
"Ibu!"
Marya langsung berlari turun dari atas pelaminan melihat Ibu Hayati tiba tiba pingsan.
"Ibu!" tangis Marya memangku kepala Ibu Hayati yang tak sadarkan diri.
"Ibu!"
Sedangkan Adi yang baru datang, langsung mengangkat Ibu Hayati dari pangkuan Marya. Dan membawanya keluar dari dalam aula, dan langsung di ikuti Marya.
"Haris, urus masalah Marya di perusahaan Baim" perintah Kanzo, langsung berlari menyusul Marya dan Adi.
"Nyonya"
Widuri langsung mendekati Ibu Liana yang memegangi kepalanya, dan menuntun wanita itu untuk duduk.
"Nyonya minum dulu" ucap Widuri memberi air minum di atas meja meminumkannya kepada Ibu Liana.
"Ayo Haris kita ke perusahaan Pak Dirga" ajak Pak Bagus yang diam dari tadi, langsung melangkahkan kakinya.
Tanpa Menjawab, Harus pun mengikuti langkah pria itu.
Akhirnya acara bahagia itu, hancur sudah. Panitia acara pun meminta para tamu undangan untuk tetap menikmati acaranya.
Di salah satu sudut ruangan itu, seorang wanita tersenyum miring sambil menikmati minuman di tangannya. Wanita itu sudah berhasil mengacaukan pesta pernikahan itu.
'Wanita itu juga harus tercampak kan, Kanzo.'
Sampai di rumah sakit, Marya terduduk lemah di kursi tunggu yang berada di depan ruang UGD. Pikirannya bercabang, antara memikirkan Ibunya dan kasus yang dialaminya. Marya tidak habis pikir, kenapa ia bisa di tuduh menggelapkan uang?.
"Tenanglah, Papa dan Haris akan mengusut masalahmu. Aku percaya kamu tidak melakukan kejahatan itu. Pasti ada orang yang menjebak mu" ujar Kanzo memeluk Marya yang duduk di sampingnya.
"Kau memang pembawa masalah dalam hidup Kakakku" cetus Adi menatap Kanzo tak suka.
Dua Tahun ini, hidup Kakaknya sudah baik baik saja tanpa pria itu. Tapi setelah bertemu kembali, Kakaknya itu langsung berada dalam masalah besar.
"Nanti kalau kamu sudah mengalami yang namanya jatuh cinta. Kamu akan tau berada di dalam posisi kami" balas Kanzo, malas melihat Adik iparnya itu.
__ADS_1
Adi mendengus.
Tak lama kemudian pintu ruang UGD itu terbuka dari dalam. Marya, Kanzo dan Adi langsung berdiri dari tempat duduk mereka, mendekati Dokter yang keluar dari dalam.
"Bagaimana keadaan Ibu saya Dok?" tanya Marya khawatir.
"Maaf!" ucap Dokter itu lalu menghela napasnya.
"Maksud Dokter?." Marya menggeleng gelengkan kepalanya dengan air mata yang tak bisa di bendung lagi.
"Silahkan masuk" ucap Dokter itu tanpa menjawab pertanyaan Marya.
"Gak mungkin" tangis Marya, seketika tubuhnya melemah dan Tibang di pelukan Kanzo.
"Sayang" ucap Kanzo membawa Marya masuk ke dalam ruang UGD, membaringkannya di atas brankas kosong.
"Ibu, bangun Bu!" tangis Adi mengguncang tubuh Ibu Hayati yang sudah tak bernyawa."Ada apa dengan Ibu?, tadi Ibu baik baik saja" ranjau Adi menangis memeluk tubuh Ibunya.
Sedangkan Kanzo yang berdiri di samping brankar yang di tempati Marya, berusaha membangunkan istrinya itu.
"Sayang, bangun" lirih Kanzo dengan suara tercekat menahan tangis.
"kenapa Ibu pergi?"tangis Marya. Akhirnya Ibu Hayati menyerah dengan masalah yang terus bertubi tubi menghampiri hidup mereka. Pasti tadi gula darah Ibunya tiba tiba naik mendengar apa yang di bicarakan kedua pria tadi di atas pelaminan.
"Sayang, ikhlaskan" ucap Kanzo mengusap kepala Marya dari belakang, lalu mengecup kepala wanitanya itu.
"Kenapa Ibuku pergi secepat ini?. Padahal Ibu sangat ingin menimang cucu" rancau Marya.
