
Selesai mandi pagi, Marya dan Kanzo sama sama menuruni anak tangga rumah itu untuk turun ke lantai bawah menuju ruang makan. Di sana sudah ada Areta, Ibu Liana, Pak Bagus.
"Selamat pagi Pa, Ma" sapa Marya mengulas senyumnya ke arah kedua mertuanya yang sudah menunggu dari tadi.
"Selamat pagi juga, sayang" balas Ibu Liana tersenyum lembut khas keibuan.
"Papa sama Mama Marya kenapa lama?" tanya Areta. Dari tadi Areta sudah sangat ingin memakan nasi goreng yang tersaji di meja makan itu, namun Tuan dan Nona muda rumah itu tidak turun turun.
"Mama tadi Mama Marya sakit perut" jawab Kanzo mendudukkan tubuhnya di samping Araya. Setelah mengusap lembut kepala putrinya itu, Kanzo pun mengecupnya.
"Benaran Mama Marya?" Areta membolakan matanya ke arah Marya yang sedang berdiri di samping Kanzo, sambil menyendok nasi ke piring Areta dan Kanzo.
"Papa tuh yang sakit perut" jawab Marya.
Areta manjadi bingung.
"Marya, kamu gak makan?" tanya Ibu Liana melihat Marya tidak mengambil nasi untuknya.
"Marya lagi gak selera makan, Ma" jawab Marya sambil mendudukkan tubuhnya di samping Kanzo.
Refleks Pak Bagus menoleh ke arah Marya, dan memperhatikan sebentar wajah menantunya itu.
"Aku sudah menyuruh Dokter datang ke sini untuk memeriksanya, Ma" ucap Kanzo kemudian menyuapkan nasi goreng masakan Marya tadi ke mulutnya.
Ibu Liana mengangguk, paham kemana arah maksud pembicaraan anaknya itu.
"Jangan terlalu lelah membantu Kanzo. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu" ujar Pak Bagus terdengar ambigu.
Marya mengulas senyumnya. Mengingat asal usulnya yang berasal dari keluarga sederhana, Marya tidak menyangka akan di terima di keluarga itu. Bahkan kedua mertuanya sangat menyayanginya.
"Sayang, aku suapin, mau?" tawar Kanzo melihat Marya hanya duduk saja dan memperhatikan mereka.
"Nanti aja aku makan" jawab Marya. Beberapa hari ini dia tidak berselera makan di pagi hari. Tapi kalau sudah agak siangan dikit, baru Marya bisa makan.
__ADS_1
"Mama Marya benaran sakit?" tanya Areta lagi melihat Marya tidak ikut makan.
"Gak sayang, hanya masuk angin dikit aja" jawab Kanzo. Putrinya itu semakin lama semakin pintar, dan semakin pengen tau aja urusan orang dewasa.
"Bagaimana dengan perusahaan?. Apa Haris sudah berangkat ke luar kota?" tanya Pak Bagus, suara pria itu terdengar berat dengan pandangan meneduh.
"Haris sudah sampai di sana, Pa. Papa tenang aja, biar aku dan Haris aja yang memikirkan perusahaan. Percaya sama kami, Pa. Kalau kami pasti bisa memulihkan keadaan perusahaan kita." Kanzo menatap kasihan ke arah Pak Bagus.
"Iya, Pa. Lebih baik Papa memikirkan kesehatan Papa sendiri. Biarkan perusahaan itu urusan anak anak" sambung Ibu Liana mengusap lembut bahu Pak Bagus yang duduk di sampingnya.
Marya yang menjadi penyebab hancurnya perusahaan keluarga itu, menundukkan pandangannya. Jika saja ia tidak bekerja dengan Baim, mungkin kejadian yang merugikan keluarga itu tidak akan terjadi. Perlahan lahan, air mata wanita itu meleleh begitu saja.
Hiks hiks hiks!
Sontak Kanzo, Ibu Liana, Pak Bagus dan Areta menoleh ke arah Marya, mendengar wanita itu tiba tiba terisak.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Kanzo mengusap lembut kepala wanitanya itu. Pagi ini, istrinya itu sudah dua kali menangis. Sudah dasarnya cengeng, pagi ini istrinya itu sangat cengeng.
"Pa, Marya minta maaf. Gara gara Marya, perusahaan Papa hangus terbakar" ucap Marya dalam Isak tangisnya.
"Sayang, hei !. Gak ada yang menyalahkan mu. Papa gak menyalahkan mu sayang" Kanzo meletakkan sendok di tangannya, kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Tapi Pak Baim membakar perusahaan Papa gara gara aku. Karena aku gak mau sama dia" ucap Marya lagi.
"Gak sayang, bukan gara gara kamu. Tapi gara gara aku" jelas Kanzo.
