
Sayang sudah sarapan belum?. Aku jemput ya.
Marya memutar bola mata malas, setiap hari setiap saat Kanzo sering kali menelepon dan mengirim pesan untuknya. Sampai Marya sendiri bosan membaca pesan pria itu, yang isinya hanya itu itu aja setiap hari.
Sayang, sudah sarapan belum?. Sudah makan belum?. Sudah tidur belum?. Jangan lupa makan, jangan lupa sarapan, jangan tidur lama lama. Dan kalau tidak di balas, Kanzo akan langsung menghubunginya.
Sudah.
balas Marya singkat.
aku jemput ya!.
Kanzo langsung membalas pesannya, tidak puas dengan jawaban Marya.
Aku berangkat sendiri aja.
Kanzo langsung menghubunginya, setelah membalas pesan pria itu. Marya yang sedang membereskan bekas sarapannya, memutar bola mata malas. Lama kelamaan Marya bosan juga menghadapi sikap posesif Kanzo.
"Sayang, kenapa gak pernah mau ku jemput?" tanya Kanzo langsung dari dalam hape, saat Marya menerima telephonnya. Bukan hanya tidak mau di jemput, Marya juga menolak di kunjungi jika tidak ada hal penting.
"Nanti setelah kita menikah" jawab Marya. Sudah berulang kali Marya menjelaskan alasannya, tapi pria itu masih saja terus bertanya. Kalau dia tidak mau sering sering bertemu, Karna takut syetan menggoda.
"Tapi nanti aku ke rumahmu ya" tawar pria itu.
"Bawa Areta" balas Marya. Tidak mau berdua duaan dengan Kanzo, nanti pria itu nyosor bibirnya terus seperti kemarin kemarin. Tidak ngapa ngapain, tapi minimal pria itu menyosor bibir.
"Iya sayang" ucap Kanzo, apa pun untuk Marya.
"Ya udah, aku mau berangkat kerja dulu" pamit Marya. Jam sudah menunjukkan jam tujuh pagi, ia harus segera berangkat kerja.
"Hati hati sayang, muah!" ucap Kanzo sebelum mematikan sambungan telephonnya.
"Iya, Pak Kanzo juga hati hati" balas Marya mengulas senyumnya.
Setelah sambungan telephonnya terputus, Marya langsung berangkat kerja dengan menggunakan mobilnya. Tiga Bulan lagi mereka akan menikah kembali. Selama persiapan pernikahan mereka belum selesai, Marya dan Kanzo memutuskan sementara untuk berpacaran. Itu adalah ide konyol pria berusia 33 Tahun itu, dan jadilah mereka berpacaran yang sesungguhnya.
"Marya!"
Marya yang berjalan ke arah ruang kerjanya, refleks menoleh ke arah Baim yang berjalan di belakangnya, pria itu tersenyum manis sekali.
"Iya Pak Baim, ada apa?" tanya Marya.
Suara wanita itu lembut sekali ke telinga Baim, senyumnya juga sangat menawan dengan bibir yang di beri warna nude.
__ADS_1
"Nanti malam kamu ada acara gak" tanya Baim Malu malu sambil menggaruk leher belakangnya.
Marya diam memandangi wajah Baim. Bukankah Baim sudah tau kalau dia janda, kenapa pria seusianya itu masih sering mengajaknya.
"Kenapa gak ngajak Anita aja?" tanya Marya. Anita masih gadis, sudah cantik pintar lagi. Dan juga Anita sudah lama bekerja dengan Baim.
"Ini urusan pribadi sebenarnya" Baim nyengir.
Membuat Marya bisa menebak, kalau pria itu sedang mengajaknya berkencan.
"Maaf, Pak!. Aku gak bisa, nanti malam aku udah janji sama teman" tolak Marya, mengingat nanti malam Kanzo akan datang bertamu ke rumahnya.
"Gitu yah!" ucap Baim kecewa.
Marya mengulas senyumnya, itu yang membuat Baim tidak bisa melihat wanita di depannya itu. Senyum Marya sudah meracuni pikirannya.
'Duh! janda ini cantik banget sih' batin Baim.'Astagfirulloh!'
"Ajak Anita aja, ada gadis cantik kok malah ngajak yang udah janda" gurau Marya.
"Jandanya menggoda sih" balas Baim.
