Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Jangan sembarangan


__ADS_3

"Tanganku sakit Marya" gumam Kanzo sangat lirih.


Refleks Marya menoleh ke wajah Kanzo. Kemudian memeriksa luka ujung jari Kanzo kembali.


"Adi! ambilin air!" seru Marya melihat darah di tangan Kanzo terus mengalir.


"Aku gak mau Kak!" bantah Adi.


"Adi! cepat!" tegas Marya, sehingga Adi tidak berani membantah lagi.


Tak lama kemudian, Adi datang dan meletakkan satu ember air dengan kasar di samping Marya, sampai airnya tumpah sebagian ke lantai.


"Awu isssh !" decih Kanzo, menahan perih saat Marya mencuci lukanya.


Marya yang mendengarnya hanya diam saja. Selesai mencucinya, Marya pun memberinya obat merah yang di pegang Areta, lalu membungkusnya dengan kain kasa yang tersedia di kotak obat yang berada di dalam tas Kanzo.


"Tante, tangan Papaku gak patah kan?" tanya Areta dengan mata berkaca kaca, bibirnya di tekuk ke bawah.


Marya yang melihat raut sedih dan khawatir gadis kecil itu, tidak tega melihatnya.


"Abang itu gak bolehin kami masuk" adunya matanya menoleh ke arah Adi yang berada di dalam rumah.


Marya pun menoleh ke arah Adi yang sibuk bermain game di ponselnya.


"Abang itu menjepit tangan Papa samper berdarah darah" adunya lagi, bibirnya yang tadi menekuk perlahan mengerucut menatap marah ke arah Adi.


Melihat itu Marya mengulas senyumnya, melihat wajah lucu dan menggemaskan Areta. Wajah gadis kecil itu sangat mirip dengan Kanzo.


"Sana pukul Abangnya" suruh Marya.


"Boleh ?" tanya Areta polos, Marya menganggukkan kepalanya.


Areta pun melangkahkan kakinya ke arah Adi yang duduk di sofa, lalu memukul Adi dengan tangan mungilnya.


Bukh!


Adi langsung menoleh ke arah Areta yang berdiri di depannya.


"Orang jahat! ini rumah Tante Marya!. Tante Marya akan menjadi Mamaku!" teriak Areta terus memukuli Adi dan juga mencubit lengannya. Rasanya senang sekali ingin punya Ibu tiri, seolah olah Ibu tiri lebih baik dari Ibu kandung.


" Hei gadis kecil, ini rumah pamanku. Bukan rumah Ibu tirimu" cetus Adi. Kesal karena gadis kecil itu, jadi dia kalah main game.


"Bohong!" sangkal Areta sok lebih tau.


Adi yang gemas pun, mencubit kedua pipi Areta dan langsung pergi berlari masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Areta yang sudah menangis karena kesakitan.

__ADS_1


"Tante Marya, Abang itu mencubitku" adu Areta kepada Marya, entah sejak kapan mereka sedekat itu, Marya pun bingung.


Tak tega melihat wajah dramatis gadis kecil itu, Marya pun berusaha berdiri dari lantai. Dengan sigap Kanzo langsung membantunya, melihat Marya kesusahan berdiri. Dan ikut masuk bersama Marya ke dalam rumah.


" Abang tadi jahat Tante, galak, suka marah marah. Areta gak suka Tante" ucap Areta kepada Marya yang sudah berdiri di depannya.


Marya pun meraih lengan gadis kecil itu, membawanya ke sofa dan duduk di sana, lalu menghapus air mata gadis cantik itu.


" Nanti Tante akan marahi abangnya ya. Tapi jangan menangis lagi" bujuk Marya lembut.


Areta menganggukkan kepalanya lalu berhenti menangis. Gadis kecil itu pun tersenyum.


"Di perut Tante ada adik bayi?." Areta menyentuh perut besar Marya dengan lembut.


Marya mengangguk sembari tersenyum.


"Hore ! Areta jadi punya dua adik!" seru Areta tiba tiba sambil bertepuk tangan." Tapi Adik Areta yang baru lahir, sakit Tante. Adeknya masih di rumah sakit." seketika wajah Areta berubah sedih.


Marya terdiam, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Kanzo yang sudah duduk di sofa sebelahnya.


