
kalau Marya masuk ke dalam ruangan yang ada di dalam ruang kerja Kanzo. Sedangkan Widuri yang mendapat pengusiran melangkahkan kakinya keluar dari ruangan orang nomor satu perusahaan itu dengan menghentak hentak.
Bukh!
"Awu!" keluh Widuri mengusap usap keningnya yang terbentur benda keras yang di tabraknya.
"Kamu kenapa?" tanya Haris mengerutkan keningnya ke wajah Widuri yang cemberut.
"Aku di usir" cetusnya langsung pergi.
Haris yang di tinggalkan terus memperhatikan tubuh Widuri dari belakang. Tubuh kurus tidak ada apa apanya, depan belakang tidak ada yang terlihat menonjol, Haris menghela napasnya. Setelah Widuri menghilang masuk ke dalam lif, baru Haris melanjutkan langkahnya masuk ke ruangan Kanzo.
"Ada apa kau memanggilku?" tanya Haris mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Kanzo.
"Percepat pernikahanku Minggu depan" ujar Kanzo tanpa berpikir.
"Bagaimana bisa?, kartu undangannya saja belum siap di cetak." Bicara gak mikir, pikir Haris.
"Kamu bisa membuat sebagian undangan online" ujar Kanzo bijak.
Tapi membuat undangan online untuk seribu orang juga membutuhkan waktu yang banyak. Siapa yang harus di tugas Haris untuk mengerjakan itu?.
"Minta Cici dan Widuri untuk membantumu." Kanzo mengulum senyumnya.
Dalam urusan bercinta, sahabatnya itu lebih menghadapi masalah yang lebih rumit. Haris menyukai dua wanita sekaligus, dan sampai saat ini belum bisa menentukan pilihannya. Dan untuk mengikat kedua wanita itu, jelas kedua wanita itu menolaknya. Haris benar benar dalam keadaan dilema.
Ceklek!
mendengar pintu di ruangan itu terbuka, Kanzo langsung berdiri dari tempat duduknya, Kanzo akan mengantar Marya ke perusahaan milik Baim.
"Sayang ayo!" ajak Kanzo.
Marya yang baru keluar dari ruangan pribadi itu langsung menoleh ke arah Kanzo. Kening Marya mengerut, kemana pria itu mengajaknya?.
"Aku akan mengantarmu" ucap Kanzo yang bisa membaca isi pikiran kekasihnya itu.
Marya mengangguk sembari tersenyum. Tidak di pungkiri, Marya senang melihat sikap Kanzo yang terus memperhatikannya, dan menunjukkan kepedulian dan cintanya kepadanya.
__ADS_1
"Aku lapar, sekalian kita beli makan siang ya" ucap Marya saat Kanzo melingkarkan tangan di lehernya.
"Pengen makan apa?." Kanzo membuka pintu ruangannya, membawa Marya keluar, menghiraukan Haris yang mengerutu tidak jelas di ruangannya, karna di beri tugas yang tiada habisnya.
"Makanan cepat saji aja, aku harus cepat sampai di kantor, tadi aku belum selesai mempersiapkan bahan untuk meeting nanti" jawab Marya.
Kanzo pun menjatuhkan satu kecupan di pelipis wanita itu saat akan masuk ke dalam lif. Wanitanya itu terlihat semangat sekali bekerjanya. Sampai Kanzo tidak berani jika harus menyuruh Marya berhenti bekerja setelah mereka menikah.
Sampai di perusahaan milik Baim, Kanzo menghentikan laju kendaraannya. Marya langsung membuka pintu di sampingnya dan segera turun, namun Kanzo menarik lengannya membuat tubuhnya terhunyung ke belakang.
"Ada yang ketinggalan." Kanzo menunjuk sebelah pipinya sembari tersenyum.
Cup!
Senyum Kanzo semakin merekah, saat bibir merah Marya menempel di pipinya.
"Jangan lupa jemput." Marya melap lipstiknya yang menempel di pipi Kanzo sembari tersenyum.
"Oke sayang! Cup!" balas Kanzo bersemangat. Bibir Marya semakin melengkung ke atas, lantas keluar dari mobil milik Kanzo.
'Apa mereka berpacaran?' batin Baim lagi.
Baim yang berada di dalam mobilnya pun keluar dan masuk ke dalam gedung perusahaan. Sampai di dalam ruangannya, Baim menelephon seseorang, menyuruh orang itu untuk menyelidiki hubungan Marya dan Kanzo.