Marya langsung berhenti menangis dan mengarahkan pandanganya ke wajah Kanzo.
"Kakaknya meninggal bunuh diri, gara gara aku. Gara gara aku tidak menerima cinta Kakaknya" ungkap Kanzo alasan utama Baim menaruh dendam kepadanya."Jadi, berhenti menyalahkan dirimu" ucap Kanzo lagi sambil menghapus lelehan bening yang mengalir di wajah wanita itu.
"Iya sayang, keluarga itu sudah lama memiliki dendam kepada keluarga ini. Hanya saja selama ini, keluarga itu tidak punya alasan untuk membalasnya. Dan keberadaanmu jaya secara kebetulan di manfaatkan orang itu" jelas Ibu Liana menimpali.
"Permisi, Pak!. Dokter Riana sudah sampai. Dia sudah berada di ruang tamu." Tiba tiba si Bibi datang menghentikan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Iya, Bi" balas Kanzo.
Kanzo pun segera menghabiskan sarapannya. Kemudian baru membawa Marya kembali ke dalam kamar mereka untuk di periksa Dokter langganan keluarga itu.
Sampai di dalam kamar, Kanzo membantu Marya untuk berbaring di atas tempat tidur. Dokter Riana yang masuk bersama mereka pun, langsung memeriksa kondisi kesehatan Marya. Benarkah dugaan Kanzo, jika istrinya itu sudah hamil atau hanya masuk angin.
"Kenapa kalian gak periksa ke rumah sakit aja?" tanya Dokter Riana sambil memeriksa detak jantung Marya.
"Kamu tau sendiri masalah yang baru kami alami. Marya masih tidak punya ke percayaan diri untuk bertemu dengan orang luar. Bahkan untuk keluar kamar saja, baru pagi ini dia berani" jawab Kanzo lalu menghela napasnya kasar.
Baim dan komplotannya benar benar sudah berhasil membunuh karakter istrinya itu. Meski pernikahan mereka sudah di resmikan dengan sebuah resepsi yang besar. Tetap saja istrinya itu menjadi istri simpanan, karena Marya tidak mau keluar rumah.
"Sepertinya istrimu memang hamil. Untuk memastikannya, sementara kita harus melakukan tes urin, ini tespeknya." Dokter Riana memberikan sebuah benda pipih kepada Kanzo.
Kanzo langsung menerimanya, kemudian membantu Marya turun dari atas karus, dan membawa istrinya itu ke dalam kamar mandi. Setelah Marya selesai buang air kecil, Kanzo mencelupkan sendiri benda pipih itu ke tampungan air seni istrinya itu.
"Oh sayangku" Kanzo langsung memeluk Marya, setelah melihat garis dia di benda pipih di tangannya. Sangking bahagianya, tanpa aba aba, Kanzo mencium dalam bibir Marya, Melupakan Dokter Riana yang menunggu mereka di dalam kamar." Kita akan punya anak lagi sayang. Ya Tuhan!" ucap Kanzo lalu mengecupi seluruh wajah Marya dengan air mata mengalir di pipinya.
Kanzo berjanji di dalam hati, di kehamilan Marya kali ini, dia akan selalu ada untuk istri dan calon bayi mereka. Kanzo akan menebus kesalahannya di masa lalu yang pernah mengabaikan Marya yang sedang hamil waktu itu.
"Trimakasih, sayang. Kau masih bersedia mengandung anakku" lirih Kanzo terisak karena terharu.
"Tentu aku mau, aku adalah istrimu, selagi aku mampu, berapa anak pun yang kamu minta, pasti aku bersedia dengan senang hati" balas Marya, menangis terharu seperti Kanzo.
"Ya Tuhan, trimakasih sudah memberiku istri sebaik ini. Kau membuatku semakin jatuh cinta, sayang. Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk selalu membuatmu bahagia? Hm!" Kanzo membingkai wajah Marya, lalu mengecup pipi istrinya itu dengan hikmat.
"menciumku seratus kali setiap hari" Jawab Marya melebarkan senyumnya.
"Ide yang bagus, jangankan seratus kali, sayang. Seribu kalipun aku menyanggupinya. Tapi kamu yang menghitungnya. Kalau kurang, kamu bisa menambahnya dengan menciumku."
"Ehem!"
Refleks Marya dan Kanzo menoleh ke arah pintu kamar mandi itu.
__ADS_1
"Kalian itu, orang menunggu dari tadi. Malah kalian bermesraan di sini" cetus Ibu Liana berdiri di ambang pintu kamar mandi itu sembari memperhatikan mereka. Sudah tua juga, masih aja seperti ABG labil, pikirnya. Mendengar rayuan gombal sepasang suami istri itu.
*Bersambung.