Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Tidak akan lagi


__ADS_3

"Aku menyukainya sehingga aku tak ingin dia mudah lepas dariku." Kanzo tersenyum miris." Tapi akhirnya, dia lepas juga membawa luka yang kuberikan" desah Kanzo menghela napasnya kasar, lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu mau kemana?" tanya Haris melihat Kanzo berjalan ke arah pintu.


"Kemana lagi, kalau bukan menenangkan wanita cengengku itu" jawab Kanzo.


Dia akan ke rumah Marya, meski sudah menceraikannya secara sah. Tapi bukan berarti Kanzo akan berhenti berjuang untuk mendapatkan wanita itu kembali.


Haris menghela napasnya, lantas ikut keluar dari ruangan itu.


Sampai di parkiran mobilnya, Kanzo langsung masuk dan melajukan kendaraannya menuju rumah Marya. Hanya menempuh perjalanan lima belas menit sudah sampai. Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Kanzo langsung turun dan melangkah ke arah pintu masuk rumah sederhana itu.


Tok tok tok!


"Marya!" panggil Kanzo sambil mengetuk pintu di depannya.


Tak lama menunggu, pintu itu pun terbuka dari dalam, tapi Widuri yang membukanya.


"Silahkan masuk, Pak. Marya di dalam kamarnya" ucap Widuri lalu melangkah ke kamar Marya, di ikuti Kanzo dari belakang.


Setelah membuka pintu kamar Marya, Widuri langsung meninggalkannya dan membiarkan Kanzo masuk.


"Marya" panggil Kanzo dengan suara lembutnya.


Marya yang duduk bersandar di atas kasur, menoleh ke arah pria bertubuh tegap itu. Kanzo mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, menghadap Marya. Mengangkat satu tangannya untuk menepis cairan bening yang mengalir di pipi wanitanya itu. Kemudian Kanzo meraih amplop coklat yang terletak di atas meja nakas, lalu merobek kertas itu menjadi empat bagian.


"Tetaplah menjadi istriku Marya" ucap Kanzo menarik wanita itu ke dalam pelukannya." Jangan berpikir jika aku pernah memperlakukanmu seperti wanita murahan. Kamu salah, kamu sangat berharga bagiku. Kekayaanku tidak berarti di bandingkan kamu, sayang" ucap Kanzo dengan suara membujuk.


Pintar sekali pria itu menggombal, pikir cicak yang menempel di dinding.


"Jangan takut untuk mencintaiku, karna aku juga sangat mencintaimu. Aku juga tidak berniat menikah lagi selain denganmu, sayang" Kanzo mengecup lama kening Marya."Kamu wanita terakhirku, Marya. Aku tidak menginginkan yang lain lagi."


Kanzo melepas pelukannya, menjauhkan sedikit tubuh Marya supaya ia bisa melihat wajah wanita itu.


"Jangan bersedih terus, nanti Zion ikut sedih melihat Mamanya dari surga" ucap Kanzo menepis kembali air mata yang membasahi pipi Marya. Namu bukannya berhenti menangis, Marya semakin terisak mendengar Kanzo menyebutkan nama anaknya, Zion.


"Mamanya Zion" Kanzo memeluk kembali tubuh Marya. Mantan istrinya itu memang sangat cengeng, hatinya sangat mudah tersentuh."Kalau kita kembali bersama, kita bisa membuat adik buat Ezio dan Zion."

__ADS_1


Bukh!


"Awu!"keluh Kanzo karna Marya memukul tangan nakalnya yang perlahan naik ke gundukan di dada wanita itu.


"Kenapa tanganku di pukul sayang? Hm.." tanya Kanzo mengulas senyumnya melihat tatapan tajam Marya ke arahnya.


Marya tidak menjawab dan terus menatap Kanzo marah. Mereka buka suami istri lagi, berani beraninya laki laki itu merem*s gunung kembarnya. Dasar wanita mesum.


Bukannya takut malah Kanzo mengecup kilas bibir merah Marya, membuat Marya semakin marah.


"Kali ini aku tidak akan melepaskan mu, sayang" ucap Kanzo menjatuhkan tubuh Marya di atas kasur, dan mengunci pergerakan wanita itu karena Marya meronta, lalu mencium bibirnya pelan pelan tapi pasti. Membuat Marya akhirnya pasrah menikmati..


