
Widuri yang baru keluar dari kamar Marya menggelengkan kepalanya. Pertanda dia gagal membujuk Marya.
Kanzo yang tidak ingin membawa tangan kosong, kembali mendekati pintu kamar Marya, mengetok nya sambil memanggil nama wanita di dalam kamar itu.
"Marya, tolong buka pintunya sayang. Beri aku kesempatan bicara" mohon Kanzo.
Ceklek!
Pintu itu terbuka dari dalam, Marya keluar dan berdiri di ambang pintu.
"Bicaralah!" ucapnya.
Kanzo terdiam dan memandangi wajah cantik istrinya itu. Wajah yang mengembang dengan aura kecantikan yang begitu terpancar. Kanzo baru bisa melihat wajah itu dengan jelas. Kanzo mengulas senyumnya, ia pun mengecup kening Marya dengan lembut. Sehingga berhasil membuat darah Marya berdesir sampai menyentuh relung hatinya yang terdalam.
Marya memejamkan matanya, menikmati hangatnya benda kenyal yang masih menempel di keningnya itu. Jujur, Marya sangat merindukan kecupan kecupan pria itu.
"Maaf sudah mengabaikan mu dan anak kita" ucap Kanzo menepis cairan bening yang keluar dari sudut mata Marya.
"Aku sudah memaafkan Bapak. Tapi untuk kembali bersama Bapak, aku sudah gak bisa" balas Marya tanpa melihat Kanzo.
"Apa pun alasan Bapak, aku mohon, pergilah. Aku sudah nyaman dengan kehidupanku yang sekarang." Marya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon kepada Kanzo."
"Marya" lirih Kanzo, tidak percaya jika Marya sudah tidak mencintainya lagi. Semudah itukah cinta wanita itu hilang untuknya. Apa tidak tersisa sama sekali.
Marya kembali masuk ke dalam kamarnya, tanpa sadar menutup kuat pintunya sampai mengeluarkan bunyi dentuman yang kuat. Marya yang bersandar di balik pintu, perlahan menurunkan tubuhnya ke lantai, menangis pilu.
"Ayo kita pergi dari sini. Saya merasa tidak punya harga diri mengemis pada mereka. Emang apa hebatnya keluarga ini, sampai sampai aku harus sampai di kampung ini?" kesal Pak Bagus.
Dia sudah berbesar hati untuk menjemput menantunya jauh jauh dari kota. Tapi tidak di hargai, dan malah mendapat pengusiran.
"Ayo Nak, percuma kita di sini" ajak Ibu Liana menarik lengan Kanzo yang masih berdiri di depan pintu kamar Marya.
"Dari tadi kek! perginya" cetus Adi tiba tiba.
"Adi!" tegur Widuri lembut.
"Lagian ngapain mereka datang ke sini?. Orang kaya kurang kerjaan" cibir Adi malah.
"Dasar anak tidak punya etika" ujar Pak Bagus lantas melangkahkan kakinya ke luar dari rumah itu.
"Hei Pak tua!. Aku memang gak punya etika!. Tapi bagaimana dengan anakmu itu. Sudah tua, tapi gak punya malu!. Sudah punya istri masih aja pengen mencicipi wanita lain!. Dasar pria hidung belang!" seru Adi memaki Kanzo.
__ADS_1
"Adi, gak boleh bicara seperti itu sama orang tua" tegur Widuri.
Adi mendengus lalu pergi masuk ke kamar Ibunya.
Hari itu juga, mereka terpaksa kembali ke kota, Karena baik Marya, Ibu dan Adiknya tidak menghargai mereka yang datang jauh jauh, dan juga mereka tidak betah di rumah itu berlama lama karena di abaikan.
"Kalian pulang lah duluan, aku akan tinggal di sini membujuk Marya" ucap Kanzo memasukkan Areta ke dalam mobil. Setelah keluar dari dalam rumah, Kanzo berubah pikiran. Kanzo berpikir, jika dia langsung pulang, Marya akan semakin kecewa padanya. Mungkin istrinya itu meminta lebih di bujuk dan di rayu lagi.
"Tante Marya gak mau pulang sama kita ya Pa?" tanya gadis kecil itu dengan pandangan meneduh.
"Bukan seperti itu sayang, Tante Marya nya tidak kuat perjalanan jauh karna ada adik di dalam perutnya. Nanti setelah adiknya lahir, Tante marya baru bisa ikut. Makanya Papa di sini untuk menunggu adiknya lahir" jelas Kanzo mengusap kepala putrinya itu.
