Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Obat lelah


__ADS_3

Sampai di lantai bawah rumah itu, Kanzo melangkahkan kakinya ke arah sofa ruang tamu. Di sana sudah ada Haris dan Cici duduk bergandengan. Dan ada Widuri juga duduk di sofa single.


"Pak Kanzo, Marya mana?" tanya Widuri berdiri dari tempat duduknya. Ia sengaja ikut untuk menemui sahabatnya itu, karena akhir akhir ini mereka sangat jarang bertemu.


"Di kamar" jawab Kanzo.


"Boleh aku ke sana?" tanya Widuri, meski sudah dekat, tapi Widuri masih merasa sungkan dengan Kanzo.


"Silahkan, tapi Marya sedang tidur" jawab Kanzo.


"Makasih Pak" Widuri mengulas senyumnya lalu melangkah menaiki anak tangga rumah itu.


Sedangkan Kanzo mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Haris dan Cici.


"Setiap hari kalian menempel terus, apa kalian gak bosan? ujar Kanzo, tidak koreksi diri sama sekali. Mana ada orang bosan menempel dengan pasangan sendiri. Pantas aja pria itu berselingkuh, pikir Haris.


"Apa rencana mu?" tanya balik Haris, merasa tak perlu menjawab pertanyaan Kanzo yang tidak bermanfaat itu.


Kanzo menarik napasnya panjang dan salam." Aku belum memikirkannya" jawabnya.


"Setidaknya beri kejelasan untuk nasib karyawan" ucap Haris.


"Aku belum membicarakannya dengan Papa. Katakan sama karyawan, jangan khawatir" ucap Kanzo.


"Baiklah" balas Haris.


**


Widuri yang sudah sampai di dalam kamar Kanzo dan Marya. Membangunkan sahabatnya itu dengan memukulnya pakai guling.


"Marya, jam segini kamu belum bangun?" seru Widuri, melompat ke atas kasur.


"Widuri" gumam Marya terbangun dari tidurnya, Karena merasakan pergerakan Widuri di atas kasur.


"bagun!, perusahaan suami mu hangus terbakar kamu malah tidur tiduran" ujar Widuri.


"Bagaimana lagi, masa aku gak boleh tidur. Lagian suamiku itu tidak akan jatuh miskin gara gara itu" balas Marya tersenyum.


"Iya juga sih, kamu enak. Bagaimana dengan kami yang karyawan bawahan?."


"Kalian tenang aja, suamiku pasti akan memikirkan itu."

__ADS_1


Widuri menghela napasnya, lalu meneduhkan pandangannya ke arah Marya." Setelah Haris jadian dengan Cici, masa dia nembak aku." Widuri menghela napasnya.


"Tolak aja, pasti itu si Pak Kanzo yang ngajarin Pak Haris mendua" ucap Marya cepat.


"Apa kamu bilang sayang?, si Pak Kanzo?."


Refleks Marya dan Widuri menoleh ke arah Kanzo yang tiba tiba masuk ke dalam kamar, dan melangkah ke arah Marya.


"Kamu yang ngajarin Pak Haris kan sayang, untuk jadi play boy?" tanya Marya."Masa udah jadian sama Cici, masih aja Haris nembak Widuri."


"Masa sih?" Kanzo pura pura tidak tau. Sudah jelas ia dan Haris tidak ada rahasia di antara mereka berdua.


"Gak usah pura pura, sayang." Pasti suaminya itu berbohong.


"Benaran sayangku, serius." Kanzo berbicara namun matanya melirik Widuri yang duduk di depan Marya.


"Lagian aku sudah menolaknya kok. Siapa juga yang mau di jadikan wanita cadangan" cibir Widuri membalas lirikan suami sahabatnya itu.


"Cuma istriku ini yang mau" balas Kanzo, lalu mengecup pipi Marya di depan Widuri.


"Dipaksa" cetus Marya mengerucutkan bibirnya.


"Tapi akhirnya kamu mencintaiku, sayang. Trimakasih ya, love you." Kanzo mengecup Marya lagi di bagian bibirnya, tidak perduli dengan Widuri yang masih jomblo.


"Sayang, aku bekerja dulu. Aku sudah menyuruh si Bibi mengantar makanan ke sini. Kalian nikmatilah waktu kalian berdua" ucap Kanzo. Mulai saat ini ia akan sangat sibuk untuk memulihkan perusahaan. Dan mungkin bisa saja dia akan bekerja lembur setiap malam.


"Iya sayang, kamu juga jangan lupa makan." Marya membalas mengecup bibir Kanzo kilas, kemudian mengecup kedua pipi pria itu bergantian, sebagai bentuk perhatian, cinta dan dukungannya kepada pria yang sedang memikirkan Malasah besar itu.


