Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Tidak sedang merajuk


__ADS_3

"Siapa?" tanya Kanzo mendudukkan tubuhnya di kursi depan meja Haris.


"Simon" jawab Haris.


Kanzo terdiam dengan kening mengerut.


"Simon memiliki keahlian meretas. Dia berteman dengan Baim" jelas Haris.


Kanzo langsung berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan Haris. Kanzo akan menemui Simon ke ruang kerjanya.


Tanpa mengetuk pintunya, Kanzo langsung membuka kasar pintu ruang kerja Simon dan langsung melayangkan satu tendangan ke wajah pria itu.


Brukh!


Simon langsung terlempar dari tempat duduknya.


"Berapa Baim membayar mu untuk melakukan penghianatan di perusahaan ini?." Kanzo berbicara dengan rahang mengeras sambil menarik kerah baju Simon yang terhempas ke lantai.


Bukh!


Kanzo memberi satu bogeman ke wajah Simon. Membuat pria itu mengiris sambil melap sudut bibirnya yang berdarah.


"Dia menjanjikan ku jabatan yang tinggi" jawab Simon mengulas senyumnya." Tidak seperti bekerja di sini, bertahun tahun bekerja tapi tidak ada sistim naik jabatan" jawabnya lagi.


Bukh!


Kanzo memukul wajah Simon lagi."Sekarang keluar kamu dari sini. Ambil jabatan yang di janjikan si brengs*k itu." Kanzo mendorong tubuh Simon ke arah pintu yang terbuka, lalu menendang pria itu dari belakang, sehingga tubuh Simon tersungkur ke lantai.


"Tapi, jangan harap aku akan membiarkanmu bisa menghirup udara bebas mulai saat ini" ujar Kanzo lagi.


Saat Simon berusaha berdiri dari lantai, dua orang pria langsung menangkap tubuhnya, menyeretnya ke luar dari gedung perusahaan, membawanya masuk ke sebuah mobil.


Kanzo menghela napasnya, lalu meninggalkan ruangan itu kembali ke ruangan Haris, tanpa peduli dengan tatapan para Karyawan yang memperhatikannya.


"Vidionya sangat cepat menyebar, dan penontonnya juga sangat banyak" ujar Haris memperhatikan laptop di depannya.

__ADS_1


Bukh!


"Kalau kau masih berani menonton Vidio itu, mati kau!" ancam Kanzo menjatuhkan satu pukulan ke wajah Haris.


"Aku hanya memantau penyebarannya. Sangat banyak yang membagikan Vidio itu. Membuat Pak Reyhan kesulitan untuk memusnahkannya dari internet, YT, FB, dan aplikasi lainnya."


Kanzo mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ya Tuhan" gumam Kanzo frustasi.


"Pulanglah, biar aku saja yang membereskan ini semua" ujar Haris kasihan melihat sahabatnya itu.


Kanzo mengangguk, kepalanya pusing dan pening memikirkan masalah yang menimpanya dan Marya. Pasti sebentar lagi, masalah mereka menjadi tranding topik, di media tv, internet, berita cetak dan sebagainya. Dan mereka pasti akan di mintai keterangan oleh pihak berwajib tentang Vidio itu.


Sampai di rumah, ternyata Marya masih menangis di dalam pelukan Ibu Liana. Kanzo yang melihat Ibunya sudah lelah menopang tubuh menantunya itu, langsung menggantikannya.


"Trimakasih sudah menjaga istriku, Ma!" ucap Kanzo setelah menggantikan Ibu Liana memeluk Marya.


"Tidak perlu berterima kasih, Marya menantu Mama, itu berarti Marya sudah menjadi putri Mama" balas Ibu Liana mengulas senyumnya.


"Beri istrimu makan siang, sepertinya kalian belum makan" ujar Ibu Liana. Menjelang siang tadi Kanzo dan Marya baru kembali dari kampung. Mereka langsung menemui Baim ke perusahaannya, tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu.


"Iya Ma, minta tolong Mama bilangin sama si Bibi untuk mengantar makanan ke sini ya" mohon Kanzo kepada Ibunya.


Ibu Liana mengangguk sambil tersenyum lembut khas keibuan, lalu pergi dari kamar itu.


