
"Sudah bagaimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Pak Bagus setelah menghabiskan makanan di piringnya.
Saat ini keluarga Salim itu sedang berada di meja makan, menikmati sarapan mereka masing masing.
"Aku menyerahkan semua pada Haris dan Cici Pa" jawab Kanzo.
"Kamu itu, Haris terus yang kamu handalkan. Lihatlah sahabatmu itu, dia tidak sempat memikirkan dirinya karna terus mengurusimu" ujar Ibu Liana.
Haris dan Kanzo sudah bersahabat sejak lama, Haris juga adalah anak dari sahabat Ibu Liana.
"Dia aja yang belum mau menikah Ma. Sekarang dia lagi dilema, antara memilih Cici atau Widuri" balas Kanzo.
Marya yang duduk di sampingnya langsung menoleh ke arahnya. Marya tidak tau hal itu, mungkin juga Widuri sendiri tidak tau kalau dirinya sedang di pertimbangkan dengan Cici.
"Kenapa Haris harus dilema?. Dia pasti tau hatinya lebih condong pada siapa" tanya Ibu Liana kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Katanya, kalau cantik lebih cantik Widuri. Tapi lebih seksi Cici. Dan Cici lebih pintar, sedangkan Widuri...."
"Hanya seorang resepsionis" potong Marya cepat.
Sontak Kanzo yang duduk di sampingnya terdiam dan menoleh ke arahnya. Begitu juga dengan Pak Bagus dan Ibu Liana, mereka sama sama mengarahkan pandangan mereka ke arah Marya.
"Itu kata Haris loh sayang, bukan aku" bela Kanzo. Dia hanya menceritakan apa yang di katakan Haris, tapi calon istrinya itu ikut tersinggung.
"Suruh aja sahabat Pak Kanzo itu memilih Cici" ujar Marya. Dia tidak mau sahabatnya itu nanti di permainkan perasaannya.
"Iya sayang, sekarang ayo kita berangkat, nanti kamu terlambat." Kanzo berdiri dari tempat duduknya, kebetulan jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat.
"Mama Marya yang antar aku sekolah kan?." Areta yang dudu di samping Marya berseru.
"Sayang, nanti Mama Marya nya terlambat kerja loh. Areta di antar supir aja ya" ucap Kanzo, tak ingin Marya direpotkan Areta.
"Gak apa apa, biar aku yang mengantarnya ke sekolah. Lagian pagi ini aku tidak begitu sibuk" balas Marya, membantu Areta turun dari atas kursi meja makan, lalu merapikan sedikit baju seragam Areta.
Kanzo menghela napasnya, padahal Marya miliknya, tapi putrinya itu lebih menguasainya.
"Ma, Pa, kami berangkat dulu" pamit Marya menyalam pasangan suami istri yang tak lagi muda itu.
"Areta berangkat sekolah ya Nek, Kakek!" pamit Areta juga.
Kanzo juga berpamitan kepada kedua orang tuanya. Kemudian mereka bertiga pergi.
__ADS_1
Sampai di halaman rumah, di sana sudah terparkir dua mobil, satu berwarna putih dan satu berwarna hitam. Kanzo membuka pintu mobil warna putih, kemudian menyuruh Marya masuk.
Sedangkan Areta yang berdiri di samping Marya, berlari ke arah pintu penumpang depan mobil itu dan langsung masuk.
"Hati hati sayang" ucap Kanzo mengecup ujung kepala Marya sebelum wanita itu benar benar masuk.
Marya mengangguk sambil tersenyum," Pak Kanzo juga hati hati" ucapnya.
Kanzo menghela napasnya kasar, sampai kapan Marya akan memanggilnya Pak Kanzo?.
"Setelah kita menikah nanti, aku harap kamu tidak memanggilku Pak Kanzo lagi" ujar Kanzo dan langsung pergi masuk ke dalam mobil berwarna hitam di depannya. Mobil itu pun melaju perlahan meninggalkan halaman rumah, di ikuti Marya dari belakang.
**
Sampai di sekolah, Areta yang di antar Marya membuka pintu di sampingnya dan langsung turun.
"Mama Marya, nanti jemput aku ya" ujar gadis kecil itu.
" Baiklah, jam berapa kamu pulang?" tanya Marya.
"Jam sepuluh" jawab Areta.
Areta masuk lagi ke dalam mobil," lupa" cengir Areta menyalam tangan Marya.
