
"Aku yakin kabarnya pasti bahagia, melihat kedua orang tuanya sudah hidup bahagia. Tapi, aku rasa ini tidak adil untuk Ezio" ucap Marya. Sontak membuat Kanzo menoleh ke arahnya.
"Ezio juga pasti bahagia melihat Papanya bahagia dengan wanita yang mencintai Papanya" balas Kanzo tersenyum ke arah Marya.
"Bagaimana dengan Papanya Ezio? Apa dia mencintai wanita itu?." Marya membalas senyuman Kanzo.
"Tentu aku mencintaimu sayang." Kanzo menarik gemas hidung Marya. Entah kenapa akhir akhir ini, Kanzo sangat suka menarik hidung mancung istrinya itu.
"Semenjak kapan?" tanya Marya lagi, penasaran.
"Aku gak tau" jawab Kanzo." Yang jelasnya, aku merasa tidak rela jika harus melepasmu semenjak malam pertama kita."
"Itu namanya bukan cinta, tapi nafs*." Marya berdiri kembali dan melangkahkan kakinya menjauhi Kanzo. Dan Kanzo pun langsung menyusulnya.
Kanzo meraih pergelangan tangan Marya, menariknya ke arah parkiran mobil mereka.
"Kamu tau Marya?."
"Nggak" jawab Marya cepat.
Kanzo menyandarkan tubuh Marya ke body mobil mereka, kemudian Kanzo mendekatkan wajahnya ke telinga Marya, lalu berbicara berbisik.
"Kamu, pengalaman pertamaku dengan wanita yang masih gadis."
Marya langsung menajamkan pandangannya ke wajah Kanzo yang sudah berada di depan wajahnya, dengan pikiran yang bertanya tanya.
"Tapi bukan karena itu aku mencintaimu." Kanzo menjeda kalimatnya sebentar, memandang wajah Marya dengan penuh cinta." Setiap melihat wajahmu, aku selalu yakin, ada cinta untukku di dalam dirimu." Kanzo menjeda kalimatnya lagi sebentar."
"Gombal!"
Kali ini Marya yang menarik hidung Kanzo, kemudian mendorong pria itu supaya menjauh dari depannya.
"Serius, sayang" Kanzo menarik Marya ke dalam pelukannya saat wanita itu akan membuka pintu mobil mereka.
"Aku sudah lapar, ayo kita ke rumah" aja Marya. Tadi dari bandara, mereka langsung ke makam terlebih dahulu.
"Baiklah, sayang. Apa pun untukmu." Kanzo membuka pintu di sampingnya, kemudian membantu Marya masuk dan duduk di dalam mobil.
Setelah menghabiskan waktu dua hari di kampung. Sekarang mereka sudah sampai di kota. Seperti yang di katakan Marya, dia akan ikut bergabung ke perusahaan untuk membantu Kanzo. Meski posisinya tidak jelas di perusahaan itu. Tapi Marya tetap ingin ikut berkerja meski tidak di gaji. Tidak masalah, Kanzo selalu memberinya uang yang banyak.
__ADS_1
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, Kini kandungan Marya sudah memasuki sembilan Bulan. Perutnya sudah terlihat besar seperti akan meletus. Namun wanita itu masih ikut aktif membantu Kanzo bekerja.
"Sayang, mulai besok kamu gak usah ikut lagi ya. Kan sudah ada Haris dan Cici yang membantuku" ucap Kanzo melihat Marya sering kesusahan berdiri dari kursinya.
"Aku gak mau" tolak Marya tak terbantahkan.
"Sebentar lagi kamu akan melahirkan, nanti kamu kecapean sayang" bujuk Kanzo.
"Gak mau" tolak Marya lagi.
"Marya" tegur Kanzo lembut.Meski dari luar terlihat lembut, tapi istrinya itu sangat keras kepala, apa lagi semenjak hamil.
Marya yang berjalan ke arah pintu, mengabaikan suaminya itu yang melihatnya dengan geleng geleng kepala. Marya menarik pintu di depannya dan langsung keluar. Marya akan turun ke lantai bawah gedung perusahaan itu untuk menemui Widuri sahabatnya yang masih bekerja sebagai resepsionis. Marya akan mencari makanan di luar bersama Widuri.
"Wid, ayo cari makan" ajak Marya setelah berada di ruang loby perusahaan itu.
Widuri yang di ajak menganggukkan kepalanya, dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Kemana?" tanya Widuri, biasanya setiap hari selera si bumil cantik itu berbeda beda.
"Depan aja, aku pengen makan ayam sambal ijo" jawab Marya.
