Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Siapa namanya


__ADS_3

Selesai makan siang di restoran yang berada di depan gedung perusahaan. Kanzo, Marya dan Widuri sama sama kembali ke perusahaan. Saat masuk ke dalam ruang loby perusahaan, di sana mereka melihat Haris berjalan berjalan bergandengan tangan dengan Cici.


"Pak Haris!" panggil Marya.


Haris dan Cici langsung menoleh ke arah Marya, Kanzo dan Widuri yang baru masuk.


"Iya, Nona. Ada apa?" tanya Haris.


"Kalau kamu gak bisa adil, ceraikan Widuri." Marya berbicara dengan merapatkan gigi giginya.


"Sayang" tegur Kanzo, tak ingin Marya ikut campur urusan rumah tangga Haris.


"Widuri lagi hamil" jawab Haris dengan ekspresi wajah santai seolah tidak ada beban di pikirannya.


"Tapi Pak Haris, lebih banyak menghabiskan waktu bersama Cici. Di perusahaan setiap hari kalian bersama. Sedang giliran Widuri hanya tiga malam dalam satu Minggu" ucap Marya lagi, kasihan melihat sahabatnya itu di perlakukan tidak adil.


"Marya, udahlah. Aku juga gak butuh keadilan dari dia." Widuri melangkahkan kakinya ke arah meja resepsionis di ruangan itu, dan langsung mendudukkan tubuhnya di sana.


"Nona dengar sendiri kan, kalau dia tidak membutuhkan Haris" ujar Cici yang tidak melepas lengan Haris dari tadi. Cici pun menarik Haris yang memperhatikan Widuri, meninggalkan ruangan itu.


"Emang dasar laki laki" geram Marya, berbicara sambil memegang pinggangnya, dan dadanya pun naik turun menahan emosi.


"Sayang, jangan emosi seperti itu. Gak bagus untuk kesehatan bayi kita. Ayo kita masuk ke ruang kita." Kanzo pun membawa Marya masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai teratas gedung itu.


"Kok bisa bisanya aku senasib dengan Widuri. Seolah olah bekerja di perusahaan ini adalah pembawa sial" gerutu Marya, jika mengingat masa sulit dulu, sepertinya Marya masih tidak terima.


'Sabar sabar sabar.' Kanzo mengusap dadanya untuk menabahkan hatinya menghadapi istrinya yang suka marah marah sejak hamil.


Setelah pintu lif itu terbuka, Marya melangkahkan kakinya keluar dari dalam lif, dan langsung di ikuti Kanzo dari belakang.


"Awu!"


Marya mengeluh tiba tiba sambil memegangi perutnya.


"Kenapa sayang?" tanya Kanzo kawatir, dan langsung memegangi sebelah lengan Marya sambil mengelus perut besar istrinya itu.


Marya yang masih merasa perutnya sakit, tidak menjawab. Ia sibuk menarik napas dan menghembuskannya kasar dari mulut.


Melihat itu, Kanzo langsung mengangkat tubuh istrinya itu, membawanya masuk ke ruangannya, dan mendudukkannya di sofa.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Kanzo. Bulan ini memang sudah waktunya Marya melahirkan, tapi Kata Dokter masih ada sekitar dua Minggu lagi.


"Tadi bayinya menendang kuat" jawab Marya mengulas senyumnya, setelah rasa sakit di perutnya hilang.


"Apa dia sudah mau lahir?." Kanzo juga mengulas senyumnya, tak sabaran menanti lahirnya buah hati mereka itu. Meski bukan anak pertama, tapi tetap saja Kanzo sangat penasaran dengan bayi mereka itu.


"Sepertinya begitu" jawab Marya.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit aja ya. Membuat jadwal operasi" ucap Kanzo. Mengingat Bayi pertama yang di lahirkan Marya. Mereka pun sepakat, jika Marya melahirkan secara Cesar, untuk menghindari resiko yang tak di inginkan.


Marya mengangguk setuju.


"Sebentar" ucap Kanzo lantas berdiri melangkah ke arah meja kerjanya untuk membereskan sedikit pekerjaannya yang belum selesai, dan merapikan meja kerjanya. Hanya sebentar, lima belas menit sudah selesai.


"Sayang" ringis Marya merasakan perutnya tambah sakit lagi.


"Iya, kita berangkat." Kanzo yang sudah selesai membereskan mejanya, bergegas mendekati Marya, membantu wanita itu berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan keluar dari ruangan itu, masuk ke dalam lif untuk turun ke lantai bawah.


"Marya!" tegur Widuri dari meja kerjanya, melihat Marya di tuntun berjalan sambil meringis.


"Sepertinya dia sudah akan melahirkan" ujar Kanzo, karena sepertinya istrinya itu terlalu pokus menikmati sakit di perutnya.


