
"Baim! apa apa ini?." Seorang pria berusia berkisar enam puluhan melepas sebuah map ke arah Baim yang baru masuk ke ruang kerjanya.
"Ada apa, Pa?" tanya Baim mengambil berkas yang jatuh ke lantai itu.
"kamu sangat mudah percaya dengan orang yang baru. Lihat itu, Asisten baru mu itu sudah menggelapkan sebagian uang perusahaan dan membocorkan rahasia perusahaan ke perusahaan milik keluarga Salim" jelas Pak Dirga, Ayah Baim sendiri.
Baim pun langsung membuka berkas di tangannya dan membacanya. Di dalam berkas itu tertera bukti transfer uang sebanyak dua milliar masuk ke dalam rekening pribadi Marya.
"Sekarang, Papa gak mau tau, bawa wanita itu ke sini sekarang juga!" tegas Pak Dirga.
"Tapi Pa, Marya sedang melangsungkan resep...."
"Sekarang Baim!" tegas Pak Dirga lagi dengan suara kerasnya.
Baim terdiam tidak bisa membantah perintah Papanya lagi. Baim segera keluar dari ruangannya dan meminta Anita untuk menyuruh orang menjemput Marya. Sedangkan Bain, ia pergi ke bagian keuangan perusahaan itu, untuk melakukan penyelidikan.
'Mampus kau Marya, anak bawang sepertimu sangat mudah ku singkirkan' batin Anita, kemudian menghubungi seseorang untuk merusak kebahagiaan wanita bernama Marya itu.
**
Masih dalam suasana pesta, dari tadi pesta pernikahan itu berjalan dengan lancar dan tentunya sangat meriah. Dari tadi Marya Dan Kanzo terus mengulas senyum kepada para tamu undangan yang naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat.
Namun suasana meriah itu, tiba tiba berubah riuh saat dua orang pria yang tidak membawa kartu undangan memaksa ingin masuk ke dalam aula.
"Kami di perintahkan oleh Pak Dirga untuk menjemput Nona Marya ke sini" ujar seorang pria memakai kemeja kantoran.
"Maaf, Pak!. Kami juga hanya menjalankan tugas untuk tidak mengijinkan masuk orang yang tidak membawa kartu undangan" balas petugas keamanan hotel itu.
"Ada apa? kenapa terjadi keributan?" tanya Marya mendengar sekilas ribut ribut dari pintu masuk aula.
"Gak tau sayang, sebentar aku suruh Haris untuk memeriksanya" jawab Kanzo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya, lalu melakukan panggilan ke nomor Haris.
Tak lama menunggu, Haris langsung menerima panggilan teleponnya.
"Ada apa?" tanya Haris langsung.
"Kenapa terjadi keributan di pintu masuk aula?. Coba kamu lihat ke sana dulu" suruh Kanzo.
"Sebentar" Haris yang sedang istirahat di kamar hotel, langsung keluar melangkahkan kakinya kembali ke aula tempat acara. Padahal ia baru ingin istirahat sebentar, Kanzo sudah meneleponnya.
Perdebatan kedua pria yang di tugaskan menjemput wanita bernama Marya itu dengan pihak keamanan hotel terus berlanjut.
"Tolong hargai pemilik acara ini. Jika ada masalah, selesai acara ini bisa di selesaikan" ujar pihak keamanan itu kekeh tidak mengijinkan kedua orang pria itu masuk.
__ADS_1
"Kami juga meminta ijin dengan cara Baik baik. Ini masalah besar perusahaan, Wanita bernama Marya itu telah terlibat penggelapan dana. Kami di perintahkan untuk menjemputnya, untuk menyelesaikan masalah ini segera" jelas teman pria yang datang itu.
Perdebatan itu tentu berhasil menarik perhatian para tamu undangan yang berada di dekat pintu aula. Mereka semua berbisik bisik tidak jelas membicarakan pengantin wanita acara pesta pernikahan itu.
"Masa sih pengantin wanitanya korupsi."
"Bikin malu keluarga Salim aja."
"Ya ampun!."
"Begitulah, istri pertama itu kebanyakan selalu lebih baik dari istri kedua dan seterusnya."
"Iya, apa kurangnya dulu Bella. Cantik, baik dan ramah, dari keluarga kaya lagi. Gak seperti istri Kanzo yang sekarang. Dengar dengar dari keluarga miskin. Dan yang lebih parahnya lagi, Ayah pengantin wanita itu pencopet dan penjudi."
