
Untuk menyambut hari esok, dimana hari Kanzo akan menikahi Marya kembali. Malam ini mereka menggelar acara makan malam bersama dengan keluarga dan orang orang terdekat mereka di dalam restoran yang ada di dalam hotel tempat akan diadakanya acara pernikahan. Selain ada Haris, Widuri dan Cici, Marya juga mengundang Baim dan Anita.
"Aku sempat berpikir untuk mendekati Marya, tapi untung tidak jadi. Kalau iya, mungkin aku sudah patah hati" gurau Baim sambil menikmati makanan di piringnya.
"Aku tidak akan membiarkan pria manapun mendekatinya" balas Kanzo. Ia tau Baim menyukai Marya dari awal, kalau tidak, tidak mungkin calon istrinya yang belum berpengalaman itu bisa mendapatkan jabatan yang tinggi.
"Aku tau kamu itu tidak mau kalah. Kamu selalu ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan" ujar Baim.
Perusahaan mereka sudah menjalin kerja sama sejak lama. Dan bahkan kerja sama itu sudah terjalin saat perusahaan mereka di pegang orang tua mereka. Meski Baim jauh lebih muda, tapi sedikit banyaknya dia mengenal Kanzo.
"Kalau bisa kenapa tidak? Kita bisa berusaha. Dan yah! mungkin aku termasuk pria yang beruntung" Kanzo mengulas senyumnya.
"Beruntung apanya? Kau bisa mendapatkan wanita dengan mengorbankan banyak uangmu" cibir Pak Bagus.
"Itulah kelebihan ku" bangga Kanzo. Benarkan dengan banyak uang ia bisa mendapatkan wanita seperti apa yang ia inginkan, meski harus menggunakan sedikit cara licik.
"Kau mendapatkan orangnya, tapi tidak dengan Hatinya" cibir Haris ikut ikutan.
"Siapa bilang?, buktinya aku mendapatkan cinta dari wanita cantikku ini." Kanzo mengecup pelipis Marya yang duduk di sampingnya.
"Aku mencintaimu karena Zion. Aku sering bermimpi Zion memintaku untuk menerima mu kembali" ujar Marya, matanya nampak berkaca kaca Setiap mengingat mendiang anak yang dilahirkan nya itu.
"Kalau begitu aku harus berterima kasih banyak pada Zion. Katakan sayang, bagaimana caraku melakukannya?." Kanzo mengusap lembut rambut Marya dari belakang.
"Cukup mencintaiku sepenuhnya, sayang" jawab Marya mengulas senyumnya.
"Setelah hari esok, semoga kalian cepat memberi kami cucu lagi" ujar Ibu Liana penuh harap.
"Iya, aku setuju dengan itu. Aku juga sudah sangat ingin menimang cucu. Raut wajah Ibu Hayati berubah sedih mengingat cucunya yang meninggal saat baru lahir, saat itu harapannya langsung sirna melihat cucunya yang tak bernyawa lagi.
"Semoga doa Mama dan Ibu segera terkabul." Kanzo berbicara dengan suara tercekat, di sini posisinya lah yang paling menyedihkan. Kehilangan kedua bayi laki lakinya sekaligus.
"Sudah sudah sudah, kita tidak boleh bersedih berkepanjangan. Zion dan Ezio nanti ikut bersedih, karena kita belum mengikhlaskan kepergian mereka.
"Pak Bagus benar" sambung Ibu Hayati sambil menepis air matanya yang sempat keluar.
'Jadi bayi Marya dan Pak Kanzo sudah meninggal?' batin Anita. Sepertinya dia akan melaporkan itu kepada Bella, menurutnya Bella belum tau soal meninggalnya bayi dari madunya itu.
__ADS_1
'Kalau mereka sempat memiliki bayi, apa alasan mereka sempat berpisah?' batin Baim diam diam memperhatikan Marya dan Kanzo.' Aku terlambat mengenal Marya' batinnya lagi.
"Kamu Haris, bagaimana denganmu?" tanya Ibu Liana. dari tadi memperhatikan gelagat Cici yang sering perhatian kepada Haris.
"Dia sudah jadian dengan Cici." Kanzo yang menjawab.
Ibu Liana mengerutkan keningnya,"kapan?.
"Baru tadi siang Tante" jawab Haris sambil menggaruk leher belakangnya, malu.
"Hm! segeralah menikah, umurmu juga sudah tua" ujar Ibu Liana tak berperasaan.
"Matang Tante, baru juga tiga tiga, masa di bilang tua" sungut Haris.
