Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Pergi


__ADS_3

Kanzo langsung turun dari dalam mobil yang menjemputnya setelah berhenti tepat di pintu masuk rumah sakit, dan bergegas berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit bersama Areta di gendongannya. Tadi setelah sampai di bandara, Ibu Liana menghubunginya mengatakan Ezio semakin kritis.


"Ma!" panggil Kanzo dengan napas memburu setelah sampai di ruang perawatan Ezio.


Ibu Liana yang duduk menangis langsung menoleh ke arah Kanzo yang baru datang.


"Ezio sudah pergi" lirih Ibu Liana yang duduk di samping brankar bayi.


Kanzo yang masih di ambang pintu, melangkahkan kakinya mendekati Ezio yang berada di atas brankar. Mengulurkan tangannya menyentuh lengan mungil yang di tusuk jarum infus itu. Kanzo pun mengecup lengan mungil itu sambil menangis terisak dengan tubuh bergetar.


"Dia baru pergi" tangis Ibu Liana.


" Kenapa Papa sama Nenek menangis?, Adik Ezio kenapa?"tanya Areta polos.


"Adik Ezio sudah pergi sayang" jawab Kanzo, menurunkan Areta dari gendongannya. Lalu mengambil tubuh Ezio dari dalam brankar, mendekap tubuh mungil tak berdaya itu ke dalam pelukannya, lalu mengecup seluruh wajah bayi berwajah tampan itu.


"Adik Ezio meninggal, Pa?" tanya Areta lagi siap untuk menangis.


Kanzo tidak menjawab, karna sibuk terus mengecup wajah bayi mungil itu. Bayi yang di perjuangkan semenjak dalam kandungan, yang ingin terus musnahkan Ibu kandungnya sendiri.


"Lihat saja, aku tidak akan membiarkan wanita iblis itu bisa hidup bebas" geram Ibu Liana.


Jika saja Bella mau memberi asi bayi Ezio, Ezio pasti tidak akan sakit dan akhirnya meninggal.


"Kanzo, kamu sudah datang?. Papa sudah selesai mengurus administrasinya. Sebentar lagi kita bisa membawa Ezio pulang" ucap Pak Bagus yang dengan baru masuk ke ruangan itu, dengan suara tercekat menahan sedih melihat cucunya telah meninggal.


Kanzo yang menjatuhkan tubuhnya ke lantai, tidak menjawab. Kanzo hanya diam saja dan terus memandangi wajah Ezio.


**


Di tempat lain, Marya terus menghubungi Kanzo, ingin mengatakan kalau dia akan melahirkan. Namun pria itu tak kunjung menerima telephon nya dari tadi. Entah kemana pria itu, bahkan dari tadi malam, Kanzo tidak pernah mengabarinya, atau sekedar memberi kabar kalau dia sudah sampai.


"Bagaimana? Kanzo belum mengangkat telephon nya?" tanya Ibu Hayati yang menemani Marya di ruang perawatan.


Marya menggelengkan kepala lemah, dan meletakkan handphon nya di atas nakas.


"Kamu sudah mengirim pesan?" tanya Ibu Hayati lagi. Dan Marya mengangguk lagi.

__ADS_1


Ibu Hayati menghela napas kecewa, karna Kanzo tidak memberi kabar sama sekali. Tapi Ibu Hayati tetap mencoba untuk berpikir positif terhadap Kanzo.


Marya yang merasakan sakit di bagian perutnya lagi, meremas kuat kasur di depannya. Kontraksi semakin sering dan semakin terasa sakit semenjak tadi pagi, sehingga mereka memutuskan untuk menunggu di rumah sakit, meski jalan lahirnya masih pembukaan tiga.


"Ibu" tangis Marya setiap rasa sakit itu datang.


Ibu Hayati yang melihatnya, langsung mendekati Marya, memeluk putrinya itu dan mengusap usap pinggang belakangnya.


"Sakit Bu" ringis Marya.


"Memang seperti itu, Nak. Kamu harus sabar dan semangat" ucap Ibu Hayati. Ia pernah melahirkan dua kali, tentu Ibu Hayati bisa membayangkan bagaimana sakitnya akan melahirkan.


Marya meniup niup kan napasnya dari mulut, berharap rasa sakit itu cepat berlalu.