Kanzo semakin mengulas senyumnya, menjadi bersemangat untuk bekerja keras mulai hari ini.


Setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi dan memakai pakaian kerjanya. Kanzo keluar dari kamar itu setelah berpamitan sekali lagi kepada Marya. Membiarkan kedua sahabat itu menghabiskan waktu. Berharap Widuri bisa membangun kepercayaan diri Marya pulih seperti semula.


"Aku lihat Pak Kanzo sangat menyayangimu" ucap Widuri. Si Bibi rumah itu sudah mengantar makanan untuk mereka, dan sekarang mereka sedang menikmatinya di meja yang ada di balkon kamar itu.


Marya mengulas senyumnya, setuju dengan apa yang di katakan Widuri sahabatnya. Marya juga merasakan itu, kalau Kanzo menyayanginya semenjak pernikahan mereka yang pertama. Tapi yang namanya pernikahan, pasti ada cobaannya, tidak ada yang berjalan mulus mulus aja.


"Dia memang pria sosok yang penyayang" balas Marya.


Tak terasa hari pun sudah beranjak senja, dan Widuri pun berpamitan pulang pada Marya. Sedangkan Kanzo yang pergi dari tadi siang, belum juga pulang sampai malam sudah larut, dan Kanzo juga tidak mengirim kabar sama sekali.


'Ternyata bukan aku saja yang pernah mengalami kesulitan, tapi Kanzo juga. Untuk mempertahankan perusahaan dia harus bekerja keras, tidak mengenal lelah' batin Marya yang belum tidur dari tadi. Marya tidak bisa tidur dengan tenang sebelum Kanzo pulang ke rumah.

__ADS_1


Ceklek!


Refleks Marya menoleh ke pintu, mendengar pintu kamar di buka dari luar.


"Sayang, kenapa gak tidur?" tanya Kanzo, wajah pria itu terlihat kelelahan dan juga ngantuk.


Marya turun dari atas tempat tidur dan menghampiri Kanzo. Menarik lengan pria itu membawanya ke arah ranjang.


"Duduklah, biar aku siapkan air hangat untukmu" ucap Marya dan langsung melangkahkan kakinya. Namun langkahnya terhenti karena Kanzo tiba tiba memeluk pinggangnya.


Kanzo tersenyum ke arah Marya, ternyata istrinya yang satu ini, baik banget dan penuh perhatian.


"Nanti mandiin ya." Kanzo mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Marya.


Cup!


"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika nanti aku akan membuat tubuhmu semakin kelelahan" balas Marya setelah menjatuhkan satu kecupan di kening pria itu.


Kanzo berdiri dari tempat duduknya dan langsung mengangkat tubuh Marya membawanya ke dalam kamar mandi.


"Kamu tau sayang, obat lelah seorang suami itu adalah di manjakan" ucap Kanzo.


Sampai di dalam kamar mandi, Kanzo menurunkan tubuh Marya di bawah shower dan langsung menyiram tubuh mereka dengan air hangat. Kemudian Kanzo mencium bibir istrinya itu dengan dalam sambil tangannya membuka kain yang melekat di tubuh Marya, setelah membuka bajunya, Kanzo mendorong pelan tubuh Marya ke arah dinding. Membuat wanita itu tak bisa untuk tidak mengeluarkan suara merdunya.


Matahari sudah memancarkan sinarnya dari timur, Marya baru terbangun dari tidur lelapnya. Saat membuka mata, tempat tidur di sampingnya sudah kosong. Sepertinya suaminya itu sudah berangkat kerja. Setiap hari suaminya itu seperti ini, tidak membangunkannya saat pagi, dan alarmnya selalu di matikan, sehingga Marya tidak tau bangun setiap pagi.


Ceklek!


Marya langsung menoleh ke pintu, di lihatnya Kanzo sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


" Sudah bangun?" tanya Kanzo mengulas senyumnya.


"Kenapa gak membangunkanku?, alarmku juga di matikan" tanya balik Marya tak ingin menjawab pertanyaan suaminya itu.


Cup!


Kanzo yang sudah berdiri di samping ranjang mengecup kening istrinya itu.


"Aku pikir kamu juga lelah membantuku bekerja setiap hari" jawab Kanzo.


Meski pun istrinya itu hanya di rumah saja. Tapi Marya juga ikut membantu suaminya itu mengerjakan pekerjaannya. Bahkan Marya juga setiap malam lembur membantu Kanzo, hanya saja di dalam rumah.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2