
Turun dari dalam mobil, Marya melangkahkan kakinya ke arah Pak Bagus untuk menyalam pria yang tidak muda lagi itu.
"Apa kabar Pa?" Marya mengulas senyumnya ke arah Pak Bagus.
"Baik, Nak!. Bagaimana denganmu?" tanya balik Pak Bagus.
"Baik juga Pa" jawab Marya.
"Masuklah, Mama mertuamu sudah menunggumu dari tadi" ucap Pak Bagus.
Marya mengangguk," Kalau begitu Marya ke dalam dulu Pa" pamit Marya, kemudian berlalu bersama Kanzo.
"Sayang, kapan kamu dekat dengan Papa?" tanya Kanzo heran, menggandeng tangan Marya masuk ke dalam rumah. Setau Kanzo semenjak dua Tahun yang lalu, Marya dan Papanya tidak pernah bertemu. Dan kini terlihat tidak canggung berbicara.
"Semenjak mereka mengetahui keberadaanku" jawab Marya mengulas senyumnya.
"Kamu bohong sayang" Kanzo tidak percaya.
"Kalian sudah datang?."
Suara wanita yang tak lagi muda itu berhasil mengalihkan pandangan Marya dan Kanzo ke arah sofa yang berada di ruang tamu rumah itu. Marya langsung melangkahkan kakinya ke arah Ibu Liana.
"Apa kabar Ma?" tanya Marya menyalam wanita tua itu.
"Baik sayang, bagaimana denganmu?" tanya balik Ibu Liana.
"Baik Ma" jawab Marya mendudukkan tubuhnya di samping wanita berusia enam puluhan itu, karna wanita itu menarik lengannya untuk duduk.
Dan Kanzo sendiri, ia memilih untuk naik ke lantai dua rumah itu, masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan kedua wanita ke sayangannya itu di ruang tamu.
"Bagaimana kabar Ibumu?" tanya Ibu Liana kepada Marya.
"Sehat Ma" jawab Marya.
Ibu Liana mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap kepala Marya dari belakang.
__ADS_1
"Trimakasih ya, sudah menerima anak Mama kembali" ucap Ibu Liana dengan mata berkaca kaca." Kanzo memang terlihat baik baik saja. Tapi sebenarnya dia tidak baik baik saja. Dia memendam semuanya sendiri. Dia tidak mau Mama dan Areta bersedih melihat dia."
Marya menajamkan pandangannya ke wajah Ibu Liana. Memilih mendengarkan cerita wanita yang tak lagi muda itu.
"Selama dengan Bella, hanya dia yang mencintai wanita itu, sedangkan Bella sendiri tidak pernah mencintai Kanzo. Bella hanya menginginkan harta keluarga ini. Bella tidak pernah mengurus Kanzo dan Areta dengan baik. Kanzo nya aja yang bodoh di buatkan cinta." Ibu Liana menghela napasnya kasar.
"Tapi ya sudahlah, aku sangat bersyukur sekarang. Kanzo sudah sadar, kalau Bella itu tidak pantas di cintai nya. Wanita itu adalah jelmaan siluman ular" geram Ibu Liana. Tidak terima cucunya meninggal karena ditelantarkan wanita yang melahirkan Ezio.
"Gara gara wanita itu, cucuku meninggal. Kanzo terpaksa harus menelantarkan kamu dan bayi kamu. Bella selalu mengancam Kanzo untuk bunuh diri bersama Ezio yang berada di dalam kandungannya" tangis Ibu Liana terisak. Selama ini dia tidak punya tempat untuk mengungkapkan kegundahan hatinya itu." Kami terpaksa menuruti kemauan wanita iblis itu demi Ezio. Tapi ternyata Ezio pergi meninggalkan kami."
Marya yang tidak tega melihat Ibu Liana menangis, menarik Ibu mertuanya itu ke dalam pelukannya.
"Ezio sudah bahagia di surga Ma. Jangan menangisinya lagi, nanti Ezio ikut bersedih melihat Neneknya menangis" ucap Marya menenangkan.
Kanzo yang berada di pertengahan tangga, menepis air matanya yang sempat menetes mendengar Ibu Liana mengingatkan anaknya Ezio, yang meninggal karena tidak mendapat ASI dari wanita yang melahirkannya.
