Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Masuk angin


__ADS_3

"Bangunlah, kamu pasti belum sarapan, biar aku temani." Kanzo yang sudah duduk di samping Marya yang masih terbaring, menarik lengan wanita itu, membantunya untuk duduk.


Marya menggelengkan kepalanya," Aku gak selera untuk sarapan sekarang. Berangkatlah, nanti aku akan sarapan."


Kanzo langsung menempelkan punggung tangannya ke kening dan lebar Marya, untuk mengecek suhu tubuh istrinya itu apakah demam atau tidak. Tapi syukurlah, istrinya itu tidak demam.


"Sepertinya aku lagi masuk angin" ucap Marya, lalu memeluk tubuh Kanzo, seperti enggan melepas pria itu pergi.


"Sepertinya kamu terlalu kelelahan. Istirahatlah, jangan terlalu banyak bekerja." Kanzo tau, seharian di rumah Marya pasti banyak bekerja sampai lupa untuk makan.


Marya yang berada di dalam pelukan pria itu, mengangguk dengan bibir tersenyum.


"Ada apa? Hm!."


Marya yang di tanya, semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh pria itu, dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang Kanzo.


"Perginya sebentar lagi ya, aku masih ingin peluk" jawab Marya.


Kanzo mengulas senyumnya, lalu mengecup ujung kepala wanita yang masih bau iler itu. Sepertinya istrinya itu pengen di perhatikan dan di sayang sayang, mengingat Kanzo sudah lama tidak punya waktu untuk sekedar memanjakan istrinya itu.


"Aku minta maaf ya, belum bisa menepati janjiku. Aku masih sering mengabaikan mu" ucap Kanzo dengan suara lembutnya.


Marya mendongakkan wajahnya kembali ke arah Kanzo, dan Kanzo langsung menjatuhkan satu kecupan di keningnya.


"Gak apa apa" ucap Marya sambil tangannya sibuk membuka kancing baju kemeja Kanzo, lalu menempelkan hidungnya di dada pria itu.


"Sayang, jangan sekarang" Kanzo mendecis merasa geli dengan perlakuan Marya di dadanya. Ia harus segera kembali ke kantor, jangan sampai para investor yang berbaik hati membantunya, lelah menunggunya nanti.


"Aku hanya pengen cium aja."


Tingkah istrinya itu sangat aneh, membuat Kanzo menjadi heran. Gak biasa biasanya istrinya itu menciumi dada sampai ketiaknya seperti itu.


Setelah puas menciuminya, baru Marya melepas hidungnya dari tubuh pria itu, dan mengancing kembali baju kemeja pria itu.


"Sudah" ucap Marya tersenyum, lalu meraih leher Kanzo untuk menggapai bibir pria itu dan menciumnya dengan hikmat. Membuat Kanzo tidak bisa untuk tidak membalas ciuman istri tercintanya itu. Setelah puas, baru mereka melepasnya, dan Marya memeluk tubuhnya kembali, hanya sebentar.


"Apa aku sudah boleh pergi, sayang?" tanya Kanzo melap bibir basah wanita itu dengan tangannya. Marya mengangguk.

__ADS_1


Tadi Kanzo sudah sampai di anak cabang perusahaan, yang menjadikan perusahaan pusat untuk sementara waktu. Karna ada berkas penting yang lupa di bawa, membuat Kanzo terpaksa kembali pulang ke rumah. Yang berakhir harus meladeni kemanjaan istrinya itu.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Hari ini istirahatlah yang banyak. Nanti jangan lupa makan." Kanzo berdiri dari tempat duduknya dan langsung melangkah pergi setelah menjatuhkan satu kecupan di kening istrinya itu.


Melihat Kanzo sudah menghilang di balik pintu, Marya turun dari atas kasur, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Marya langsung keluar, dan memakai pakaiannya, lalu keluar kamar.


Sampai di dapur, Marya langsung mengambil panci untuk memasak makanan untuknya.


"Nona" panggil pembantu rumah itu." Nona mau masak apa?. Biar saya aja yang memasaknya, Nona."


"Biar aku saja Bi. Bibi bisa mengerjakan yang lain" tolak Marya tersenyum.


"Tapi Nona...."


"Aku cuma mau masak mie instan aja Bi" potong Marya cepat.


"Kalau begitu saya permisi Nona." Akhirnya si Bibi rumah itu berpamitan, membiarkan majikannya itu memasak.


