Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Ayah gak ridho


__ADS_3

Marya menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa ia memaafkan Pak Maiman dengan mudah. Setelah pria paru baya itu menelantarkannya bersama Ibu dan Adiknya bertahun tahun dan membuatnya terlilit hutang.


"Setelah Ayah menelantarkan aku, Ibu dan Adi?."


"Ayah sudah gak main judi lagi" ucap Pak Maiman. Berhasil membuat Marya mengeraskan rahangnya.


"Itu bukan urusan Marya, Ayah!. Terserah Ayah mau ngapain!. Tapi Marya gak akan maafin Ayah!" teriak Marya tiba tiba. Anak mana yang tidak sakit hati dan kecewa, memiliki Ayah yang tidak bertanggung jawab. Dan malah membebankan utangnya kepada anak sendiri. Bukan itu saja, Pak Maiman juga telah menikahkan Marya dengan pria yang memeluk putrinya itu, dengan imbalan di beri uang yang banyak. Apa itu gak menjual anak sendiri namanya?.


"Tapi Ayah sudah berubah" Pak Maiman menatap teduh putrinya itu. Dia sudah berubah, itu semua berkat Kanzo yang memberinya tugas menjaga Areta dari kejauhan.


"Terserah Ayah!" Marya menangis terisak.


"Sayang!" tegur Kanzo, memang sengaja membawa Marya ikut untuk menjemput Areta ke tempat itu. Sudah waktunya Marya mengetahui dimana Ayahnya, dan memperbaiki hubungan antara anak dan Ayah itu. Apa lagi sebentar lagi mereka akan menikah kembali. Mereka harus mendapat ijin dan restu pria itu, dan pria itulah nanti yang akan menikahkan mereka.


"Bawa aku dari sini, jangan pernah membawa aku bertemu dengannya lagi" ucap Marya dalam Isak tangisnya.


"Sebenarnya Ayah menggadaikan rumah Ibumu, buka untuk membayar hutang judi Ayah. Ya....meski Ayah suka main judi" jelas Pak Maiman, berharap Marya memaafkannya." Ayah menggadaikannya untuk membuka usaha bersama teman Ayah. Tapi teman Ayah itu menipu Ayah, dia melarikan semua uang Ayah."


"Kemudian Ayah kabur, dan bahkan tega menikahkan Marya dengan pria beristri!" lanjut Marya, gemas.


Pak Maiman menundukkan kepalanya.


"Dari pada kamu menikah dengan rentenir itu, Ayah gak ridho lah" ucap Pak Maiman lagi. Dulu sebelum Marya berhasil melunasi utang Pak Maiman, rentenir tempatnya menggadaikan surat rumah sempat meminta Marya sebagai tebusannya. Tapi untung Kanzo datang menemuinya, meminta Pak Maiman untuk memberi ijin menikahi Marya. Kanzo memberinya uang yang banyak.


"Ayaaaah!" geram Marya.


Dari dulu sifat Ayahnya itu memang tengil, selalu menganggap remeh semua masalah. Dan lebih memikirkan diri sendiri dari pada keluarga. Pak Maiman juga dulu pemalas, kalau bekerja tidak mau capek. Sehingga Ibu Hayati lah yang mati matian mencukupi kehidupan keluarga mereka.

__ADS_1


"Rentenir itu sudah tua, udah itu hitam, jelek lagi. Lebih baik Ayah menikahkan mu dengan Pak Kanzo" ujar Pak Maiman lagi merasa keputusannya itu adalah keputusan yang tepat.


Marya yang tidak tau harus berbicara lagi, mengembang kempeskan dadanya, berusaha menahan emosinya supaya tidak meluap. Berdosa gak ya, kalau marah besar sama orang tua?


"Pak Kanzo bawa aku dari sini." Marya memegangi kepalanya yang mendadak sakit dan pusing.


"Sebentar sayang, aku mengambil Areta dari dalam rumah dulu." Kanzo menuntun Marya masuk kembali ke dalam mobil, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke rumah sederhana itu, mengangkat tubuh Areta yang masih tidur dari atas kasur yang berada di dalam kamar.


"Kalau begitu, kami pulang dulu, Yah" pamit Kanzo, membawa Areta di gendongannya, keluar dari dalam rumah.


"Ya, kalian hati hati, sampaikan permintaan maaf ku buat Marya" ucap Pak Maiman yang dari tadi terus menatap Marya putrinya yang menangis di dalam mobil.


"Iya Yah" patuh Kanzo.


