
" Oh ya Marya, semalam saya melihatmu mengobrol dengan Pak Kanzo, kamu mengenalnya?" tanya Baim yang duduk di depan meja kerja Marya.
"Dulu aku bekerja di perusahaan Pak Kanzo. Dan aku juga pernah menjadi pembantu di rumahnya" jawab Marya setenang mungkin. Meski sebenarnya jantungnya degdegan. Ternyata Baim melihatnya mengobrol dengan Kanzo.
"Oh! aku pikir kalian ada hubungan" Baim mengangguk anggukkan kepalanya.
Marya mengulas senyum, melihat Baim percaya. Lagian, benar kan! kalau ia sebelumnya bekerja di perusahaan Kanzo.
"Nanti malam bisa gak temani saya ke acara reunian?. Saya malu kalau datang sendiri. Nanti semua orang pasti datang bersama pasangan masing masing" aja Baim.
Dia belum punya pacar atau kekasih, dan belum punya gebetan untuk di jadikan pasangan.
"Nanti malam?" Marya mengerutkan keningnya, berpikir apakah nanti malam dia ada acara atau tidak.
"Ayolah! pleace!" mohon Baim tersenyum manis.
"Hmm baiklah" ucap Marya setelah berpikir.
Baim langsung melebarkan senyumnya, lalu memberikan sebuah card kepada Marya." Pake ini untuk membeli gaun untukmu nanti" ucapnya.
"Gak perlu Pak Baim" tolak Marya.Hanya untuk membeli gaun, Marya punya uang. Dan bahkan uangnya sangat banyak.
"Gak apa apa, anggap saja loyalitas seorang atasan" ucap Baim.
"Baiklah." Tidak enak jika harus menolaknya lagi, terpaksa Marya mengambil card yang di letakkan Baim di atas meja kerjanya.
"Trimakasih, nanti malam aku akan menjemputmu. Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya" ucap Baim sekalian berpamitan.
Marya menganggukkan kepalanya, dan Baim pun berlalu dari ruangannya. Setelah Baim menghilang di balik pintu, Marya menghela napasnya kasar.
**
"Tante Marya tinggal di sini Pa?" tanya Areta. Gadis kecil itu sekarang sudah berusia enam Tahun, dan sudah duduk di bangku kelas satu SD.
"Iya sayang" jawab Kanzo melajukan mobilnya perlahan di gak perumahan sederhana itu. Namun belum sampai di depan rumah Marya, terpaksa Kanzo menghentikan laju kendaraannya melihat sebuah mobil sedan berhenti di depan rumah Marya.
'Siapa yang bertamu ke rumahnya?' tanya Kanzo dalam hati. Keningnya pun mengerut melihat pria yang keluar dari mobil tersebut. Kanzo sangat mengenali pria itu.
'Baim.'
"Pa! dimana Pa? Yang ini" Areta menunjuk rumah yang berada di samping mobilnya.
__ADS_1
"Papa lupa sayang, Tante Marya nya lagi ke luar kota. Kita pulang aja ya, lain kali aja kita ke rumah Tante Marya" ucap Kanzo yang tersadar dari lamunannya sambil terus memperhatikan Marya yang keluar dari dalam rumah. Baim membukakan pintu mobil untuknya.
'Mau kemana mereka?' tanya Kanzo lagi dalam hati, melihat Marya memakai gaun malam. Sepertinya Baim dan Marya akan pergi makan di luar, atau ke sebuah acara.
'Marya, apa aku memang harus mengikhlaskan mu?. Kalau memang harus, baiklah sayang' batin Kanzo lagi.
Kanzo pun melajukan kendaraannya perlahan, meninggalkan komplek perumahan itu. Bukan bermaksud menyerah, tapi dari pada semakin membuat diri tersiksa, lebih baik dipasrahkan. Masih ada Areta yang harus di pikirkan oleh Kanzo. Jika dia hancur karena Marya, kasihan putrinya nanti.
"Kita pulang Pa?" tanya Areta.
"Kamu pengen kemana?. Mumpung malam ini Papa punya waktu, kita bisa kemana saja yang kamu mau" tanya balik Kanzo.
Dari pada pusing memikirkan hati yang hancur, lebih baik menghabiskan waktu bersama putrinya, pikir Kanzo. Dia laki laki, tidak boleh lemah.
Marya yang duduk di samping Baim, mengerutkan keningnya.' Perasaan tadi aku melihat mobil Pak Kanzo. Apa dia mau datang ke rumah ya?' batin Marya. Saat keluar dari rumah tadi, Marya seperti melihat mobil Kanzo terparkir tidak jauh dari rumahnya.
