Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Gak lagi, sayang


__ADS_3

Kanzo yang sudah sampai di lokasi, langsung turun dari dalam mobilnya. Kanzo menghela napas lemah, melihat gedung perusahaannya sudah hampir terbakar semua. Sudah tidak ada yang bisa di selamatkan lagi. Gedung itu adalah perusahaan pusat yang di bangun Papa nya, kini sudah hangus tak terpakai.


"Bagaimana bisa?" tanya Kanzo kepada Haris yang datang mendekatinya.


"Kata security yang berjaga, tadi mereka sempat melihat orang keluar mengendap ngedap dari dalam gedung. Saat mengejarnya, tiba tiba terjadi ledakan dari dalam gedung, dan api langsung menyala besar" jawab Haris.


Kanzo menghela napas tanpa melepas pandangannya dari gedung terbakar itu.


**


"Ini uang untukmu, pergilah jangan sampai mereka menangkap mu. Aku tidak akan bertanggung jawab untuk itu" ucap Baim, memberikan sebuah amplop berisi uang kepada pria yang berdiri di depannya itu.


"Baik bos" pria bertopeng itu menerima uang yang di berikan Baim dengan tersenyum dan langsung meninggalkan ruangan itu.


Baim tersenyum, lalu memutar tubuhnya ke arah jendela kaca kamar hotel yang di tempati nya, memandang ke indahan lampu lampu kota di malam hari dari tempat itu.


'Aku juga bisa membuat perusahaan mu hancur Pak Kanzo' batin Baim.


Tiga hari yang lalu, setelah Pak Bagus dan Kanzo mengklarifikasi masalah Vidio adegan 21+ Kanzo dan Marya yang sempat menyebar di Dunia Maya. Para rekan bisnis dan penanam saham di perusahaan Baim, memutuskan kerja sama dan mencabut saham masing masing. Sehingga perusahaannya bangkrut dalam sekejap. Padahal bukan dia yang menyebarkan Vidio itu. Tapi Kanzo mengatakan kalau dialah yang menyebarkannya.


**


Setelah melihat gedung perusahaannya hangus tak bersisa. Kanzo memutuskan untuk pulang ke rumah, karna tidak ada yang bisa dilakukannya di sana. Membiarkan pihak yang berwajib yang mengurusnya.


"Jangan terlalu di pikirkan, kita bisa membangun kembali gedung perusahaan itu."


Kanzo yang hendak menaiki tangga rumahnya, refleks berhenti mendengar suara Pak Bagus bicara kepadanya. Tadi saat masuk, Kanzo tidak melihat Papa nya duduk di sofa ruang tamu rumah itu.


"Tapi untuk sementara, terpaksa karyawan di rumahkan. Dan proses produksi di gedung itu terpaksa berhenti."Jelas kepala Kanzo pusing memikirkan uang orang yang harus di pertanggung jawabkan nya.


"Kita bisa menyewa gedung untuk sementara waktu" ucap Pak Bagus.


Kanzo terdiam sambil berpikir.

__ADS_1


"Istirahatlah, ini sudah hampir pagi. Meski perusahaan kita harus tutup, kita tidak akan mati kelaparan gara gara itu. Jangan terlalu pusing memikirkannya" ucap Pak Bagus lagi, berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya ke arah kamarnya di lantai bawah rumah itu.


Melihat Pak Bagus sudah menghilang di Balik pintu. Kanzo pun melanjutkan langkahnya, namun langsung terhenti melihat Marya berdiri di ujung tangga.


Marya yang melihat wajah lesu Kanzo, melangkahkan kakinya ke arah pria itu. Marya meraih lengan Kanzo, menarik pria itu menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


"Kamu melanggar janjimu" ujar Marya setelah menutup dan mengunci pintu kamar mereka.


"Janji apa?" tanya Kanzo mengerutkan keningnya ke arah Marya yang berdiri sambil memperhatikannya.


"Mengabaikan ku, meninggalkan ku setelah menganiaya ku" jawab Marya menatap Kanzo cemberut dengan mata menyipit.


"Maaf, sayang" ucap Kanzo lesu tak punya semangat sama sekali. Bagai mana mau semangat, dia barusan mengalami kerugian yang sangat besar.


Melihat wajah tak bersemangat Kanzo, Marya mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah suaminya itu, mengelus pipi pria itu dengan lembut.


