Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Gak salah memilih lagi


__ADS_3

"Kanzo, bawalah istrimu liburan. Supaya istrimu tidak suntuk mengurung diri di kamar terus. Kamu bisa membawanya ke tempat liburan yang lebih privat" ujar Ibu Liana.


Sudah seminggu Marya mengurung diri di dalam kamar. Tidak mau keluar sama sekali, malu bertemu dengan siapa pun, bahkan dengan pembantu di rumah itu.


"Aku udah mengajaknya Ma, tapi Marya gak mau sama sekali" balas Kanzo menghela napasnya.


Ibu Liana juga ikut menghela napas, bingung bagaimana caranya untuk mengembalikan kepercayaan diri menantunya itu.


"Ini semua gara gara Bella. Kok bisa bisanya dulu kamu jatuh cinta kepada wanita itu. Kalau di bilang cantik, masih banyak wanita lebih cantik di luar sana" kesal Ibu Liana, mengingat istri pertama anaknya itu.


"udahlah Ma, gak usah di ingat ingat lagi." Kanzo yang duduk di sofa ruang keluarga, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dengan dengan tangan di bawah kepala.


"Kamu sih, terlalu memandang fisik dan rupa. Akhirnya salah memilih istri" cibir Ibu Liana.


"Tapi sekarang aku gak salah memilih lagi." Kanzo tersenyum lalu berdiri dari tempat duduknya." Aku ke kamar, Ma. selamat malam." setelah mengecup ujung kepala wanita yang melahirkannya itu, baru Kanzo melangkah ke arah tangga untuk naik ke lantai dua rumah itu.


Sampai di dalam kamar, di lihatnya Marya duduk bersandar di atas kasur sambil bermain ponsel.


"Sayang!" panggil Kanzo, Marya refleks menoleh. Kanzo menarik ponsel itu dari tangan Marya, meletakkannya di atas meja nakas.


Cup!


Satu kecupan Kanzo berikan di bibir wanita yang di cintai nya itu. Melihat Marya diam saja memandanginya, Kanzo mengecup kembali bibir wanita itu, lagi dan lagi, perlahan menyapunya dengan lembut.


"Aku gak mau" tolak Marya saat ciuman Kanzo berpindah ke lehernya. Marya menyilang kan kedua tangannya di depan dada, khawatir Kanzo menarik bajunya.


"Kenapa gak mau sayang? Hm!. Kita ini suami istri" tanya Kanzo lembut sambil mengelus pipi Marya dengan jempol tangannya.


"Aku malu" lirih Marya menundukkan pandangannya.


"Kenapa harus malu?" tanya Kanzo lagi. Semenjak kejadian itu, Marya selalu menolaknya untuk melakukan hubungan suami istri, Marya selalu mengatakan malu.


Marya diam tidak menjawab.


Kanzo yang sudah tidak tahan menahan hasratnya, pelan pelan membaringkan tubuh Marya, dan langsung merangkak di atas tubuh wanita itu. Kanzo menarik selimut untuk menutup tubuh mereka berdua.


"Aku sudah gak tahan, sayang. please ijinkan aku melakukannya. Gak usah buka baju, gak apa apa" bujuk Kanzo dengan raut wajah mengiba.


Marya diam menggigit bibir bawahnya, dan memandangi wajah Kanzo, kemudian menganggukkan kepalanya, pelan. Kanzo langsung mengulas senyumnya, lalu mengecup kening istrinya itu.

__ADS_1


Pelan pelan dan lembut tapi pasti, akhirnya Kanzo bisa menaklukkan istrinya yang membeku itu. Sampai Marya tak sadar bajunya sudah lepas semua tanpa sisa. Membuat Kanzo bisa leluasa menguasai seluruh tubuhnya tanpa penghalang.


Setelah selesai menuntaskan hasratnya, Kanzo membaringkan tubuhnya di samping Marya, membawa tubuh lelah wanita itu ke dalam pelukannya.


"Marya, trimakasih sayang" ucap Kanzo mengecup pipi Marya dari samping.


Marya yang masih sibuk mengatur napasnya, memindahkan kepalanya ke atas dada Kanzo, lalu membalas pelukan pria itu.


"Kenapa mereka jahat sama aku?" tanya Marya lirih, air matanya kembali mengalir.


"Mereka iri melihat kita, sehingga mereka tidak ingin melihat kita bahagia. Jangan memikirkannya lagi, semua Vidio itu sudah terhapus, dan Papa juga sudah memberi klarifikasi ke pemerintahan terkait" jawab Kanzo mengusap usap lembut kepala Marya yang berada di atas dadanya.