Keluar dari gedung perusahaan, Marya dan Widuri pun menyebrang jalan ke arah sebuah restoran di depan perusahaan.
"Marya!, kok aku seperti kenal deh sama itu perempuan" ucap Widuri memperhatikan seorang wanita yang duduk tidak jauh dari meja mereka.
Marya yang sibuk menyedot minumannya, menoleh ke arah yang di tunjuk Widuri. Marya mengerutkan keningnya memperhatikan wanita itu.
"Mirip Bu Bella" gumam Marya.
"Iya, aku juga pikir seperti itu, tapi berbeda dengan Ibu Bella. Ini lebih terlihat jelek" ucap Widuri.
Marya diam dan terus memperhatikan wanita yang mirip dengan mantan istri Kanzo itu.
'Apa itu benar Ibu Bella?, tapi kenapa wajahnya berubah jelek' batin Marya.
"Silahkan, Kakak kakak."
Suara pelayan yang meletakkan makanan di atas meja itu, berhasil membuyarkan lamunan Marya. Marya langsung menoleh sebentar ke arah pelayan itu.
__ADS_1
"Trimakasih!" ucap Marya tersenyum.
'Gara gara Dokter sialan itu, wajahku menjadi jelek. Tapi untung saja, mereka tidak mengenaliku. Dan tunggu.'
Bella mengerutkan keningnya, berpikir kenapa Marya dan Widuri ada di daerah itu.
'Kenapa mereka ada di daerah sini?. Bukankah perusahaan cabang milik Kanzo berada di daerah XX?' tanya Bella di dalam hati.
"Sayang!."
Suara pria yang sangat di kenalnya itu, berhasil menyadarkan Bella dari lamunannya.
'Kanzo' batin Bella lagi melihat Pria yang pernah menjadi suaminya itu masuk ke dalam restoran itu, mendudukkan tubuhnya di samping wanita yang pernah menjadi madunya itu.
"Kenapa gak ngajak Haris?. Widuri sudah memesan makanan untuknya" tanya Marya melihat Kanzo hanya datang sendiri.
"Cici membawa makan siang untuknya" jawab Kanzo.
Marya menghela napasnya, menatap iba ke arah Widuri yang duduk di sampingnya.
Tiga Bulan yang lalu, Widuri terpaksa harus menikah dengan Haris. Dan Haris juga terpaksa harus menikahi Cici. Sehingga Haris terpaksa harus memiliki dua istri. Tapi Haris lebih banyak menghabiskan waktu bersama Cici.
"Aku gak apa apa" ucap Widuri tak ingin Marya terus merasa kasihan melihatnya.
"Kenapa masih bertahan?. Kamu bisa meminta cerai, dari pada kamu makan hati berkepanjangan."
"Sayang, jangan menghasut Widuri untuk bercerai. Biarkan Widuri mengambil keputusan sesuai hati nuraninya. Lagian, menyelesaikan masalah rumah tangga itu, tidak melulu harus dengan perceraian" ucap Kanzo.
"Kalian berdua sama aja, egois!" cetus Marya, lalu menyuapkan makanan di depannya ke mulutnya.
Wajarkah suaminya itu membela Haris. Tuan muda Salim itu juga pernah mengait dua wanita dalam hidupnya.
"Kalau aku gak egois, gak mungkin kamu hamil mengandung anakku, sayang. Udah, jangan ikut campur masalah rumah tangga orang." Kanzo mengusap lembut perut buncit istrinya itu.
Marya mendengus, kesal jika mengingat waktu dulu, Kanzo memaksanya menikah.
'Marya lagi hamil?' batin Bella yang memperhatikan interaksi Kanzo dan Marya dari tadi dari meja lain restoran itu.
'Mereka berdua kelihatan sangat bahagia. Apa lagi Kanzo, senyumnya tidak pernah terlihat setulus itu' batin Bella lagi yang sudah mulai menyesali perbuatannya yang dulu pernah menyelingkuhi Kanzo demi sebuah nafs*.
__ADS_1
Sekarang hidupnya sudah hancur, tidak memiliki masa depan yang pasti lagi. Apa lagi semenjak operasi wajahnya gagal. Bella sering kali mendapat cibiran dari orang orang, bahkan teman temannya. Sehingga Bella tidak punya teman sekarang. Dan uangnya pun sudah mulai menipis karena tidak ada pemasukan. Ingin mencari pekerjaan, namanya sudah si blacklist di seluruh perusahaan. Dan bahkan sekarang Bella masih berstatus buronan.
*Bersambung