"Jangan bicara seperti itu, Ikhlaskan kepergiannya, supaya Ibu tidak bersedih" lirih Kanzo menarik Marya ke dalam pelukannya.
"Setelah ini, tolong tinggalkan Kakakku!. Menjauhkan dari hidup kami!. Kau memang pembawa masalah dalam hidup kami !" marah Adi tiba tiba kepada Kanzo.
"Tolong jangan berantam, ini rumah sakit. Dan silahkan kalian urus administrasinya supaya Ibu kalian bisa segera kalian bawa pulang" ucap Dokter yang bertugas di ruang UGD itu.
Adi langsung terdiam dan menatap ke arah Kanzo dengan marah.
"Kalian tunggulah di sini, biar aku yang mengurusnya" ucap Kanzo, melepas pelukannya dari tubuh Marya dan langsung pergi.
__ADS_1
**
Di tempat lain, tepatnya di perusahaan yang di dirikan Pak Dirga, Ayah Baim sendiri. Haris dan Pak Bagus masuk ke ruang meeting perusahaan itu. Di sana sudah berkumpul para petinggi petinggi perusahaan. Dan mereka datang untuk melihat bukti dan ingin menyelidiki apakah benar menantu Pak Bagus melakukan penggelapan uang perusahaan.
"Berapa uang perusahaan kalian yang di ambil menantu saya?" tegas Pak Bagus tanpa berniat untuk duduk.
"Ini Pak Bagus." Seorang pria memberikan berkas bukti transfer uang perusahaan masuk ke nomor rekening Marya. Dan bukti pemalsuan berkas keuangan perusahaan. Marya terlibat kerja sama dengan Direktur keuangan perusahaan itu.
"Dan yang lebih parah lagi, menantu Anda membocorkan rahasia perusahaan ini kepada perusahaan kalian" ujar Pak Dirga yang merasa dihianati."Atau bisa saja menantimu itu sengaja kalian kirim ke sini untuk menghancurkan perusahaan ini" ucap Pak Dirga lagi.
"Untuk apa?" tanya Pak Bagus tidak terima.Tanpa melakukan kecurangan, ia bisa membuat perusahaannya bertambah maju dan berkembang.
Pak Dirga berdecih, meski selama ini menjalin kerja sama. Tapi ada sesuatu yang membuat mereka tidak cocok.
"Untuk apa lagi, kalau bukan untuk membuat perusahaan ku ini hancur" jawab Pak Dirga.
"Haris, ganti uang perusahaan mereka sekarang juga. Dan lakukan penyelidikan di perusahaan ini. Jika mereka melarangnya, tarik saham kita" perintah Pak Bagus kepada Haris.
"Baik, Pak!" patuh Haris.
"Jika ternyata menantuku tidak melakukan kesalahan. Saya akan menuntut kalian dengan pencemaran nama baik" ujar Pak Bagus lalu memutar tubuhnya keluar dari ruang meeting itu.
Sedangkan Haris dan beberapa orang nya, tinggal di perusahaan itu untuk melakukan pemeriksaan terkait masalah yang menyeret nama baik Marya.
"Silahkan kalian periksa" Cibir Pak Dirga memicingkan matanya ke arah Haris.
"Tidak bisa!" ucap Baim tiba tiba, refleks Haris menoleh ke arah Baim yang duduk di samping Pak Dirga."Kalian tidak berhak ikut campur masalah perusahaan ini" tegasnya.
Haris memicingkan matanya ke arah Baim, lalu tersenyum miring. Bisa membaca situasi, ada yang tidak beres di antara orang orang di dalam ruang meeting itu.
"Biaklah!" ucap Haris lalu pergi dari ruangan itu bersama orang orang yang ikut dengannya.
Sampai di dalam mobilnya, Haris langsung melakukan panggilan telepon kepada nomor seseorang yang bisa membantunya menyelidiki masalah Marya tanpa harus masuk ke dalam gedung perusahaan itu.
"Halo Pak Reyhan" sapa Haris setelah sambungan teleponnya di terima.
"Halo juga Pak Haris, ada apa gerangan tiba tiba menghubungi saya?" tanya Pak Reyhan dari balik telepon.
__ADS_1
Haris pun menceritakan masalah yang di alami istri dari sahabatnya itu kepada Pak Reyhan salah satu rekan bisnis Kanzo, dan juga salah satu sahabat keluarga Pak Bagus.
*Bersambung