
Sampai di ruang kerjanya, Kanzo memeluk Marya dari belakang, lalu mengecup pipi wanita itu dari samping."Jangan cemberut."
"Aku merindukan Zion" ucap Marya.
"Besok kita akan berangkat." Kanzo melepas pelukannya dari tubuh Marya, lalu menarik wanita itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Setelah mendudukkan tubuh mereka, Kanzo kembali memeluk tubuh istrinya itu."Aku lebih merindukannya lagi, sayang. Rasanya aku ingin mati saja supaya aku bisa menemuinya."
Bukh!
"Jadi kamu ingin meninggalkanku sama seperti Zion!." Marya langsung marah dan memukul dada Kanzo, mendengar Kanzo ingin mati. Marya pun menangis terisak isak. Kalau Kanzo mati, lalu dia bagaimana?. Ibunya juga sudah tidak ada.
"Bukan begitu maksudku, sayang. Aku hanya menggambarkan bagaimana rinduku pada Zion. Aku pun belum siap mati saat ini" ucap Kanzo membujuk Marya yang sedang menangis terisak isak. Kanzo lupa, kalau sekarang istrinya itu sangat sensitif dan semakin cengeng.
"Aku gak suka bicara soal mati." Setelah kehilangan anaknya dua Tahun lalu, Marya juga baru kehilangan Ibunya. Jelas Marya sangat ketakutan jika harus kehilangan orang orang yang di cintai nya.
"Iya sayang, tapi jangan menangis lagi ya." Kanzo pun menghapus air mata istrinya itu, lalu mengusap usap kepalanya dengan kasih sayang.
Seperti keinginan Marya dari rumah. Kanzo pun membawa istrinya itu jalan jalan. Makan siang di restoran, jalan jalan di mall, kemudian membawa istrinya itu ke sebuah taman wisata.
"Kamu pengen di bawa kemana lagi?" tanya Kanzo melihat Marya sudah puas berfoto di taman itu.
"Aku gak tau" jawab Marya.
"Kita pulang aja ya" ajak Kanzo melihat hari sudah mulai senja.
"Gak mau!" Marya mengerucutkan bibirnya. Membuat Kanzo menjadi gemas pengen cium.
Cup!
Akhirnya satu kecupan singkat mendarat di bibir manis istrinya itu. Kemudian menarik lengan istrinya itu, membawanya ke parkiran mobil mereka.
"Aku gak mau pulang" Marya menarik lengannya dari genggaman Kanzo. Dan Kanzo langsung menghentikan langkahnya.
"Kita jalan jalan ke tempat lain, sayangku!" gemas Kanzo mencubit hidung mancung Marya, melihat istrinya itu cemberut. Membuat wajah Marya berubah berbinar meski masih mengerucutkan bibirnya. Kanzo sangat baik, selalu menuruti keinginannya. Tanpa permisi, Marya pun mengecup kilas pipi Kanzo dan langsung berlari ke arah mobil mereka yang terparkir.
__ADS_1
"Sayang! jangan lari!" seru Kanzo mengejar Marya, sepertinya istrinya itu lupa kalau sedang hamil.
Marya yang di kejar, langsung masuk ke dalam mobil, duduk dengan napas memburu. Tak lama kemudian, Kanzo menyusul masuk, tanpa aba aba langsung menyambar bibir istrinya itu dengan rakus. Marya langsung membalasnya dengan tidak kalah rakusnya.
Setelah puas berciuman, baru Kanzo melepas pagutan bibir mereka dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan taman itu.
"Kita mau kemana?" tanya Marya menoleh ke arah Kanzo.
"Kemana aja" Kanzo menarik tubuh Marya supaya bersandar di dadanya, lalu mengecup ngecup singkat ujung kepala wanitanya itu sambil mengendalikan setirnya dengan kecepatan rendah.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam. Kanzo memarkirkan mobilnya di sebuah halaman gedung hotel yang tidak jauh dari bibir pantai. Marya yang memperhatikan lokasi itu mengerutkan keningnya, melihat tempat itu tidak asing bagi Marya.
"Ini kan?" Marya mengarahkan pandangannya ke wajah Kanzo.
"Aku tau kamu menyukai tempat ini" ujar Kanzo membuka pintu di sampingnya.
