah, Kanzo mengemasi barang barangnya. Dia hanya membawa yang perlu di bawa saja. Setelah selesai, Kanzo berpamitan kepada Ibu Hayati yang sedang sibuk memasak.


"Bu, aku pergi, aku titip Marya ya Bu" ucap Kanzo menyalam Ibu Hayati.


Ibu Hayati yang sudah mengetahui keputusan Marya, tersenyum getir, lalu mengusap punggung tangan pria yang masih berada di genggamannya itu. Pria itu sudah menunjukkan kalau dia akan memperbaiki semua kesalahannya. Tapi itu tidak berhasil membuat luka di hati Marya sembuh. Sehingga putrinya itu memutuskan untuk tetap berpisah dari Kanzo.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2