
Selesai mandi, Marya langsung keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi. Di dalam kamar ternyata ada Ibunya bersama Areta bermain dengan Kanzo.
"Ibu" panggil Marya berlari kecil ke arah Ibu Hayati yang duduk di sofa dan langsung memeluknya."Apa kabar, Bu?."
"Baik, Nak!. bagaimana dengan putri Ibu?" tanya Balik Ibu Hayati mengulas senyumnya.
"Marya sangat baik, Bu" jawab Marya melepas pelukannya dari tubuh wanita yang tak lagi muda itu."Adi ikut kan Bu?" tanya Marya lagi. Sampai sekarang Adiknya itu tetap tidak menyukai Kanzo.
"Ikut, setelah mengantar Ibu ke hotel, dia langsung pergi ke rumah kita yang lama, katanya kangen dengan teman temannya di sana" jawab Ibu Hayati.
Marya membulatkan bibirnya sambil mengangguk.
"Apa kalian sudah makan?, Ibu membawa rendang Ayam untuk kalian."
"Marya belum, pria itu tidak memberiku makan" jawab Marya tersenyum sambil melirik Kanzo yang sibuk bermain dengan Areta di atas kasur.
"Dia nya aja yang malas bangun, Bu. Hari sudah hampir siang, dia baru bangun" sambung Kanzo sibuk dengan buku menggambar Areta. Kanzo sedang membantu putrinya itu mewarnai gambar ikan duyung.
"Kan bisa istrinya di bangunin" dengus Marya. Marya melangkahkan kakinya ke arah travel bad Ibu hayati, dan langsung menggeledah isi travel bag tersebut, untuk mengambil rendang Ayam yang di katakan Ibunya. Lalu membawanya ke meja sofa.
"Sayang, pakai baju dulu" tegur Kanzo, sepertinya istrinya itu lupa kalau masih memakai bathrobe, dan pasti tidak memakai dalaman. Namun Marya mengindahkannya dan lebih peduli untuk mengisi perutnya yang kelaparan.
Melihat Itu, Kanzo turun dari atas tempat tidur , melangkahkan kakinya ke arah koper mereka, mengambil pakaian untuk calon istrinya itu.
"Pakai baju dulu, gak sopan seperti itu" ujar Kanzo meletakkan pakaian di tangannya ke atas pangkuan Marya. Lagi ada orang tua yang harus di hargai, apa lagi mereka belum di nikahkan, bisa bisa itu mengundang pikiran negatif Ibu Hayati. Ya, walau tadi malam Kanzo melakukan hal negatif itu, tapi cukup hanya mereka berdua yang tau, orang lain jangan.
Marya yang mengunyah ayam di mulutnya, menoleh ke arah Kanzo yang berdiri di sampingnya, pria itu menatapnya tajam.
"Tanganku kotor" ucap Marya Manja dan mengulas senyumnya.
Berhasil meneduhkan pandangan Kanzo ke arahnya. Pria itu mengambil kembali pakaian yang di letakkan nya di atas pangkuan Marya, lalu membawanya ke dalam kamar mandi. Setelah Kanzo keluar, Marya langsung masuk untuk mengganti pakaiannya.
Melihat bagaimana Kanzo mendidik Marya, berhasil membuat Ibu Hayati tersenyum, mengagumi segala ketampanan calon menantunya itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Marya keluar dari dalam kamar mandi, dengan pakaian yang sudah lengkap dan lebih sopan. Marya melangkahkan kakinya ke arah sofa, dimana di sana Kanzo dan Areta sudah menikmati rendang yang di bawa Ibu Hayati dari kampung.
Setelah Marya mendudukkan tubuhnya, Kanzo langsung menyuapinya dengan paha Ayah bekas gigitannya.
"Kamu gak pernah masak rendang kering seperti ini" ujar Kanzo, sangat menyukai rasa rendang kering itu buatan Ibu Hayati itu.
"Masaknya lama, butuh waktu tiga sampai empat jam" jawab Marya.
"Tapi sesekali nanti kamu harus memasaknya untukku" ujar Kanzo.
"Nanti kalau pas libur kerja" balas Marya sambil mengunyah ayam rendang di mulutnya."Ibu mana?" Marya memutar pandangannya di setiap sudut ruangan itu karna tidak melihat Ibunya di kamar itu lagi.
"Di ajak Mama" jawab Kanzo.
"Ha ha ha pedas" keluh Areta yang ikut memakan rendang. Gadis kecil itu belum terbiasa memakan pedas, dan bahkan belum pernah.
