
" Maaf, maksud kedatangan kalian ke sini apa ya?" tanya Ibu Hayati setelah semua tamunya duduk di sofa yang ada di ruang tamu kecil itu.
"Untuk Marya Bu" jawab Kanzo.
Ibu Hayati mengalihkan pandangannya ke arah Kanzo yang sedang menarik napas.
"Maaf, sudah menelantarkan Marya Bu. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Ada hal yang...."
"Paling penting dari putriku" potong Ibu Hayati cepat sebelum Kanzo menyelesaikan kalimatnya.
Kanzo terdiam, tidak bisa menjelaskan alasannya lagi kenapa ia tidak mencari Marya, kenapa tidak pernah menanyakan kabar sama sekali.
"Bella, istri pertama Kanzo...."
"Yang paling penting bagi kalian" potong Ibu Hayati lagi, membuat Ibu Liana terdiam seketika.
"Bukan Bella, tapi...."
"Anak yang ada di dalam kandungannya" potong Ibu Hayati lagi, berhasil membuat Pak Bagus terdiam.
"Putriku itu tidaklah penting untuk kalian. Aku tau kalian datang ke sini untuk bayi di dalam kandungannya, tidak sama sekali untuk putriku" ucap Ibu Hayati dengan hati yang terluka.
Kanzo menggelengkan kepalanya, kemudian mendekati Ibu Hayati dan bersimpuh di kaki wanita itu.
"Aku minta maaf Bu...."
"Tidak bisakah kamu menanyakan kabarnya sesekali jika kamu tidak punya waktu untuk menyusulnya?" potong Ibu Hayati lagi.
"Aku terpaksa mengabaikan Marya dan anakku yang berada di kandungannya, demi keselamatan anakku yang berada di dalam kandungan Bella, Bu." Kanzo mencoba menjelaskan alasannya kepada Ibu Hayati.
Selama hampir delapan Bulan ini, Kanzo terpaksa menuruti permintaan Bella yang tidak mengijinkannya kemana mana. Bahkan bekerja pun Kanzo di rumah, Cici dan Haris terpaksa harus mondar mandir mengantar berkas yang harus di tanda tanganinya. Dan hampir dua puluh empat jam, Kanzo harus berada di samping Bella. Dan Kanzo juga tidak di perbolehkan memegang handphon sama sekali. Bella benar benar membuatnya terkekang tidak bisa kemana mana demi keselamatan bayi di dalam perut Bella.
Sedangkan Pak Bagus dan Ibu Liana, juga tidak bisa berbuat apa apa untuk membantu Kanzo, selain harus sabar menunggu waktunya tiba Bella melahirkan anaknya.
"Saya tidak peduli alasan kalian" balas Ibu Hayati." Yang saya minta sama kalian, jangan mengusik hidup kami. Kami sudah tenang dengan kehidupan kami yang sekarang. Dan Marya juga sudah berhasil berdamai dengan kenyataan hamil tanpa suami. Tolong, jangan mengganggunya lagi."
__ADS_1
"Bagaimana bisa seperti itu. Cucu kami membutuhkan Ayah dan Ibunya untuk bersama" ucap Ibu Liana membantu membujuk Ibu Hayati yang lagi marah hatinya.
Bella sudah di ceraikan, jika mereka tidak berhasil membawa Marya pulang bersama mereka, siapa yang akan menjadi sosok Ibu untuk cucu cucunya?.
"Aku rasa Cucu kalian yang masih berada di dalam kandungan itu, juga sudah terbiasa tanpa kehadiran Ayahnya." Sepertinya hati Ibu Hayati sudah mengeras, tak ingin putrinya menjadi istri dari Kanzo.
"Kami tau kalau kami sudah salah, makanya kami datang ke sini untuk memperbaiki kesalahan kami, terutama kesalahan anak kami yang telah menikahi putri Anda tanpa sepengetahuan Anda" ucap Ibu Liana lagi.
"Saya rasa tidak ada yang perlu diperbaiki. Semua masalah sudah beres, hanya perlu mengurus perceraian mereka saja. Dan saya juga sudah akan menikahkan putri saya dengan pria pilihannya, setelah dia melahirkan nanti" balas Ibu Hayati.
"Marya istriku, Ibu tidak bisa menikahkannya dengan pria mana pun" sanggah Kanzo.
Ibu Hayati mengulas senyumnya.
"Pernikahan kalian tidak sah tanpa wali" ucap Ibu Hayati.
