Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Paket lengkap


__ADS_3

"Udah sayang, aku udah kenyang" tolak Kanzo menjauhkan mulutnya saat Marya memaksanya menghabiskan sepotong ayam yang tersisa di piring mereka.


"Ayo Pa, Papa pasti bisa" ujar Areta yang dari tadi duduk di pangkuan Kanzo.


"Iya Papa, ayo, Papa pasti bisa" sambung Marya tersenyum.


Ternyata kedua wanita kesayangan Kanzo itu telah bekerja sama mengerjainya. Kanzo terpaksa menggigit daging Ayam yang berada tepat di bibirnya. Perutnya sudah kenyang, kedua wanita beda generasi itu masih memaksanya menghabiskan sepotong ayam itu.


Setelah Kanzo berhasil menghabiskan Ayam itu, Areta dan Marya pun sama sama mengecup pipi kiri dan kanan Kanzo.


"Papa menang!" seru kedua wanita itu serentak.


Menang dari mana? Mereka tidak sedang melakukan pertandingan.


Tok tok tok!


Keluarga harmonis yang sedang bercanda itu, refleks terdiam dan mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu yang di ketuk dari luar.


"Sayang tolong bukain pintunya" suruh Kanzo, dia susah berdiri karna ada Areta di pangkuannya, dan juga perutnya terasa kekenyangan.


Marya mengangguk, lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar untuk membukanya.


"Marya!" pekik Widuri langsung memeluk sahabatnya itu. Mereka jarang sekali bertemu semenjak dua Tahun belakangan ini, sehingga Widuri sangat merindukan Marya.


"Kamu suka sekali berteriak, ayo kalian masuk" ucap Marya setelah melepas pelukan mereka.Ternyata Widuri tidak datang sendirian, ada Haris dan Cici.


"Trimakasih Nona" ucap Haris melangkah masuk di ikuti Cici dari belakang setelah Widuri masuk terlebih dahulu. Mereka pun mendudukkan tubuh mereka di sofa yang ada di kamar itu tanpa di suruh.


"Ehem!" Kanzo berdehem melihat sahabatnya itu datang membawa kedua wanita yang di takdirnya. Kanzo tau saat ini jantung sahabatnya itu sedang berdetak tak karuan.


"Kamu itu ternyata tidak kalah serakah dari aku" sindir Kanzo tersenyum sambil tangannya meraih pinggang Marya supaya duduk lebih merapat ke tubuhnya.


Haris mendengus," Tapi aku masih punya perasaan untuk tidak mempermainkan perasaan orang" cibirnya.


Haris memang menaksir Cici dan Widuri, tapi sampai saat ini Haris belum mengungkapkan perasaannya baik pada Cici maupun Widuri. Dan kedua wanita itu juga tidak tau apa apa sama sekali.


Marya yang paham mendengar pembicaraan kedua pria itu, memperhatikan Widuri dan Cici bergantian. Kedua wanita itu sama sama memiliki daya tarik tersendiri. Jika Widuri memiliki wajah yang cantik, sedangkan Cici tidak terlalu. Tapi dari body, Cici pemenangnya. Cici memiliki tubuh tinggi semampai, langsing padat dan berisi. Sedangkan Widuri memiliki tubuh kurus, tidak terlalu pendek, dan tidak punya body, depan belakang terlihat datar.


"Kalau saranku sih, pilih yang Mon tok! aja" ucap Kanzo, matanya juga melirik lirik Widuri dan Cici bergantian.

__ADS_1


Haris menghela napas bertambah dilema, antara memilih Widuri dan Cici.


"Dasar mata keranjang" bisik Marya gemas mendengar Kanzo menyuruh Haris memilih yang montok. Dan yang paling membuat Marya gemas lagi, Kanzo memperhatikan tubuh Cici dan Widuri bergantian.


"Tapi kamu bagiku paket lengkap sayang. Cantik, baik, pintar, bodi nya menggoda" balas Kanzo berbisik ke telinga Marya.


"Papa sama Mama Marya dari tadi bisik bisik terus" celetuk Areta.


"Dari tadi kalian berbicara apa sih?" tanya Widuri tidak paham.


"He um" Cici mengangguk anggukkan kepalanya.


"Itu Haris lagi bingung memilih diantara ka...."


Bukh!


Sontak Kanzo berhenti bicara saat kotak tissu melayang ke wajahnya.


"Diam! atau kuhancurkan perusahaanku itu" ancam Haris berbicara merapatkan gigi giginya dan mengepalkan tinjunya ke arah Kanzo. Jangan sampai Kanzo membocorkan rahasianya, bisa bisa Haris tidak akan mendapatkan salah satu di antara kedua wanita itu.