Sedangkan Marya yang berada di ruangannya, menyuapkan makanan ke mulutnya sambil memperhatikan selembar kertas di tangannya. Sebentar lagi jam meeting akan di mulai, Marya belum bisa menguasai materi bahan meeting nanti.
"Oh! ternyata mereka pernah menikah, lalu cerai dan akan rujuk lagi" gumam Baim setelah mendapat laporan dari seseorang. Baim menggigit bibir bawahnya dengan pandangan lurus ke depan, sibuk dengan pikirannya sendiri.
**
Pulang kerja, Marya keluar dari ruangannya dengan langkah semangat dan terburu buru, karna baru saja Kanzo mengirim pesan, kalau pria itu sudah menunggunya di bawah. Sampai di luar gedung, pria tampan yang mengait hatinya itu sudah berdiri di body mobilnya dengan gaya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.Sangking senangnya, tanpa sadar Marya berlari kecil ke arah Kanzo. Sepertinya bunga cinta di hati wanita itu mulai bersemi kembali.
"Ada apa?, apa gerangan yang membuat wanitaku ini berbinar?"tanya Kanzo, meraih pinggang Marya yang sudah berdiri tepat di depannya, lalu mengecup kilas pelipisnya.
Marya menggeleng, ia juga tidak tau apa yang membuat suasana hatinya sangat baik sore ini. Padahal tadi dia baru ribut dengan mantan istri pertama Kanzo.
"Kita jemput Areta dulu ya." Kanzo membuka pintu mobil di sampingnya untuk Marya.
__ADS_1
"Kemana?" Marya malas sekali kalau sampai harus bertemu lagi dengan Bella. Bisa bisa nanti mereka ribut lagi.
"Areta sudah berada di tempat yang aman" jawab Kanzo. Tentu tadi Kanzo menyuruh orang untuk mengambil paksa Areta dari Bella. Hak asuh anak jatuh ke tangan Kanzo, Bella tidak berhak untuk mengambil Areta darinya.
Setelah Marya masuk ke dalam mobil, Kanzo menutup kembali pintunya, lalu menyusul Marya masuk dengan mengelilingi bagian depan mobilnya, dan langsung melaju.
Baim yang melihat mereka dari kaca jendela ruangannya, terus memperhatikan mobil Kanzo sampai menghilang di kejauhan.
Sampai di depan sebuah rumah sederhana, Kanzo memarkirkan mobilnya dan langsung turun, begitu juga dengan Marya. Kanzo mendekati Marya, meraih tangannya, membawanya berjalan ke arah pintu masuk rumah itu.
"Ini rumah siapa?, kenapa Areta bisa ada di sini?" tanya Marya. Rumah itu terlihat aneh dan sedikit horor. Bisa bisanya Kanzo membiarkan putrinya di bawa ke rumah berbahan kayu itu.
Tok tok tok!
Kanzo tidak menjawab, lebih memilih mengetuk pintu rumah itu. Tak lama kemudian, pintu rumah itu terbuka dari dalam, menampakkan seorang pria berambut gondrong dengan wajah di tumbuhi bulu bulu panjang dan lebat, baju terlihat kucel dan sedikit koyak.
"A- ayah!" gumam Marya menutup mulutnya dengan tangan melihat pria yang membuka pintu rumah sederhana itu adalah Pak Maiman, Ayah marya sendiri . Marya tidak percaya akan bertemu Ayahnya di tempat itu setelah sekian lama tidak pernah bertemu.
"Marya" ucap Pak Maiman, Pak Maiman juga tidak percaya jika Kanzo akan membawa Marya bertemu dengannya.
Marya yang masih sakit hati dengan Ayahnya, melangkahkan kakinya mundur dan berlari. Kanzo langsung mengejarnya.
"Marya!"
"Aku gak mau bertemu dengannya!" teriak Marya menangis.
Kanzo yang sudah berhasil menangkap Marya, membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Ayah sudah berubah Marya, selama ini dia sudah bekerja denganku, menjaga Areta dari gangguan Bella" jelas Kanzo.
"Dia sudah menelantarkan aku, Adi dan Ibu" Isak tangis Marya.
"Ayah minta maaf, Nak!" Pak Maiman berbicara dengan meneduhkan pandangannya ke arah Marya.
Marya menggelengkan kepalanya.
*Bersambung
__ADS_1