Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Menjadi bosnya


__ADS_3

"Sayang, kita ke Rumah sakit ya. Biar Bayi kita di periksa" bujuk Kanzo kepada Marya yang terbaring di atas kasur dengan posisi membelakanginya.


Tadi, Dokter Riana menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan ke Dokter kandungan, untuk melakukan USG. Marya tidak mau, meski sudah di bujuk dengan berbagai rayuan. Marya beralasan malu ketemu orang orang di luaran sana.


"Aku gak mau" tolak Marya untuk yang ke sekian kalinya.


"Biar kita tau sudah berapa usianya sayang. Dan juga kita harus memastikannya sehat. Kamu dan bayi kita harus minum vitamin" jelas Kanzo.


"Kan bisa minta resep vitamin sama Dokter" balas Marya kekeh tidak mau di bawa keluar rumah.


"Sampai kapan kamu harus mengurung diri seperti ini?" tanya Kanzo, menghela napasnya dan menatap iba pada istrinya itu.


Marya terdiam, ia tidak punya kepercayaan diri lagi untuk bertemu orang orang di luaran sana gara gara Vidio yang tidak layak di tonton itu sempat tersebar di jagat maya.


"Aku gak tau" jawab Marya lirih.


"Kamu harus bangkit, kamu tidak boleh seperti ini terus. Dan jangan khawatir, tidak akan ada orang yang menghujatmu. Kita tidak melakukan kesalahan. Kita tidak melakukan dosa" ucap Kanzo membantu Marya untuk membangun kepercayaan diri wanita itu.


"Semua wanita di Indonesia ini mendukungmu, membelamu, mereka berada di pihakmu, sayang. Bahkan banyak dari mereka ingin menemui kamu." Kanzo menarik tubuh Marya ke dalam pelukannya, lalu mengecup ujung kepala wanita itu.


Marya yang berada di dalam pelukan Kanzo, menggigit gigit bibir bawahnya sambil berpikir. Jujur, sebenarnya dia sudah ingin keluar rumah, tapi Marya malu. Pasti orang yang mengenalnya nanti terus memperhatikannya.


"Lalukan demi anak kita sayang. Dan yakinlah, semuanya akan baik baik saja. Dan ingat, Tuhan tidak akan menghukum manusia yang tidak bersalah. Jadi kamu tidak perlu kawatir mendapat hinaan dari orang di luar sana" ucap Kanzo lagi.


"Pasti nanti orang orang ngeliatin aku" lirih Marya.Sepertinya istri dari Kanzo itu sudah mulai melawan rasa malunya.


"Gak apa apa, jangan dihiraukan, yang penting mereka tidak mengganggu kita" Kanzo mengulas senyumnya ke arah wajah Marya yang mendongak ke arahnya."Kita ke Rumah sakit ya!" bujuk Kanzo lembut sambil tangannya menyugar nyugar rambut Marya ke belakang.


Setelah berpikir seperkian menit, akhirnya Marya menganggukkan kepalanya. Kanzo semakin mengembangkan senyumnya, lalu mengecup kilas bibir manis Marya.


Kanzo pun menurunkan kakinya ke lantai, kemudian membantu Marya turun dari atas tempat tidur, dan menarik Marya berjalan ke arah pintu. Namun Marya menarik tangannya, membuat langkah Kanzo terhenti.

__ADS_1


"Aku mau ganti baju dulu" ucap Marya melangkahkan kakinya ke arah lemari pakaian.


"Gak usah sayang, kamu gitu aja sudah cantik. Biar cepat, aku haru bekerja lagi." Kanzo melangkahkan kakinya mendekati Marya, kemudian menarik lengan wanita itu lagi.


" Kalau begitu, kita gak jadi pergi." Marya menarik kasar tangannya dari genggaman Kanzo hingga terlepas. Menatap Kanzo tajam dengan wajah cemberut.


"Ya udah!" Kanzo semakin merekahkan senyumnya, mencoba untuk memahami sifat istrinya yang sedang hamil muda itu. Mungkin saja itu bawaan bayi di dalam perut istrinya, membuat Marya semakin manja dan lebih sensitif.


Kanzo pun mendudukkan tubuhnya pinggir kasur sambil memainkan ponselnya. Sampai tak sadar ketiduran sangking lamanya menunggu Marya berganti pakaian. Entah pakaian seperti apa yang di inginkan istrinya itu, sampai hampir semua pakaian di dalam lemari di coba. Sepertinya istrinya itu belum menemukan yang cocok untuk di pakai ke rumah sakit.