"Marya, kamu masak apa?."


"Tiba tiba Marya pengen makan mie rebus, Ma" jawab Marya.


"Oh!" Ibu Liana mengusap lembut kepala menantunya itu sembari tersenyum. Senang melihat Marya sudah ada perubahan. Marya sudah mau keluar kamar, meski belum mau keluar rumah.


"Ya sudah, Mama kembali ke kamar dulu, Papa lagi kurang enak badan" pamit Ibu Liana.


Akhir akhir ini kesehatan Pak Bagus menurun. Mungkin karna faktor usia dan terlalu memikirkan perusahaannya. Meski katanya jangan terlalu di pikirkan. Tapi tetap saja pria tua itu tidak bisa untuk tidak memikirkannya. Mengingat bagaimana perjuangannya dulu membangun dan mendirikan gedung perusahaannya itu. Sangat sulit, butuh modal dan waktu yang sangat banyak.


"Papa sakit, Ma?" tanya Marya, kelamaan mengurung diri di kamar, sampai Marya sendiri tidak tau kalau mertuanya kurang sehat.


"Hanya sakit ringan saja, biasa, penyakit orang tua" balas Ibu Liana sambil mengusap bahu Marya yang terlihat sedih merasa bersalah.


"Kalau begitu, salam buat Papa, Ma. Selesai makan, Marya akan melihat Papa" balas Marya.


Ibu Liana mengangguk, lalu pergi.


Melihat mie rebus di dalam panci sudah matang. Marya pun memindahkannya ke dalam mangkok, membawanya ke meja makan dan menikmatinya di sana. Namun baru makan sedikit, tiba tiba Marya merasa perutnya mual, sampai kepalanya terasa pusing.

__ADS_1


"Nona kenapa?."


"Bi, minta tolong buatin aku teh hangat ya. Tiba tiba perutku mual, sepertinya aku masuk angin" ucap Marya pada si Bibi yang sudah berdiri di sampingnya.


Si Bibi mengangguk tersenyum, lalu undur diri ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Dan tak lama kemudian, si Bibi kembali ke meja makan dengan membawa secangkir teh hangat.


"Ini Nona" ucap si Bibi saat meletakkan teh hangat di tangannya di atas meja.


"Bi, bisa minta tolong korekin punggungku?. Rasanya pegal banget Bi" pinta Marya. Tubuhnya benar benar terasa tidak enak. Mungkin masuk angin dan kecapean karna setiap hari bekerja lembur sampai larut malam.


"Bisa Nona" jawab si Bibi ramah, tidak mungkin menolak permintaan majikannya itu.


Tanpa menghabiskan mie di dalam mangkok ya, Marya berdiri dari tempat duduknya untuk kembali ke dalam kamar bersama si Bibi, untuk mengorek punggungnya. Dan saat di kerok, Marya kembali ketiduran.


**


"Kanzo, bagaimana?. Apa kamu akan berangkat ke luar kota?" tanya Haris.


Kanzo yang merasa pusing, memijat pelipisnya. Masalah yang satu belum teratasi, kini masalah baru datang lagi. Gudang Pabrik cabang perusahaannya, mengalami kebakaran lagi. Ada orang yang sengaja membakarnya.


"Aku gak tau, aku minta ijin dulu pada Marya" jawab Kanzo. Seperti janjinya, ia tidak akan mengabaikan Marya lagi. Sebisa mungkin akan meminta ijin Marya jika harus bepergian. Apa lagi pergi untuk berhari hari.


"Kalau kamu gak bisa, biar aku saja yang ke sana" tawar Haris, melihat Kanzo berat untuk meninggalkan istrinya.


"Aku pikir juga lebih baik kamu yang ke sana. Papa lagi sakit, aku khawatir jika harus bepergian jauh" balas Kanzo.


"Hm, baiklah" Haris mengulas senyumnya.


"Jangan bilang kau mau membawa Widuri ke sana." Kanzo memicingkan matanya ke arah Haris. Sahabatnya itu sudah mulai gila. Berani mengembat dua wanita sekaligus.


"Ini semua gara gara kamu juga. Coba saja waktu itu kamu tidak mengatakan kalau aku menyukai Cici di depannya. Aku tidak akan berada di posisi rumit seperti ini" cetus Haris.


"Kau nikahi aja keduanya" ucap Kanzo enteng.


Haris memutar bola matanya, lalu pergi dari ruang kerja Kanzo.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2