" Sekali saja, beri aku kesempatan memilikimu kembali,Marya" ucap Kanzo menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya perlahan setelah melepas kecupannya." Beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku sangat mencintaimu" mohon Kanzo dengan air mata yang tak bisa di tahannya lagi.


"Beri aku kesempatan untuk mengobati luka hatimu dan rasa trauma mu, Marya. Kalau kamu gak mau, aku akan menghamili mu sekarang, biar Zion punya adik" ancam Kanzo dengan gaya merengek manja.


"Coba aja kalau Pak Kanzo ingin aku mati bunuh diri" ancam Marya kembali.


"Sayang!" rengek Kanzo menjatuhkan kepalanya di atas dada Marya, lalu mengecup ngecupnya.


"Gak mau sayang, kalau kamu gak mau kita rujuk, aku gak akan pergi dari sini. Sampai warga menggrebek kita lalu menikahkan kita saat itu juga" ucap Kanzo konyol.


"Aku gak mau, awas!" Marya masih terus berusaha mendorong kepala Marya. Namun pria itu malah semakin menahan kepalanya, dan menggesek gesek brewoknya ke dada Marya.


"Pak Kanzo!" teriak Marya, kenapa pria itu jadi menyebalkan.


"Apa sayang! Aahh!."


Ya Tuhan pria itu malah mendesah kuat.


Kanzo mengulas senyumnya kemudian berteriak memanggil nama Marya dan sesekali mendesah.


"Pak Kanzo, nanti kedengaran ke luar. Bisa bisa tetangga berpikiran yang lain lain" tegur Marya.


"Biarin aja sayang, biar kita di nikahkan di sini secara gratis." Kanzo semakin menjadi jadi melakukan aksinya.


"Pak Kanzo!" tegur Marya lagi.

__ADS_1


"Apa sayangku? muah! muah! muah! muah!." tidak peduli Marya marah, Kanzo malah mengecupi seluruh wajah wanita itu. Membuat kemarahan wanita itu hilang seketika.


Widuri yang berada di kamar sebelah, memegang dadanya mendengar suara merdu Kanzo yang begitu menggoda. Apa yang di lakukan mantan suami istri itu di dalam kamar, pikir Widuri. Ingin mengintip takut mata bintitan.


Marya menghela napasnya, lalu memandangi wajah Kanzo yang tepat berada di atas wajahnya. Marya mengangkat sebelah tangannya meraba wajah Kanzo yang di tumbuhi bulu bulu lebat. Dari dulu Marya tidak pernah melihat pria itu membiarkan bulu di wajahnya tumbuh subur. Minimal sekali tiga hari, pria itu pasti mencukur brewoknya. Tapi sekarang sepertinya pria itu sengaja membiarkan bulu di wajahnya tubuh lebat.


"Pak Kanzo" ucap Marya lirih, lalu menelan air ludahnya." Jangan pernah mengabaikan ku lagi."


Kanzo mengambil satu tangan Marya yang menempel di pipinya, dan mengecup telapak tangan itu.


"Tidak akan lagi sayang."


"Janji tidak akan mempermainkan perasaanku."


"Tidak akan lagi sayang."


"Janji akan mengutamakan aku apa pun itu alasannya."


"Iya sayang."


"Janji akan selalu memberi kabar setiap saat."


"Iya sayang, aku janji."


"Tidak menjadikanku istri simpanan lagi."


"Tidak akan lagi cintaku." Kanzo mengecup kembali tangan Marya yang berada di genggamannya."Apa pun itu, asal kamu bahagia sayang. Yang penting bagiku, kamu kembali menjadi istriku."


Marya menganggukkan pelan kepalanya."Aku merindukan Zion" ucapnya dengan mata berkaca kaca.


Kanzo menjatuhkan kembali kepalanya di atas dada Marya, kemudian memeluk erat tubuh wanita itu.


"Aku juga sangat merindukannya. Bahkan aku tidak sempat melihat seperti apa wajahnya, Zion sudah tidak ada. Aku sangat penasaran sampai hari ini, sehingga sering membuatku tidak bisa tidur lelap memikirkannya" lirih Kanzo meneteskan air matanya sampai menetes ke dada Marya.


"Aku sangat penasaran Marya."


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2