
"Kanzo, kamu dari mana aja? Kenapa gak pulang pulang?" cerca Bella langsung saat Kanzo masuk ke dalam kamar mereka.
Semenjak Marya menghilang, seminggu Kanzo tidak pernah pulang ke rumah. Dia memilih untuk pulang ke apartement tempatnya dan Marya menghabiskan waktu.
"Dari mana lagi kalau gak kerja ke luar kota" jawab Kanzo tenang.
"Kamu pasti bohong!" sanggah Bella.
"Kamu kenapa?" Kanzo yang sibuk membuka jasnya mengerutkan keningnya ke arah Bella. Akhir akhir ini istrinya itu selalu curiga. Apa itu artinya Bella sudah mengetahui hubungannya dengan Marya?.
"Perasaan istri itu sangat peka Kanzo. Aku melihat ada yang berubah dari kamu ke aku. Kamu gak seperti dulu lagi, lebih perhatian dan sayang sama aku. Cara kamu memandangku sudah berbeda Kanzo, aku melihat kamu tidak mencintaiku lagi" ucap Bella.
"Emangnya kamu mencintaiku." Kanzo menarik satu sudut bibirnya ke atas.
"Tentu aku mencintaimu, kalau gak, mana mungkin aku mengandung anakmu. Bahkan yang di dalam perutku ini anak ke dua kita."
Kanzo menarik pinggang Bella yang berdiri di sampingnya sampai membuat tubuh mereka menempel. Kanzo menatap lekat lekat wajah cantik di depannya itu. Wajah wanita yang di cintai nya sejak jaman kuliah, sampai akhirnya mereka menikah.
Tapi rasa cinta itu, akhir akhir ini memudar dan akhirnya berpaling ke wanita lain yang mampu mengalihkan perasaan seorang Kanzo.
Perlahan Kanzo pun mendekatkan wajahnya ke wajah Bella. Menempelkan bibir mereka, perlahan melum***nya menuntut dan kasar. Membuat Bella kewalahan dan hampir tak bisa bernapas. Bella memberontak, namun Kanzo semakin mencium kasar bibir wanita itu.
"Kanzo!" bentak Bella berteriak setelah berhasil melepas pagutan Kanzo di bibirnya. Bella menatap Kanzo marah dengan napas memburu karena hampir saja kehabisan napas.
"Bukankah kamu sangat suka permainan kasar?." Kanzo mencibir sambil melap sudut bibirnya yang basah, lalu melangkahkan kakinya ke arah sofa dan meletakkan jasnya di sana.
Bella terdiam memandang Kanzo dengan raut wajah yang tidak bisa di baca.
"Kamu yang membantu Marya kabur." Kanzo kembali memutar tubuhnya ke arah Bella yang masih berdiri di tempatnya tadi.
"Maksud kamu?."
Kanzo membuka kemeja yang melekat di tubuhnya seharian dan meletakkannya di sandaran sofa. Kemudian membuka celananya, lalu melenggang pergi masuk ke dalam kamar mandi menghiraukan Bella yang mengeram. Rahangnya mengeras dan ke dua tangannya terkepal erat.
"Kamu jahat Kanzo, kamu menikah tanpa seijin ku. Kamu menduakan aku Kanzo.Gak! aku gak rela berbagi suami dengan wanita mana pun. Kamu hanya milikku Kanzo" gumam Bella dengan mata merah dan berkaca kaca.
__ADS_1
Istri mana yang tidak sakit hati, suaminya selingkuh dan menikah dengan diam diam. Dan bahkan wanita itu sudah mengandung anak dari suaminya.
Tak lama kemudian, Kanzo keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk di lilit di pinggangnya. Di atas kasur, Bella sudah menyiapkan baju ganti untuknya. Sedangkan Bella sendiri sudah tidak di dalam kamar lagi.
Selesai berpakaian, Kanzo keluar kamar dan melangkahkan kakinya turun ke lantai bawah rumah itu.
"Papa!" seru Areta melihat Kanzo berada di pertengahan tangga.
Kanzo tersenyum, setelah menapak kakinya di lantai, Kanzo membungkukkan tubuhnya untuk meraih tubuh gadis kecil itu.
"Mana oleh oleh buat Areta, Pa ?"ucap gadis kecil itu dengan suara nyaringnya.
" Papa gak bawa apa apa, sayang." Kanzo mengecup kedua pipi putrinya itu bergantian.
