Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Aku bisa hidup tanpa dia


__ADS_3

"Kalau anak yang di dalam perutku ini yang kalian inginkan, setelah anak ini lahir, aku akan memberikannya pada kalian" ucap Marya menunduk sambil mengelus perutnya.


"Kami tidak akan mengambilnya darimu." Ibu Liana berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri Marya yang masih berdiri. Ibu Liana pun memeluk menantunya itu." Maafkan anak Mama" ucapnya lembut.


Raut wajah Marya berubah sedih dan sekalian terharu mendengar suara Ibu Liana yang begitu bersahabat. Dulu Marya sempat berpikir jika dia tidak akan di terima di keluarga Kanzo. Mengingat keluarga Kanzo sangat kaya, sedangkan dirinya hanya gadis miskin.


"Kami ke sini untuk menjemput kalian kembali ke kota. Tidak ada yang terpisahkan di sini. Kamu, Adikmu dan Ibumu, kalian tetap bisa tinggal bersama sama" ucap Ibu Liana. lagi sambil membingkai wajah Marya dengan kedua telapak tangannya.


Marya menggelengkan kepalanya, ia tidak seyakin itu untuk membina rumah tangga dengan Kanzo. Mengingat selama ini Kanzo hanya menjadikannya istri di atas ranjang saja. Mereka menikah, tapi tidak berumah tangga.


"Kenapa?" tanya Ibu Liana.


"Aku sudah nyaman dengan kehidupanku yang sekarang" jawab Marya.


"Kanzo sangat membutuhkanmu...."


"Maaf, tapi aku tidak membutuhkannya. Aku bisa hidup tanpa dia, aku bisa melewati masa kehamilanku tanpa dia. Bahkan anak di dalam kandunganku pun tidak membutuhkannya. Kalian lihat, tanpa Ayahnya dia bisa tumbuh kembang dengan baik" potong Marya.


Sepertinya hati wanita lembut itu sudah mengeras, karna lelah mengharap cinta dari pria yang masih di biarkan terbaring di atas lantai itu.


"Kalian pulanglah, rumah ini sangat kecil tidak akan muat menampung kalian untuk beristirahat. Maaf, bukan maksud mengusir, tapi begitulah kenyataannya" ucap Marya lagi lalu melangkahkan kakinya kembali ke dalam kamar.


Adi yang berdiri di samping Ibunya, pun menuntun Ibu Hayati untuk beristirahat ke kamar, melihat Ibunya terus memijat kepalanya, sepertinya kepala Ibunya masih sakit karna sempat emosi.


Melihat Marya, Ibu Hayati dan Adi masuk ke dalam kamar, berhasil membuat Haris, Widuri, Ibu Liana dan Pak Bagus menghela napas. Wajar saja mereka sakit, semenjak Kanzo menikahi Marya. Kanzo tidak pernah memperlakukannya layaknya istri.


"Haris, bagunkan Kanzo" suruh Ibu Liana mendekati Kanzo. Munkin jika Kanzo terus membujuk Marya, hati Marya bisa luluh.


Haris yang masih berada di samping Kanzo, berusaha membangunkan pria itu dengan mengoleskan minyak kayu putih ke ujung hidungnya.Kanzo pun langsung sadar dan memegangi lehernya yang terasa sakit akibat hantaman tangan bocah SMP itu.


"Marya mana Ma?" tanya Kanzo memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan itu.

__ADS_1


"Di kamarnya" jawab Ibu Liana, menghela napas kecewa.


Mereka adalah orang terhormat, Ibu Liana tidak menyangka akan mendapat pengusiran dari keluarga Marya, yang hanya orang biasa biasa saja. Tapi Ibu Liana rela mengemis demi kebahagiaan anaknya.


"Marya!" Panggil Widuri yang sudah berdiri di depan pintu kamar Marya." Dia harus membantu menjelaskan kepada Marya, kenapa Kanzo baru menyusulnya dan selama ini tidak memberi kabar padanya.


Marya yang berdiri di belakang pintu, langsung membuka kunci kamarnya dan membukanya sedikit supaya Widuri bisa masuk. Setelah Widuri Masuk Marya menutup pintu itu kembali, namun belum sempat menguncinya, pintu itu terbuka kembali.


"Marya!" panggil Kanzo, orang yang membuka pintu kamarnya dan mendorongnya pelan.


Marya berusaha menahan pintu itu.


"Sayang, berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya" ucap Kanzo.


