
Marya yang sibuk berkutat dengan berkas dan laptop di mejanya, sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Setengah jam lagi meeting akan segera di mulai, Marya belum siap mempelajari materi yang akan di bawakan ya nanti.
Marya menggigit bibir bawahnya untuk mengusir rasa gugupnya. Ini meeting pertamanya saat memasuki Dunia bisnis.
'Kamu bisa Marya' batin Marya menyemangati dirinya.
Tok tok tok!
Refleks Marya mengarahkan pandangannya ke arah pintu, lalu mengulas senyum ke arah Baim yang baru masuk.
"Santai saja" ucap Baim melihat Marya tersenyum kaku.
"Jujur aku sangat gugup, rasanya aku belum sanggup memegang posisi ini" ucap Marya.
Sebenarnya Marya melamar ke perusahaan itu untuk menjadi manager. Tapi Malah Baim menempatkannya di posisi yang lebih tinggi. Baim memintanya untuk menjadi Asistennya, karna karena Asistennya yang lama di pindah tugas dan naik jabatan.
"Percayalah, kamu pasti bisa. Nanti aku pasti akan membantumu." Baim mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di depan meja Marya.
"Entahlah, ini pengalaman pertamaku bekerja di posisi yang tinggi seperti ini" desah Marya.
"Mengurus perusahaan seperti ini tidak jauh beda dengan mengurus kebun cabe mu" ujar Baim tersenyum.
"Tapi di sini aku harus berhadapan dengan orang orang yang sangat berpengalaman. Sedangkan aku di sini masih baru, belum ada apa apanya."
"Tapi setelah meeting nanti, percaya saja, mental mu akan semakin kuat menghadapi orang orang. Awalnya saja yang terasa sulit, nanti kamu akan terbiasa."
"Semoga saja seperti itu. Tapi tolong, kalau nanti aku gagal, turunkan aku dari posisi ini."
"Lihat nanti saja."
Obrolan Marya dan Baim pun terus berlanjut, sampai jam meeting akan segera di mulai. Marya dan Baim pun sama sama keluar dan masuk ke ruangan meeting. Di sana ternyata sudah banyak orang, yang terdiri dari pengusaha pengusaha yang saling bekerja sama.
"Selamat pagi semua" ucap Baim saat melangkah masuk ke ruang meeting, di ikuti Marya dan seorang wanita dari belakang, Wanita itu adalah Sekretaris Baim.
"Hm! perkenalkan, wanita ini adalah wakil saya. Namanya Marya Fauzia, dia baru bergabung di perusahaan ini" ucap Baim setelah ia dan Marya bersama Sekretaris nya berdiri di ujung meja.
__ADS_1
Marya yang di perkenalkan membungkukkan sedikit tubuhnya sambil tersenyum ke arah anggota meeting di ruangan itu.
Dug!
'Pak Kanzo, Pak Haris' batin Marya begitu kaget melihat kedua pria yang sangat di kenalnya berada di ruangan itu. Kanzo mengulas senyumnya tanpa melepas pandangannya. Pria itu terlihat sedikit kurus dan bulu bulu di wajahnya di biarkan tumbuh lebat, tapi itu membuat Kanzo terlihat semakin macho.
"Untuk menyingkat waktu, kita langsung saja mulai meeting hari ini" ucap Baim lagi." Marya, silahkan!."
"Trimakasih!" balas Marya tetap mempertahankan senyumnya, meski sebenarnya jantungnya menabuh genderang ingin perang keluar dari dalam dadanya melihat Kanzo ada di ruangan itu. Setelah dua Tahun berpisah ini pertama kali mereka bertatap muka.
Marya pun meletakkan laptopnya di atas meja meeting. Lalu menyalakannya dan menyambungkannya ke layar proyektor. Dan Marya pun mulai menjelaskan materi yang ada di dalam laptopnya.
"Jumlah penjualan produk perusahaan Tahun ini saya lihat terus meningkat dari Bulan ke Bulan. Tapi kita harus tetap bisa berinovasi, terus memberikan yang terbaik untuk pembeli. Sehingga mereka merasa puas dengan apa yang kita jual. Dan mereka tetap bertahan untuk mengonsumsi produk kita Bla bla Bla...."
Marya terus berbicara, yang tadi awalnya gugup, semakin lama bicaranya mengalir begitu saja. Saat berbicara sesekali Marya mengarahkan pandangannya ke arah anggota rapat, kecuali ke arah Kanzo dan Haris, tidak lupa Marya tetap tersenyum.
