
"Kak Marya mau kemana malam malam begini?" tanya Adi melihat Marya menyeret koper keluar dari dalam kamar.
"Besok pagi Kakak harus kembali ke kota untuk menyelesaikan masalah Kakak" jawab Marya menatap iba Adiknya yang harus tinggal sendirian.
"Jadi temanku di sini siapa?" Adi mendramatiskan wajahnya.
Marya terdiam.
"Kamu ikut aja, nanti pas ujian kamu bisa kembali ke sini." Kanzo yang menjawab.
Marya dan Adi langsung menoleh ke arah Kanzo yang baru keluar dari dalam kamar.
"Besok sebelum kita berangkat, aku akan mengurus masalah sekolahmu ke sekolah" ucap Kanzo.
"Okeh! kalau begitu aku akan berkemas." Dengan senang hati, Adi masuk ke kamarnya untuk menyusun barang Barangnya ke dalam koper.
"Sayang, ayo kita masuk ke dalam kamar." Kanzo memeluk tubuh Marya dari belakang, menuntun wanita itu masuk ke dalam kamar.
Setelah menutup pintunya dan tidak lupa menguncinya. Kanzo memutar tubuh Marya ke arahnya, tersenyum, perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Marya, sampai kening mereka menempel sempurna.
"Ini malam pertama kita" ucap Kanzo tepat di depan bibir Marya sambil tangannya meraih pinggang wanita itu, menempel ke tubuhnya. Dan Marya sendiri mengalungkan kedua tangannya ke leher Kanzo.
"Benarkah?" Marya mengulas senyumnya. Entah kenapa, Marya merasa sangat merindukan pria di depannya itu.
"Setelah pernikahan kita yang kedua kali" jawab Kanzo.
Wajah Marya nampak semakin berbinar, mengingat kenangan saat Kanzo pertama kali menyentuh tubuhnya. Meski melakukannya tanpa cinta, tapi pria itu melakukannya sangat lembut dan penuh perasaan.
"Lakukanlah, aku sangat merindukan sentuhan mu" ucap Marya.
"Tapi aku ingin kamu yang melakukannya, sayang. Aku ingin kamu yang memulainya duluan" balas Kanzo.
Marya pun menempelkan bibirnya ke bibir pria itu, menyapunya dengan lembut. Kanzo pun langsung membalasnya perlahan, lama lama semakin menuntut, membuat tubuh keduanya berangsur memanas.
Marya melepas ciuman mereka, lalu menjauh mundur tiga langkah ke belakang. Kemudian Marya membuka pakaiannya sendiri, menyisakan pakaian dalam saja. Kanzo melangkah mendekat, kembali meraih pinggang ramping wanita itu, dan kembali mencium bibirnya dengan rakus. Wanita itu benar benar berhasil membangunkan si Salim.
"Awu!" rintih Marya saat Kanzo mendorongnya ke arah ranjang sampai terjatuh.
Kanzo yang masih berdiri di samping ranjang, membuka seluruh kalian yang melekat di tubuhnya dan melemparnya ke sembarang arah. Seperti kata Kanzo tadi, ia meminta Marya menjadi pengendalinya.
"Sayang!"
Marya berhasil membuat pria itu terus berdecih. Begitu juga sebaliknya, Kanzo terus membuat wanita itu berteriak teriak. Keduanya sama sama menggila, seperti tidak mengenal lelah, mereka terus melakukan pertempuran, sampai dini hari.
Tok tok tok!
__ADS_1
"Kak Marya!, apa kalian belum bangun!."
Pagi sudah menunjukkan jam delapan pagi. Tidak biasanya Kakaknya itu masih mengurung diri di dalam kamar. Biasanya Marya sudah bangun setiap Subuh untuk memasak.
Buar buar buar!
Karna tak mendapat jawaban dari dalam, Adi memukul mukul pintu di depannya dengan tangan.
"Anak itu!" gumam Kanzo yang terbangun mendengar gedoran pintu kamar itu."Ada apa" sahut Kanzo.
"Sudah jam delapan pagi, kenapa kalian belum bangun?. Kita berangkatnya jam berapa" seru Adi dari luar kamar.
"Nanti sore!" jawab Kanzo.
Mendengar suara Kanzo berisik, membuat wanita yang berada di pelukannya itu terbangun.
"Udah jam berapa?." Marya bergumam dengan mata masih terpejam. Matanya masih terasa ngantuk banget.
"Jam delapan sayang, ayo tidur lagi" jawab Kanzo mengusap usap kepala Marya supaya tertidur lagi.
"Tapi aku lapar." Marya mengeratkan pelukannya ke tubuh Kanzo dan memindahkan kepalanya ke atas dada pria itu.
