
"Sampai kapan kamu harus memanggilku Pak Kanzo?." Kanzo mencubit gemas hidung Marya. Sampai sekarang Marya masing sering memanggilnya Pak Kanzo.
"Aku sudah terbiasa memanggil itu, sangat sudah merubahnya" jawab Marya.
"Mulai sekarang kamu harus merubahnya. Aku gak suka panggilan itu." Kanzo mendudukkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang, begitu juga dengan Marya.
"Baiklah bos, tapi aku harus memanggil apa ya?. Bagaimana kalau aku panggil...." Marya berpikir sebentar, kira kira panggilan apa yang cocok untuk pria yang duduk di sampingnya itu.
"Panggil sayang" jawab Kanzo, karena Marya kelamaan berpikir.
"Hm... baiklah sayang" ucap Marya tersenyum.
Cup!
Satu kecupan langsung mendarat di bibir Marya.
"Aku sudah siap ikut pulang ke kota" ucap Marya, meraih kepala Kanzo, membawanya untuk berbaring di pangkuannya, Lalu mengusap lembut kepala pria itu dan sedikit memijat mijatnya.
"Bagiamana dengan Adi?" tanya Kanzo.
"Dia yang menyuruhku untuk ikut denganmu" jawab Marya.
Sudah sebulan mereka tinggal di kampung. Kasihan Kanzo jika harus sering bolak balik ke kota.
"Kenapa dia gak ikut sama kita aja?. Kasihan dia jika harus tinggal sendirian di sini. Dan kalau dia gak mau tinggal sama kita, di kota kalian masih punya rumah, Adi bisa tinggal di sana. Setidaknya kita dekat jika ingin menemuinya, kita bisa menjaganya dan mengawasinya" ujar Kanzo.
"Dia akan menyusul setelah ujian kenaikan" jawab Marya masih mengulas senyumnya.
" Ya udah, kita tunggu aja dia selesai ujian."
"Kasihan kamunya, sayang. Harus sering bolak balik. Aku tau kamu sangat kecapean."
"Istriku pengertian banget sih!" Kanzo mengambil sebelah tangan Marya yang berada di kepalanya, lalu mengecup telapak tangan wanita itu." Tapi untuk yang satu itu, istriku ini belum pengertian."
"Yang satu itu apa?" Marya mengerutkan keningnya, tidak paham.
"Buat adik untuk Areta, Ezio dan Zion" jawab Kanzo, memeluk pinggang Marya dan mencium perut wanita yang belum mandi pagi itu.
Marya terdiam dan memandangi wajah Kanzo. Marya terlupa dengan tugasnya yang satu itu, karena terlalu larut dalam kesedihan atas kehilangan Ibunya.
"Kalau kamu belum siap, gak apa apa, sayang." Kanzo tak ingin memaksa Marya seperti dulu. Ia ingin melakukannya jika mereka sama sama menginginkannya.
__ADS_1
Marya mengulas senyumnya," Jangan sekarang" ucapnya.
"Lalu kapan?."
"Nanti malam. Dan juga suamiku ini sepertinya kurang sehat. Setelah tubuh suamiku ini sehat dan bugar."
"Baiklah, sayang. Sekarang suami kamu ini lapar. Istriku ini masak apa?."
"Aduh!" Marya menepuk keningnya sendiri."Tadi aku lagi masak, lupa lanjutinnya."
"Kompornya di matiin kan?." Kanzo mendudukkan tubuh menjadi ikut panik.Marya mengangguk dan turun dari atas kasur.
Kanzo bernapas lega lalu mengikuti Marya keluar kamar. Sampai di dapur, ternyata di sana Adi sedang asyik menikmati makanan di meja.
"Sudah puas bermesraan nya?." Suara Adi terdengar kumur kumur karena mulutnya penuh makanan.
"Kau itu, iri aja melihat orang senang" cetus Kanzo mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi meja makan.
"Ngapain iri" Adi mendengus.
"Sudah sudah! kalian itu selalu aja ribut" tegur Marya, melangkahkan kakinya ke arah rak piring, untuk mengambil gelas, piring dan sendok, dan langsung kembali ke meja makan. Setelah mengisi piring di tangannya dengan nasi dan lauk, Marya meletakkannya di depan Kanzo.
"Trimakasih, sayang" ucap Kanzo.
Marya yang sudah mengisi piringnya, mendudukkan tubuhnya di samping Kanzo, dan mulai menikmati makanan di piringnya.