"Pak Maiman sudah menyerahkan haknya kepada pihak KUA, untuk menikahkan Marya. Jadi Marya sah menjadi istriku" ungkap Kanzo.
Berhasil membuat Ibu Hayati terdiam.
"Kau sudah melukai hatinya!. Kau mengabadikannya. Kau membiarkannya melewati masa kehamilannya sendiri!. Kau membuatnya menanggung malu!, membuatnya menjadi buah bibir orang orang karna hamil tanpa suami!. Kau suami macam apa?. Sekarang kalian datang saat bayi itu akan lahir!. Apa kalian pikir?, kalian masih punya hak atas putriku!, atas bayi yang berada di dalam kandungannya!."
Ibu Hayati akhirnya tidak bisa menahan emosinya lagi, setelah mendengar apa yang di katakan Kanzo. Ternyata suaminya telah menjual putrinya kepada pria yang sudah beristri. Membiarkan putrinya menjadi budak nafs* pria yang masih bersimpuh di depannya itu.
Ibu Hayati memegangi kepalanya, tiba tiba kepalanya terasa pusing. Ya Tuhan, seharusnya dia bisa mengontrol emosinya, supaya darah tinggi atau gula darahnya tidak naik.
"Ibu!"
Adi yang dari tadi diam berdiri di kusen pintu, berlari mendekati Ibu Hayati.
"Tadi Adi sudah bilang, Ibu jangan membuka pintu. Biar Adi yang menghadapi mereka. Jadi Ibu kepala Ibu pusing kan?" ucap Adi memijat pangkal leher belakang Ibu Hayati.
Mendengar suara Adi memanggil Ibunya, Marya yang menguping di balik pintu kamarnya terpaksa keluar, khawatir dengan penyakit Ibunya kambuh.
Melihat Marya, Kanzo langsung berdiri dari lantai, menangkap tubuh Marya ke pelukannya.
__ADS_1
"Marya!" lirih pria itu menangis.
Marya membeku sebentar dan langsung tersadar. Marya pun mendorong tubuh Kanzo, supaya pria itu melepas pelukannya. Namun Kanzo malah semakin memeluknya erat. Sampai bayi di dalam perut Marya pun protes dengan cara menendang kuat dari dalam.
"Awu!" keluh Marya dan Kanzo bersamaan.
Meski masih menangis, Kanzo mengulas senyumnya merasakan tendangan anaknya dari dalam.
"Aku mencintaimu Marya" ucapnya mengecup leher Marya."Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu. Aku mencintai kalian."
Marya tidak peduli, ia pun memutar mutar tubuhnya, meronta supaya Kanzo melepasnya.
" Kepaskan Kakak ku Bajing*n!" bentak Adi melayangkan tinju ke leher Kanzo dari samping.
Berhasil membuat Kanzo tak sadarkan diri karna terkejut dan merasa sakit di bagian lehernya. Marya yang di peluk Kanzo, terpaksa menahan tubuh pria itu supaya tidak ambruh ke lantai.
"Kanzo!" ucap Ibu Liana, Pak Bagus dan Haris bersamaan, melihat Kanzo pingsan akibat bogeman bocah SMP itu.
Haris pun terpaksa berdiri dari tempat duduknya, untuk mengambil tubuh Kanzo dari pelukan Marya, dan membaringkannya di lantai begitu saja. Karna tidak berani membawa Kanzo masuk ke salah satu kamar rumah itu.
" Bawa bajing*n itu dari sini !. Pergi kalian! jangan mengganggu kami!. Dan jangan pernah datang ke sini lagi !" teriak Adi mengusir keluar Kanzo.
"Adi, hei ! kamu mengusir Kakak." Widuri mendekati Adi, mencoba menenangkan bocah yang sedang emosi itu.
"Kalau Kak Widuri juga bagian dari mereka. Kakak juga pergi dari sini." Adi menghela napasnya mencoba menurunkan emosinya.
"Tentu Kakak bagian dari kalian" ucap Widuri mengulas senyumnya.
"Tapi Kak Widuri datang bersama mereka."
"Aku hanya nebeng aja, supaya gratis ongkos, lumayan buat beli jajan" cengir Widuri.
Tentu itu tidak benar. Alasannya ikut, selain kangen dengan sahabatnya, Widuri di minta Kanzo untuk membantunya, menjelaskan alasannya tidak mencari Marya, bahkan tidak mengirim kabar.
*Bersambung
__ADS_1