"Besok aku temani ke salon, mau?" tawar Kanzo.


Marya menggelengkan kepalanya."Aku malu ketemu orang" jawabnya.


"Jangan khawatir, salon itu punya sahabatku. Aku akan boking seharian khusus untukmu" ucap Kanzo.


Marya diam berpikir, lalu mengangguk pelan. Marya berpikir, ia perlu merubah penampilannya, supaya orang orang tidak langsung mengenalnya jika pergi keluar.


Kanzo mengulas senyumnya, lalu mengecup kening istri manja dan cengengnya itu.


"Udah, jangan menangis terus, nanti bisa bisa penglihatan mu menjadi rabun. Ayo kita tidur, tapi kalau istriku ini minta nambah, dengan senang hati...."


Kalimat Kanzo terpotong saat Marya memukul lengannya.


"Aku gak mau!" ucap Marya dengan suara manjanya.


"Manjanya" Kanzo gemas, lalu menjepit hidung istrinya itu.


Marya mengerucutkan bibirnya dengan wajah berbinar. Kanzo sangat baik padanya, dari awal pernikahan mereka yang pertama, Marya mengakui itu. Kanzo adalah pria yang lembut dan penyayang.


Namun drama romansa di atas kasur itu harus terhenti, ketika bunyi sebuah handphon berdering dari atas meja nakas. Kanzo langsung meraih ponsel itu, lalu mendial tombol hijau di layarnya.


"Halo Ayah, ada apa?" tanya Kanzo, ternyata yang menelepon itu adalah Pak Maiman.


"Bagaimana keadaan Marya?, apa dia masih mengurung diri" tanya Pak Maiman.


"Masih Yah!, tapi dia sudah mulai membaik" jawab Kanzo. Terdengar Pak Maiman menghela napas lega dari dalam handphon.

__ADS_1


Marya yang mendengar percakapan antara Ayahnya dan Kanzo, hanya diam saja sambil memandangi wajah tampan pria yang memangku kepalanya itu.


"Ada apa Yah?" tanya Kanzo lagi. Biasanya kalau mertuanya itu menghubunginya pasti ingin melaporkan sesuatu.


"Kami belum bisa menemukan dimana Bella berada. Ayah rasa dia sudah tidak di Indonesia lagi. Dan Anita juga menghilang, kami kehilangan jejaknya. Sepertinya ada yang membantu kedua wanita itu bersembunyi" jawab Pak Maiman.


"Iya Yah, gak apa apa. Nanti biar Haris yang mengurus pencarian kedua wanita itu" balas Kanzo.


Kalau sudah urusan mencari ke luar Negri, tentu Pak Maiman tidak bisa. Selain dengan keterbatasan bahasa, Pak Maiman juga sudah pasti tidak menguasai daerah luar.


"Kalau begitu, sudah dulu. Selamat malam, sampaikan salam buat putriku" ucap Pak Maiman, suaranya terdengar serat di akhir kalimatnya.


Iya Yah!" balas Kanzo, sambungan telepon itu pun langsung terputus.


Saat Kanzo meletakkan ponselnya di atas meja nakas, ponsel itu berdering kembali. Terpaksa Kanzo meraihnya lagi dan langsung mendial tombol hijau di layarnya.


"Halo Ris ada apa?" tanya kanzo langsung.


"Di perusahaan terjadi kebakaran, sepertinya ada orang yang sengaja membakarnya."


"Apa Ris?" Kanzo terlonjak kaget dan langsung turun dari atas kasur. Sampai tak sadar kepala Marya yang berada di pangkuannya, terjatuh ke kasur dengan kasar.


"Iya Zo. sepertinya yang melakukannya orang suruhan Baim" jawab Haris.


"Kamu dimana sekarang?" tanya Kanzo.


"Lagi di jalan menuju perusahaan" jawab Haris.


"Oke, saya juga akan berangkat sekarang." Kanzo langsung mematikan sambungan teleponnya, dan bergegas memakai pakaiannya. Setelah selesai, Kanzo mendekati Marya yang bergulung di bawah selimut.


"Sayang aku tinggal dulu" pamit Kanzo mengecup kening wanita itu dan langsung pergi dengan terburu buru.


Melihat Kanzo pergi, Marya langsung mengerucutkan bibirnya. Kanzo meninggalkannya lagi setelah enak enak.


'Mungkin sudah nasib menjadi istri di atas ranjang' batin Marya.


*Bersambung.


Ramaikan novel baru otor Yuk!.

__ADS_1


Berjudul di bawah ini:



__ADS_2