Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Beri aku waktu


__ADS_3

Sampai di kebun, Kanzo yang ikut langsung tercengang melihat luasnya kebun cabe yang ada di depan matanya.


"Kamu menjadi buruh di kebun ini?" tanya Kanzo melihat marya mengambil keranjang siap untuk memetik cabe bersama buruh tani lainnya.


Untuk apa istrinya itu bekerja di kebun lagi, meski Kanzo tidak pernah menjumpai Marya selama ini. Tapi Kanzo tetap mengirim biaya hidup Marya dan keluarganya.


"Iya, emang kenapa?" tanya balik Marya.


"Gak sayang, kamu gak boleh bekerja di sini." Kanzo menarik tangan Marya yang hendak mulai memetik cabe di depannya.


"Ibu bos, ini nota penjualan cabe semalam, semuanya satu ton" ucap seorang Bapak Bapak memberikan kertas nota kepada Marya.


"Trimakasih Pak!" balas Marya menerima kertas nota penjualan itu.


"Itu Ibu bos, untuk pupuk kandang di lahan baru masih kurang, dan stok obat buat pembasmi hama juga sudah menipis, Ibu bos" lapor si Bapak itu.


"Atur aja Pak" ucap Marya ramah. Si Bapak itu adalah seorang ahli pertanian yang di percaya Marya untuk mengelola kebun cabenya.


"Baik, Ibu bos" balas si Bapak itu.


"Oh ya Pak, untuk karyawan yang memetik cabe, tolong di suruh lembur dua jam ya, Pak. Soalnya cabenya banyak yang udah matang, dan harus di kirim cepat" perintah Marya kepada si Bapak itu


"Siap bu bos, kalau begitu saya permisi." setelah berpamitan, si Bapak itu pun langsung pergi.


"Sayang, semua ini kebunmu?" tanya Kanzo mengarahkan pandangannya ke hamparan cabe yang berkisar seluas dua hektar itu.


"Iya" jawab Marya singkat, melangkahkan kakinya masuk ke kebun cabe.


Namun Kanzo langsung menarik bajunya dari belakang, membuat langkah Marya terhenti.


"Apa lagi sih?" cetus Marya menghempaskan tangan Kanzo.


"Kamu gak boleh kerja sayang. Kan kamu bos nya" ucap Kanzo.

__ADS_1


"Emang Pak Kanzo, jadi bos bisanya merintah aja. Malah minta di layani lagi" cibir Marya.


Kanzo malah merekah kan senyumnya, tidak tersinggung sama sekali dengan sindiran wanita yang bertambah kecantikannya itu.


"Kamu juga menyukainya sayang" goda Kanzo mengedipkan sebelah matanya ke arah Marya.


Marya memutar bola matanya malas, lalu melangkah kembali masuk ke kebun cabe. Kanzo yang tidak mau di kalahkan wanita itu, langsung menangkap tubuh Marya membawanya pergi.


"Lepasin!" geram Marya merapatkan gigi giginya menatap marah ke wajah Kanzo yang menggendongnya ala bridal style.


"Gak sayang" tolak Kanzo.


"Pantas saja Ibu Bella menyelingkuhi Bapak, dan tidak bisa mencintai Bapak. Bapak itu egois, gak punya hati. Menganggap enteng wanita, menganggap semua wanita itu barang yang bisa di beli. Menganggap semua wanita itu bisa di bereskan dengan uang" ucap Marya, berhasil menggantikan langkah Kanzo, menatapnya dengan mulut terkunci.


"Dan jangan pikir aku gak tau maksud Bapak dan keluarga Bapak datang ke sini" sinis Marya." Bapak ingin aku menjadi Ibu susu bayi yang di lahirkan Ibu Bella kan?. Karna sebentar lagi aku akan melahirkan, aku bisa menyusui anakmu itu!. Aku tau itu!."


Kanzo menggelang gelengkan kepalanya dengan mata berkaca kaca. Marya salah paham, dia tidak bermaksud seperti yang di katakan Marya. Murni niatnya untuk memperistri Marya bagaimana selayaknya.


"Kamu salah paham, Marya" lirih Kanzo.