"Okeh yang ini baru cantik" monolog Marya melihat penampilannya di depan cermin. Dress dengan panjang selutut berwarna putih tulang. Kemudian Marya pun menoleh wajahnya dengan make up tipis, dan bibirnya di beri warna merah cabe.


"Sayang, ayo! kok malah tidur?." Marya berbicara manja sambil menggonyan lengan Kanzo sedikit kasar.


"Udah selesai sayang?" Kanzo yang langsung terbangun, menoleh ke arah Marya yang berdiri di pinggir kasur. Istrinya itu terlihat sangat cantik dan menggoda. Apa lagi di bagian bibirnya, masya Allah!. Ternyata Kanzo tidak sia sia menunggu istrinya itu lama lama berganti pakaian, melihat hasilnya sangat memuaskan.


"Ya Tuhan, cantik banget istriku" ucap Kanzo sembari turun dari atas kasur.


"Ayok!" manjanya tidak sabaran.


"Iya sayang, ini kita mau berangkat." Setelah menjatuhkan satu kecupan di pipi wanita itu, Kanzo pun merangkul pinggang ramping istrinya itu dari belakang, membawanya keluar kamar.


"Kalian mau kemana?." Ibu Liana yang duduk di sofa ruang keluar bertanya sambil memperhatikan penampilan Marya yang begitu terlihat cantik.


"Ke rumah sakit, Ma" jawab Marya melepas rangkulan tangannya dari lengan Kanzo, lalu mendekati wanita yang tak lagi muda itu untuk menyalamnya.


"Oh!" Ibu Liana mengulas senyumnya mendengar jawaban Marya. Itu artinya menantunya itu sudah mau di bawa keluar rumah.


"Nanti sekalian kami mau jalan jalan, Ma. Marya sudah sangat bosan di rumah" ucap Marya lagi.


"Sayang, tapi hari ini...."

__ADS_1


"Jalan jalan" potong Marya cepat dan menatap tajam pada Kanzo.


"Kamu bisa menunda pekerjaanmu hari ini" ucap Ibu Liana, khawatir mood menantunya itu rusak dan tidak mau lagi di bawa keluar rumah.


"Iya sayang, kita nanti jalan jalan" pasrah Kanzo. Ingat akan janjinya akan lebih mengutamakan istrinya itu dari segalanya.


Marya kembali merekahkan senyumnya," Ma, kalau begitu kami pergi dulu" pamit Marya pada Ibu Liana.


"Iya sayang, kalian hati hati."


Marya dan Kanzo pun sama sama melangkahkan kaki mereka keluar dari dala. rumah, dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan rumah.


"Kamu pengen jalan jalan kemana, sayang?." Kanzo mengusap lembut kepala Marya dengan sebelah tangannya, sedangkan yang sebelahnya lagi, mengendalikan setir mobil dan mulai melajukannya.


"Gak tau, kemana aja" jawab Marya. Dia tidak tau mau jalan jalan kemana. Yang penting ia mau jalan jalan.


"Tapi nanti setelah dari rumah sakit, kita ke perusahaan dulu ya. Aku ada meeting sebentar. Haris tidak bisa menggantikan ku, karena dia sudah berada di luar kota" ucap Kanzo berusaha bernegosiasi.


"Besok aku mau ikut kerja, untuk membantumu" ucap Marya malah.


Refleks Kanzo menoleh sebentar ke arah istrinya itu, kemudian kembali fokus dengan jalan di depannya.


"Nanti kamu kecapean sayang, kan kamu bisa membantuku dari rumah. Dan selama ini kamu sudah banyak membantu pekerjaanku" ucap Kanzo.


"Besok aku mau ikut kerja" ucap Marya tidak terima penolakan.


Kanzo menelan air ludahnya bersusah payah. Kenapa sekarang jadi istrinya itu yang menjadi bosnya. Sepertinya bayi di dalam kandungan istrinya itu sedang membalas perbuatannya sekarang, yang dulu selalu memaksa Marya dengan keinginannya.


"Iya, sayang" pasrah Kanzo, dari pada mood istrinya rusak, membuat wanita itu marah, merajuk dan menangis, lebih baik di turuti. Lagian, kalau istrinya itu lelah, bisa istirahat di ruangannya.


*Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2