Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Masih ingin menikmati hidup sendiri


__ADS_3

"Bagaimana denganmu,Apa sudah menemukan pria yang baru?" tanya Widuri.


Marya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan wajah berbinar.


"Aku tidak memikirkan laki laki. Dan kamu tau sendiri aku tidak hobi yang namanya pacaran. Dan juga selama ini aku sibuk menyelesaikan pendidikan ku" jawab Marya.


"Kalau begitu kembali aja sama Pak Kanzo" ucap Widuri. Tidak ada salahnya pikirnya, mengingat Kanzo juga masih sendiri.


"Aku masih ingin menikmati hidup sendiri" balas Marya. Dia baru pulang dari luar Negri, dan juga dia baru di terima bekerja di salah satu perusahaan. Marya masih ingin menikmati hidupnya menjadi wanita karir. Soal untuk menikah lagi, Marya pikir nanti saja.


"Sampai kapan?, kita ini sudah tidak muda lagi loh. Usia kamu juga sudah 28 Tahun, gak terasa nanti sudah kepala tiga."


"Aku gak tau" jawab Marya membelokkan mobilnya masuk ke sebuah halaman rumah sederhana.


Marya sengaja membeli rumah di kota untuk menjadi tempat tinggalnya di sana. Kota itu adalah tempat kelahirannya, tentu sangat sulit bagi Marya untuk meninggalkan kota itu. Dan tetap berkeinginan untuk kembali tinggal di kota itu, meski sempat tinggal di kampung.


"Bagaimana kabar Adi dan Ibumu?" tanya Widuri, mereka masih berada di dalam mobil baru milik Marya, meski mereka sudah sampai.


"Adi sudah SMA, setahun lagi dia akan lulus. Dia sudah bisa mengurus perkebunan, makanya aku memutuskan mencari pekerjaan di kota. Dan Ibu, ya masih seperti itu, Ibu harus tetap menjaga makanannya supaya gula darahnya tidak naik" jawab Marya tersenyum.


Pulang dari luar Negri, tentu Marya terlebih dahulu pulang ke kampung untuk menemui Adik dan Ibunya. Setelah puas melepas rindu baru ia berangkat ke kota.


Marya pun membuka pintu di sampingnya dan langsung turun, begitu juga dengan Widuri. Mereka sama sama melangkah ke arah pintu rumah di depan mereka.


"Jadi kapan kamu mulai kerja?" tanya Widuri membuka pintu di depannya dengan kunci di tangannya.


Meski rumah itu milik Marya, tapi selama setahun ini, Widuri lah yang menempati rumah itu.


"Besok aku sudah mulai aktif" jawab Marya mengikuti langkah Widuri masuk ke dalam rumah.


"Aku sudah menyiapkan kamarmu, istirahatlah, aku tau kamu pasti kelelahan" ucap Widuri.


"Kalau begitu aku ke kamar dulu" pamit Marya melangkahkan kakinya ke arah salah satu pintu kamar di rumah itu. Rumah berlantai satu, memiliki tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang makan dan dapur, dan kamar mandi di dapur.


**

__ADS_1


Esok harinya


Marya yang sudah rapi dengan baju kemejanya di padukan dengan rok span di bawah lutut, dengan belah di bagian belakang rok sampai menampakkan sedikit pahanya. Berdiri di depan cermin untuk memperhatikan penampilannya dan juga make up-nya. Ini hari pertama kerjanya, ikut berkecimpung di Dunia bisnis. Marya akan menjabat sebagai asisten Direktur di salah satu perusahaan.


Marya menghembuskan napasnya untuk menghilangkan rasa gugub nya. Meski sudah pernah bekerja sebelumnya, tapi pekerjaannya kali ini mengemban tanggung jawab yang besar, tidak seperti waktu menjadi resepsionis.


'Kamu pasti bisa Marya. Ingat kamu harus sukses, supaya tidak ada yang bisa memberimu lagi, supaya kamu di pandang berharga' batin Marya.


Puas memandangi wajahnya di kaca, Marya pun segera keluar dari dalam kamarnya.


