
Sampai di Rumah sakit, Kanzo langsung membawa Marya ke ruang periksa Dokter kandungan. Tidak perlu mengantri lagi, karna sebelumnya Kanzo sudah menghubungi pihak rumah sakit itu, yang kebetulan milik sahabat keluarganya.
"Selamat siang Pak Kanzo!" sapa seorang Dokter wanita yang masih muda kepada Kanzo.
"Selamat siang juga" balas Kanzo tersenyum ramah.
"Silahkan duduk, Pak dan Kakak nya" ucap Dokter wanita berhijab itu lagi.
Seorang perawat yang mendampingi Dokter di ruangan itu, pun menarik kedua kursi di depan meja Dokter bernama Gaia Zahra itu.
"Trimakasih!" ucap Kanzo sembari membatu Marya untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya.
"Sudah pernah periksa?" tanya Dokter Gaia.
"Belum" jawab Kanzo.
"Kita langsung USG aja ya." Dokter Gaia langsung berdiri dari tempat duduknya, melangkah ke arah brankar yang tersedia di ruangan itu.
Begitu juga dengan Marya dan Kanzo. Kanzo pun membantu Marya untuk naik ke atas brankar, dan membaringkan tubuh istrinya itu di sana. Marya yang sudah berbaring di atas brankar, mengarahkan pandangannya ke wajah Kanzo yang berdiri di sampingnya tanpa melepas tangannya dari tadi. Kanzo pun mengecup mesra punggung tangannya. Kanzo mengulas senyumnya, lalu berkata.
"I love you!"
Marya pun ikut melebarkan senyumnya ke arah pria itu.
"I love you juga!"
"Bapak, Ibu, perhatikan ke layar ya!" seru Dokter wanita yang sudah mulai menempelkan alat USG ke perut Marya.
Refleks Marya dan Kanzo menoleh ke arah layar datar yang menempel di dinding ruangan itu.
"Selamat ya Pak!, istrinya positif hamil. Usianya sudah lima Minggu. Sehat dan pertumbuhannya juga bagus!" seru Dokter Wanita itu, setelah menemukan apa yang di carinya di perut pasien itu.
Senyum Marya dan Kanzo semakin merekah. Satu kecupan pun langsung mendarat di kening wanita cantik yang masih berbaring di atas brankar itu.
"Trimakasih ya!" ucap Kanzo dengan suara lembutnya, tak terasa air mata pria itu pun menetes dari sudut matanya, sangking bahagianya.
"Aku juga sangat menginginkan kehadirannya, jadi suami ku ini tidak perlu berterima kasih." Marya mengulurkan satu tangannya untuk menghapus cairan bening yang mengalir dari sudut mata Kanzo.
Bukannya berhenti menangis, malah Kanzo semakin menangis, meski tidak sampai terisak.
__ADS_1
"Setelah semua yang kulakukan padamu. Trimakasih masih mencintaiku dan masih bersedia mengandung anakku" lirih Kanzo, mengecup kembali kening istrinya itu.
"Semuanya adalah perjalanan hidup. Mungkin untuk mencapai kebahagiaan, kita harus melewati jalan itu. Aku sudah mengikhlaskan semua yang ku jalani, baik atau pun buruknya" balas Marya, tetap mengulas senyumnya, meski air matanya juga ikut mengalir.
Kanzo menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang di katakan Marya. Seberat apa pun hidup yang di jalani di masa lalu, itu adalah proses mendewasakan manusia. Menguji kesabaran, keimanan seseorang untuk mendapatkan kehidupan yang bahagaia.
Keluar dari ruang Dokter periksa kandungan itu. Kanzo membawa Marya keluar dari gedung Rumah sakit itu setelah mendapatkan resep vitamin untuk Marya dan janin nya. Dan kini mereka sudah berada di dalam mobil, menuju perusahaan cabang milik keluarga Kanzo.
Sampai di sana, Kanzo langsung membawa Marya ke ruang kerjanya. Ruang kerja yang sedikit lebih kecil di banding ruang kerja Kanzo waktu di perusahaan pusat.
"Sayang, aku meeting dulu ya, sebentar aja" pamit Kanzo. Setelah mengecup kilas bibir merah Marya, Kanzo langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Satu jam, harus selesai" ujar Marya bernada perintah.
