Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Lebih mencintai kamu


__ADS_3

Tok tok tok!


Setelah pintu kamar itu terdengar di ketuk, pintu itu pun terbuka. Dari aroma parfumnya, Marya langsung tau siapa yang masuk tanpa melihat orangnya. Marya yang menangis berdiri menghadap jendela, menghapus air matanya.


Sedangkan pria yang berjalan mendekatinya, langsung memeluk tubuhnya dari belakang, dan mengusap lembut perut buncitnya. Pria itu juga menjatuhkan dagunya di bahu Marya.


"Kenapa hanya aku yang bisa merasakan cintamu, Marya?. Kenapa kamu tidak bisa merasakan cintaku?" lirih Kanzo dengan suara tercekat. Hanya karena awalnya ia berstatus pria beristri, membuat Marya tidak percaya.


"Pergilah, anakmu membutuhkanmu" balas Marya tak ingin menjawab pertanyaan Kanzo.


"Tidak tanpa kamu." Kanzo menempelkan bibirnya di atas bahu Marya. Berhasil membuat Marya memejamkan mata, merasakan darahnya berdesir akibat hangatnya benda kenyal itu menempel di bahunya.


"Aku tidak akan ikut" lirih Marya.


Bagaimana dia akan ikut sedangkan perutnya sudah mulai terasa sakit. Bagaimana nanti di tengah jalan dia akan melahirkan, itu akan sangat merepotkan. Dan di sana tidak ada yang menemaninya. Meski ada keluarga Kanzo, Marya belum begitu mengenalnya, Marya merasa tidak nyaman di sana.


"Berarti aku tidak akan pergi" balas Kanzo.


"Pergilah!" teriak Marya tiba tiba.


Meski sangat membutuhkan Kanzo untuk mendampinginya melahirkan, tapi tidak mungkin Marya menahan pria itu. Sedangkan anak dari pria itu sedang membutuhkan Ayahnya. Marya masih punya hati nurani.


"Gak Marya, gak tanpa kalian" Kanzo menangis dan mengeratkan pelukannya ke tubuh Marya.


"Pergilah! anakmu membutuhkanmu. Aku gak mau di salahkan keluarga Pak Kanzo nanti!" marah Marya.

__ADS_1


Hidup yang di jalaninya sudah berat, Marya tidak ingin mendapat masalah baru lagi dalam hidupnya. Jika Kanzo tidak pulang karna dirinya, pasti nanti orang tua Kanzo akan menyalahkannya jika terjadi hal buruk pada bayi yang dilahirkan Bella.


Kanzo malah semakin menangis terisak dengan bibir bergetar." Aku mencintaimu Marya, kenapa kamu tidak percaya?. Aku gak mau kehilangan kamu,Marya."


Kanzo takut, jika dia pergi tanpa membawa Marya. Wanita itu akan pergi menghilang. Atau wanita itu akan semakin kecewa dan sakit hati, membuat hati wanita itu akan semakin tertutup untuk menerimanya.


"Karna cinta butuh pembuktian. Tapi Pak Kanzo tidak pernah membuktikannya" jawab Marya lalu menghela napasnya."Aku sudah kehilangan Pak Kanzo sejak delapan Bulan yang lalu. Aku menanti Pak Kanzo di sini siang dan malam. Berharap Pak Kanzo datang membuktikan Pak Kanzo mencintaiku. Tapi baru sekarang Pak Kanzo datang, mengatakan tidak mau kehilanganku."


Marya melepas kedua tangan Kanzo yang melingkar di perutnya, lalu memutar tubuhnya ke arah pria itu.


"Aku sudah berhasil menata hati ini yang dulu sempat mencintai Pak Kanzo. Untuk memulai hubungan baru kembali, aku membutuhkan waktu yang lama untuk memikirkannya. Pulanglah, Ezio membutuhkanmu, aku akan baik baik saja. Kalau sempat, datanglah nanti sesekali untuk menjenguk anakmu yang di sini. Bawa Ezio nanti kalau dia udah sembuh" ucap Marya mengulas senyumnya.


"Marya" gumam Kanzo.


"Biarkan waktu yang menjawabnya. Pulanglah, jangan sampai nanti Ezio membenciku dan Adiknya yang belum lahir ini." Marya menunduk dan mengelus lembut perutnya.


"Aku akan mengabari Pak Kanzo jika aku akan melahirkan" potong Marya, kembali mengarahkan pandangannya ke wajah Kanzo yang juga memandangnya.


