Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Bukan suami istri lagi


__ADS_3

"Apa Kabarmu, sayang?" tanya Kanzo, mengangkat satu tangannya mengusap lembut ujung kepala wanita itu.


"Baik, Pak" jawab Marya mengulas senyumnya.


"Nanti malam kita ketemuan ya, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan" ujar Kanzo.


"Tapi..."


Cup!


ucapan Marya terpotong saat Kanzo mengecup kilas keningnya.


"Aku pergi dulu, selamat bekerja."Kanzo langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Marya yang terdiam mematung.di tempatnya.


"Permisi Nona" pamit Haris yang diam dari tadi, lalu melangkahkan kakinya menyusul Kanzo.


Marya yang sempat diam membeku di tempatnya berdiri, memegangi dadanya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangannya.


'Untung gak ada yang lihat' batin Marya.'


Lantai paling atas gedung itu adalah lantai khusus para petinggi perusahaan dan ruangan meeting. Sehingga tidak ada karyawan yang melihat Kanzo mengecup keningnya. Dan untungnya lagi, Baim dan sekretarisnya tadi langsung keluar setelah selesai meeting.


Sore hari, Marya membereskan meja kerjanya, melihat jam sudah waktunya pulang. Setelah tapi, Marya mengambil tasnya dari dalam laci, lalu berdiri melangkah keluar dari ruangannya. Sampai di parkiran, Marya langsung membuka pintu mobilnya.


Tintin!


Belum sempat Marya masuk ke dalam mobilnya, sebuah mobil datang ke arahnya dengan membunyikan klakson, berhasil membuat Marya mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil.


Tepat mobil itu berhenti di sampingnya, sang pemiliknya pun langsung membuka pintunya dan keluar dari dalam mobil.


'Pak Kanzo' batin Marya melihat pria yang keluar dari dalam mobil mewah itu ternyata Kanzo.


"Ayo aku antar pulang" ucap Kanzo meraih lengan Marya, namun Marya langsung menarik tangannya.


"Aku pulang sendiri aja Pak. Dulu juga begitu kan?" sindir Marya.

__ADS_1


"Itu dulu, tapi mulai sekarang gak akan lagi." Kanzo mengulas senyumnya.


Marya mendengus.


"Mari kita pacaran" ajak Kanzo mengulurkan tangannya ke arah Marya. Mungkin dengan berpacaran, mereka bisa memulai hubungan mereka perlahan lahan.


"Aku gak mau" tolak Marya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ya udah, kalau gitu kita kawin lagi aja" ucap Kanzo.


"Aku masih ingin sendiri" balas Marya.


"Sampai kapan? Hm!. Sudah dua Tahun aku membiarkanmu bebas. Tanpa memikirkan suami mu terlantar. Apa itu masih belum cukup?." Kanzo mengangkat satu tangannya untuk meraih dagu Marya, supaya wanita cantik itu menoleh ke arahnya.


"Pak Kanzo sudah menceraikan aku. Berarti Pak Kanzo bukan suamiku lagi" sanggah Marya tanpa mau melihat wajah Kanzo.


"Baiklah, kamu benar. Tapi bagaimana denganmu?. Kenapa sampai sekarang kamu belum juga mengurus surat jandamu?" tanya Kanzo.


Wajah Marya langsung bersemburat merah. Kenapa juga dia belum mengurus surat cerainya. Kalau menunggu pria di depannya itu. Pria itu tidak akan mau mengurus surat perceraian mereka. Karna pria itu masih mengharapkannya.


Marya yang membalas tatapan Kanzo, terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Kanzo.


Kanzo pun menarik Marya ke dalam pelukannya." Aku sangat merindukanmu, Marya" ucap Kanzo dengan suara tercekat.


Dari tadi saat pertama kali bertemu, Kanzo sudah menahan diri untuk tidak membawa wanita itu ke dekapannya.


Marya yang tiba tiba di peluk, langsung meronta meminta di lepas. Mereka sekarang lagi berada di lingkungan perusahaan, bagaimana nanti kalau ada karyawan yang melihat.