Marya memutar bola mata malas, lantas masuk ke dalam ruanganny. Semakin lama, Baim semakin berani menggodanya. Ya mereka sudah dekat dan tidak perlu terlalu formal lagi.
Sore hari, melihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Marya pun merapikan mejanya, karna sudah waktunya pulang. Hari ini pekerjaannya tidak banyak, jadi ia tidak perlu harus lembur.
"Sayang!"
Marya yang hendak berdiri dari kursinya, sontak menoleh ke arah pintu. Pria tampan yang pari purna pemilik nama Kanzo Rivandra Salim itu nongol di pintu ruang kerjanya.
"Pak Kanzo, ngapain ke sini?" tanya Marya.
"Ngapain lagi" kesal Kanzo wajahnya nampak sedikit cemberut.
"Kenapa gak langsung ke rumah aja?."Marya menjadi khawatir, nanti para karyawan bisa bertanya tanya apa hubungannya dengan pengusaha besar itu.
"Mama menyuruhku membawamu ke rumah" jawab Kanzo.
"Tapi aku harus ganti baju dulu."
Kanzo menghela napasnya melihat ekspresi Marya yang seperti tidak nyaman dengan kedatangannya ke kantor itu. Apa ada yang di sembunyikan wanita itu?, pikir Kanzo.
"Nanti di rumah aja" Kanzo pun menarik lengan Marya, membawanya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Sampai di depan ruangannya, Marya menarik lengannya dari genggaman Kanzo, berhasil membuat Kanzo menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Marya.
"Gak enak di lihat orang" ucap Marya, tidak terbiasa bersikap romantis di hadapan orang, meski hanya berpegangan tangan. Apa lagi selama ini tidak ada yang tau dengan siapa dia menikah. Tapi tiba tiba seorang keturunan Salim datang menggandeng tangannya.
Kanzo yang tidak peduli dengan mata orang memandang mereka, meraih tangan Marya kembali membawanya masuk ke dalam lif untuk turun ke lantai bawah.
'Dasar wanita murahan' maki Anita dalam hati melihat Marya di jemput Kanzo. Sudah menggoda Pak Baim, dia juga menggoda Pak Kanzo. Pantas aja dia langsung mendapatkan posisi yang tinggi di perusahaan ini, jual diri sih.'
Sampai di parkiran, Kanzo membawa Marya ke arah mobilnya, dan membuka pintu untuk Marya.
"Mobilku gimana?, kalau di tinggal di sini, besok aku pakai apa?" tanya Marya yang sudah duduk di dalam mobil.
Kanzo tidak menjawab, setelah menutup pintu di samping Marya, ia langsung menyusul masuk. Satu kecupan langsung mendarat di kening wanita itu.
"Pakai ini" ucapnya mengacak acak ujung kepala wanitanya itu.
Marya mengerucutkan bibirnya, namun wajahnya tampak berbinar.
Sambil menyetir, Kanzo meraih tubuh Marya, membawanya bersandar di dadanya. Kemudian bertubi tubi mengecup ujung kepala wanita itu sampai mobil itu terparkir di halaman sebuah rumah mewah. Ini pertama kalinya Kanzo membawanya ke rumah mewah itu.
"Ayo kita masuk, atau kamu masih betah di pelukanku?" goda Kanzo melihat Marya masih diam bersandar di dadanya.
Namun Marya bergeming tak bergerak sama sekali.
"Marya!" panggil Kanzo, di raihnya dagu wanita itu, ternyata Marya tertidur pulas." Dia tidur" gumam Kanzo, lalu mengulas senyumnya memandangi wajah cantik Marya.
Buarr!
"Ngapain kalian di dalam? Ha!"
Kanzo dan Marya langsung terlonjak kaget mendengar pukulan benda keras dari luar mobil.
"Papa" gumam Kanzo, melihat Pak Bagus lah yang memukul badan mobilnya dengan tongkat yang terbuat dari kayu.
"Cepat kalian keluar dari dalam" tegas Pak Bagus.
Kanzo berdecak, dia memang bukan suami yang baik. Tapi percaya deh! kalau dia masih tau batasan batasan hidup.
"Ada apa?" Marya yang baru bangun, memutar pandangannya ke luar kaca mobil.
"Kita udah sampai sayang, ayo kita turun" ajak Kanzo membuka pintu di sampingnya dan langsung turun, begitu juga dengan Marya.
*Bersambung
__ADS_1