Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Kritis


__ADS_3

Setiap hari Marya ikut ke kebun, membuat Kanzo juga terpaksa ikut. Tapi Kanzo tidak ikut bekerja di kebun cabe istrinya itu. Melainkan mengerjakan pekerjaan di saung yang berada di sekitar kebun cabe.


Meski dalam keadaan hamil besar, istrinya itu sangat terlihat aktif bergerak, memetik cabe. Kanzo tau, sebenarnya istrinya itu menghindarinya.


'Apa selama di sini dia terus bekerja seperti itu?' batin Kanzo bertanya sambil memperhatikan Marya yang sibuk memetik cabe.


Sudah seminggu tinggal bersama keluarga Marya. Tapi sepertinya Marya belum ada tanda tanda bisa menerimanya. Bahkan tidur malam pun, Marya bersama Ibunya di kamar sebelah.


"Awu!" ringis Marya memegangi perutnya.


Kanzo yang melihat Marya meringis dari kejauhan langsung turun dari dalam saung, berlari ke arah Marya.


"Sayang, kenapa?" tanya Kanzo khawatir.


Bulan ini sudah waktunya Marya melahirkan, bisa saja istrinya itu mulai mengalami kontraksi palsu.


Marya menganggukkan kepalanya.


"Ayo istirahat dulu" ajak Kanzo, memapah Marya berjalan ke arah saung.


"Kamu itu gak bisa diam, jangan terlalu memaksa diri. Apa gunanya kamu membayar orang untuk mengurus kebun mu ini?, kalau kamu masih harus turun tangan" ucap Kanzo.


"Aku bosan kalau berdiam diri di rumah. Lagian kata Dokter, aku harus banyak bergerak biar mudah melahirkan" jawab Marya.


"Tapi jangan berlebihan, itu juga tidak bagus. Bagaimana kalau kamu kelelahan?." Kanzo melap keringat di kening Marya dengan tissu. Kemudian memberikan istrinya itu air putih.


"Aku sudah terbiasa bekerja, dari lagi hingga larut malam pun kujalani" sindir Marya.


Kanzo menghela napasnya, ternyata sangat susah meluluhkan hati istri yang terlanjur marah dan sakit hati. Sifat Marya sangat berubah sekarang, tidak seperti dulu patuh dan takut melihatnya.


"Ayo kita pulang, kalau di sini pasti kamu akan bekerja terus. Hari sudah panas, lihat kulitmu sudah merah di terpa sinar matahari."


"Aku gak mau" tolak Marya cepat.


Marya takut, kalau mereka di rumah berdua, Kanzo akan meminta dilayani. Marya tidak mau lagi menjadi budak nafs* pria itu.


"Marya" tegur Kanzo lembut.


"Kalau Pak Kanzo mau pulang, pulang aja Sanah!. Sekalian aja pulang ke kota" cetus Marya.

__ADS_1


"Kenapa sekarang kamu menjadi pembangkang Marya?. Padahal aku sangat menyukaimu yang lemah lembut dan penurut. Apa kamu sengaja berubah supaya aku tidak menyukaimu lagi?."


Marya langsung menajamkan pandangannya ke wajah Kanzo." Kerasnya hidup... itu yang membuatku berubah."


"Marya" tegur Kanzo dengan mata berkaca kaca.


**


Pulang dari kebun, Marya langsung mandi. Setelah itu Marya ke dapur untuk memasak makan malam mereka. Meski lelah, Marya harus tetap memasak, kalau tidak mereka tidak akan bisa makan. Karna di kampung itu tidak ada penjual nasi.


"Duduklah, biar aku saja yang memasak" ucap Kanzo mengambil kuali penggorengan dari tangan Marya.


Marya memberikannya, mundur ke belakang mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan, memperhatikan setiap gerakan Kanzo yang sibuk memasak.


'Aku ragu untuk memulainya dari awal, meski aku masih mencintaimu Pak Kanzo. Ibu Bella, kamu pasti tidak bisa melupakannya. Apa lagi Ibu Bella sudah memberimu dua orang anak. Aku yakin, Pak Kanzo masih mencintainya' batin Marya.


"Awu! isssh!"


Marya langsung tersadar dari lamunannya saat merasakan tiba tiba perutnya sakit lagi. Setelah tadi pagi, ini yang ke dua kalinya.


"Sayang, sakit lagi?."


