
"Dan juga, kenapa hanya aku saja yang kalian sidang, jika Pak Hamdan juga terlibat?" tanya Marya melihat Baim hanya diam saja memandanginya.
Pak Hamdan adalah salah satu orang yang bekerja di bagian keuangan perusahaan itu.
"Pak Hamdan masih bawahan mu. Kamu yang melibatkannya, Marya" jawab Baim.
Marya berdecih, bisa bisanya pria yang duduk di depannya itu memutar balik fakta.
"Sekarang katakan, apa mau kalian?" geram Marya, berbicara dengan merapatkan gigi giginya. Marya di sini merasa bukan hanya satu orang yang mempermainkannya, tapi lebih.
"Aku mau kamu" jawab Baim menarik sebelah sudut bibirnya ke samping.
"Kamu pikir, aku mau?."
Kini Baim yang berdecih memandang rendah wanita di depannya itu. Kemudian Baim berdiri dari tempat duduknya, berjalan mengelilingi tubuh Marya sambil memperhatikan tubuh wanita itu.
"Aku akan memberimu uang melebihi bayaran yang di berikan Kanzo padamu" ucap Baim tepat berdiri di depan Marya.
Plakk!
"Kamu pikir aku wanita bayaran?" geram Marya setelah menampar pipi Baim.
Baim tersenyum sambil mengusap usap wajahnya yang terasa panas akibat tamparan tangan lembut wanita di depannya. Baim melangkahkan kakinya kembali ke meja kerjanya, setelah meraih ponselnya, Baim menghidupkan layarnya, lalu memutar sebuah Vidio yang memperlihatkan seorang wanita dan pria di dalam ruangan kerja sedang melakukan....
Marya langsung terdiam melihat Vidio itu, berpikir dari mana Baim mendapatkan Vidio itu. Bukankah itu Vidio rekaman cctv di ruang kerja Kanzo. Hanya Kanzo Dan Haris yang bisa melihat itu. Berarti di perusahaan milik keluarga Kanzo ada seorang penghianat.
"Aku bisa menyebarkan Vidio ini. Bukan hanya kamu, Kanzo dan keluarga besarnya juga akan malu" ujar Baim. Menjauhkan ponsel di genggamannya saat Marya akan merampasnya.
"Kalau kamu ingin mendapatkan Vidio ini, layani aku sekarang juga, hahahaha...!" Baim tertawa terbahak bahak.
Marya menggeleng gelengkan kepalanya, tidak percaya jika Baim yang di anggapnya pria baik baik selama ini, ternyata sangat jahat.
"Kamu pikir aku menerima mu bekerja di sini dan memberikanmu jabatan yang tinggi, karna apa Marya?. Tidak mungkin karena otakmu yang pintar. Oh tidak!, kamu tidak sepintar itu dalam berbisnis" ujar Baim mencibir.
__ADS_1
"Aku tidak peduli apa alasan Pak Baim menerimaku." Marya menatap Baim dengan mata berkaca kaca dan bibir bergetar.Setelah semua kesulitan yang sudah di lewatinya, Marya pikir hidupnya tidak akan menghadapi masalah lagi. Ternyata ini lebih berat dari sebelumnya.
"Bagaimana?" tanya Baim tersenyum kemenangan." Ayolah Marya, demi nama baik suami mu dan mertuamu. Lalukanlah! sekali saja melayaniku sudah cukup."
"Jangan harap!"
**
Di parkiran gedung perusahaan itu, Kanzo yang menunggu Marya di dalam mobil, mengeraskan rahangnya mendengar percakapan Marya dan Baim yang tersambung langsung ke ponselnya.
Tanpa sepengetahuan Baim, ternyata Marya handphon Marya yang berada di dalam tasnya, tersambung ke no Kanzo.
"Jadi semuanya adalah permainan?" gumam Kanzo dengan rahang mengeras.
Kanzo pun memilih keluar dari dalam mobil, dan masuk ke gedung perusahaan itu tanpa basa basi bertanya atau meminta ijin kepada resepsionis yang bertugas di lantai bawah perusahaan milik keluarga Baim itu.
" Pak, maaf Pak!. Anda tidak di ijinkan masuk" seorang resepsionis wanita mengejar Kanzo yang hampir masuk ke dalam lif.
"Jangan mengaturku!" gertak Kanzo menatap tajam wanita itu, kemudian masuk ke dalam lif.