Sedangkan Kanzo yang duduk diantara anggota meeting lainnya, terus mengulas senyumnya, mengagumi kemampuan istrinya itu. Dari seorang resepsionis, kini bisa duduk dan berdiri sejajar bersama pengusaha pengusaha lainnya.
'Apa kamu sangat bahagia tanpa aku Marya?. Kalau iya, aku tidak akan mengharapkan mu lagi, sayang' batin Kanzo.
Tapi jika Marya tidak bahagia, Kanzo akan memaksa wanita itu menjadi miliknya kembali, dan akan berusaha keras membuat wanita itu bahagia.
"Saya rasa sudah cukup dari saya, trimakasih! ucap Marya menyudahi bicaranya.
Baim kembali berdiri dari tempat duduknya, untuk melanjutkan rapatnya.
"Bagiamana menurut kalian?. Ada masukan atau tambahan, kritik dan saran?" tanya Baim.
"Bagaimana kalau kita tambah saja jumlah produksi kita?. Kita lebarkan sayap penjualan kita ke berbagai Negara" ucap Kanzo. Dia termasuk orang yang handal dalam berbisnis, tidak pernah ragu dalam mengambil tindakan.
"Saya setuju saja, tapi kita harus menambah modal produksi. Jujur, perusahaan saya lagi bermasalah keuangan, saya tidak punya dana jika harus menambah jumlah produksi" ujar salah satu pengusaha dalam anggota rapat di ruangan itu.
"Saya rasa Pak Kanzo bisa membantu masalah anda" ujar Baim sedikit bergurau.
"Hm karna saya yang mengusulkan ide, saya akan menyuntik dana ke perusahaan Anda Pak Burhan" sambung Kanzo.
__ADS_1
"Trimakasih, Anda memang yang terbaik Pak Kanzo" puji Pak Burhan.
Acara rapat itu pun di lanjutkan dengan pembicaraan santai, sesekali mereka saling melempar candaan di ruangan itu, mengejek dan memuji satu sama lain, dan sesekali mereka sama sama tertawa.
"Oh ya, Pak Baim. Dimana kamu menemukan Asisten baru mu itu?. Sepertinya masih terlihat gadis." tanya seorang pria seumuran Kanzo.
"Dia mengirim lamaran ke perusahaan ini. Kebetulan saya membutuhkan Asisten, ya sudah saya menerima lamarannya saja" jawab Baim.
"Sebenarnya saya melamar ke no perusahaan ini untuk menjadi manager, tapi malah Pak Baim menempatkan saya menjadi Asistennya" sambung Marya tersenyum ramah.
"Sepertinya Baim ada hati tuh" ujar Pak Mahmud bergurau." Biasanya dia itu paling risih dekat dekat dengan wanita. Itu saja Anita Sekretarisnya, kalau dapat gantinya sudah di gantinya dengan perempuan" tambahnya.
"Makanya saya menjadikan Asisten saya perempuan. Biar saya dan Anita tidak terjadi suatu fitnah" jelas Baim yang pembawaannya alim dan kalem.
"Alah! alasanmu aja itu, bilang aja kalau kamu naksir" sanggah pak Idris, dia adalah paman Baim.
"Marya sudah memiliki suami, hati hati jadi fitnah, Paman" ucap Baim.
"Oh ya?" Pak Mahmud menoleh ke arah Marya, tidak percaya kalau Marya sudah menikah.
"Saya memang sudah menikah" jelas Marya, melirik Kanzo dari sudut matanya.
Kanzo semakin melebarkan senyumnya, mendengar Marya mengaku sudah menikah.
"Tapi sudah cerai" ucap Marya lagi, berhasil membuat senyum Kanzo langsung surut. Melihat itu Marya mengulum senyumnya.
'Rasain, aku juga bisa mempermainkan perasaanmu Pak Kanzo' batin Marya.
Selesai meeting, satu persatu para jajaran pengusaha itu pun membubarkan diri meninggalkan ruang rapat itu. Baik Kanzo, Haris, Marya dan Baim.
"Marya!" panggil Kanzo.
Marya yang berjalan ke arah ruangannya langsung memutar tubuhnya ke arah Kanzo yang mendekatinya.
"Apa kabarmu, sayang?" tanya Kanzo mengangkat satu tangannya mengusap lembut ujung kepala wanita itu.
__ADS_1
*Bersambung