"Masa sih?" Marya mengulas senyumnya lalu mencomot sepotong ayam dari atas piring lalu menyuapkannya ke mulut Areta yang terbuka, membuat mulut kecil Areta tersumbat.
Areta langsung mengambil potongan ayam itu dari mulutnya, kemudian memasukkannya ke mulut Kanzo. Kanzo pun langsung menggigit sebagian potongan Ayam itu, kemudian menyuapkan sisanya ke mulut Marya.
"Areta, hewan apa yang suka makan tulang?" tanya Marya tersenyum pada anak sambungnya itu.
"Dog" jawab Areta singkat padat dan jelas.
"Jadi maksud kalian, Papa ini dog? Hm!" gemas Kanzo menjewer telinga Areta tapi tidak kuat.
"Areta kan cuma menjawab pertanyaan Mama Marya Pa." Areta tertawa tawa karna merasa geli di bagian telinganya.
"Jadi Mama Marya yang mengatai Papa dog?" tangan Kanzo berpindah menjewer telinga Marya, Namun Marya mengambil tangannya lalu mengecup punggung tangan pria itu sambil tersenyum, kemudian Marya mengambil tulang ayam yang masih berada di mulut Kanzo, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, mengusap tulang ayam yang masih terasa bumbu rendang itu seperti permen tongkat.
"Berani genit kamu sekarang ya, besok malam giliran mu, sayang" bisik Kanzo.
"Papa bisikan apa?" tanya gadis kecil yang duduk di pangkuannya itu, kepo.
__ADS_1
"Gak ada sayang" jawab Kanzo cepat.
Marya mengedipkan sebelah matanya ke arah Kanzo sambil tersenyum. Berhasil membuat pria itu mendadak panas dingin, kepalanya pusing dan nyut-nyutan.
Coba tidak ada Areta kamar itu, minimal Kanzo sudah mencium rakus bibir wanita yang sudah berani menggodanya itu.
**
Di tempat lain, seorang wanita yang berdiri di depan kaca jendela kamarnya, memandang lurus ke depan dengan pandangan kosong. Hidupnya sudah hancur, Kanzo menceraikannya setelah perselingkuhannya ketahuan. Kendric sang kekasih menghilang entah kemana setelah bosan memakainya.
Bella yang tidak terima dengan nasibnya yang tidak memiliki pria di dalam hidupnya lagi. Mencengkram ponsel di genggamannya dan membantingnya ke lantai.Tapi tunggu dulu, Bella tiba tiba mengulas senyumnya mengingat sesuatu.
'Jika kamu mencampakkanku, kamu juga harus mencampakkan Marya, Kanzo.'
Bella memungut kembali handphonnya yang berserak di lantai. Kemudian meraih tasnya lalu keluar dari dalam kamarnya. Bella akan menemui seseorang yang membantunya untuk menyingkirkan Marya dari hidup Kanzo.
Sampai di tempat tujuan, Bella memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah cafe. Bella langsung turun dan masuk ke dalam cafe, di dalam sudah ada seorang wanita yang menunggunya.
"Bagaimana? Apa kamu yakin dengan cara seperti itu akan berhasil?" tanya Bella langsung setelah mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di depan wanita itu.
"Yakin, aku juga ingin menyingkirkan wanita itu dari sisi Pak Baim" ujar Anita.
"Kenapa?" tanya Bella.
"Seharusnya aku yang menjadi Asisten Pak Baim. Aku sudah lama bekerja dengan Pak Baim. Tapi wanita itu dengan mudah mendapatkan jabatan tinggi. Itu karna Pak Baim menyukainya" jelas Anita.
"Terserah mu saja, yang penting bagiku, Marya dan Kanzo harus Batal menikah" ujar Bella.
"Kita lihat besok aja" Anita menyipitkan matanya dengan sebelah sudut bibir tertarik ke atas.
"Hm.. meski misi kita sama, sesuai perjanjian, aku akan tetap membayar mu." Bella mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari tas kecilnya, lalu memberikannya kepada Anita.
'Siapa mereka?, apa yang di bicarakan mereka itu benar Pak Kanzo?' batin seorang perempuan yang tidak jauh duduk dari meja Bella dan Anita.' Tapi bagus deh kalau mereka ingin membatalkan pernikahan Pak Kanzo dan wanita bernama Marya itu. Jadi aku bisa memanfaatkan kesempatan untuk menggoda Pak Kanzo' batin wanita itu tersenyum licik sambil berpikir bagaimana caranya ia bisa mendekati pria bernama Kanzo itu.
__ADS_1
*Bersambung