"Bukan hanya kamu yang hancur perasaannya, Nak. Kami juga sama sepertimu, kami juga sangat bersedih dengan apa yang sudah terjadi. Semenjak semua kejadian itu, tidak ada lagi kebahagiaan di rumah ini, Nak. Hanya kamu harapan Mama satu satunya memberi rumah ini kebahagiaan."
"Ma, Areta mana?"tanya Kanzo tak ingin Ibunya membahas musibah yang pernah menimpa mereka, terutama dirinya.
Marya dan Ibu Liana saling melepas pelukan, karna mendengar suara Kanzo. Pandangan mereka pun sama sama terarah pada Kanzo yang berdiri di depan mereka. Rambut Kanzo terlihat basah, menandakan kalau pria tampan itu baru selesai mandi.
"Oo.." Kanzo mengangguk sambil ber O." Sayang, sana mandi" suruhnya kepada Marya.
"Tapi aku gak bawa baju ganti" ucap Marya.
Kanzo pun menarik Marya dari sofa, lalu membawanya menaiki tangga rumah itu ke lantai dua.
"Aku gak mau" tolak Marya tepat mereka berada di depan pintu kamar Kanzo. Kamar itu pasti bekas kamar Kanzo dan Bella, Marya gengsi untuk masuk.
"Ini bukan kamarku dan Bella. Ini bekas kamar mendiang Kakakku. Setelah menikah kita akan menempati kamar ini. Dan bekas kamarku dan Bella akan di tempati Areta" jelas Kanzo.
"Benar?" Marya belum percaya.
"Iya Marya Fawzia, sayangku" tekan Kanzo meyakinkan. Baru Kali ini Kanzo bertemu pelakor yang gengsinya tinggi, Hm!.
__ADS_1
Kanzo pun membuka pintu kamar di depannya, lalu menarik Marya untuk ikut masuk.
"Pakaianmu ada di lemari itu" tunjuk Kanzo ke arah lemari di dalam kamar itu.
Marya mengerutkan keningnya dan mengarahkan pandangannya ke arah lemari yang di tunjuk Kanzo, berpikir kapan pakaiannya Sampai di lemari kamar itu.
"Aku tunggu di bawah cuuuup."
Setelah melepas ciuman di bibir Marya, pria itu pun mengacak acak ujung kepala Marya, lalu pergi.
"Kan, dia selalu nyosor setiap ada kesempatan" gerutu Marya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi kamar itu.
Selesai mandi, Marya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk di dadanya, dengan wajah cemberut, karna handuk yang di pakainya, bekas handuk Kanzo. Karna tadi kesal Kanzo mengecup bibirnya, ia lupa membawa handuk dan pakaian.
"Sudah selesai ?."
Marya refleks melompat mundur ke belakang, kaget mendengar suara Kanzo yang tiba tiba datang. Hampir saja handuk dan jantung Marya copot.
Dug dug dug!
Jantung Marya berdegup sangat kencang, melihat Kanzo berjalan mendekatinya. Marya hanya memakai handuk saja, mau apa pria itu?. Jangan sampai pria berstatus dua kali menduda itu memperkos*nya.
"Pak Kanzo mau apa?" Marya menelan air ludahnya melihat Kanzo berdiri tepat di depannya.
Kanzo mengulurkan tangannya ke kepala Marya, menepis sebuah gumpalan putih dari kepala wanita itu.
"Ada sisa sabun di kepalamu." Kanzo menunjukkan busa sabun di tangannya kepada Marya.
"Pak Kanzo keluar, aku mau pakai baju" usir Marya memegangi handuk di dadanya kuat kuat. Meski tubuhnya sudah sering di lihat Kanzo dan bahkan menikmatinya. Tapi sekarang ini status mereka beda, bukan suami istri lagi.
Kanzo mengulum senyum, lalu membungkukkan tubuhnya, membuat wajah mereka sejajar. Lalu apa yang terjadi?. Kanzo mengecup bibir basah Marya dan langsung kabur keluar kamar.
"Pak Kanzo!" pekik Marya, laki laki itu menyebalkan sekali. Tanpa sadar Marya mengulas senyumnya melihat tingkah pria itu.
Marya melangkahkan kakinya ke arah lemari sambil menggeleng kepala, membuka lemari itu dan mengambil pakaiannya dari dalam. Selesai berpakaian, Marya langsung ke luar kamar menuruni anak tangga ke lantai bawah. Di sana sudah ada Areta bermain dengan Kanzo.
__ADS_1
"Tante Marya...!" teriak gadis kecil itu berlari ke arah Marya.
"Bersambung