"Areta mau ikut Papa" ucap Areta.
"Ngapain?, Areta bisa memilih Mama baru di luaran sana" kesal Pak Bagus. Mendengar cucunya minta ikut tinggal bersama Papanya.
"Udah Pa!, biarin Areta ikut bersama Kanzo tinggal di sini untuk membujuk Marya" ucap Ibu Liana kepada suaminya yang sudah tua itu.
"Terserah kalian saja." Pak Bagus pun masuk ke dalam mobil, di ikuti Ibu Liana duduk di sampingnya.
Setelah Kanzo mengeluarkan Areta dan perlengkapan mereka dari dalam mobil, Kedua mobil itu pun melaju meninggalkan halaman rumah itu.
Kanzo dan Areta pun sama sama melangkah ke arah pintu rumah sederhana itu. Namun belum sempat Kanzo masuk, Adi langsung mendorong tubuhnya dan langsung menutup pintunya.
"Papa kenapa? Tangan Papa kenapa?" tanya Areta khawatir melihat Kanzo kesakitan sampai wajahnya memerah dan memejamkan matanya.
"Gak apa apa, Nak!" jawab Kanzo, padahal tangannya amat terasa sakit.
"Tangan Papa berdarah" ucap Areta melihat darah menetes dari jari tengah dan telunjuk Kanzo.
Kanzo berdecih menahan rasa sakit di ujung tangannya. Namun Kanzo harus tetap tenang meski kepalanya sudah terasa pusing dan pandangannya berkubang kunang sangking sakitnya.
"Sayang, tolong ambilin obat merah di tas Papa" ucap Kanzo.
"iya Pah!"
Melihat Papanya yang kesakitan' Areta bergegas membuka tas Kanzo, mencari obat merah di tempat yang di tunjuk Kanzo.
Kanzo yang sudah tidak tahan, mendudukkan tubuhnya di lantai teras rumah itu. Gadis kecil yang pintar itu pun langsung mengobati tangan sang Papa.
"Sakit banget ya Pa?" tanya Areta.
__ADS_1
Kanzo yang memejamkan mata, tidak menjawab.
"Pa!" panggil Areta menyentuh pipi Kanzo dengan tangan mungilnya.
Kanzo membuka matanya melihat wajah Areta yang sudah merah menahan tangis.
"Papa gak apa apa sayang" lirih Kanzo dengan mata berkaca kaca. Tubuh Kanzo semakin terasa lemah, karena darah di tangannya terus mengalir.
"Tante Marya! Papa sakit!" tangis Areta melihat Kanzo yang bersandar di dinding tidak bergerak lagi." Tolong Papa hiks hiks hiks...."
Marya yang mendengar suara anak kecil dari luar rumah mengernyit. Bukankah Kanzo dan keluarganya sudah pergi?.Lantas suara anak siapa itu?.
"Papa tangannya berdarah!" tangis Areta bingung harus bagaimana.
Marya yang mengintip dari jendela kamarnya, pun keluar setelah melihat Areta berdiri di depan pintu rumah sambil menangis.
"Biarkan aja Kak, ngapain di urusin" larang Adi yang duduk menjaga pintu rumah itu di ruang tamu.
Marya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Adi.
"Apa yang kamu lakukan sama mereka Di?" tanya Marya.
Melihat tadi Adiknya itu memukul Kanzo sampai pingsan. Bisa saja, Adiknya itu melakukan tindak kekerasan lagi pada Kanzo.
"Memberinya sedikit pelajaran" dengus Adi.
Marya menghela napasnya dan melanjutkan langkahnya ke arah pintu, karna tidak bisa mendengar suara Areta yang terus menangis.
"Marah boleh, tapi jangan sampai melakukan tindak kekerasan" nasihat Marya.
"Kakak aja yang labil" cibir Adi.
Marya menghela napasnya, lalu membuka pintu rumah itu. Di lihatnya Kanzo duduk bersandar di dinding dengan tangan berdarah, wajah Kanzo juga terlihat pucat.
"Papanya kenapa?" tanya Marya, bersusah Payah menurunkan tubuhnya karna pergerakannya terhalang perutnya yang besar.
"Tangan Papa kejepit pintu" jawab Areta dengan bibir menekuk ke bawah.
Marya perlahan mengulurkan tangannya, menyentuh tangan Kanzo yang terluka, untuk memeriksa lukanya.
"Tanganku sakit Marya" gumam Kanzo sangat lirih.
__ADS_1
Refleks Marya menoleh ke wajah Kanzo.
* Bersambung