Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Dasar Pak Kanzo


__ADS_3

Kanzo yang melajukan kendaraannya di jalan raya, perlahan menurunkan lajunya saat akan membelok masuk ke halaman sebuah perusahaan. Setelah memarkirkan mobilnya, Kanzo langsung melakuka panggilan telepon ke no seorang wanita.


"Ya, aku akan segera turun" ujar seorang wanita langsung dari dalam telepon.


Kanzo langsung mematikan sambungan teleponnya. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik keluar dari dalam pintu kaca gedung perusahaan itu. Wajah wanita itu terlihat lelah, tubuhnya juga lemas. Jelas sekali wanita itu sedang kelelahan, membuat Kanzo tak tega melihatnya. Namun menyuruh calon istrinya itu berhenti bekerja, Kanzo tidak berani.


'Aish ! kok jadi aku yang takut sama dia. Kenapa aku takut sekali dia marah, takut dia merajuk, takut dia menghilang' batin Kanzo tanpa melepas pandangannya dari Marya, sampai wanita itu membuka pintu mobilnya dan langsung masuk.


"Seharusnya Pak Kanzo tidak perlu memajukan tanggal pernikahan kita. Jadi aku gak perlu lembur sampai larut malam begini" sungut Marya menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi, lalu memejamkan kepalanya.


"Bagaimana lagi, si Salim sudah gak sabaran" jawab Kanzo konyol, menarik sebelah tangan Marya.


Sontak Marya menoleh ke wajah Kanzo yang mulai melajukan kenderaannya. Dua hari lagi mereka akan menikah lagi, sehingga hari ini Marya harus menyelesaikan pekerjaannya.


Marya yang merasa lengannya di tarik dan menyentuh sesuatu, langsung menjerit dan menarik tangannya sampai lepas dari pegangan Kanzo, Pria itu menjahilinya dengan menyuruhnya menyentuh si Salim yang sedang mengamuk.


"Kamu itu, seperti anak perawan saja" ujar Kanzo tersenyum, dan kembali menarik tangan Marya, namun Marya langsung menepisnya.


"Aku gak mau!" tolak Marya.


Kanzo yang terus mendapat penolakan dari Marya, menggaruknya dengan kasar. Masa sampai di rumah ia harus ke kamar mandi lagi untuk meredam kemarahan si Salim. Marya benar benar menguji kesabarannya. Tapi Kanzo tidak berani memaksa Marya untuk membantunya.


'Sabar sabar sabar Salim, dua hari lagi' batin Kanzo menghembuskan napasnya kasar dari mulut.


"Tidurlah" akhirnya Kanzo menyuruh Marya untuk tidur sebelum mereka sampai di ke rumah.


Marya yang sangat mengantuk pun, kembali memejamkan matanya. Kanzo menarik tubuhnya untuk bersandar di dadanya. Tak lama kemudian Marya sudah ketiduran di dada pria itu.


**


Pagi hari, Marya yang tertidur pulas, terbagun dari tidurnya saat merasakan sinar mata hari menyapa kelopak matanya. Perlahan Marya membuka kelopak matanya dan mengarahkan pandangannya ke arah dinding kaca yang berada di samping tempat tidur. Melihat pemandangan di luar berbeda, perlahan kening Marya mengerut. Sedang dimana dia sekarang?.


"Sudah bangun?"

__ADS_1


Suara Kanzo di sampingnya, berhasil mengalihkan pandangan Marya ke arah pria yang duduk bersandar di sampingnya. Kanzo tidak memakai baju.


"Kita dimana?." Marya mendudukkan tubuhnya sambil memijat kepalanya yang masih sedikit pusing.


"Di hotel tempat kita akan menikah besok" jawab Kanzo, mengusap lembut kepala wanita itu sambil tersenyum melihat tubuh bagian atas marya yang tidak mengenakan apa apa.


Marya yang merasa ada yang janggal di tubuhnya, pun menunduk. Seketika menyadari kalau tubuhnya dalam keadaan polos. Refleks Marya menarik selimut menutup tubuhnya sampai ke leher.


"Pak Kanzo keterlaluan" geram Marya mantap Kanzo marah. Tidak sabarkah pria itu menunggu mereka di nikahkan, hanya tinggal menunggu besok saja.


"Sayang, tadi malam kamu demam, dibagunin tidak mau bangun. Serius sayang, aku gak melakukan hal di luar batas. Aku masih punya iman meski aku bukan orang alim. Tadi malam aku hanya mengurut punggungmu, kakimu, tanganmu dan mengerokmu sayang. Kalau gak percaya lihat tuh punggungnya di kaca, udah merah merah."


"Bohong!" sanggah Marya tidak percaya.