"Wid, bilang sama Cici, untuk menjadwal ulang pekerjaanku" perintah Kanzo. Sepertinya Kanzo akan meliburkan diri untuk beberapa hari ke depan, karena akan sibuk mengurus Marya yang melahirkan.


"Baik, Pak!" patuh Widuri, lalu menghela napasnya. Widuri malas jika harus menemui Cici.


Sampai di parkiran, setelah membatu Marya masuk ke dalam mobil. Kanzo langsung menyusul masuk dan melajukan mobilnya dengan perlahan menuju rumah sakit.


"Aku takut" ucap Marya meneduhkan pandangannya ke arah Kanzo yang sibuk menyetir.


Kanzo yang mendengarnya, langsung meraih tubuh Marya untuk bersandar di dadanya. Lalu Kanzo mengecup ujung kepala wanita itu dengan dalam. Jika di tanya, Kanzo lebih takut lagi, takut terjadi apa apa pada anak dan istrinya itu. Tapi Kanzo tetap harus tenang, supaya bisa memberikan ketenangan kepada Marya.


"Tenanglah, tidak akan terjadi apa apa. Aku akan menemanimu berjuang" balas Kanzo setelah melepas kecupannya dari ujung kepala Marya.


"Aku takut, kalau aku tidak berhasil melahirkan bayi kita dengan selamat" ucap Marya lagi dengan mata berkaca kaca. Ingatannya berputar ke masa tiga Tahun yang lalu saat melahirkan bayi pertama mereka.


"Kali ini, aku yakin kamu pasti bisa. Jangan terlalu memikirkannya. Kamu dan bayi kita pasti baik baik aja." Kanzo mencoba menenangkan hati istrinya yang sedang gelish itu.


Sampai di rumah sakit, Kanzo langsung membawa Marya ke ruang Dokter kandungan, untuk di periksa. Semenjak Marya di baringkan di atas brankar periksa, Kanzo tidak pernah melepas genggamannya dari tangan Marya. Pria itu pun terus menerus mengecup punggung tangan Marya dan keningnya.

__ADS_1


"Pak, apa gak sebaiknya melahirkan normal aja?, ini udah pembukaan empat loh" tanya Dokter yang memeriksa jalan lahirnya.


"Cesar aja Dok" jawab Kanzo cepat, tak ingin istrinya itu merasakan berjuang mati matian melahirkan bayi mereka.


"Kalau begitu silahkan urus surat persetujuannya" ujar Dokter itu.


"Sayang, aku tinggal dulu" pamit Kanzo. Namun Marya menggelengkan kepalanya, ia tidak mau Kanzo meninggalkannya walau hanya sedetik pun."Sebentar aja, sayang." Kanzo mengusap usap lembut kepala Marya, membujuk wanita itu supaya mengijinkannya pergi sebentar.


"Gak mau."


Melihat wajah ketakutan Marya, Kanzo menjadi tidak tega untuk tidak menuruti permintaan wanita itu. Sehingga Kanzo meminta tolong perawat di ruanga itu, untuk mengurus administrasinya.


Akhirnya, tiba saatnya Marya memasuki ruang operasi. Kanzo dengan setia menemaninya sampai bayi mereka lahir dengan selamat.


Oe oe oe oe...!


"Sayang, bayi kita susah lahir" ucap Kanzo, mengecup kening Marya, terharu sampai meneteskan air matanya.


Marya mengangguk anggukkan kepalanya, menangis tidak kalah terharunya dari Kanzo.


"Trimakasih ya" ucap Kanzo lagi, dan mengecup kembali kening istrinya itu, lalu menghapus air mata wanita yang baru melahirkan buah cinta mereka itu.


"Bayi nya laki laki ya Pak!" seru Dokter yang melakukan operasi Cesar untuk mengangkat bayi mereka dari perut Marya.


Kemudian seorang perawat wanita, pun datang membawa bayi yang sudah di bersihkan, memberikannya kepada Kanzo.


"Ya Tuhan!" gumam Kanzo penuh rasa sukur melihat bayi laki laki di dekapannya itu. Setelah mengecup kening bayi itu, Kanzo pun mengumandangkan takbir di telinga bayi itu, kemudian mendekatkannya kepada Marya, supaya Marya bisa melihat dan mengecup bayi yang baru di lahirkannya itu.


"Dia sangat mirip denganmu" ucap Kanzo merekahkan senyumnya.


Bayi laki laki yang baru lahir itu, memang sangat mirip dengan Ibunya. Kanzo hanya kebagian bibirnya saja.


"Siapa namanya?" tanya Marya.


"Pak, tunggu istrinya di ruang perawatan ya!. Kami harus menjahit robekan di perut istri Bapak dulu" seru seorang Dokter, sebelum Kanzo sempat menjawab pertanyaa Marya.


Tamat


#Trimakasih

__ADS_1


__ADS_2