"Kita rujuk ya, kita perbaiki rumah tangga kita. Aku janji akan membuat hidupmu bahagia" bujuk Kanzo mengecup ujung kepala Marya dengan penuh rasa rindu.


" Pak Kanzo, tidak bagus jika orang lain melihat kita seperti ini. Tolong lepaskan aku" ucap Marya.Kanzo langsung melepaskannya.


"Maaf!"


"Aku masih ingin hidup sendiri" ucap Marya lalu melongos masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Dia masih marah" gumam Kanzo memperhatikan mobil Marya meninggalkan parkiran.


Kanzo pun masuk ke dalam mobilnya dan langsung melakukannya mengikuti Marya dari belakang. Sampai tiba di depan rumah sederhana milik Marya, Kanzo menghentikan laju kendaraannya. Segera turun mengikuti Marya masuk ke dalam rumah itu.


"Silahkan duduk Pak, aku harus ke kamar dulu." Marya langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan Kanzo, mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu berukuran kecil itu. Lalu memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan.


"Dia sudah memiliki uang banyak, tapi masih beli rumah kecil dan sederhana seperti ini" gumam Kanzo.


Bagaimana mantan istrinya itu tidak banyak uang. Meski sudah membebaskan Marya, Kanzo tetap masih mentransfer biaya hidup Marya dan keluarganya. Dan Kanzo juga sudah memindahkan beberapa persen saham miliknya atas nama Marya, dan hasil saham itu otomatis masuk ke rekening Marya setiap Bulannya. Belum lagi dari hasil perkebunan cabe milik Marya, yang memiliki penghasilan ratusan juta setiap bulannya. Mantan istrinya itu sudah menjadi janda kaya raya sekarang.


Hampir satu jam menunggu, Marya baru keluar dari dalam kamarnya. Dengan pakaian yang sudah di ganti. Wajahnya nampak segar, rabutnya basah, jelas sekali mantan istrinya itu baru siap mandi.


Tapi yang mengganggu pandangan Kanzo adalah, Marya memakai celana pendek menampakkan setengah dari pahanya.


"Ganti celanamu itu, kalau kamu tidak ingin kuhabisi sekarang" ujar Kanzo.


Mancing mancing si Salim bangun aja itu mantan, pikir Kanzo.


"Lagian ngapain Pak Kanzo ikut ke sini?. Marya mendudukkan tubuhnya di sofa di sebalah Kanzo, menghiraukan perintah mantan bos dan mantan suaminya itu.


"Marya" Tegus Kanzo dengan suara lembutnya. Ngapain lagi dia mengikuti mantan istrinya itu, kalau bukan untuk berjuang mendapatkan cinta si Mantan kembali.


Marya menghela napasnya dan merubah wajahnya menjadi serius." Pak Kanzo, aku belum siap untuk berumah tangga kembali, aku masih trauma."


Kanzo mengulurkan tangannya, meraih satu lengan Marya lalu mengecupnya." Aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku di masa lalu. Aku akan terus berusaha membuatmu bahagia, Marya. Aku akan berusaha selalu mengutamakan mu. Aku mohon! beri aku kesempatan memiliki mu kembali. Aku sangat menderita tanpa kamu Marya. Jangan putuskan harapanku untuk bisa memilikimu kembali, sayang." Kanzo mengecup pinggang tangan Marya kembali.


Marya menarik tangannya dari genggaman Kanzo." Tapi saat ini aku belum siap."


"Tapi jangan menutup rapat pintu hatimu untukku, sayang. Biarkan aku mendekatimu, kita bisa memulainya dengan berteman. Areta selalu menanyakan mu, begitu juga dengan Mama. Mama sangat menginginkan kamu menjadi menantunya kembali. Mereka sangat menyayangimu Marya. Berkunjunglah ke rumah, mereka juga keluargamu. Kakak dan Nenek dari Zion."


Refleks Marya menajamkan pandangannya ke wajah Kanzo,mendengar Kanzo mengingatkannya dengan anak mereka yang meninggal saat lahir. Mata Marya berkaca kaca dan wajahnya berubah sedih.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2