
Sudah tiba hari yang di tunggu. Hari dimana Kanzo akan menikahi Marya sekali lagi. Kali ini Kanzo akan menikahi Marya di depan halayak rame, tidak tersembunyi lagi.
Kanzo yang sudah selesai bersiap, melangkahkan kakinya ke arah pintu karna Ibu Liana sudah datang menjemputnya, untuk membawanya ke tempat aula dimana janji sucinya kepada Marya akan terlaksana. Sampai di aula, para tamu undangan ternyata sudah rame. Semua berdiri dari kursi masing masing saat Kanzo dan Ibu Liana melintasi red karpet menuju meja ijab kabul.
Meski ini bukan kali pertamanya Kanzo menikah. Namun pria itu sepertinya terlihat sedikit gugup. Jantungnya terasa berdetak tidak beraturan. Ini kehidupan barunya yang sesungguhnya, dimana Kanzo akan menghabiskan hidupnya dengan wanita pertama yang mencintainya.
"Saya terima nikahnya Marya Fawzia binti Maiman dengan mahar sepuluh hektar tanah di bayar tunai!"
Prok prok prok!
Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar memenuhi ruangan itu setelah Kanzo selesai mengucapkan ijab Kabul ya dengan begitu lantang.
Kanzo mengulas senyumnya dengan wajah berbinar bahagia. Marya sudah kembali sah menjadi istrinya. Tidak banyak yang tau soal pernikahan mereka terdahulu. Para tamu undangan beranggapan jika Kanzo saat ini sedang menikahi anak gadis yang masih suci. Sehingga gelas pelakor itu, terselamatkan dari hidup Marya.
Gemuruh tepuk tangan itu bergema sekali lagi, saat seorang permaisuri berjalan di dampingi seorang wanita paru baya dan anak muda, berjalan ke arah tempat ijab kabul. Wanita berpakaian pengantin itu terus merekahkan senyumnya dengan pandangan lurus ke satu titik di depannya. Pria tampan yang menyambutnya dengan senyum hangat. Tepat Marya sampai di depan Kanzo, pria itu langsung mengecup keningnya.
Setelah melewati acara sakral pernikahan, Kanzo dan Marya kini sudah berada di atas pelaminan, untuk menyambut tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka.
"Selamat untuk kalian berdua, semoga bahagia dan langgeng selamanya" ucap Baim terlihat tulus meski hatinya terluka.
"Trimakasih" balas Kanzo dan Marya bergantian.
Sebagai hadiah ulang pernikahan untuk Asistennya itu, Baim pun menyerahkan sebuah amplop berwarna putih kepada Marya.
"Trimakasih" ucap Marya saat menerima amplop itu.
Kanzo yang berdiri di sampingnya, langsung mengambil amplop itu dari tangan Marya, dan membukanya beserta mengeluarkan isinya dengan tidak sabaran.
Saat melihat isi amplop itu, yang berupa tiket bulan madu selama dua Minggu, senyum Kanzo langsung mengembang.
"Ternyata kau tau apa yang ku butuhkan" ucap Kanzo sambil menepuk pelan bahu Baim.
"Hanya dua Minggu, jangan lebih" ujar Baim.
Marya baru bekerja dengannya, tapi Baim sudah harus berbaik hati memberi waktu kepada Asistennya itu untuk menikmati bulan madu selama dua Minggu.
"Hm! aku tidak peduli itu"balas Kanzo, Baim mendengus dan langsung turun dari atas pelaminan bersama Anita yang mendampinginya, mereka harus kembali ke perusahaan.
__ADS_1
Di bawah pelaminan, Widuri dari tadi hanya duduk sendirian, tidak ada yang menemaninya sama sekali. Sedangkan Haris, pria itu sibuk menyapa para tamu undangan terhormat acara itu bersama Cici. Sehingga membuat Widuri merasa bosan.
'Lebih baik aku menikmati makanan di pesta ini' batin Widuri berdiri dari tempat duduknya melangkah ke arah meja yang terhidang berbagai macam makanan. Tiba tiba....
Brukh
"Awu!" keluh Widuri mengusap usap bokongnya yang mencium lantai. Widuri terjatuh sendiri karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Widuri!" gumam Haris melihat Widuri terjatuh. Pria itu pun langsung mendekati wanita bertubuh kurus itu."Kamu gak apa apa!" tanya Haris.
"Gak apa apa" jawab Widuri berusaha untuk berdiri. Namun tidak bisa karna high heelnya terlalu tinggi. Haris segera membantunya, lalu menuntun wanita itu berjalan ke arah kursi kosong, dan mendudukkannya di sana.