"Masa sih!."
Masih banyak lagi bisikan bisikan para tamu undangan itu membicarakan Marya dan keluarga Pak Bagus.
"Ada masalah apa?" tanya Haris yang sudah sampai di tempat keributan. Haris mengarahkan pandangannya ke arah kedua orang pria yang menyebabkan keributan itu.
"Mereka memaksa untuk masuk, Lak. Tapi mereka tidak membawa kartu undangan" jawab pihak keamanan itu.
"Siapa kalian?" tanya Haris kepada kedua pria tamu tak di undang itu.
"Penggelapan dana?" Haris mengerutkan keningnya. Apa mungkin Marya melakukan itu?, sedangkan wanita itu sekarang memiliki banyak uang. Bahkan Kanzo sendiri membagi dua saham milik pribadinya dengan Marya.
"Mana buktinya?" Haris menengadahkan tangannya ke arah ke dua pria itu.
Kedua pria itu terdiam dan saling berpandangan.
"Kalau tidak ada, silahkan kalian pergi dari sini, atau saya akan menyuruh pihak keamanan menyeret kalian" tegas Haris.
"Ada apa ini? Kenapa bisa terjadi keributan?" tanya Ibu Liana yang baru datang mendekat.
"Begini Bu, kamu di tugaskan Pak Dirga untuk menjemput Nona Marya ke sini. Untuk dimintai penjelasan tentang penggelapan dana yang dilakukan beliau di perusahaan" jelas salah satu pria itu.
Ibu Liana terdiam.
Bisik bisikan para tamu undangan pun semakin terdengar mencibir.
"Mana buktinya?" Haris meninggikan suaranya ke pada dia pria itu.
Bukankah tadi Baim dan Anita datang ke acara itu, dan tidak ada masalah apa pun. Tapi kenapa tiba tiba dua pria itu datang mengatakan Marya melakukan penggelapan uang.
__ADS_1
"Maaf Pak Haris, bukti buktinya ada di tangan Pak Dirga. Kami hanya di tugaskan untuk menjemput Nona Marya" kekeh kedua pria itu lagi.
"Sekarang kalian pergi!" usir Haris dengan suara meninggi.
"Silahkan kalian masuk" ujar Ibu Liana kepada kedua pria itu.
Refleks Haris terdiam dan mengarahkan pandangannya ke arah Ibu Liana. Haris tidak percaya jika Ibu Liana berpihak kepada kedua pria yang sengaja datang untuk merusak acara pesta itu.
"Trimakasih Nyonya" ucap pria itu melangkah masuk bersama temannya dan berjalan lurus naik ke atas pelaminan.
"Nona Marya, Pak Dirga meminta Anda sekarang untuk datang ke perusahaan. Karna terbukti telah menggelapkan uang perusahaan" ucap salah satu pria itu kepada Marya.
"Apa maksud kalian?" Kanzo mengerutkan keningnya ke arah dua pria tamu tak di undang itu.
Sedangkan Marya membeku, otaknya langsung berpikir mencerna apa yang di katakan pria yang berdiri di depannya itu.
'Menggelapkan uang perusahaan?.'
"Jika Nona tidak mau, Pak Dirga akan menyelesaikan ini lewat jalur hukum" ucap teman pria itu.
"Mana buktinya?" tanya Kanzo, wajahnya terlihat sangat emosi.
"Ada pada Pak Dirga, Pak Kanzo."
"Pak Kanzo, aku gak melakukan itu" Marya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah ketakutan.
Kanzo yang berdiri di sampingnya, langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya."Tenanglah, aku percaya kalau kamu tidak melakukan itu."
"Baiklah! silahkan kalian pergi, kami akan segera ke sana." Kanzo berbicara dengan rahang mengeras, dadanya naik turun menahan emosi. Kanzo yakin ada orang yang berniat merusak kebahagiaan mereka.
"Tapi kami harus membawa istri Anda sekarang, Pak!."
"Apa hak kalian ! Hah!" bentak Kanzo geram.
Seketika suasana ruangan yang tadinya terdengar bisik bisik berubah menjadi hening.
Brukh!
"Ibu!"
Marya langsung berlari turun dari atas pelaminan, Melihat Ibu Hayati tiba tiba pingsan.
*Bersambung
__ADS_1