"Halo, Pak Baim. Pak Kanzo sedang berada di dalam lif menuju ruangan Bapak" lapor wanita itu.
Kanzo yang berada di dalam ruangannya tersenyum ke arah Marya.
"Biarkan saja" ucap Baim dan langsung meletakkan gagak telepon di tangannya kembali ke tempatnya semula.
Tak lama kemudian.
Buarr!
Pintu ruangan itu terbuka dengan Kasar, sampai membuat Marya terlonjak kaget. Sedangkan Baim sediri, berdiri dengan santai menoleh ke arah Kanzo yang masuk dengan raut wajah marah.
"Pak Kanzo, ada apa? Kenapa anda begitu terlihat marah?" tanya Baim santai.
__ADS_1
Bukh!
Tanpa aba aba Kanzo langsung mendaratkan bogeman ke wajah Baim.
"Biar aku yang melayani mu" ucap Kanzo gemas, lagi lagi memukul wajah Baim dengan bogeman."Kau mau yang kasar atau lembut? Ha!."
Bukh!
"Hei! ada apa dengan mu?." Meski wajahnya sudah babak belur, Baim masih bisa tersenyum mengejek ke arah Kanzo.
"Silahkan sebarkan Vidio itu" geram Kanzo, lalu menarik tangan Marya keluar dari ruangan itu.
"Sialan" umpat Baim, setelah Kanzo dan Marya meninggalkan ruangannya. Baim pun melap darah di sudut bibirnya, kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Membuka Vidio tadi, namun anehnya sudah tidak ada di dalam ponselnya.
"Dimana Vidio itu?" gumam Baim sambil mengotak atik hapenya. Namun Vidio terlarang itu hilang begitu saja dari ponselnya.
Bergegas Baim meraih laptop di atas meja kerjanya, dan langsung membuka aplikasi penyimpanan Vidio di dalamnya. Namun Vidio Marya dan Kanzo itu sudah tidak ada juga.
"Aakh!" teriak Baim. Beberapa hari ini, Vidio itu sudah menjadi objek imajinasinya. Dan sekarang Vidio itu sudah menghilang.
"Marya!" teriak Baim lagi. Baim terlanjur mencintai Marya, tapi ternyata wanita itu milik pria lain. Kanzo, pria yang dulu membuat hidup kakaknya hancur karna Kanzo terus menolak cintanya, dan memilih Bella.
Sampai di dalam mobil mereka, Marya langsung memeluk Kanzo, menangis terisak."Mereka mempermainkan aku, apa kesalahanku?."
"Sssst!, kamu mudah sekali menangis"ucap Kanzo mengusap usap kepala wanita yang berada di pelukannya itu."Masuk ke dalam Dunia bisnis, mental kita memang harus kuat. Banyak permainan yang harus kita mainkan. Banyak musuh dalam selimut, banyak orang yang berusaha menjatuhkan kita. Yang kamu hadapi ini belum seberapa."
"Kenapa Vidio kita ada sama dia?. Kalau Baim menyebarkannya gimana?. Aku malu, Papa sama Mama juga pasti malu. Aku gak tau nanti bagaimana cara menghadapi orang. Kemarin juga mereka sudah membuatku malu saat di pernikahan kita. Gara gara kejadian itu, Ibu sampai meninggal" oceh Marya di dalam tangisnya.
"Jangan khawatir, Vidio itu tidak akan tersebar." Kanzo melajukan perlahan mobilnya meninggalkan perusahaan itu dengan membiarkan Marya bersandar di dadanya.
Tadi sebelum menyusul Marya ke ruangan Baim. Kanzo sudah terlebih dahulu menghubungi Pak Reyhan, seorang ahli IT yang tidak diragukan lagi kemampuannya. untuk menghapus Vidio yang tersimpan di ponsel dan laptop Baim. Dan tidak butuh waktu lama, Vidio itu sudah berhasil di hapus.
"Dia menganggap ku wanita murahan. Dia memintaku untuk melayaninya. Apa sebagai wanita aku terlihat rendah?. Tidak ada harganya, apa aku terlihat wanita murahan. Itu gara gara Pak Kanzo dulu menjadikanku wanita simpanan, jadi orang berpikir aku ini wanita yang suka menjual tubuh."
__ADS_1
Itulah perempuan, jangan ada yang menyentil perasaannya. Masa lalu yang menyakitinya pun, bisa terbawa bawa, padahal masalah itu sudah selesai dengan jalan damai penuh cinta.
*Bersambung.