
Setelah berpamitan kepada Ibu Hayati, Kanzo keluar dari rumah sederhana itu, melangkah masuk ke dalam mobilnya, duduk di kursi penumpang belakang.
"Jalan Pak!" suruh Kanzo kepada supir pribadi yang di sewanya di kampung itu.
"Bapak baru sampai, langsung berangkat lagi Pak?" tanya sang supir.
Kanzo menghela napasnya sebelum menjawab." Iya Pak, tiba tiba terjadi masalah di perusahaan. Tapi kita ke makam dulu ya, Pak!."
"Baik, Pak" patuh supir itu dan langsung melajukan kendaraannya.
Sampai di sebuah makan berukuran kecil. Kanzo menurunkan tubuhnya, berjongkok dan memegang batu nisan bertulisan Zion Abrar Salim bin Kanzo Rivandra Salim.
"Zion, apa yang harus Papa lakukan, Nak?. Supaya Mama kamu menerima Papa. Supaya Mama kamu bisa memaafkan Papa. Supaya luka hati Mama kamu terobati" ucap Kanzo menangis.
"Papa sadar sudah melakukan kesalahan, telah mengabaikan kamu dan Mama kamu. Tapi Papa melakukan itu demi menyelamatkan Kakak kamu Ezio, Nak!" Isak tangis Kanzo." Kenapa kamu dan Kakak kamu memilih pergi?. Apa kalian gak kasihan melihat Papa?, apa kamu gak kasihan melihat Mama kamu bersedih, Nak?."
hampir satu jam Kanzo mencurahkan kegundahannya di makan Zion anaknya. Baru Kanzo meninggalkan tempat itu. Setelah hari ini, Kanzo tidak tau kapan lagi ia akan mengunjungi makam anaknya itu.
Sampai di kota, Kanzo tidak langsung pulang ke rumah. Ia langsung pergi ke perusahaan, menghabiskan waktu dengan bekerja keras untuk mengalihkan pikirannya dari Marya.
**
Hingga waktu pun terus berlalu, dua Tahun sudah perpisahan Marya dan Kanzo. Apa kabar wanita itu?, pikir Kanzo yang sibuk di depan laptopnya.
Selama dua Tahun ini, Kanzo tidak pernah melihat Marya. Meski Kanzo pulang ke kampung untuk menjiarahi makan anaknya, Kanzo tidak sama sekali berkunjung ke rumah yang di tempati Marya dan keluarganya.
Namun yang membuat Kanzo heran, meskipun mereka sudah berpisah selama dua Tahun, tapi pernikahan mereka masih terdaftar di pemerintahan. Itu artinya, Marya belum menggugat cerai.
'Apa kabarmu sayang?' batin Kanzo mengulas senyumnya.
Ah! tapi dimana wanita itu sekarang?. Kanzo mendengar kabar, Marya sudah tidak di kampung lagi, hanya tinggal Ibu dan Adiknya yang tinggal di sana. Sepertinya Marya pergi merantau, mengepakkan sayapnya terbang bebas kesana kemari.
Tok tok tok!
"Masuk!" sahut Kanzo mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar.
"Zo, aku sudah berhasil menemukan Nona Marya" ucap Haris yang baru masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Dimana?" tanya Kanzo.
"Dia baru pulang dari luar Negri menyelesaikan pendidikan S2nya. Dan sekarang dia di terima bekerja di salah satu perusahaan, sebagai Asisten Direktur" jawab Haris
Kanzo mengulas senyumnya.
"Tarik dia ke perusahaan cabang yang baru. Aku rasa dia tidak akan tau soal anak cabang perusahaan itu" ucap Kanzo.
"Bagaimana bisa?" tanya Haris.
Kanzo berdecak," Masa itu saja kamu harus bertanya."
"Bukankah kamu sudah membebaskannya?, kenapa masih saja ingin menjeratnya?" heran Haris.
"Salah dia sendiri, aku sudah membebaskannya, tapi kenapa dia sendiri tidak melepas tali yang mengikatnya?" tanya balik Kanzo.
"Terserah kau saja." Haris malas jika harus ikut campur dengan urusan rumah tangga sahabatnya itu.
Tok tok tok!
"Masuk!" sahut Kanzo lagi mendengar pintu ruangannya di ketuk lagi.
"Ada apa?" tanya Kanzo datar.