"Wid! aku berangkat duluan nya!" seru Marya. Ia harus cepat sampai di perusahaan, karna masih banyak yang harus ia pelajari, dan hari ini ada meeting di perusahaan tempat kerja barunya. Marya harus memastikan semuanya beres.


"Ya!" seru Widuri dari dalam kamarnya.


Marya keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Mobil yang baru di belinya sebelum pulang dari luar Negri. Perlahan kenderaan berwarna hitam itu pun melaju ke arah jalan raya.


"Itu mobil istrimu" ucap Haris kepada Kanzo yang duduk di sampingnya.


"Dari mana kamu tau?" tanya Kanzo.


Haris berdecak, yang jelas Taulah Harus. Bukankah Kanzo menyuruhnya mencari tau Marya?, aneh pikir Haris.


"Gak perlu" balas Kanzo cepat." Bukankah nanti kita ada meeting di perusahaan tempat kerjanya. Aku bisa melihatnya nanti dari jarak dekat."


"Aku pikir kamu sudah sangat merindukan istrimu itu" ucap Haris.


"Tentu aku merindukannya, tapi bagaimana lagi, istriku itu masih ingin menikmati hidupnya menjadi gadis" balas Kanzo tersenyum.


Kanzo sudah dua kali gagal berumah tangga, ia tidak mau terburu buru lagi untuk menikah. Dan yang lebih tepatnya, Kanzo menunggu Marya siap untuk kembali padanya. Jika tidak, entah? Kanzo pun tidak tau kapan dia akan menikah lagi. Jujur, Kanzo juga merasa trauma untuk menjalin hubungan dengan wanita lain.


"Terserah kau saja" ucap Haris.


Sampai di perusahaan, Haris pun memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Kanzo langsung turun, begitu juga dengan Haris.


**

__ADS_1


Sedangkan Marya yang sudah sampai di perusahaan tempat barunya bekerja, langsung masuk ke ruang kerjanya. Semalam dia sudah melakukan perkenalan di perusahaan itu, sehingga ia sudah tau apa saja yang harus ia kerjakan.


Tok tok tok!


Marya yang masih melangkah ke arah meja kerjanya, langsung memutar tubuhnya ke arah pintu.


"Masuk!" sahutnya.


Pintu itu pun terbuka dari luar. Marya langsung mengulas senyumnya ke arah pria yang masuk ke ruangannya.


"Selamat pagi Pak!" sapa Marya ramah.


"Selamat pagi juga" balas pria itu tidak kalah ramahnya."Bagaimana dengan ruangannya, kalau tidak cocok, kamu bisa merubahnya sesuai selera Kamu."


"Aku rasa itu tidak perlu, Pak!. Begini aja sudah nyaman" balas Marya.


"Oh ya, sebagai tugas pertamamu, nanti kamu yang membawakan meeting" ucap Pria yang terlihat tampan dan masih muda itu.


"Baik, Pak!" patuh Marya.


"Ehem! kalau begitu saya permisi. Semoga betah bekerja di sini" ujar pria itu berpamitan.


Marya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Pria itu pun pergi.


**


"Haris, bagaimana?. Apa kamu sudah meminta kepada Pak Baim supaya Marya bersama kita?" tanya Kanzo mendudukkan tubuhnya di kursi kebanggaannya.


"Sudah tadi malam, tapi Pak Baim tidak memberikannya, dan juga Nona Marya juga tidak mau di pindah tugas. Sepertinya Nona Marya juga tau, kalau cabang perusahaan itu milikmu juga" jawab Haris.


Kanzo menghela napasnya, berpikir kalau Marya bekerja dengan orang lain, ia akan sulit untuk mendekatinya. Tapi yang paling membuat Kanzo khawatir, Direktur perusahaan itu masih sangat muda dan berwajah tampan, bisa bisa Marya nanti naksir dengan atasannya itu. Dan mungkin saja Pria bernama Baim itu juga naksir kepada Marya istrinya.


Jangan sampai itu terjadi, Marya harus kembali menjadi miliknya.


"Jam berapa nanti meetingnya?" tanya Kanzo sudah tak sabaran untuk bertemu dengan Marya.

__ADS_1


"Jam sepuluh" jawab Haris.


*Bersambung


__ADS_2