
Marya yang duduk bersandar di atas ranjang, terus memutar mutar handphon di tangannya. Sudah lebih sebulan mereka tinggal di kampung, namun Kanzo tidak juga datang mencarinya. Membuat Marya berpikir, Kanzo benar tidak mencintainya dan tidak perduli dengan anak di dalam kandungannya. Dan Kanzo juga tidak pernah menghubunginya atau berkirim pesan sama sekali.
Ibu Hayati yang melihatnya hanya bisa menghela napas, melihat Marya sering murung di dalam kamar. Padahal Marya lagi hamil muda, tidak bagus jika terus banyak pikiran. Padahal putrinya itu yang mengajak mereka pulang ke kampung. Tapi sepertinya putrinya itu menyesal telah menjauhi Kanzo.
Hari terus berlalu berganti Minggu dan Bulan. Kanzo yang di harapkan datang, tak kunjung datang. Kini usia Kandungan Marya sudah memasuki bulan Melahirkan.
"Aw!" keluh Marya saat merasakan tendangan dahsyat dari dalam perutnya. Marya yang duduk di kursi meja makan di dapur rumah itu, pun mengelus elus perutnya.
Ibu Hayati yang sedang memasak sarapan pagi, mengulas senyumnya. Melihat wajah Marya berbinar meski merasakan sakit akibat ulah anak yang berada di dalam kandungannya.
"Dia sangat nakal, suka nendang" ucap Marya.
"Mungkin dia sudah mulai mencari jalan lahir" balas Ibu Hayati.
Marya semakin mengulas senyumnya, meski takut membayangkan sakitnya melahirkan. Tapi tetap saja, wanita bertubuh seperti gajah duduk itu tidak sabar menunggu anaknya lahir.
"Apa sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Ibu Hayati, mematikan api kompor di depannya, karna masakannya sudah matang.
Marya mengangguk sembari tanpa menyurutkan senyumnya dari tadi. Hampir delapan Bulan menjalani kehamilan tanpa suami, kini Marya sudah terbiasa dan susah berdamai dengan kenyataan. Marya tidak lagi memikirkan Kanzo, tidak peduli lagi dengan pria yang merenggut masa depannya itu. Setelah melahirkan, Marya sudah siap menggugat cerai. Dan akan membuka lembaran hidup baru dengan sang buah hati.
"Kak ayo jalan pagi, mumpung Adi libur, Adi bisa nemanin Kakak" ajak Adi yang tiba tiba nongol.
Marya mengangguk, lantas berdiri dari tempat duduknya. Kata Bidan kampung yang memeriksa kandungannya, bagus jika sering berjalan saat mendekati melahirkan.
"Bu, kami pergi dulu" pamit Marya.
Udara di kampung itu sangat dingin, apa lagi di pagi hari. Sebelum keluar rumah, Marya terlebih dahulu memakai jaket dan juga kaos kaki, dan tidak lupa membawa sebotol air hangat.
Keluar dari dalam rumah, langkah Marya dan Adi langsung terhenti, melihat dua buah mobil mewah membelok masuk ke halaman rumah mereka. Marya yang menduga yang datang itu adalah Kanzo, langsung masuk ke dalam rumah. Marya berlari masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya rapat rapat. Marya menyandarkan tubuhnya di daun pintu, lalu menangis.
Sedangkan Adi yang masih berdiri di halaman rumah, mengerutkan keningnya memperhatikan orang orang yang keluar dari dalam kedua mobil itu. Adi hanya mengenal satu orang di antara Eman orang yang datang itu.
Adi pun memutar tubuhnya masuk ke dalam rumah untuk menemui Ibunya di dapur.
__ADS_1
"bu! pria itu datang sepertinya bersama keluarganya" lapor Adi setelah sampai di dapur.
Ibu Hayati mengernyit bingung, tidak paham maksud Adi. Siapa pria yang di katakan anaknya itu.
Tok tok tok!
"Permisi !" seru suara seorang wanita dari depan rumah.
Ibu Hayati pun melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu rumah itu untuk membukakan pintu. Namun Adi menarik lengannya dan menggelengkan kepalanya, meminta Ibu Hayati untuk tidak menerima tamu itu.
"Kak Marya sendiri sudah gak mau dengan pria itu, Bu!" ucap Adi melihat tadi Kakaknya langsung masuk ke dalam rumah, dan mengurung diri di kamar.