"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Widuri lagi semakin bingung.


"Benaran Pak Haris menyukaiku?." Cici yang duduk di samping Haris menggoyang tangan pria itu dengan wajah berbinar.


Haris tidak bisa mengelak lagi. Haris menarik napasnya dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Kalau sudah begini, Haris sudah tidak punya waktu untuk mempertimbangkannya. Terpaksa Haris mengiyakan pertanyaan wanita berkulit sawo matang di sampingnya.


"Iya" jawab Haris lemah.


"Semenjak kapan? Kenapa gak bilang?" heboh Cici yang diam diam selama ini naksir dengan Haris.


Widuri yang duduk sendiri di salah satu sofa, terdiam dan mengulas senyum terpaksa. Ternyata wanita itu juga diam diam menaruh hati pada Haris.


'Mana mungkin Pak Haris menyukaiku. Seharusnya aku sadar siapa diriku. Seharusnya aku sadar, tidak semua wanita seberuntung Marya. Seharusnya aku sadar kalau aku bukanlah sinderella yang di sukai seorang pangeran' batin Widuri.


'Apa Widuri juga menyukai Pak Haris?.'


Marya memperhatikan raut wajah Widuri yang berubah pias, sambil membatin.


"Biarkan saja sayang, nanti juga Haris akan tau siapa sebenarnya yang dia sukai" bisik Kanzo ke telinga Marya.

__ADS_1


Refleks Marya menoleh ke arah wajah Kanzo. Satu kecupan pun langsung mendarat di bibir wanita itu.


Suasana di ruangan itu pun menjadi hening seketika. Jika Cici hatinya sedang berbunga bunga. Haris yang tadinya dilema menjadi galau. Sedangkan Marya menatap iba Widuri yang nampak bersedih. Kalau Kanzo, dia terlihat biasa saja. Sedangkan Areta yang berada di pangkuan sang Papa, sibuk menonton film kartun di dalam hape milik Kanzo.


"Ehem" Kanzo berdehem untuk memecah keheningan di ruangan itu." Oh Ris, apa kamu sudah membaca berkas pengajuan kerja sama perusahaan dari Singapura itu?. Bagaimana menurutmu?."


"Sudah, menurutku, Oke. Tapi sebaiknya kamu periksa lagi biar lebih afdol, sebelum menandatangani surat persetujuannya" jawab Haris.


Kanzo menggigit bibir bawahnya," besok bawakan ke sini" ujarnya. Meski sedang meliburkan diri dari perusahaan, bukan berarti Kanzo bisa lepas dari yang namanya pekerjaan.


"Baiklah" balas Haris.


Keheningan yang sempat terjadi di ruangan itu, perlahan mulai mencair. Mereka tidak lagi membicarakan tentang hubungan cinta, melainkan tentang bisnis dan perkembangan dan kemajuan perusahaan. Di situ, Marya pun bisa belajar dari suaminya yang sudah mahir dalam berbisnis.


"Kenapa Nona tidak membuka perusahaan sendiri saja?" tanya Haris.


Kanzo termasuk salah satu pengusaha besar, Haris pikir Kanzo bisa membantunya mendirikan perusahaan sendiri tanpa harus bekerja dengan orang lain.


"Aku belum sanggup secara mental dan keuangan" jawab Marya." Pikiranku juga belum pernah terlintas untuk mendirikan perusahaan, dan aku pikir itu juga bukan hal yang mudah. Harus siap mental yang kuat jika gagal."


"Itu benar sayang, lebih baik kamu pokus mengurusku dan anak anak kita nanti" sambung Kanzo yang sangat berharap Marya berhenti bekerja. Ini Malah Harus menyuruh Marya untuk mendirikan perusahaan sendiri.


"Walaupun aku bekerja, nanti aku tidak akan melupakan tugasku sebagai istri, sayang" Marya merapikan rambut Kanzo yang berantakan di keningnya. Pria itu tidak memakai minyak rambut, membuat rambut lurus pria itu selalu jatuh ke keningnya.


"Aku percaya itu, tapi aku khawatir nanti kamu kecapean" balas Kanzo.


"Ada kamu yang siap memijat dan mengurutku setiap malam" balas Marya mengulas senyumnya.


Ya Tuhan, wanitanya itu semakin hari semakin manis dan romantis. Marya tidak terlihat kaku lagi seperti saat mereka baru menikah dulu.


"Lopiu!" ucap Kanzo.


Cup!


"Ehem!"


Widuri, Haris dan Cici sama sama berdehem melihat Kanzo mengecup bibir Marya untuk yang kesekian kalinya.


*Bersambung

__ADS_1


**


__ADS_2