Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Obat rasa sakit


__ADS_3

"Aku makan sendiri aja" ucap Marya melihat Kanzo akan menyuapinya makan.


"Nurut Marya"


prank!


Sendok di tangan Kanzo jatuh ke lantai. Ternyata tangannya yang terluka tidak bisa memegang sendok dengan sempurna.


"Maaf sayang, aku gak sengaja, aku ambil sendok yang baru dulu." Kanzo berdiri dari pinggir kasur untuk pergi ke dapur mengambil sendok yang bersih. Tak lama kemudian, Kanzo kembali. Di lihatnya Marya sudah makan menggunakan tangan.


"Sayang, kamu makan gak cuci tangan dulu?" tanya Kanzo. Di kamar itu tidak ada kamar mandi, lalu dimana istrinya itu mencuci tangan.


Marya tidak menjawab, memilih menikmati makanan di mulutnya. Tentu ia mencuci tangan dulu sebelum makan. Dengan menggunakan air minum yang di bawa Kanzo tadi. Marya menyiram tangannya di jendela kamar itu.


Melihat gelas yang di bawanya tadi sudah kosong, Kanzo mengambil gelas itu membawanya ke dapur, untuk mengisinya kembali.


'Sekarang sok perhatian, selama ini kemana?. Pura pura pikun' batin Marya melirik Kanzo yang masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Jangan melihatku seperti itu" ucap Kanzo melihat Marya meliriknya.


"Pak Kanzo kenapa gak pulang bersama keluarganya?. Ngapain pak Kanzo masih di sini?" tanya Marya yang sudah jelas tau jawabannya.


Kanzo tidak langsung menjawab, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan kaki masih menggantung.


"Menunggumu melahirkan" jawab Kanzo.


"Itu gak perlu" balas Marya.


"Semakin lama kamu itu semakin berani melawanku." Kanzo membuka matanya yang sempat di pejamkannya." Kamu lupa kesepakatan kita?."


"Aku gak peduli itu." Marya langsung berhenti Makan dan meletakkan piringnya di atas kasur. Padahal makanannya belum habis, tapi seleranya langsung hilang mendengar Kanzo mengingatkannya dengan kesepakatan mereka. Marya tidak boleh meminta cerai.


"Apa susahnya tetap menjadi istriku?." Kanzo mendudukkan tubuhnya kembali, meraih dagu Marya yang duduk di sampingnya, supaya Marya menoleh ke arahnya." Aku minta maaf sudah mengabaikan mu. Lagian kamu sendiri yang kabur tanpa alasan yang jelas. Kamu yang melakukan kesalahan Marya, bukan aku. Tapi kenapa kamu dan keluargamu yang jadi marah?. Padahal waktu itu aku sudah ingin meresmikan pernikahan kita, memperkenalkanmu kepada orang orang, kalau kamu juga istriku. Setelah itu kita bisa membina rumah tangga sebagai mana mestinya, kamu kabur Marya."


Marya terdiam menatap Kanzo dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


"Aku minta maaf, waktu itu aku sudah memaksamu menjadi istriku, tapi aku tidak memperlakukanmu layaknya sebagai istri. Aku tidak pernah menyisihkan waktuku untukmu. Tapi Marya, aku tidak berniat sama sekali untuk menghancurkan masa depanmu. Aku pasti akan bertanggung jawab sama kamu. Di saat menikahimu pun, aku sudah mulai membuka hati untukmu, Marya."


"Apa alasan Pak Kanzo menikahiku secara diam diam?. Kenapa Pak Kanzo tidak memintaku baik baik pada orang tuaku?" tanya Marya dengan air mata yang tak terbendung lagi.


"Kamu pikir jika kalau aku memintamu secara baik baik kepada Ibumu, Ibumu akan mengijinkanku menikahimu, mengingat aku seorang pria beristri. Tapi untung saja Ayah mertuaku yang matre itu bisa di sogok dengan uang. Sehingga dia memberi kuasanya kepada pengurus KUA untuk menikahkan kita" jawab Kanzo tersenyum.


"Alasan Pak Kanzo menikah lagi?."


Kanzo menghela napasnya enggan memberitahu alasannya menikah lagi. Untuk membalas perbuatan Bella yang pernah berselingkuh. Pasti Marya akan sakit hati mendengarnya, sudah di jadikan objek balas dendam.


"Tapi janji tidak marah" ucap Kanzo.


Marya mengalihkan pandangannya ke arah lain." Pak Kanzo gak perlu mengatakannya, jika itu tidak penting."