"Kalau aku salah paham, jadi bagaimana yang benarnya?" tanya Marya.


"Aku mencintaimu" Jawab Kanzo melanjutkan langkahnya, membawa Marya pulang ke rumah.


"Cinta? Cinta seperti apa, Pak?. Kenapa begitu menyakitkan?" lirih Marya.


"Aku minta maaf Marya."


"Setelah menghancurkan masa depanku!" bentak Marya tiba tiba. Refleks membuat langkah Kanzo berhenti lagi.


"Bisa bisanya Bapak mengaku mencintaiku setelah membuatku menanggung malu!. Dimana pikiran Bapak?. Dimana perasaan Bapak selama ini?. Seharusnya Bapak koreksi diri kenapa Ibu Bella sampai selingkuh. Bukan malah membalasnya berselingkuh, dan membuatku jadi korban. Aku jadi korban hubungan rumah tangga kalian yang tidak harmonis. Kenapa aku harus ikut menanggung masalah rumah tangga kalian?. Apa salahku sama kalian?, apa salahku sama Bapak?."


Kanzo membeku lalu menurunkan Marya dari gendongannya.

__ADS_1


"Aku sadar, aku tidak akan sanggup mengganti semua uang Bapak. Tapi aku mohon, lepaskan aku dari jeratan yang menyakitkan itu. Biarkan aku bebas menentukan hidupku, Pak."


Kanzo menggelangkan kepalanya.


"Aku mohon, bebaskan aku" mohon Marya mengiba.


"Baiklah, tapi biarkan aku mendampingimu sampai kamu melahirkan" ucap Kanzo tak tega melihat wajah Marya memohon padanya.


"Baiklah, setelah itu aku mohon, Bapak pergi dari sini" balas Marya, sambil menghapus air matanya yang semakin mengalir deras. Merasakan hatinya semakin sakit, Kanzo menyetujui permintaannya. Itu artinya Kanzo tidak sungguh sungguh padanya.


"Sssst! jangan menangis lagi." Kanzo mengangkat kedua tangannya untuk menghapus cairan bening yang tak ingin berhenti mengalir dari sudut matanya. Namun Marya semakin menangis terisak.


Kanzo pun menarik Marya ke dalam pelukannya, lalu mengecup ujung kepala wanita itu dengan penuh perasaan.


"Aku tidak akan memaksamu lagi Marya. Tapi beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku. Kalau memang kamu tidak bisa menerimaku lagi, aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu" ucap Kanzo setelah melepas kecupannya.


"Tapi Marya, aku pun memohon padamu. Biarkan aku menghabiskan sisa hidupku bersamamu dan anak anak kita. Aku berjanji akan memenuhi kewajibanku sepenuhnya sebagai suami. Memberikan cinta dan kasih sayangku sama kamu. Berjanji akan menyisihkan banyak waktu untukmu" bujuk rayu Kanzo dengan suara lembutnya.


Berhasil membuat Marya berhenti menangis. Tapi hati Marya masih bimbang jika menerima pria itu. Tapi jika melapas Kanzo pun rasanya berat bagi Marya.


"Beri aku waktu Marya" bujuk Kanzo lagi.


"Tapi gak boleh sentuh sentuh" lirih Marya.


Setelah berpikir, Marya akan memberikan Kanzo kesempatan membuktikan cinta pria itu. Tapi Marya gak mau ada sentuh sentuh.


"Baiklah, aku menyanggupinya" Kanzo mengulas senyumnya. Memaklumi hormon kehamilan istrinya itu yang gampang menangis dan emosi.


"Sekarang lepas, aku mau metik cabe."


Kanzo pun langsung melepas tubuh wanita itu dari pelukannya, supaya wanita cantik berperut besar itu tidak marah lagi, dan hatinya segera membaik. Dan mengikuti langkah Marya kembali ke perkebunan cabe.


Pintar juga istrinya itu menggunakan duitnya, pikir Kanzo. Ternyata istrinya itu juga memiliki jiwa bisnis yang kuat. Bayangkan saja, baru depalan Bulan tinggal di kampung. Istrinya itu sudah berhasil menjadi juragan cabe, pantas aja sekarang cerewet.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2