"Kalau begitu bangunlah" ucap Kanzo mendudukkan tubuhnya dan membiarkan kepala Marya tatap bersandar di dadanya. Turun dari atas tempat tidur, membawa wanita itu ke kamar mandi.
Kali ini, mandinya lama banget, lebih dari satu jam, pengantin baru stok lama itu baru keluar dari dalam kamar mandi.
Kanzo benar keterlaluan, sudah melakukannya tiga kali tadi malam. Pagi ini, Kanzo melakukannya di kamar mandi lagi. Udah itu durasinya lama lagi. Ya Tuhan!, bagaimana Bella istri pertamanya masih tidak puas dengan permainan pria itu?.
Kanzo yang melihat Marya meringis saat melangkah, bukannya kasihan atau khawatir, malah pria itu tertawa kecil dari belakang.
"Apa kamu sudah percaya, kalau aku ini memiliki libido yang tinggi? Hm!" tanya Kanzo memeluk Marya dari belakang sambil tersenyum.
"Kalau seperti ini terus, aku bisa mati" ketus Marya kesal.
Cup!
"Jangan cemberut, nanti kamu akan terbiasa denganku. Aku akan menghabisi mu setiap hari" ucap Kanzo setelah mengecup pipi Marya.
"Aku gak mau, bisa bisa aku berjalan pincang setiap hari" tolak Marya, memutar tubuhnya ke arah Kanzo.
"Kalau kamu gak mau, terpaksa aku mencari wanita tambahan."
Bukh!
"Awu! sakit sayang" keluh Kanzo tersenyum.
__ADS_1
"Coba saja kalau berani" Marya memukul gemas dada Kanzo dan menatap pria itu marah.
"Kenapa tidak?Hm!". Kanzo meraih pinggang wanita itu, tersenyum dengan menggigit bibir bawahnya, lalu mengecup kilas bibirnya.
"Awu sayang!" keluh Kanzo lagi dengan suara kerasnya, saat si Salim merasa tiba tiba tercekik.
"Aku akan memotongnya." Marya berbicara dengan merapatkan gigi giginya, gemas.
"Lalu mau kamu bawa bawa kemana pun kamu pergi?. Ayo mau kamu apakan si Salim?." Kanzo mencolek dagu Marya dengan telunjuknya.
"Ku makan" ketus Marya.
"Aissh!" tanpa aba aba, Kanzo langsung menyambar bibir Marya, menikmatinya dengan hikmat, membuat Marya meronta ronta.
"Udah udah! cukup!."
Marya mendorong tubuh Kanzo, setelah berhasil melepas pagutan pria itu."Genit!" makinya.
"I love you, sayang. Muah muah muah muah." Kanzo menghujani wajah Marya setelah membingkai wajah wanita itu.
"I love you too!" balas Marya mengulas senyumnya.
"Lagi yuk!"
"Gak!"
Marya langsung mendorong tubuh Kanzo, kemudian melangkah ke arah lemari untuk mengambil pakaian untuk mereka.
**
Setelah sampai di kota, Marya pergi ke perusahaan tempatnya bekerja. Marya ingin menemui Baim dan ingin membuktikan kalau ia tidak melakukan penggelapan dana.
Marya yang baru memarkirkan mobilnya di parkiran perusahaan, langsung turun dan masuk ke dalam gedung. Tentu kehadirannya setelah sebulan tidak pernah datang ke perusahaan, berhasil mencuri pandangan para karyawan. Hampir semua berbisik membicarakannya.
"Mbak! saya mau ketemu Pak Baim. Apa beliau ada di ruangannya?" tanya Marya kepada petugas resepsionis di lantai dasar gedung itu.
"Ada Bu, silahkan masuk" ujar resepsionis itu tersenyum ramah.
"Trimakasih!" balas Marya dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai teratas gedung itu.
Sampai di depan ruangan Baim, Marya mengetuk pintu di depannya. Kemudian mendorong pintu itu setelah mendengar Baim menyuruh masuk dari dalam.
"Selamat siang Pak Baim" sapa Marya tanpa senyum di wajahnya.
"Selamat siang juga. Saya hanya memberimu ijin selama dua Minggu, tapi kamu menambahnya dua Minggu lagi" balas Baim tersenyum ke arah Marya.
__ADS_1
"Saya pikir setelah kasus yang menjerat saya, saya sudah tidak bekerja di sini. Dan saya ke sini untuk meminta ijin, menyelidiki kasus saya. Saya tidak merasa menggelapkan uang perusahaan ini, tapi bukti yang kalian temukan mengatakan iya. Saya sangat keberatan dengan tuduhan itu. Dan juga kalau saya mau mengambilnya, saya akan mengambil semuanya. Dan saya tidak akan terang terangan memindahkan uang itu ke rekening pribadi saya. Bukan begitu Pak Baim?" cerca Marya panjang lebar.
*Bersambung