"Siapa pria yang kamu maksud?. Ibu dengar yang datang itu perempuan" tanya Ibu Hayati.
Adi yang enggan menyebutkan nama suami Kakaknya itu, menghela napas.
"Kanzo" cetusnya tak sopan.
"Ibu di dalam aja, biar Adi keluar dari pintu belakang untuk menyuruh orang itu pergi. Ibu kunci pintunya, biar orang itu gak bisa masuk." Adi melangkahkan kakinya ke arah pintu belakang rumah itu, untuk menemui para tamu tak di undang yang berada di depan rumah.
"Maaf, rumah ini tidak menerima tamu seperti kalian" cetus Adi menyorot tajam ke arah pria yang ia ketahui bernama Kanzo.
Ibu Liana dan Pak Bagus terdiam melihat raut wajah Adi yang begitu marah. Wajah putih bocah SMP itu terlihat merah, rahangnya mengeras dan urat lehernya hampir lepas.
"Adi!" Widuri yang ikut di dalam rombongan keluarga Kanzo, mendekati Adi, untuk menjelaskan sedikit maksud kedatangan mereka.
"pak Kanzo datang...."
"Sudah cukup Kakakku menderita!" potong Adi berteriak, membuat Widuri dan yang lainnya terlonjak kaget." Tidak akan kubiarkan lagi" ucapnya dengan tubuh bergetar, matanya mengkilat merah."Tidak akan kubiarkan lagi pria itu memperbudak Kakakku di atas ranjangnya!."
"Setelah aku besar nanti, lihat aja. Aku akan membalas perbuatan pria itu. Aku akan melakukan hal yang sama kepada putrinya itu!." Adi menunjuk Areta yang berada di gendongan Haris.
Dug!
__ADS_1
Kanzo langsung membeku dengan jantung yang berdetak tak karuan. Lalu menatap Areta putrinya yang masih tertidur pulas di gendongan Haris. Ucapan Adi berhasil menusuk ke dalam hatinya, menyadarkannya kalau dia juga memiliki putri. Bagaimana jika putrinya di perlakukan orang seperti yang di lakukan pada Marya?.
"Adi..."
Adi langsung menepis lengan Widuri yang akan menyentuhnya.
Mendengar Adi marah marah di luar rumah. Ibu Hayati terpaksa membuka pintu rumah. Adi masih kecil, tidak mungkin ia membiarkan anaknya menghadapi orang dewasa sendirian. Dan Adi juga terlihat tidak sopan berbicara keras kepada orang yang sudah dewasa.
"Ayo silahkan masuk!" ucap Ibu Hayati menyuruh Keluarga Kanzo untuk masuk ke dalam rumah.
Adi sudah berhasil mencuri perhatian tetangga. Sehingga para Jiran mereka keluar dari rumah masing masing, menjadi penonton apa yang akan terjadi berikutnya. Ibu Hayati malu jika menjadi bahan tontonan. Apa lagi selama di kampung, mereka sudah menjadi buah bibir, karna Marya hamil tanpa suami.
Dan juga masalah harus di selesaikan dengan baik dan dengan kepala dingin. Apa lagi melihat Kanzo membawa rombongan keluarganya dari kota, Ibu Hayati bisa menilai jika maksud kedatangan mereka tujuannya baik.
"Apa kabar Bu?" Kanzo mengulurkan tangannya ke arah Ibu Hayati setelah masuk ke dalam rumah.
"Baik" balas Ibu Hayati.
"Perkenalkan Bu, Ini Ibu sayadan yang di sampingnya, Papa saya" ucap Kanzo memperkenalkan kedua orang tuanya.
Ibu Hayati mengulas senyumnya mengulurkan tangannya ke arah Ibu Liana.
"Saya Ibu Liana" ucap wanita yang masih menyisakan kecantikan di wajahnya itu.
"Hayati" balas Ibu Hayati.
Kemudian mengulurkan tangannya ke arah Pak Bagus. Pria yang tubuhnya mulai membungkuk, dan kepalanya sudah di penuhi uban. Wajar saja, usianya sudah hampir tujuh puluh Tahun.
"Saya Pak Bagus Salim, Ayah kandung Kanzo" ucap pria itu dengan suara seratnya, karna pita suaranya sudah rusak akibat mengkonsumsi banyak nikotin selama ini.
Widuri pun menyalam Ibu Hayati. Begitu juga dengan Haris.
* Bersambung
__ADS_1