Adi yang mendengar kabar itu, langsung datang ke rumah besar milik keluarga Salim itu untuk menemui Kakaknya. Tadi sampai di Kota, Adi meminta di antar ke rumah lama mereka. Adi lebih nyaman untuk tinggal di sana, karna rumah itu penuh dengan kenangan mereka bersama Ibu Hayati. Adi ingin merawat rumah itu.


"Kak Marya!" panggil Adi berdiri di ambang pintu Kanzo dan Marya yang tidak tertutup. Adi bernapas ngos-ngosan karena baru berlari dari gerbang masuk rumah itu sampai ke lantai dua.


"Siapa yang menyebarkan Vidio itu?" tanya Adi dengan rahang mengeras, tangannya juga terkepal kuat.


"Ayah sudah mengamankan orang itu" jawab Kanzo.


Tadi waktu di perusahaan, dua orang yang membawa Simon itu adalah anggota Pak Maiman. Kanzo menugaskan kedua orang itu, berjaga jaga di jarak yang tidak jauh darinya. Jika sewaktu waktu di butuhkan, Kanzo bisa meminta bantuan dengan cepat.

__ADS_1


"Akan ku habisi orang itu!" ucap Adi berapi api.


"Adi, tenanglah, kamu masih kecil. Tidak aman jika kamu terlibat mengurus masalah ini. Kamu bisa dalam bahaya, dan untuk sementara, tinggallah di rumah ini" ujar Kanzo.


"Bagaimana bisa aku tenang?. Aku hanya punya Kak Marya." Adi meneteskan air matanya.


Kanzo terdiam, menatap Iba adik iparnya itu. Meski Adi terlihat keras dari luar, tapi hati bocah itu sangat mudah rapuh. Berbanding terbalik dengan Marya, terlihat lemah dari luar, tapi sebenarnya hatinya agak keras.


" Percayalah, semua akan baik baik saja. Masuklah jangan berdiri di pintu, si Bibi tidak bisa masuk." ujar Kanzo melihat si Bibi rumah itu berdiri di belakang Adi dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


Adi langsung menyingkir masuk ke kamar Kakak dan kakak iparnya itu untuk pertama kalinya. Kamar yang memiliki luas sebesar rumah kecil peninggalan Ibu Hayati.


"Bi, tolong antar makanan ke sini lagi ya" ujar Kanzo kepada si Bibi yang meletakkan makanan di atas meja sofa.


"Baik, Pak" patuh si Bibi, setelah itu pergi.


"Marya, ayo makan, kita belum makan dari tadi." Kanzo mengajak makan istrinya dengan suara membujuk.


Marya yang masih menangis, menganggukkan kepalanya. Meski sedang malu, tapi tetap aja perutnya terasa lapar. Dan juga Marya tidak sedang merajuk kepada Kanzo. Jadi tidak perlu dia harus di bujuk rayu dulu supaya mau makan.


Kanzo turun dari atas ranjang, lalu membantu Marya turun dan menuntunnya berjalan ke arah sofa, dan mendudukkan tubuh mereka di sofa yang sama.


Adi yang melihat keromantisan suami istri di depannya itu, mendengus. Dia sudah sangat khawatir memikirkan kakaknya, ternyata wanita itu tidak menegurnya sama sekali.


"Kak Marya" panggil Adi kesal.


"Kakak malu, Dek!" gumam Marya. Marya berpikir Adi juga sudah melihat Vidio yang menyebar di jagat Maya itu.


"Aku bukan orang bodoh untuk membuka Vidio itu Kak" ujar Adi. Cukup dia tau dan sekilas melihatnya.


Marya baru berani menatap Adi, mata wanita itu meneduh dan berkaca kaca.


Setelah si Bibi mengantar makanan untuk Adi, mereka bertiga pun makan bersama di kamar itu. Kanzo menyuapi Marya, karena wanita itu dari tadi tidak mau lepas dari pelukannya. Sepertinya wanita itu sudah nyaman bermanja pada pria yang memaksanya menikah dulu.


Selesai makan, Adi keluar dari kamar itu. Adi memilih menemui Ayahnya, Pak Maiman. Adi ke sana untuk mengenal siapa pelaku yang mencuri Vidio rahasia suami istri itu. Adi ingin memberi pelajaran orang itu dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2