Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Jangan memikirkan apa pun


__ADS_3

"Ya Tuhan" gumam Kanzo, lalu meraba raba saku celananya mencari ponselnya ternyata tidak ada.


Dimana ponselnya?


Kanzo bergegas berlari ke dalam kamar, mungkin ponselnya masih berada di dalam saku celana tadi yang dipake dari kampung, atau di dalam tas.


Sampai di dalam kamar, Kanzo langsung mengeledah saku celananya yang sudah di masukkan ke keranjang baju kotor, ternyata tidak ada. Kanzo pun menggeledah tasnya barang barangnya dari kampung, tidak ada juga.


'Dimana ponselku?' gumam Kanzo.


Kanzo tidak peduli dengan ponselnya itu lagi. Ia pun bergegas berlari keluar kamar menuruni anak tangga rumah itu. Tanpa berpamitan, Kanzo keluar rumah.


"Kanzo! kamu mau kemana buru buru?" seru Ibu Liana yang melihat anaknya panik dengan wajah khawatir.


Kanzo yang sudah sampai di halaman rumah, tidak mendengarnya lagi. Kanzo langsung masuk ke dalam mobil miliknya, melajukan nya meninggalkan pekarangan rumah menuju bandara.


Pagi hari, baru Kanzo sampai di kampung. Kanzo langsung menuju rumah sakit dimana Marya melahirkan. Meski khawatir, namun wajah Kanzo nampak bersinar membayangkan anaknya sudah lahir.


"Atas nama pasien Marya Fauzia di rawat dimana Sus, dia pasien melahirkan." Tanya kanzo kepada petugas resepsionis rumah sakit itu.


"Sebentar ya Pak!" wanita berpakaian perawat itu langsung memeriksa layar komputer di mejanya.


"Ruang melati satu ya Pak, di lantai tiga"jawab wanita itu.


"Trimakasih Sus" balas Kanzo langsung melangkahkan kakinya ke arah lif rumah sakit itu.


Sampai di lantai tiga, tanpa mengetok pintu ruang melati satu, Kanzo langsung membukanya.


"Sayang!" panggil Kanzo.

__ADS_1


Marya yang duduk bersandar di atas brankar refleks mengarahkan pandangannya ke arah Kanzo yang berjalan mendekatinya.


"Maaf!" ucap Kanzo memeluk Marya. Marya diam saja dengan ekspresi wajah datar.


"Aku tidak bermaksud melupakanmu sayang. Saat aku sampai di rumah sakit, Ezio sudah meninggal" ucap Kanzo menangis.


"Saat Pak Kanzo sampai di sini. Anak Pak Kanzo yang baru lahir juga meninggal" ucap Marya datar.


Duarr!


Seperti di sambar petir, Kanzo langsung terdiam. Dan melepas pelukannya dari tubuh Marya, memandang wajah sedih wanita itu.


"Anakku pergi meninggalkanku" Isak tangis Marya." Padahal aku sudah menjaganya dengan baik selama ini."


Kanzo menggeleng gelengkan kepalanya, tidak percaya.


Marya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


Kanzo kembali memeluk Marya, menangis pilu sampai tubuhnya bergetar. Tiba tiba tangis Kanzo pun pecah memenuhi ruangan itu, karna tak dapat menahan kesedihannya lagi. Kanzo kehilangan dua orang anaknya dalam satu hari. Bahkan Kanzo belum sempat melihat seperti apa anaknya yang baru lahir, buah cintanya itu sudah tiada.


"Tuhan! kenapa Engkau melakukan ini padaku?" ucap Kanzo dengan suara kerasnya. Hati siapa yang tidak hancur, kehilangan kedua anak sekaligus. Kedua bayi itu adalah harapannya, masa depannya, tapi kini keduanya memilih pergi.


"Jangan menangisinya Pak Kanzo. Pak Kanzo tidak pernah memperhatikannya. Tidak pernah menanyakan kabarnya. Tidak pernah menanyakan keinginannya. Tidak pernah tau sebesar apa kerinduannya selama ini. Tidak tau makanan kesukaannya."


Kanzo menghentikan tangisnya, karna mendengar ocehan Marya. Kembali melepas pelukannya dari wanita itu.


"Bahkan saat kami sama sama berjuang untuk bertahan hidup. Pak Kanzo kemana?, kenapa gak memberi kabar?, kenapa gak mengangkat telephon ku?" lirih Marya dengan bibir bergetar.