"Aku yang bersalah" ucap Marya." Jika saja aku gak bekerja di perusahaan Baim. Mungkin masalah sebesar ini tidak terjadi." Marya menjeda kalimatnya sebentar." Seharusnya aku tidak pergi ke luar Negri dan meninggalkanmu. Seharusnya waktu itu, aku tidak memintamu meninggalkan ku" ucap Marya lagi.


"Tidak masalah, yang penting bagiku, akhirnya kamu kembali menjadi milikku" Kanzo berusaha mengulas senyumnya, tak ingin melihat wajah Marya terlihat semakin bersalah.


"Kalau begitu, jangan memasang wajah dramatis di depanku. Aku gak suka raut wajah seperti itu. Mana bos ku dulu yang pemaksa dan menyebalkan?." Marya menarik Kanzo ke arah kasur dan mendudukkan pria itu di pinggir kasur. Kemudian Marya membuka kancing baju pria itu, melepas bajunya.


"Jangan sekarang sayang, aku lagi gak bersemangat" ujar Kanzo.


Pluk!


"Kemana pikiranmu, sayang? Hm!. Aku hanya ingin mengganti pakaianmu. Baju mu bau asap" ucap Marya setelah memukul lengan Kanzo. Marya pun melangkahkan kakinya ke arah lemari, mengambil baju ganti untuk suaminya itu.


Kanzo yang di perhatikan seperti itu, mengulas senyumnya. Semenjak mereka menikah dulu dan sekarang. Baru kali ini Marya bersikap seperti istri benaran. Wajar saja, selama ini mereka hanya menikah, tapi tidak berumah tangga.


"Trimakasih, sayang" ucap Kanzo menarik pinggang Marya yang sudah memasangkan baju ke tubuhnya.


"Untuk apa?" tanya Marya memperhatikan wajah Kanzo yang bersandar di perutnya.

__ADS_1


"Ini pertama kalinya aku di perhatikan istri seperti ini" jawab Kanzo.


Dulu bersama Bella, tidak sekali pun Bella memperhatikannya, meski hanya menyiapkan baju kerja untuknya. Apa lagi mengurus perutnya, Bella tidak pernah sama sekali.


"Masa sih" Marya tidak percaya itu, bisa saja Kanzo sedang menggombalnya.


"Benaran, sayang, aku gak bohong. Tapi sudah lah, malas jika harus membahas masa lalu" ujar Kanzo. Malas jika harus membahas tentang Bella. Lagian sudah ada Marya wanita yang mencintainya dengan tulus, untuk apa lagi kecewa dengan mantan istri.


"Ayo kita tidur, sebentar lagi sudah mau pagi." Marya melepas tangan Kanzo yang melingkar di perutnya, namun pria itu tidak mau melapasnya.


"Temani aku ya, aku gak bisa tidur."


Melihat Kanzo begitu frustasi, Marya pun menganggukkan kepalanya, tidak tega melihat wajah mengiba Kanzo yang sedang memikirkan beban berat.


"Iya, tapi kita duduk di atas kasur" ucap Marya , melepas tangan Kanzo dari pinggangnya, kemudian naik ke atas kasur, duduk bersandar ke kepala ranjang.


Sedangkan Kanzo yang sudah menaikkan kakinya, langsung menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Marya, menatap wajah wanita itu dari bawah.


"Jangan khawatir, meski Pak Kanzo menjadi miskin. Aku tidak akan pergi mencari laki laki lain. Aku sudah jatuh cinta sedalam dalamnya kepada bos tampanku ini" ucap Marya sambil tersenyum, dan tangannya mengusap usap kepala suaminya itu.


"Benarkah?" tanya Kanzo.


"Tabunganku sudah banyak, sudah cukup buat biaya hidup kita sampai tua" jawab Marya.


Jelas uangnya banyak, Kanzo membagi setengah saham miliknya kepada Marya. Dan juga Marya memiliki penghasilan dari kebun cabe nya.


Kanzo mengulas senyumnya, ia tau Marya mengatakan seperti itu, untuk sekedar menghiburnya. Meski Kanzo tidak akan jatuh miskin karena kebakaran itu, tetap aja Kanzo sedih, melihat kehancuran gedung perusahaan yang di bangun Papanya. Di gedung perusahaan itu, banyak menyimpan kenangan bagi keluarganya, terutama Pak Bagus sebagai pendiri perusahaan.


"Janji ya, gak pergi lagi meninggalkan ku" ucap Kanzo.


"Gak lagi, sayang" Marya menjepit hidung Kanzo.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2