"Iya Bos, sayang!" Kanzo berseru sebelum benar benar menutup kembali pintu ruangan itu kembali.
Sepeninggal Kanzo, Marya memutar tubuhnya ke setiap sudut ruangan itu. Ruangan bercat warna putih dan tampak sederhana dan apa adanya. Kemudian Marya melangkahkan kakinya ke arah kursi kebesaran Kanzo, mendudukkan tubuhnya di sana.
Setengah jam
Satu jam
"Marya!"
Marya yang merasa di panggil langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Marya langsung mengulas senyumnya melihat seorang wanita berjalan cepat ke arahnya.
"Bu Intan" ucap Marya.
"Apa kabar?, kamu kelihatan bertambah cantik" tanya Intan, atasan Marya dulu saat bekerja menjadi resepsionis.
"Aku baik, bagaimana dengan Bu Intan sendiri?" tanya balik Marya.
"Seperti yang kamu lihat, aku di pindahkan ke perusahaan cabang ini" jawab Intan.
"Itu untuk sementara, nanti kalau pembangunan gedung perusahaan pusat sudah selesai di bangun. Semua akan kembali ke sana. Kecuali orang yang sudah mengundurkan diri" balas Marya.
"Hidupmu enak sekarang, bukan hanya menjadi istri Bos, tapi kamu juga sudah menjadi Bos."
"Aku tau Bu Intan juga terlibat dengan hubunganku dengan Pak Kanzo." Marya berbicara tersenyum dan memicingkan matanya ke arah Intan.
__ADS_1
"Pak Kanzo hanya memintaku untuk tutup mulut, selebihnya aku gak tau apa apa" balas Intan.
"Tapi ya sudahlah, semuanya sudah berlalu" ucap Marya melangkahkan kakinya, melanjutkan perjalanannya mengelilingi area produksi itu.
"Iya juga sih, tapi gak di sangka aja, kamu akan menikah dengan Pak Kanzo." Intan pun mensejajarkan langkahnya dengan Marya.
"Oh ya, bagaimana kabar anakmu?. Aku rasa anak dia bisa berjalan" tanya Intan, sempat mendengar kabar angin waktu itu kalau Marya sedang hamil.
Marya langsung menghentikan langkahkanya dan menoleh ke arah Intan dengan mata berkaca kaca.
"Aku tak sengaja mendengar pembicaraan dengan Widuri. Tapi jangan khawatir, orang lain tidak mengetahui itu, selain Pak Haris dan Cici."
Marya menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan." Dia meninggal saat baru lahir" lirih Marya menunduk sedih.
Intan langsung terdiam, tidak menyangka jika bayi yang di kandungan Marya dulu ternyata meninggal saat baru lahir. Intan tidak mengetahui itu sama sekali. Karna sejak Marya mengundurkan diri, Marya tidak pernah lagi datang ke perusahaan.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih" ucap Intan merasa tidak enak hati.
"Gak apa apa." Marya memaksakan senyumnya ke arah Intan.
"Sayang! kamu di sini. Aku sudah mencarimu kemana mana."
Marya dan Intan langsung menoleh ke arah Kanzo yang berjalan ke arah mereka.
"Aku bosan menunggumu dari tadi" ucap Marya.
"Maaf sayang, tapi aku harus menyelesaikan meetingnya sampai tuntas" balas Kanzo.
"Aku mau pulang kampung sekarang. Aku kangen mengunjungi makan Zion." Marya meneduhkan pandangannya ke arah Kanzo, berharap Kanzo mengabulkan permintaannya yang tiba tiba.
"Tapi sayang...."
"Kalau gak mau, aku pulang sendiri" cetus Marya langsung melongos meninggalkan Kanzo dan Intan.
"Sayang, buka begitu." Kanzo langsung menyusul Marya.
'Pak Kanzo terlihat sangat menyayangi Marya. Dan semenjak bersama Marya, wajah Kanzo terlihat begitu bahagia, meski saat ini perusahaannya mengalami masalah yang besar, tapi itu tidak menjadi beban pikiran buat Pak Kanzo. Pak Kanzo bisa menghadapinya dengan tenang' batin Intan yang memperhatikan suami istri itu.
*Bersambung
__ADS_1