Kanzo menghela napasnya dengan wajah sedih mengingat anaknya yang baru lahir. Sampai sekarang masih harus di rawat di rumah sakit, karna sakit.


" Ezio tidak mau meminum susu botol" ucap Kenzo menjawab pertanyaan yang tersirat di wajah Marya.


"Kenapa gak di susukan pada Ibu Bella?" tanya Marya.


"Tapi tetap saja bayi itu berhak menyusui pada Ibunya" ucap Bella.


"Bella tidak mau, dulu juga dia tidak mau menyusui Areta ketika baru lahir" ungkap Kanzo.


Marya pun diam.


" Marya, setelah anak kita lahir, kita kembali ya ke kota" bujuk Kanzo berpindah duduk di samping Marya.


"Untuk apa?."


Kanzo pun berdiri dari tempat duduknya, lalu mengangkat tubuh Marya. Marya langsung meronta minta di turunkan. Namun Kanzo tidak peduli, terus melangkah membawa Marya masuk ke dalam kamar, meninggalkan Areta sendiri di ruang tamu rumah kecil itu.


"Pak Kanzo, jangan sembarangan" geram Marya saat Kanzo menurunkan tubuhnya di atas kasur.


"Mana ada istilah suami sembarangan sama istrinya" ucap Kanzo mengulas senyumnya.


"Pak Kanzo sudah bukan suamiku lagi" sanggah marya.


"Dari mana ceritanya kamu bukan istriku lagi? Hm!."

__ADS_1


"Pak Kanzo tidak pernah menemuiku. Pak Kanzo tidak memberiku naf...."


Kalimat Marya terpotong saat Kanzo mencium bibirnya tiba tiba.


Nafkah yang mana sayang?" goda Kanzo setelah melapas bibir mereka.


Marya terdiam, mengalihkan wajah merahnya ke arah lain.


" yang ini, ini, ini, ini." Kanzo menunjuk setiap bagian sensitif di tubuh Marya.


"Nafkah yang mana Marya?." Kanzo semakin merekah kan senyumnya.


Marya tidak menjawab, ia pun berusaha untuk duduk. Namun Kanzo menahan tubuhnya.


"Awas Pak, aku mau makan" ujar Marya.


Hari sudah beranjak hampir siang, Marya lupa kalau dia belum makan pagi. Pantas aja perutnya terasa lapar.


"Tunggu di sini, aku akan mengambilnya ke dapur" ucap Kanzo.


"Gak perlu" tolak Marya.


"baiklah kalau kamu gak mau nurut." Kanzo mengambil tangan Marya dan menaruhnya di atas kepala wanita itu, lalu menyibak daster wanita itu ke atas, menyentuh....


"Iya" Marya terpaksa patuh.Ternyata pria itu masih tidak berubah, masih suka memaksanya.


Kanzo langsung melepas kedua tangan Marya. Setelah mengusap dan mengecup perut wanita hamil itu, baru Kanzo ke luar kamar melangkah ke arah dapur.


Ternyata di sana sudah ada Ibu Hayati dan Adi bersama Areta menikmati makanan.


"papa, Areta makan ubi !" seru Areta menunjukkan sepotong ubi rebus ke arah Kanzo. Ubi itu adalah makanan pengganti nasi Ibu Hayati.


"Oh ya!, gimana rasanya, enak?" tanya Kanzo melangkahkan kakinya mendekati Ibu Hayati, lalu menanyakan dimana makanan.


" Bu, makanan dimana?, Marya ingin makan."


Ibu Hayati menghela napasnya, tidak habis pikir dengan menantunya itu. Sudah di usir, di suruh pulang, dan bahkan sudah mendapat tindak kekerasan dari Adi, masih tidak mau pergi.


"Itu di bawah tudung saji" tunjuk Ibu Hayati ke arah meja yang ada di dapur itu.


Kanzo langsung melangkah ke arah meja yang di tunjuk. Lalu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk yang berada di atas meja.


"Saya ke kamar dulu Bu" pamit Kanzo, lalu pergi.


Sampai di kamar, di lihatnya Marya duduk termenung di pinggir kasur menghadap jendela kamar itu.

__ADS_1


"Sayang" panggil Kanzo,Marya langsung menoleh.


*Bersambung


__ADS_2