"Pak Haris mau ngapain?." Widuri menjauhkan kakinya, saat Haris akan meraihnya.
"Kalau gak bisa pakai sendal ketinggian, kenapa meski di pakai?" ujar Haris, meraih kembali kaki Widuri dan membuka high heel wanita itu dari kakinya. Kemudian Haris pun memanggil salah satu pelayan hotel yang lalu lalang di ruangan itu, menyuruhnya untuk mencarikan sendal untuk Widuri.
"Gak usah Pak" tolak Widuri.
"Kakimu bisa dingin kalau menginjak lantai tanpa alas" ujar Haris mengarahkan pandangannya ke wajah Widuri. Entah kenapa Haris kasihan melihat Widuri dari tadi sendirian.
Widuri yang di tatap begitu, menundukkan pandangannya saat bola mata mereka saling bertubrukan.
"Ehem!"
Suara deheman itu berhasil membuyarkan lamunan Haris dan Widuri.
"Tunggu aja di sini, nanti pelayan itu akan mengantar sendal untukmu" ujar Haris berdiri kembali.
"Cukup Nona Marya yang menjadi pelakor, ops!" Cici langsung menutup mulutnya yang keceplosan."Maksudku jangan merebut kekasihku" ucap Cici tersenyum.
"Pak Haris hanya kasihan melihatku terjatuh tadi, jangan kawatir" balas Widuri juga tersenyum.
"Ayo sayang, masih banyak tamu yang belum kita sapa" ajak Cici menggandeng tangan Haris posesif, membawanya pergi dari hadapan Widuri.
"Lihatlah sayang, sebenarnya Haris itu lebih menyukai Widuri" ucap Kanzo kepada Marya, mereka memperhatikan Widuri dan Haris dari atas pelaminan.
"Tapi kamu membuat posisi Haris menjadi sulit" balas Marya.
__ADS_1
"Biarkan saja, biar dia belajar menghadapi teka teki sebuah cinta" ucap Kanzo meraih pinggang Marya dari samping.
"Papa, Mama!" seru suara cmpreng Areta saat naik ke pelaminan. Gadis kecil itu membawa sebuah kado di tangannya.
"Selamat Papa dan Mama Marya" ucap Areta.
"Trimakasih sayang" balas Marya mengambil kado itu dari tangan Areta. Sedangkan Kanzo langsung menurunkan tubuhnya untuk meraih tubuh gadis kecilnya itu, lalu mengecup kedua pipinya.
"Apa putri Papa ini juga bahagia, sayang?" tanya Kanzo. Areta langsung menganggukkan kepalanya."Trimakasih sudah merestui Papa."
"Ada syaratnya" ucap Areta.
"Apa itu?."
"Mama Marya harus segera punya Adik" jawab Areta.
"Siapa yang mengajarimu gadis kecil? Hm!." Marya mencubit gemas kedua pipi Areta.
"Kakek Maiman" jawab Areta.
Marya langsung terdiam, perlahan senyumnya pun memudar.
"Sayang, aku tau kamu kecewa dengan Ayahmu. Tapi dengan pernikahan kedua kita ini, aku sangat berharap kita menikah dengan restu yang lengkap dari kedua orang tua kita. Aku berharap setelah ini tidak ada lagi rintangan yang berat dalam pernikahan kita" ucap Kanzo melihat Marya masih berat untuk memaafkan Pak Maiman.
"Aku hanya merasa, aku harus berterima kasih pada Ayah mertua, sudah membuat putri secantik kamu. Makanya aku tetap melibatkan dia dalam pernikahan kita" jelas Kanzo.
Meski tadi yang menikahkan mereka buka Pak Maiman langsung. Tapi Pak Maiman hadir di acara pernikahan itu.
"Tidak bagus menaruh dendam sama orang tua, sayang. Sebab di kemudian hari kamu juga akan menjadi orang tua. Kita pasti akan pernah melakukan kesalahan pada anak anak kita."
"Aku sudah memaafkannya, hanya saja aku kecewa karna bukan dia langsung yang menikahkan tadi" desah Marya.
"Katanya, dia tidak ingin membuatmu malu. Aku sudah membujuknya, tetap saja dia tidak mau" jelas Kanzo.
Marya terdiam dengan pandangan meneduh.
"Yang penting Ayah sudah berubah, jangan bersedih lagi." Kanzo mengusap punggung Marya dari belakang.
__ADS_1
*Bersambung