"Kanzo, ijinkan aku bertemu dengan Areta. Aku Ibunya Zo, aku juga berhak dengan Areta" mohon Bella. Sudah dua Tahun Kanzo tidak memberikan ijin kepada Bella untuk menemui Areta.
"Setelah Ezio kamu biarkan sakit dan meninggal. Apa kamu masih merasa menjadi seorang Ibu?" ujar Kanzo.
Ia tau hanya akal akalan Bella. Bella ingin memanfaatkan putri mereka supaya Bella bisa membujuk Areta untuk mereka rujuk.
"Kenapa kamu hanya menyalahkan ku atas meninggalnya Ezio?. Jika kamu tidak berselingkuh, menikah diam diam, aku pasti akan mengurus Ezio dengan baik" geram Bella, Kanzo selalu menyalahkannya atas meninggalnya Ezio.
"Cih! mengurus dengan baik" cibir Kanzo berdecih." Apa waktu Areta baru lahir, kamu sudah merasa mengurusnya dengan baik?. Kamu tidak mau memberi asi Areta. Kamu takut buah dad*mu itu menjadi kendor. Takut tidak ada lagi laki laki yang tertarik dengan tubuhmu itu!" marah Kanzo.
"Kamu menyukai aku karena kecantikanku Kanzo!. Kalau aku tidak merawat tubuhku, aku akan menjadi jelek. Apa kamu masih menyukai aku?, tidak Kanzo!. Kamu pasti akan mencari wanita yang masih cantik." Bella membela diri tak terima di salahkan.
"Nyatanya kamu yang selingkuh duluan Bella" gemas Kanzo berbicara merapatkan gigi giginya.
__ADS_1
Sudah jelas wanita itu yang salah, tapi tidak mau di salahkan, dan malah mencari kesalahan orang.
" Pergi kamu dari sini" usir Kanzo.
"Aku gak akan pergi sebelum kamu memberiku ijin menemui Areta" tolak Bella.
"Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan Areta. Mending kamu pergi sekarang juga, atau aku akan menyuruh satpam menyeretmu dari sini" usir Kanzo menatap Bella Marya.
Di luar gedung perusahaan, seorang wanita memarkirkan mobilnya dengan sempurna di parkiran yang tersedia. Wanita itu sengaja ke sana untuk menjemput sahabatnya yang masih bekerja di perusahaan itu. Wanita berwajah cantik itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, lalu menghubungi nomor kontak sahabatnya.
"Halo Wid! aku sudah di parkiran" ucap Wanita itu.
"Oh ya ?, tunggu sebentar" seru suara wanita bernama Widuri itu dari dalam telepon. Tanpa mematikan sambungan teleponnya, Widuri pun merapikan meja kerjanya dengan cepat.
Sedangkan Wanita cantik itu memutar pandangannya ke sekitar parkiran perusahaan, seperti mencari sesuatu.
'Diamana mobilnya?, kenapa gak ada?, Apa dia ganti mobil lagi?' batin wanita itu bertanya.
Saat mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk perusahaan di depannya. Pandangan wanita itu langsung terkunci kepada sosok wanita yang baru keluar dari dalam pintu kaca itu.
"Bu Bella" gumam wanita itu tidak melepas pandangannya sampai wanita bernama Bella itu masuk ke dalam mobilnya.
'Ngapain dia ke sini?. Apa Pak Kanzo dan Ibu Bella rujuk?.'
Tok tok tok!
Wanita itu langsung tersadar dari lamunannya mendengar kaca mobilnya di ketuk dari luar. Marya pun langsung membuka pintu kursi penumpang depan mobilnya.
"Marya!" jerit Widuri girang langsung memeluk memeluk sahabatnya itu." Apa kabar?, aku sangat kangen tau" ucap Widuri dengan mata berkaca kaca.
"Baik, bagaimana denganmu?" tanya balik Marya membalas pelukan Widuri.
"Sampai sekarang masih gadis, gak laku laku" rajuk Widuri.
Usianya sudah matang untuk menikah, namun batang hidung jodohnya belum juga kelihatan hilalnya.
"Kamu terlalu milih milih sih." Setelah melepas pelukannya, Marya langsung melajukan kendaraannya meninggalkan halaman perusahaan milik dari Ayah mendiang anaknya itu.
__ADS_1
"bagaimana denganmu?, apa sudah menemukan pria yang baru?."
*Bersambung