"Aku sudah mengetahui semuanya, tidak perlu di jelaskan lagi" balas Marya.


"Marya" bujuk Widuri dengan suara lembutnya.


"Pak Kanzo ke sini untuk mengambil anak ini kan?. Setelah itu Pak Kanzo akan menceraikan aku!, sama seperti Ibu Bella!" teriak Marya lalu tangisnya pecah.


"Marya, kamu bicara apa sayang?. Aku ke sini untuk menjemput kalian. Aku tidak ingin mengambil anakmu, anak kita" jelas Kanzo.


"Pak Kanzo bohong!."


"Makanya buka pintunya dulu, biar aku jelaskan" ucap Kanzo.


"Marya, berikan Pak Kanzo kesempatan untuk menjelaskannya, menjelaskan alasannya kenapa baru datang sekarang" bujuk Widuri yang berdiri di depan Marya.


" Dia slalu memaksaku Wid. Dia itu pria pemaksa" ucap Marya masih dalam mode menangis.


"Marya, please! buka pintunya, sayang" bujuk Kanzo.

__ADS_1


"Kanzo, jangan memaksanya. Biarkan Widuri yang mengajaknya berbicara" ucap Ibu Liana menarik Kanzo dari pintu itu.


Kanzo menghela napasnya, Mamanya benar. Marya dan Widuri bersahabat, Widuri lebih memahami Marya, tau bagaimana melakukan hati Marya.


Di dalam kamar, Widuri meraih sebelah tangan Marya, membawa wanita hamil itu duduk di pinggir kasur.


"Aku sangat kangen tau sama kamu" ucap Widuri memeluk Marya." Balik ya ke kota" bujuknya.


"Wid, aku tau kamu di suruh Pak Kanzo untuk membujukku. Itu tidak perlu kamu lakukan Wid. Paka Kanzo tidak mencintaiku sama sekali. Dia hanya ingin bertanggung jawab atas hidupku dan anak yang ada di dalam perutku, itu aja. Aku gak mau lagi Wid, jika harus menjadi istrinya. Aku lelah Wid, lelah jika harus terus melayaninya. Aku ingin bahagia Wid, ingin bahagia bersama pria yang mencintaiku. Dan aku sudah menemukan orangnya Wid" oceh Marya lalu melap wajahnya yang basah.


" Jadi tolong katakan pada mereka, untuk tidak menggangguku lagi. Masalah uang yang di berikan Pak Kanzo, aku akan kembalikan."


Widuri diam memandangi wajah Marya dengan penuh selidik.


"Lalu, apa yang membuatmu tadi menangis?. Kalau kamu tidak mencintai Pak Kanzo, dan tidak mengharap cinta dari Pak Kanzo lagi, kamu tidak akan menangis Marya. Dan Kamu pasti akan memberikan Pak Kanzo kesempatan untuk berbicara" balas Widuri.


"Aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan" Marya menundukkan kepalanya.


"Lalu siapa laki laki yang kamu bilang, mencintai kamu itu?" tanya Widuri.


"Orang kampung sini" jawab Marya.


Widuri memicingkan matanya ke arah Marya. Tidak yakin dengan apa yang di katakan sahabatnya itu.


"Aku tidak memaksamu untuk percaya Mar. Aku hanya ingin kamu tidak sampai menyesal di kemudian hari. Dan aku hanya ingin memberitahumu, kenapa Pak Kanzo baru datang sekarang." Widuri menjeda kalimatnya sebentar.


"Ibu Bella mengancam akan bunuh diri jika Pak Kanzo menemui mu. Dan Bahkan selama ini Pak Kanzo terkekang. Tapi bukan karna takut jika Ibu Bella mati, tapi Pak Kanzo terpaksa menuruti permintaan Ibu Bella. Demi menyelamatkan bayi di dalam kandungan Ibu Bella yang selalu mengancam akan bunuh diri."


"Aku gak peduli Wid" balas Marya cepat, tak ingin mendengar cerita panjang lebar dari sahabatnya itu. Hatinya sudah terlalu sakit, dia tak ingin membiarkan hatinya sakit lagi karena Kanzo.


Widuri menghela napasnya, melihat kerasnya hati sahabatnya itu sekarang. Tidak seperti Marya yang dulu, memiliki hati yang lembut dan mudah ke luluh dan tersentuh.

__ADS_1


"Baiklah!" Widuri berdiri dari tempat duduknya dan langsung keluar dari dalam kamar itu.


*Bersambung


__ADS_2