"Setelah itu aku hanya memelukmu saat tidur" tambah Kanzo lagi menarik napasnya pelan pelan dan mengeluarkannya pelan lelan juga.


Melihat gelagat Kanzo, Marya memicingkan matanya ke wajah pria itu. Jelas sekali pria itu berbohong.


"Pernikahan kita di batalkan."


"Ngaku!" melihat keadaan tubuhnya yang tidak mengenakan apa apa sedikit pun, Marya tidak percaya kalau pria itu tidak melakukan hal lebih. Apa lagi pria itu selama lebih dari dua bulan ini, sering uring uringan.


"Tapi pernikahan kita jangan di batalkan" rajuk Kanzo memeluk erat tubuh Marya, takut wanita itu menghilang dari dekapannya.


Tadi malam, karna sudah tak tahan saat mengurut dan mengerok tubuh Marya, Kanzo diam diam menikmati tubuh wanita itu pelan pelan untuk menuntaskan hasratnya, tapi tidak sampai menyentuhnya ke dalam dalam karna takut Marya terbangun dan marah.


"Hanya tinggal menunggu besok, Pak Kanzo gak bisa menahannya?" sesal Marya.


Seharusnya tidak tinggal serumah, apa lagi berlama lama di ruangan yang sama. Tapi pria itu selalu banyak cara dan alasan untuk menemuinya.


"Aku minta maaf. Tapi tadi malam kamu juga menikmatinya"ucap Kanzo dengan suara manjanya.


"Bagaimana aku bisa menikmatinya, sedangkan aku gak tau apa yang Pak Kanzo lalukan" desah Marya, menyebalkan sekali pria yang memeluknya itu.

__ADS_1


"Kamu mendes*h de...."


"Cukup!" Marya tidak mau mendengar Kanzo melanjutkan kalimatnya."Nanti malam, Jangan melakukannya lagi."


"Iya sayang, janji" Kanzo mengulas senyumnya lalu mengecup pipi wanita itu.


Tok tok tok!


"Papa! Mama Marya!"


Seruan gadis kecil itu berhasil membuat Marya melompat dari atas tempat tidur dan berlari masuk ke kamar mandi dengan menyeret selimut yang menutup tubuhnya. Sampai di dalam kamar mandi, Marya menghela napasnya, pasti yang datang itu bukan Areta saja, pasti ada keluarga yang menemaninya. Mengingat mereka sedang berada di hotel. Bisa gawat jika Areta atau keluarga mereka melihat keadaannya yang tidak mengenakan apa pun.


Dasar Pak Kanzo.


Sedangkan Kanzo, dengan santai berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya untuk Areta.


"Mama Marya mana Pa?" tanya Areta langsung melangkah masuk.


"Lagi mandi sayang" jawab Kanzo mengusap lembut kepala putrinya itu.


"Bagaimana keadaan Marya" tanya wanita paru baya yang datang bersama Areta kepada Kanzo.


"Sudah sehat Bu!" jawab Kanzo memberikan jalan supaya Ibu Hayati bisa masuk ke kamar itu.


Ibu Hayati baru sampai pagi ini dan langsung ke hotel untuk melihat keadaan Marya yang kata Kanzo kurang sehat.


"Ibu harap, kamu tidak mengecewakan putri Ibu lagi. Dia sudah banyak berkorban dan menderita batin" ucap Ibu Hayati mengarahkan Pandangannya ke wajah Kanzo yang tidak jauh berdiri di sampingnya." Tolong bahagiakan putri ibu. Bukan dengan hartamu, tapi dengan kasih sayangmu. Jangan buat dia beranggapan pernikahan itu bukan suatu kebahagiaan, melainkan penderitaan. Semenjak Ayahnya menghilang meninggalkan kami, rasa traumanya untuk berumah tangga itu sudah ada. Jika dia siap menikah lagi sekarang, dia itu sedang membuktikan tidak selamanya dan tidak semuanya pernikahan itu buruk."


Kanzo hanya diam mendengarkan Ibu Hayati berbicara. Dia juga mengalami itu, Kanzo juga pasti memiliki trauma berumah tangga setelah apa yang sudah di lakukan Bella yang tega berselingkuh, dan gagalnya dia mempertahankan rumah tangganya dengan Marya. Tapi cinta di hati Kanzo untuk Marya, membuatnya yakin untuk berumah tangga kembali dengan wanita yang mampu memikat hatinya sampai saat ini.


"Semoga kalian bahagia, dan tidak ada kata cerai lagi yang terjadi di antara kalian" ucap Ibu Hayati mengulas senyumnya.


"Trimakasih banyak, Bu. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Aku akan terus berusaha membahagiakan Marya" balas Kanzo menarik kedua sudut bibirnya ke atas.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2