Waktu pun berlalu, siang berganti malam. Kabar Kanzo yang di tunggu tunggu dari pagi tak kunjung datang. Bahkan pesan yang di kirim masih centang satu, artinya Kanzo belum melihat pesannya.


Marya yang siap melahirkan, sudah berbaring di ruang persalinan. Entah sudah berapa kali Marya mengeram, ketika rasa sakit yang dahsyat itu menyerangnya. Tidak ada yang menjadi pegangan Marya selain pinggiran kasur.


Marya menangis, mengingat nasibnya yang selalu berjuang sendiri menanggung beban hidup yang sangat berat. Tidak ada yang membantunya sama sekali, sampai tubuhnya tergadai kepada pria yang menghamilinya. Yang mengharuskannya berjuang sendiri dengan bertaruh nyawa.


"Ibu, jangan menangis, ayo fokus!" seru Dokter yang akan membantunya melahirkan.


Marya menghapus air matanya, lalu menarik napas dalam mengeluarkannya perlahan, sesuai instruksi Dokter tersebut, lalu mengejan sekuat tenaga.


"Ayo Bu! semangat Bu!" seru Dokter itu lagi menyemangati Marya yang berjuang keras.


"Aaaaaakh !" Marya berteriak lalu menangis.


Dia sudah tidak sanggup lagi, tubuhnya sudah lelah dan lemah, karna emosinya sudah terkuras memikirkan Kanzo yang tidak juga memberi kabar, dimana pria itu?.


"Aku gak sanggup lagi Bu" Isak tangis Marya. Ini anak pertamanya, wajar dia menangis.


"Kamu harus tetap semangat, Nak." Ibu Hayati yang mendampinginya, melap keringat di kening dan wajah putrinya itu.


Marya pun Mengejan lagi untuk yang ke sekian kalinya. Namun bayi di perutnya itu belum juga mau keluar.


Terakhir Marya berteriak, bayinya baru berhasil keluar. Marya menghela napas kasar, sangking leganya. Namun sesuatu membuat Marya mengerutkan keningnya. Marya tidak mendengar suara bayi yang di lahirkan ya menangis.

__ADS_1


"Bu, bayiku kenapa gak ada suaranya?" tanya Marya.


Ibu Hayati tidak langsung menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke arah Dokter yang sibuk mengusuk ngusuk punggung bayi yang kakinya di gantung ke atas.


"Bayiku kenapa Bu?" tanya Marya, ia juga melihat itu. Bayinya tidak bergerak di tangan Dokter wanita itu.


"Bayiku kenapa?" tangis Marya pecah.


Dokter wanita itu menghela napasnya kasar, kemudian memberikan bayi di tangannya ke salah satu perawat yang membantunya di ruangan itu.


"Maaf Bu, bayi Ibu meninggal setelah lahir" jawab Dokter wanita itu dengan sangat hati hati.


Bayi itu sudah tidak bergerak saat lahir, tapi Dokter itu tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk si bayi. Tapi bayi yang pingsan saat lahir itu, akhirnya sudah tidak bernyawa di tangan Dokter itu.


Marya menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Maaf Bu, kami sudah berusaha semampu kami, tapi Tuhan berkehendak lain" ucap Dokter itu lagi.


"Bayiku Bu!" tangis Marya.


"Yang sabar, Nak!" Ibu Hayati juga ikut menangis.


Setelah bayi itu di bersihkan, mereka pun memberikannya kepada Marya. Supaya Marya melihat bayinya yang tak bernyawa itu. Marya langsung menerimanya dan mencium lembut kening bayi berjenis kelamin laki laki itu. Bayi berwajah tampan mirip Papanya, kulitnya putih dan tubuhnya tinggi.


"Kenapa kamu meninggalkan Mama, Nak?" lirih Marya dengan air mata yang terus mengucur.


**


"Pak Kanzo!" panggil Widuri mendekati pria yang sibuk menerima tamu di rumahnya.


Setelah mendengar kabar anaknya meninggal, banyak orang berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa, mulai dari tetangga, keluarga besar, sampai rekan rekan bisnis.


"Tadi Marya menelephon, katanya dia akan melahirkan. Dia sudah menghubungi Bapak dari tadi pagi. Tapi Pak Kanzo tidak mengangkatnya" ucap Widuri.


"Ya Tuhan" gumam Kanzo.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2