"Maaf!" hanya itu yang bisa Kanzo katakan.

__ADS_1


Marya menghapus air matanya, lalu mengangguk paham. Kanzo pun memeluk Marya kembali, lalu mengecup lama ujung kepala wanita yang terlihat tak berdaya itu.


"ponselku hilang sehingga aku gak tau kamu menghubungiku. Maafkan aku. Lagi lagi aku mengabaikan mu dan anak kita. Aku benar benar suami yang buruk, aku Ayah yang buruk Marya" ucap Kanzo terisak.


Padahal saat sampai di bandara kota, sebenarnya Kanzo sudah ingin menghubungi Marya, untuk mengabari wanita itu kalau dia sudah sampai. Namun saat akan melakukan panggilan melalui ponselnya. Ibu Liana terlebih dahulu menghubunginya, mengatakan kalau Ezio bertambah kritis. Sehingga membuat Kanzo lupa dengan niat awalnya, pikirannya langsung di penuhi oleh Ezio. Sampai Ezio dimakamkan, karna sibuk membuatnya lupa untuk menghubungi Marya.


"Setelah ini, jangan memaksaku lagi,Pak!. Aku mohon, lepaskan aku dari jerat menyakitkan ini" lirih Marya.


Marya sudah tidak punya alasan untuk mempertimbangkan hubungan mereka. Jika kemarin Marya mempertimbangkannya demi anak, sekarang alasan itu sudah tidak ada.


"Jangan memikirkan apa pun saat ini. Fokuslah untuk kesembuhan mu. Kita bisa membahasnya nanti setelah kamu sembuh" ucap Kanzo.


Dengan keadaan Marya yang baru melahirkan. Kanzo tidak mau membuat pikiran wanita itu kacau. Sehingga ia tidak mengiyakan dan tidak menolak permintaan wanita itu. Mereka bisa membicarakannya nanti setelah Marya sehat.


Marya pun terdiam menikmati pelukan hangat pria itu ke tubuhnya. Setelah lama memeluk Marya, baru Kanzo melepas pelukannya dari tubuh wanita itu. Kanzo memandang wajah Marya yang juga memandangnya. Wajah mereka sama sama sembab dan bengkak, menggambarkan raut wajah kesedihan.


Kanzo mengangkat satu tangannya, lalu menghapus cairan bening yang membasahi wajah istrinya itu. Meski sebenarnya di sini dialah yang paling sedih. Tapi sebagai laki laki dia harus lebih kuat supaya tetep bisa menenangkan istrinya.


"Jangan memikirkan tentang kita saat ini. Seperti katamu, biarkan waktu yang menjawabnya. Fokuslah dengan kesehatanmu, karna aku tidak mau kamu kenapa kenapa" ucap Kanzo lagi, lalu mencium kening wanita itu cukup lama, berhasil membuat Marya memejamkan mata menikmati hangatnya benda kenyal itu menempel di keningnya.


'Tuhan, aku sadar kalau aku sudah membuatnya menderita. Tapi itu bukan keinginanku Tuhan. KAMU tau alasanku mengabaikannya selama ini, bahkan di saat dia berjuang melahirkan anakku, aku pun tidak ada di sampingnya. Tapi Tuhan, di lubuk hatiku yang terdalam, aku tulus mencintainya, aku gak rela melepasnya. Aku mohon Tuhan, tetaplah pelihara cintanya untukku. Aku sudah kehilangan kedua anakku, aku gak mau jika harus kehilangan dia, Tuhan' batin Kanzo meneteskan kembali air matanya.


'Tuhan, kenapa cinta ini menyakitkan?. Tapi kenapa sulit untukku melepasnya?. Tuhan, sang pemilik hati, jika dia yang terbaik, jangan biarkan dia menyakitiku lagi. Jika bukan, jauhkan dia dari kehidupanku' batin Marya.


Kenyataannya, tidak mudah untuk melepas orang yang kita cintai, apa lagi sudah menjadi suami istri. Meski kata hati tidak mampu lagi untuk bertahan, tetap saja melepas adalah hal yang berat. Jika melepasnya, akan ada rasa rindu yang menantinya. Rindu itu berat, tidak ada obatnya selain bertemu.


Kanzo pun melepas kecupannya, refleks Marya langsung membuka matanya mengarahkannya ke wajah Kanzo. Sama seperti dirinya, wajah pria itu juga sangat sedih, hancur dan juga terlihat lelah. Mungkin selama dua hari ini, pria itu belum sempat istirahat.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2