"Tenanglah, gak apa apa." Kanzo menurunkan tubuhnya di depan Marya, lalu mengelus elus lembut perut Marya.


Marya menganggukkan kepalanya dan menelan air ludahnya bersusah payah. Sepertinya sudah waktunya ia akan melahirkan, marya sangat takut.


"Kalau terasa sakit lagi, langsung tarik napas pelan pelan, dan keluarkan perlahan. Aku siapkan masakanku dulu, baru kita periksa ke Dokter" ucap Kanzo terlihat tenang. Meski sebenarnya ia sangat khawatir, tapi sebagai suami, ia tidak boleh panik.


Marya pun mengangguk patuh tanpa bisa bicara lagi, karna sangking tegangnya akan menghadapi melahirkan.


Selesai memasak, Kanzo pun membawa Marya ke Dokter kandungan untuk periksa. Kata Dokternya, Marya masih mengalami kontraksi palsu, dan belum ada pembukaan jalan lahir. Sehingga Kanzo membawa pulang Marya kembali ke rumah.


"Ayo makanlah, jika sudah waktunya melahirkan, kamu punya tenaga yang banyak" ucap Kanzo menyuapkan makanan ke mulut Marya.


Marya langsung menerimanya.


Saat sibuk menyuapi Marya, tiba tiba handphon Kanzo berbunyi dari atas meja sofa di ruang tamu. Ya, sekarang ini mereka sedang berada di ruang tamu sederhana itu.


"Sebentar sayang" ucap Kanzo mengambil ponselnya dari atas meja, setelah melihat yang menghubunginya adalah sang Mama.

__ADS_1


"Halo Ma! ada apa?" tanya Kanzo.


"Kanzo, cepat pulang, Ezio mengalami kritis."


Dug dug dug !


Jantung Kanzo langsung memompa lebih cepat dari biasanya. Kanzo pun mengarahkan pandangannya ke wajah Marya yang juga menatapnya.


Apa yang dilakukannya sekarang?, Marya juga akan melahirkan, dia sudah berjanji akan menemani wanita itu melahirkan. Kalau dia pulang, pasti Marya akan merasa di abaikan lagi. Jika dia tidak pulang, tapi putranya sangat membutuhkannya.


"Kanzo!" panggil Ibu Liana mendengar Kanzo diam saja.


Kanzo masih terdiam dengan seribu kebingungan.


"Pergilah!" ucap Marya.


Meski tidak tau apa yang di bicarakan orang yang menghubungi Marya. Tapi Marya bisa menebak, kalau Kanzo di suruh pulang.


"Ezio kritis" lirih Kanzo dengan mata berkaca kaca.


"Pergilah" Marya berdiri dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamar Ibu Hayati yang di tempatnya selama Kanzo di kampung.


Di dalam kamar, Marya menangis terisak. Berpikir Kanzo akan pergi demi anaknya yang lain. Kanzo akan selalu menomor duakannya. Ia dan anak di dalam kandungannya tidak lebih penting dari yang lain.


Sedangkan Kanzo yang masih di ruang tamu, mematikan sambungan teleponnya sepihak. Duduk termenung dengan perasaan khawatir, resah, gelisah, gundah dan dilema. Kanzo bingung harus mengutamakan yang mana.


"Pulanglah, Marya tidak akan apa apa. Anakmu lagi kritis, dia lebih membutuhkanmu" ucap Ibu Hayati yang sempat mendengar pembicaraan Kanzo tadi.


Kanzo menoleh kepada Ibu Hayati yang berdiri di samping sofa yang di duduki nya, lalu menggeleng.


"Tidak tanpa Marya Bu" ucap Kanzo tanpa bisa membendung air matanya.


"Kalau dia tidak mau kamu bawa, apa kamu tidak akan pulang?" tanya Ibu Hayati.


Kanzo menggeleng lagi," aku sudah mengabaikan Marya dan kandungannya selama ini demi anakku Ezio. Jika aku mengabaikan mereka lagi, itu tidak adil bagi Marya dan anakku yang berada di dalam kandungannya."


Ibu Hayati menghela napasnya. Sebagai orang tua, ia pasti tau seperti apa perasaan Kanzo saat ini. Tapi Marya yang sudah di kecewakan pria itu, tidak akan mengerti di posisi Kanzo. Apa lagi saat ini, Marya sangat membutuhkan Kanzo di sisinya, untuk mendampinginya menjelang kelahiran anak mereka.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2