"Yah Papa" Areta cemberut.
"Bagaimana kalau besok Papa membawa Areta liburan, hanya kita berdua aja?." Kanzo memberi penawaran yang lebih menarik dari pada sebuah oleh oleh pada putrinya.
"Benaran Pa?." Wajah Areta langsung semiringah.
Areta langsung menciumi wajah Kanzo dengan semangat.
**
Di tempat lain, tepatnya di kampung halaman Ibu Hayati. Marya yang duduk di sebuah saung di tengah tengah sawah, duduk melamun sambil mengelus elus perutnya. Beberapa hari ini ngidamnya tambah parah sampai tidak bisa makan sama sekali. Padahal waktu terakhir bersama Kanzo, marya merasa perutnya baikan, tidak mual saat makan. Sepertinya bayinya lagi demo mogok makan karena di jauhkan dari Ayahnya.
"Marya, ayo makan dulu, di paksa Nak. Kasihan anak kamu gak mendapat nutrisi" bujuk Ibu Hayati membawa kotak makanan di tangannya.
"Mual Bu, gak selera sama sekali. Ngelihat makanan aja Marya sudah mau muntah. Gimana mau makannya Bu" rengek Marya.
Ibu Hayati menghela napasnya.
"Kamu pengen makan apa? Biar Ibu carikan."
Marya diam sambil berpikir, lalu menggeleng. Membuat Ibu Hayati menghela napas lagi.
__ADS_1
" Ibu buatin rujak mau?" tanya Ibu Hayati, biasanya orang ngidam tidak pernah menolak yang namanya rujak, pikirnya.
Dan benar, Marya langsung menganggukkan kepalanya.
"Tunggu di sini biar ibu buatkan ke rumah." Ibu Hayati langsung pergi, yang kebetulan jarak saung ke rumah yang di tempati mereka tidak jauh.
Sepeninggal Ibu Hayati Marya kembali termenung. Jujur, ia sangat merindukan Kanzo. Tapi Marya ingin melihat kesungguhan Kanzo kepadanya. Marya butuh cinta yang sesungguhnya dari pria itu, bukan cinta sebatas di kasur dan di bibir saja.
Sudah seminggu hampir seminggu Marya tinggal di kampung halaman Ibunya. Namun sampai saat ini, Kanzo tak juga datang mencarinya. Kata Widuri sahabatnya, Kanzo hanya sibuk bekerja.
"Ck! Kakak pasti mikirin pria itu kan?."
Adi yang baru datang membawa sepiring rujak di tangannya berdecak melihat Marya melamun.
Marya menoleh ke arah Adi, dan langsung meraih sepiring rujak buah itu dan langsung melahapnya tanpa menjawab pertanyaan bocah SMP itu.
"Dia tidak mencintai Kakak. Buktinya laki laki itu tidak datang mencari Kakak." suara Adi terdengar cetus.
Marya mengulas senyumnya dan mengusap lembut kepala Adi yang sudah duduk di sampingnya."Trimakasih sudah menyayangi Kakak" ucapnya.
"Ini semua karena Ayah, gara gara Ayah, Kakak harus mengorbankan diri Kakak demi aku dan Ibu" sesal Adi." Coba aja Adi sudah besar Kak. Pasti Adi tidak akan membiarkan Kakak menikah dengan laki laki egois itu."
"Sayangnya, kamu masih kecil sekarang" balas Marya.
Adi langsung mengalihkan pandangannya ke wajah Marya yang merekah kan senyumnya.
"Suami beristri dua itu memang boleh. Tapi apa Kakak yakin ingin menjalaninya selamanya?" tanya Adi dengan wajah serius. Berhasil membuat senyum Marya memudar.
"Adi memang belum mengerti dengan pernikahan. Tapi Kak, orang tua kawan Adi ada yang beristri dua. Katanya Ibunya sering menangis dan bersedih setiap kali Ayahnya tidak pulang ke rumah, karena Ayahnya harus membagi waktu dengan istrinya yang lain" ucap Adi lagi.
Marya terdiam sambil menggigit bibirnya, pandangannya pun berpaling, menerawang lurus ke depan. Berpikir apa yang di katakan Adiknya barusan.
"Aku hanya ingin Kakak bahagia setelah pengorbanan yang di lakukan Kakak terhadapku dan Ibu" lanjut Adi.
*Bersambung
__ADS_1
# Mana semangatnya buat otor?.