Marya berdiri dari tempat duduknya, namun Kanzo langsung meraih tubuhnya dengan pelan. Memangku wanita yang bertubuh seperti gajah duduk itu.


"Bella selingkuh" ucap Kanzo lirih. Ternyata meski sudah ada Marya yang berhasil mengambil hatinya. Tetap saja rasa sakit di hianati itu masih terasa." Selain untuk membalas perbuatannya, aku menginginkan seorang wanita untuk mengalihkan perasaanku darinya. Menginginkan seorang wanita untuk menjadi obat rasa sakit hatiku. Kamu pilihanku Marya. Saat melihatmu masuk ke ruangan ku waktu itu. Entah kenapa, aku begitu yakin kamu bisa mengobati luka hati ini. Aku melihat ketulusan di wajahmu Marya. Aku sangat tertarik melihatmu."


"Jadi Pak Kanzo menjadikanku untuk alat balas dendam!" tangis Marya pecah seketika. Membuat Kanzo menjadi panik, takut Adi marah padanya.


"Kau apakan Kakak ku?" marah Adi berteriak.


'Dia sangat sensitif jika sudah bersangkutan dengan Kakaknya' batin Kanzo menghela napas. Bukan Kanzo takut dengan bocah kecil itu, hanya saja Kanzo tidak ingin membuat masalah jika melawan Adik iparnya itu. Dan Adi bukanlah tandingannya jika di ajak adu kekerasan.


"Sayang, bukan begitu maksudku. Kamu salah paham" bujuk Kanzo lembut, mengabaikan Adi yang menatapnya marah.


"Lalu maksud Pak Kanzo apa?."


Selain sensitif, cengeng ternyata istrinya itu juga sudah menyambung, mungkin bawaan kehamilannya.


"Semenjak saat itu aku sudah tertarik sama kamu. Aku mencintaimu sayang, masa kamu gak bisa merasakan perasaanku?" gombal Kanzo bercampur bohong.


Marya menghapus air matanya yang sempat keluar, mendengar Kanzo mengatakan mencintainya.


"Bohong" ucap Marya.

__ADS_1


Cup!


"Kalau nggak, gak mungkin kamu bisa hamil" ucap Kanzo memeluk tubuh Marya lalu mengusap usap lembut perut wanita itu." Ini adalah buah cintaku."


"Cih!"


Adi yang masih berdiri di kusen pintu mengawasi Kanzo berdecih mendengar gombalan receh pria berusia tiga puluh Tahun itu.


"Tapi kenapa baru datang sekarang setelah anakmu akan lahir?. Kenapa gak pernah menelepon atau mengirim pesan?."


Wanita hamil itu ternyata belum puas mendengar alasan Kanzo kenapa tidak datang dan tidak pernah memberi kabar selama ini.


"Aku harus menyelamatkan nyawa anakku Marya. Jangan berpikir, kalau selama ini aku tidak memikirkan mu. Aku dan Areta sudah akan menyusul mu ke sini. Tapi Bella mengancam akan bunuh diri bersama anak yang ada di dalam kandungannya. Aku tidak punya pilihan Marya, aku terpaksa mengabaikan mu sementara, sayang."


"Aku gak percaya."


Yah ! begitulah kalau istri sudah sempat marah, sakit hati, lelah menunggu, merajuk. Sangat sulit untuk percaya meski sudah di beri alasan yang masuk akal.


"Kalau gak percaya, tanyakan sama Widuri, dia sahabatmu, dia pasti tidak akan berbohong. Tanya juga Haris dan Cici" ujar Kanzo.


Marya diam berpikir menimbang nimbang apakah Kanzo berbohong atau tidak, tapi kan bisa saja pria yang memeluknya itu sudah membayar Widuri, Haris dan Cici untuk berbohong.


"Papa Nenek mengajak Areta ke kebun, boleh?" tanya Areta berseru sambil berlari masuk ke dalam kamar Marya yang pintunya tidak di tutup.


"Boleh sayang, tapi jangan nyusain Nenek ya!" balas Kanzo.


"Oke pah!" Areta berlari kembali ke dapur menjumpai Ibu Hayati yang akan pergi ke kebun yang tidak jauh dari rumah.


"Lepas Pak, aku mau ke kebun juga." Marya melepas tangan Kanzo dari perutnya dan langsung turun dari pangkuan pria itu.


"Ngapain ke kebun sayang?. Kamu lagi hamil, tidak ada yang bisa kamu kerjakan di sana" tanya Kanzo.


Perut istrinya itu sudah hampir terlihat mau pecah, apa yang bisa di lakukan istrinya di sana?, pikir Kanzo.


"Banyak" cetus Marya.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2