"Kenapa?, sepertinya kamu lagi memikirkan sesuatu" ucap Baim melihat kening Marya mengerut dan menggigit bibirnya.
Marya refleks menoleh sebentar ke arah Baim yang sibuk mengendalikan setirnya.
"Saya hanya mengingat ingat apakah bulan ini Ibuku sudah kontrol penyakitnya ke rumah sakit atau belum. Ibu sering lupa kalau gak di ingatin" jawab Marya beralasan. Padahal dia sedang tidak memikirkan Ibunya, melainkan pria yang masih bertahta di hatinya.
"Ibumu sakit?, sakit apa?." Baim menoleh sebentar ke arah Marya.
"Kenapa kamu tidak membawa pindah Ibumu ke sini?. Bukankah dulu keluargamu tinggal di kota ini?."
"Ibu dan Adikku sudah betah di kampung. Dan juga, kalau mereka kembali ikut tinggal di sini. Nanti tidak ada yang mengurus perkebunan. Sedangkan perkebunan itu satu satunya usaha kami."
"Kan bisa di suruh orang lain yang mengurusnya."
"Iya juga sih, tapi itu kebun untuk masa depan Adikku nanti. Aku rasa lebih bagus dia belajar mengurus usaha mulai sekarang."
"Adikmu laki laki?."
Marya menganggukkan kepalanya.
Obrolan mereka pun terhenti tepat Baim memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah restoran.
Baim segera turun, melangkahkan kakinya ke arah pintu di samping Marya, untuk membukakan pintu untuk wanita cantik itu.
"Trimakasih" ucap Marya mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Aku yang seharusnya berterima kasih sudah bersedia menemani aku ke acara ini" balas Baim.
Mereka pun berjalan bersama masuk ke dalam restoran, dimana di sana sudah ramai dengan teman teman satu alumni Baim saat kuliah dulu.
"Im! woi !"
Baim langsung menoleh ke arah laki laki yang memanggilnya. Baim langsung mengulas senyumnya melihat sahabatnya yang datang mendekatinya.
"Simon, apa kabar?" tanya Baim.
"Baik" jawab Simon.
Simon dan Baim pun bersalaman dengan cara laki laki. Lalu Simon mengarahkan pandangannya ke arah wanita yang berdiri di samping Baim.
"Sepertinya aku mengenal Anda" ucap Simon mengerutkan keningnya.
"Kamu memang mengenalku" balas Marya tersenyum.
"Ah iya! aku mengenalmu. Kamu adalah Marya. Kemana selam ini? Kenapa kamu resign dari perusahaan SCI Group?" tanya Simon.
"Aku melanjutkan pendidikanku, sekarang aku sudah bekerja di perusahaan Pak Baim" jawab Marya.
"Oh ya?" Simon tidak percaya.
"Dia baru bergabung di perusahaanku" sambung Baim.
"Aku sempat mencarimu, tapi kata Widuri kamu pulang kampung" desah Simon yang sempat menaruh hati pada Marya.
"Iya, aku memang pulang kampung bersama keluargaku. Sampai sekarang pun kuargaku menetap di kampung" ucap Marya.
"Kalau begitu, kami pergi dulu menyapa teman teman yang lain" pamit Baim. Mereka baru sampai dan belum menyapa teman temannya yang lain.
"Silahkan" balas Simon terus memperhatikan Marya yang bertambah cantik. Tapi sayang sekali, Simon tidak sehebat Kanzo dan Baim untuk ikut bersaing merebut hati seorang Marya.
Marya mengulas senyumnya kepada Simon, sebelum Baim membawanya.
Jika Marya menghabiskan waktu menemani Baim di acara reunian. Berbeda dengan Kanzo yang menghabiskan waktu bersama Areta di sebuah tempat bermain anak anak.
Kanzo menghabiskan waktunya mandi bola bersama Areta di sebuah pusat perbelanjaan. Ayah dan anak itu terus tertawa dan saling melempar bola dan menenggelamkan tubuh mereka di tumpukan bola bola plastik.
'Coba Ezio dan Zion tidak meningal, Munkin mereka sudah berusia dua Tahun. Aku sudah bisa membawa mereka bermain ke sini' batin Kanzo. Yang tadinya senyumnya mereka, perlahan memudar mengingat mendiang kedua anaknya.
__ADS_1
*Bersambung
#Ayo kasih otor semangat dong!.