Namun pandangan mereka harus terputus saat mendengar handphon di saku celana Kanzo berbunyi. Kanzo segera mengeluarkan ponselnya dan langsung menerima panggilan telepon dari Ibu Liana dan mengaktifkan speakernya supaya Marya bisa mendengarnya.


"Kanzo, apa kamu sudah berangkat?" tanya Ibu Liana langsung.


Kanzo tidak langsung menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke wajah Marya yang masih berdiri di depannya. Marya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Iya, ini mau berangkat" jawab Kanzo.

__ADS_1


"Ya sudah, hati hati, salam buat menantu Mama" ucap Ibu Liana.


"Iya Ma, kalau gitu Kanzo matiin telephon nya" balas Kanzo, dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Marya" panggil Kanzo lalu mengangkat satu tangannya untuk merapikan anak anak rambut di kening wanita itu." Aku berharap, setelah Ezio sembuh, saat itu kamu sudah membuka hatimu lagi untukku. Aku akan menunggu waktu itu tiba Marya. Tidak masalah jika kamu harus membuatku menunggu selama yang kamu inginkan. Yang penting bagiku, akhirnya kamu menjadi milikku kembali seutuhnya."


"Maaf, aku harus mengabaikan mu lagi. Tapi itu bukan berarti aku tidak peduli dan tidak memikirkan mu. Jika saja tubuhku ini bisa di belah dua. Aku pasti akan meninggalkan separuhnya di sini, dan separuhnya untuk Ezio. Tapi asal kamu tau, aku lebih mencintai kamu dari pada anak anak kita. Kamu tau kenapa? karena kamulah yang diharapkan menjadi temanku di masa tua. Sedangkan anak anak kita kelak, mereka akan sibuk mencintai pasangan mereka. Jika pun aku sempat mengutamakan Ezio, itu karena Ezio dalam keadaan tidak berdaya. Dia membutuhkan bantuan ku sebagai Ayahnya. Sedangkan kamu Marya, aku percaya kamu bisa menjaga dirimu tanpa aku, kamu wanita yang kuat. Tapi meskipun begitu, bukan berarti aku tidak memikirkan mu, mengkhawatirkan mu, bahkan aku sangat merindukanmu, Marya. Merindukan anak kita yang belum lahir ini. Jangan pikir aku tidak merasa bersalah sudah melewatkan masa tumbuh kembangnya di rahimmu. Aku menyesali semuanya itu Marya. Tapi aku tidak berdaya, ada Ezio yang harus ku selamatkan" ucap Kanzo panjang lebar tanpa bisa membendung air matanya lagi.


Kanzo menurunkan tubuhnya di depan Marya yang mematung dengan raut wajah yang tidak terbaca. Kanzo mengusap lembut perut buncit Marya lalu mengecupnya lama. Betapa Kanzo merindukan anaknya itu, namun keadaan memaksanya meninggalkan Marya dan anaknya yang sebentar lagi akan lahir.


Setelah Kanzo kembali meluruskan tubuhnya, Kanzo pun mengecup kening Marya dengan penuh perasaan.


"Aku pergi dulu sayang. Akan ku usahakan datang saat persalinan nanti" pamit Kanzo dengan berat hati.


Marya menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca kaca. Kanzo pun pergi bersama putrinya Areta.


Sepeninggal Kanzo, Marya duduk termenung di atas kasur karena tidak bisa tidur dari tadi. Lagi Kanzo harus mengabaikannya bersama bayi di dalam kandungannya. Padahal saat ini Marya juga sangat membutuhkan Kanzo menjelang lahiran begini. Tapi Marya juga tidak mungkin menahan Kanzo untuk tidak pulang. Ini yang Marya takutkan jika mengharapkan Kanzo, dan memulai hidup baru dengan Kanzo. Ia tidak pernah lebih penting bagi Kanzo.


"Awu" keluh Marya tiba tiba, merasakan perutnya mules lagi, kali ini mulesnya lebih sakit.


Marya meneteskan air matanya sambil mengusap usap perutnya.


"Nak, apa kamu sudah mau lahir ya?" tanya Marya lirih. Marya merapatkan gigi giginya mencoba melawan rasa takutnya akan melahirkan.


Tidak ada suami yang memeluk tubuhnya, menenangkannya. Menemaninya melawan rasa takut, tempatnya untuk berpegangan. lantas untuk apa dia punya suami, jika dia bisa menghadapi hidup sendirian?.

__ADS_1


Marya terus menarik napas dalam dalam dan mengeluarkannya perlahan. Mencoba mengikuti anjuran Dokter jika kontraksi datang. Setelah tenang, Marya turun dari atas tempat tidur, keluar kamar untuk memanggil Ibunya.


*Bersambung


__ADS_2