Marya mengulas senyumnya, kemudian mengikuti Kanzo turun dari dalam mobil. Hotel itu adalah tempat dimana Kanzo merayakan ulang Tahun perusahaan keluarganya. Dimana di saat itu, mereka memiliki kenangan manis dan pahit sekaligus di sana. Dan mungkin malam ini, Kanzo akan mengajak Marya mengulangi percintaan mereka di sana.
"Aku mau mandi, bajunya mana?" tanya Marya setelah berada di dalam Resort tempat mereka akan menginap.
"Gak usah pakai baju" jawab Kanzo membuka gorden dinding kaca resort itu yang menghadap ke laut.
"Maunya Pak Kanzo" ucap Marya lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah gerah dari tadi.
Saat membuka baju, pintu kamar mandi itu terbuka dari luar. Kanzo datang menyusulnya masuk ke kamar mandi. Kalau sudah begini, mandinya pasti lama, satu jam gak akan cukup.
Dan benar saja, pria tampan yang wajahnya di tumbuhi bulu bulu halus itu, langsung membantunya melepas seluruh kain yang melekat di tubuhnya. Kemudian pria itu melepas kain dari tubuhnya sendiri. Pria itu pun memeluknya dari belakang setelah menghidupkan shawer, untuk membasahi tubuh mereka, lalu mengecup bahu Marya yang terbuka dengan sempurna.
**
Matahari sudah memancarkan sinarnya mulai dari subuh tadi. Marya yang bergulung di bawah selimut, belum juga bangun dari mimpi indahnya. Sepertinya wanita yang berada di dekapan seorang pria itu masih enggan untuk terbangun dari mimpinya.
Begitu juga dengan pria yang berada di sampingnya. Pria itu juga masih enggan membuka matanya meski matahari sudah meninggi memancarkan sinarnya di langit biru. Tidak biasanya pria itu tidur sampai siang menjelang. Sepertinya kedua anak manusia yang saling mencintai itu kelelahan tadi malam.
__ADS_1
"Sayang, lapar."
Gumaman suara wanita di sampingnya langsung berhasil membangunkan Kanzo dari tidur lelapnya. Kanzo langsung membuka mata dan meraih ponselnya dari atas meja nakas untuk melihat jam berapa sekarang ini.
Ternyata sudah pukul sebelas siang.
"Pengen makan apa, sayang?" tanya Kanzo dengan suara beratnya.
"Urap daun pepaya, ada?" tanya balik Marya tanpa membuka matanya.
"Sepertinya gak ada sayang, tapi aku coba tanyakan dulu" jawab Kanzo.
"Harus ada, kalau gak, aku gak mau makan" ancam Marya masih enggan membuka matanya.
"Kalau kamu gak mau makan, aku akan memakanmu lagi" balas Kanzo.
"Tidak masalah"ucap Marya, menyukai cara Kanzo memakannya, sangat nikmat.
"Udah berani menantang kamu sekarang" gemas Kanzo menarik hidung Marya. Istrinya itu tidak lagi malu malu sekarang saat mereka bercinta. Tidak seperti dulu, hanya pasrah menikmati saat tubuhnya di tindih.
"Aku sudah jago sekarang" ucap Marya malah. Mengingat tadi malam, Marya lebih mendominasi permainan mereka.
"Coba kamu gak hamil, sayang. Kupastikan kamu tidak akan bisa berjalan."
"Makan" manja Marya lagi. Tadi dia minta makan, malah pembahasan mereka kok sampai ke cerita kasur dan kamar mandi.
Setelah puas menghabiskan waktu di penginapan yang berada di atas pantai itu. Kanzo pun membawa Marya meninggalkan tempat itu, langsung menuju bandara. Seperti keinginan Marya, mereka akan mengunjungi makam mendiang anak mereka, Zion.
"Hai anak Papa!, apa kabarmu di sana?" sapa Kanzo setelah menurunkan tubuhnya berjongkok di samping makam Zion, bersama Marya.
"Aku yakin, kabarnya pasti bahagia, melihat kedua orang tuanya sudah hidup bersama. Tapi, aku rasa ini tidak adil untuk Ezio" ucap Marya. Sontak membuat Kanzo menoleh ke arahnya.
*Bersambung
__ADS_1