Bersyukurnya Pak Maiman mendapat menantu seperti Kanzo. Sudah tampan, ganteng, matang, kaya lagi. Putri cantiknya itu memang pantas mendapatkan pria seperti Kanzo.


Sampai di rumah, Marya langsung melongos keluar dari dalam mobil setelah Kanzo mengambil Areta dari atas pangkuannya. Setelah masuk ke dalam rumah, Marya berjalan cepat menaiki anak tangga rumah itu dan masuk ke dalam kamar yang di tempati nya, menangis di atas kasur.


Tak lama kemudian Kanzo menyusul masuk setelah memberikan Areta kepada pengasuhnya. Kanzo mengusap kepala Marya dengan lembut, mengerti dengan perasaan wanita itu.


"Aku memang melakukan cara yang salah untuk mendapatkanmu. Tapi sedikit pun tidak ada pikiranku menganggapmu wanita penebus hutang. Justru aku sangat kagum melihatmu yang begitu berbakti kepada orang tua. Bahkan aku tidak memiliki kesempatan untuk melakukan apa yang pernah kamu lakukan kepada keluargamu, rela berkorban demi keluarga. Dari situ aku menilai kamu adalah wanita yang baik, penuh dengan kasih sayang. Aku semakin yakin dengan keputusanku untuk menjadikanmu istri, menjadikanmu Ibu dari anak anakku. Aku jatuh cinta padamu Marya" ucap Kanzo begitu sejuk ke telinga Marya.


Marya yang duduk di atas kasur, tiba tiba menghamburkan tubuhnya memeluk tubuh Kanzo. refleks Kanzo membalas pelukan wanita itu dan mengecup ujung kepalanya. Kanzo mengulas senyumnya, melihat Marya sudah mulai menunjukkan ekspresinya.


"Dari dulu Ayah selalu menyusahkan Ibu. Bukannya bertanggung jawab, malah menjadi beban buat Ibu. Ayah itu pemalas, sekali bekerja dapat duit, langsung di judikan. Ayah dulu pernah mengambil uang celenganku, di buatnya modal berjudi. Aku gak yakin, Ayah itu sudah berubah. Dia pasti sudah menjadikan uang yang Pak Kanzo berikan. Aku juga gak percaya kalau uang hasil gadai rumah di larikan temannya, uang itu pasti habis di judikannya" oceh Marya di dalam pelukan Kanzo.


Sepertinya wanita itu butuh tempat untuk mencurahkan kegundahannya selama ini. Beban pikirannya tentang Ayahnya yang suka berjudi.

__ADS_1


"Tapi sekarang dia tidak bisa lagi berbuat sesuka hatinya sama kalian. Aku sudah menyuruh orang mengawasinya. Jangan terlalu di pikirkan lagi, semua masa lalu itu sudah lewat. Lebih baik kita berbenah untuk merajut masa depan kita bersama anak anak kita kelak." Kanzo menghapus air mata wanita di pelukannya itu dengan jari tangannya, lalu mengecup bibir Marya sekilas.


**


Marya yang dari tadi sibuk dengan berkas dan laptop di mejanya, tiba tiba merasa kepalanya sedikit pusing. Marya pun meraih botol minum dari dalam laci mejanya dan langsung meminumnya. Sepertinya ia sudah kelelahan karna terlalu memburu meyelesaikan pekerjaannya sebelum hari pernikahannya dengan Kanzo. Karna harinya di majukan, membuat Marya terpaksa membereskan sebagian pekerjaannya, supaya nanti setelah pekerjaannya tidak menumpuk.


Selain pusing, Marya juga merasa ngantuk, wajar saja, tiga hari ini ia lembur sampai hampir larut malam.


Tok tok tok !


"Masuk!" sahut Marya yang berada di ruang kerjanya.


Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka dari luar, menampakkan Anita sekretaris Baim masuk dengan membawa berkas di tangannya.


"Bu! ini ada berkas yang perlu di tanda tangani" ucap Anita meletakkan berkas di tangannya di atas meja kerja Marya.


"Buru buru ya?, soalnya kepalaku lagi pusing" tanya Marya meraih berkas itu dari atas meja.


"Iya Bu, soalnya ini sudah pertengahan Bulan, Sebentar lagi karyawan harus sudah gajian" jawab Anita.


Marya pun membaca berkas itu, kemudian menanda tangani berkas berkasnya sambil memijit pelipisnya.


"Trimakasih Bu!" ucap Anita tersenyum ramah.


"Sama sama" balas Marya tidak kalah ramahnya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2