Selesai makan, Kanzo kembali ke dalam kamar untuk istirahat, sedangkan Adi berangkat ke sekolah. Dan Marya sendiri membereskan dapur, membersihkan rumah, mencuci dan menyapu halaman rumah. Setelah selesai, Marya pergi ke kebun sekedar mengunjunginya dan melihat perkembangan kebunnya yang semakin luas. Puas di kebun, Marya kembali ke rumah.
Kanzo yang terbangun dari tidur lelapnya, langsung duduk dan meraih ponselnya yang berbunyi dari atas nakas. ternyata Haris yang menghubunginya.
"Halo Ris, ada apa?" tanya Kanzo setelah mendial tombol hijau di hapenya.
"Ternyata dalang di balik kasus yang menimpa Nona Marya adalah Anita sekretaris Baim" jawab Haris.
"Anita?"ulang Kanzo mengerutkan keningnya.
"Anita menginginkan jabatan menjadi Asisten Baim, dan juga wanita itu menyukai Baim" jelas Haris.
"Informasi apa lagi yang kamu dapat?" tanya Kanzo.
"Baru itu saja, tapi aku pikir, Baim dan Pak Dirga memiliki tujuan masing masing dalam memanfaatkan kasus yang menimpa Nona Marya. Buktinya Pak Hamdan masih bekerja di perusahaan itu. Aku rasa Pak Dirga dan Pak Baim tau kalau Nona Marya hanya di jebak, tapi itu dia tadi, mereka memiliki tujuan masing masing" jelas Haris.
__ADS_1
"Tangkap wanita bernama Anita itu" perintah Kanzo.
"Wanita yang mana?."
Refleks Kanzo menoleh ke arah pintu saat mendengar suara Marya masuk ke dalam kamar.
"Kamu dari kebun?" tanya balik Kanzo, menarik lengan Marya untuk duduk di sampingnya.
"Wanita mana yang ingin kalian tangkap?" tanya ulang Marya.
"Anita, sayang" jawab Kanzo.Marya terdiam dan mengerutkan keningnya.
"Sepertinya Anita yang membuatmu menandatangani berkas palsu" jelas Kanzo.
"Besok kita berangkat ke kota, aku rasa sudah waktunya kau menyelesaikan masalahku itu. Aku juga berpikir, ada orang yang menjebak ku. Aku harus membuktikan kalau aku tidak melakukan penggelapan uang perusahaan" balas Marya cepat, nampak wanita itu menahan emosi.
**
Di tempat lain, Anita memarkirkan mobilnya di sebuah halaman rumah besar berlantai dua, langsung turun dan masuk ke rumah itu.
"Permisi Bi, Mbak Bella ada?" tanya Anita ke pembantu rumah itu.
"Bu Bella sudah seminggu gak di sini Non" jawab si Bibi rumah itu.
"Sudah seminggu?" ulang Anita.
'Pantas aja gak bisa di hubungi.'
"Kalau begitu, saya permisi Bu." Anita langsung berpamitan dan kembali ke dalam mobilnya.
"Aku juga harus kabur, aku gak mau sampai tertangkap" gumam Anita, kemudian melajukan kendaraannya keluar dari halaman rumah elit itu. Setelah di jalan raya, Anita melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Anita harus cepat sampai di rumah. Dia harus bersembunyi, jangan sampai tertangkap.
'Dari mana mereka tau, sebelumnya aku masuk ke ruangan Marya, sebelum wanita itu datang, padahal aku sudah mematikan cctv di ruangannya' batin Anita.
'Apa di sana ada kamera tersembunyi?. Aaaakh! kenapa aku bodoh sekali?.' Anita berteriak dalam hati merutuki kebodohannya.
Dua hari sebelum pernikahan Marya, pagi pagi sekali, Anita masuk ke ruangan Marya, dan memasukkan sesuatu ke setiap botol air minum yang tersimpan di laci meja Marya. Sehingga membuat Marya mengantuk dan tidak bisa konsentrasi bekerja, supaya rencananya bisa berjalan lancar. Dan Hari itu, Anita berhasil membuat Marya menandatangani berkas palsu.
Anita menggigit bibirnya, berpikir kenapa Baim tidak mengijinkan pihak Kanzo melakukan penyelidikan, apa ada sesuatu yang di sembunyikan pria itu?. Dan bukankah selama ini Baim menyukai Marya?, seharusnya pria itu berpihak pada Marya.
Apa maksud dan tujuan pria itu?.
__ADS_1
*Bersambung