"Hm! kau memang sangat menggemaskan." Gadis kecil itu suka sekali menyengir, sepertinya gadis itu seperti Papanya waktu kecil.
"Sampai jumpa nanti Mama Marya" ucap Areta setelah melapas pegangan tangan mereka. Sebelum turun, Areta pun menyempatkan tangannya mencubit kedua pipi Marya.
"Awu! sakit!" keluh Marya dengan wajah berbinar. Anak sambungnya itu jahil sekali, orangnya suka nyubit.
Areta yang sudah turun dari dalam mobil, tertawa kecil lalu menutup pintu mobil itu. Entah kenapa, gadis kecil itu sangat menyukai wajah ayu Marya. Entah seperti apa ekspresi wajah wanita cantik itu jika tertawa?. Areta penasaran, karna Marya tidak pernah tertawa lepas di depannya, meski wanita itu sering tersenyum.
Setelah mengusap usap pipinya, Marya kembali melajukan kendaraannya ke arah perusahaan tempatnya bekerja.
Jam sepuluh kurang, Marya merapikan mejanya dan keluar dari ruangannya. Dia akan pergi sebentar untuk menjemput Areta ke sekolah.
Hampir setiap hari Marya mengantar menjemput Arata ke sekolah. Meski membuatnya repot, tapi sepertinya Marya asik asik aja menikmati perannya menjadi seorang Ibu. Meski Areta adalah anak sambungnya, tapi Marya menyanyagi putri dari mantan suaminya itu.
"Marya!" panggil Baim melihat Marya keluar dari ruangannya.
"Iya Pak Baim, ada apa?" tanya Marya memutar tubuhnya ke arah Baim.
__ADS_1
"Mau kemana?, aku lihat akhir akhir ini kamu hampir setiap hari pergi keluar di jam yang sama" tanya Baim.
Marya mengulas senyumnya," Aku harus menjemput putriku sekolah. Akhir akhir ini dia tidak mau di antar supir."
"Kamu sudah punya anak?" tanya Baim, ia pikir Marya seorang janda tanpa anak.
"Sudah Pak Baim" jawab Marya. Ia memang sudah punya anak, hanya saja sudah meninggal.
"Ya sudah, sana jemput anakmu. Aku hanya penasaran saja kemana kamu setiap hari" Baim mengulas senyumnya. Mau janda beranak atau tanpa anak, Baim tetap suka.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak Baim" pamit marya lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam lif.
Sekarang Marya sudah melaju di jalan rasa bersama mobil milik Kanzo. Tepat di depan gerbang sekolah Areta, Marya memarkirkan mobilnya. Marya turun dari dalam mobil setelah mematikan mesinnya.
"Dasar pelakor!"
"awu!" keluh Marya kesakitan, tiba tiba ada yang menarik rambutnya dan menghempaskan tubuhnya ke aspal.
"Gara gara kamu, rumah tanggaku hancur!. Kau merebut suami dan putriku!" teriak wanita berpakaian pas body itu menarik kembali rambut Marya.
"Apa hakmu atas putriku? Hah!."
"Bu Bella tolong lepas" lirih marya berusaha melepas tangan Bella dari rambutnya.
"Sakit?" tanya Bella.
Marya memejamkan matanya, tidak menjawab. Jelas sakit, kalau tidak sakit tidak mungkin air matanya sampai keluar.
"Aku lagi lebih sakit, di selingkuhi lalu di ceraikan. Itu semua gara gara kamu, Marya."
"Bu Bella, Anda salah paham" lirih Marya menahan rasa sakit di kulit kepalanya.
"Salah paham bagaimana? Hah!" bentak Bella, berhasil mengundang perhatian para orang tua murid yang datang menjemput anak masing masing.
"Kamu menggoda suamiku, kau merebut suami dan putriku. Dasar kau ja***" maki Bella tidak koreksi diri.
Marya yang tidak terima di katakan Ja***, langsung emosi dan meraih rambut Bella, menariknya kuat. Berhasil membuat Bella menjerit kesakitan.
"Aku sudah mencoba diam dan tidak melawan. Malah Ibu Bella semakin mempermalukan ku, mengataiku ja***. Ibu Bella sendiri bagaimana?. Makanya suaminya di jaga dan di urus baik baik, biar pelakor tidak berhasil merebutnya" geram Marya berbicara merapatkan gigi giginya.
*Bersambung
__ADS_1