"Sebentar lagi akan tua" ucap Ibu Liana lagi.
Sedangkan Widuri yang duduk di samping Marya, dari tadi hanya diam saja menikmati makanan di piringnya. Berada di tenga tengah orang orang terpandang, Widuri merasa sangat kecil tidak terlihat, meski berada di tempat yang sunyi. Tidak ada yang bertanya kepadanya.
Obrolan di meja makan yang memanjang itu pun terus berlanjut, hingga makanan di atas meja hampir habis. Malam ini mereka semua akan menginap di hotel itu.
"Trimakasih juga sudah datang. Untuk besok kehadiran Pak Baim sangat di tunggu" balas Marya juga berdiri dari tempat duduknya.
"Saya pasti akan datang" balas Baim tersenyum.
"Awas saja kalau kamu gak datang, ku hancurkan perusahaan mu" ancam Kanzo juga berdiri dari tempat duduknya.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu" pamit Anita. Setelah menyalam semua yang ada di meja makan itu. Baim dan Anita langsung meninggalkan tempat itu.
Selesai acara makan bersama, mereka semua kembali ke kamar masing masing. Dan kini Marya dan Kanzo sudah sampai di kamar mereka bersama Areta yang ketiduran di gendongan Kanzo. Kanzo meletakkan Areta di tengah tengah kasur sebagai pembatas mereka.
"Awas nanti kalau macam macam saat aku tidur" ancam Marya, khawatir Kanzo akan menelan*******.
"Tapi kalau satu macam boleh?" tanya Kanzo mengedipkan sebelah matanya.
"Awas a...."
Ucapan Marya terpotong saat pria itu tiba tiba membekap mulutnya pakai bibir. Kanzo tidak peduli, ia pun mengangkat tubuh Marya, membawanya masuk ke kamar mandi tanpa melepas ciuman mereka. Marya meronta, Kanzo tetap mengabaikannya.
__ADS_1
Sampai di kamar mandi, Kanzo mendudukkan Marya di atas washtapel tanpa melepas ciumannya. Setelah puas baru Kanzo melepasnya. Lalu tersenyum sambil melap bibir marya yang cemberut.
"Gak usah cemberut" ucap Kanzo memberikan Marya sikat gigi dan pasta.
"Apa gak bisa genitnya di kurangi?" cetus Marya. Benar benar pria itu, apa benar si Salim sangat ganas?.
"Gak bisa sayang" jawab Kanzo tersenyum, lalu mengecup kilas bibir Marya.
"Jangan sampai aku punya anak di luar nikah." Marya turun dari atas washtapel lalu menggosok giginya.
"Aku bisa membuangnya di luar" Kanzo memeluk Marya dari belakang, menjatuhkan dagunya di bahu wanita itu.
Bukh!
"Awu!" keluh Kanzo tiba tiba terasa sakit di bagian ginjalnya, karna mendapat sikutan dari Marya.
"Aku menjadi gak yakin, kalau selama dua Tahun ini Pak Kanzo gak bermain wanita" ujar Marya memutar tubuhnya ke arah Kanzo, setelah selesai sikat gigi dan mencuci muka.
"Sumpah sayang, si Salim bersemedi selama dua Tahun ini, dia menunggu kamu pulang" ucap Kanzo tersenyum.
Marya memutar bola matanya,"aku gak percaya."
Kanzo memutar tubuh Marya kembali menghadap kaca di depan mereka, lalu memeluk tubuh itu dari belakang.
"Percaya samaku Marya Fawzia, aku sangat mencintaimu, aku bukan laki laki seperti itu" ucap Kanzo mengusap usap perut Marya dengan lembut, berharap setelah hari esok mereka langsung mendapatkan ganti anak mereka yang meninggal."Aku ingin memiliki tiga anak darimu" ucap Kanzo.
Marya terdiam menikmati tangan Kanzo yang mengusap usap perutnya." Kamu maukan sayang melahirkan anak untukku lagi?."
Marya menarik napasnya dalam," Tapi aku...."
Marya tidak bisa melanjutkan kalimatnya. mengingat pengalamannya melahirkan, sepertinya Marya masih takut dan trauma melahirkan.
"Jangan takut, hampir semua wanita merasakan sakitnya melahirkan. Maaf kemarin aku tidak ada, dan membiarkanmu merasakan sakit sendirian. Nanti aku akan menemanimu berjuang melahirkan anak kita" ucap Kanzo dengan suara lembutnya.
Bukan trauma menikah saja, tapi wanitanya itu juga mengalami trauma melahirkan.
*Bersambung
__ADS_1