
Pulang kerja, Marya memarkirkan mobilnya di depan rumah dan langsung turun. Beberapa hari ini Marya tidak fokus bekerja, selalu urung uringan tidak tau apa penyebabnya. Sehingga Marya memutuskan untuk pulang cepat dari kantor. Ini baru jam tiga sore, Marya sudah sampai di rumah.
"Permisi! apa benar dengan Ibu Marya?" tanya seorang pria memakai seragam safari berwarna hitam.
"Iya Pak, benar. Ada apa ya?" tanya balik Marya menautkan kedua alisnya ke arah pria itu.
"Perkenalkan, saya Pak Malik dari pengadilan Agama. Saya di tugaskan untuk mengantar surat ini kepada Ibu." Pria yang bernama Pak Malik itu memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepada Marya.
"Ini surat apa ya Pak" tanya Marya mengambil amplop besar itu dari tangan Pak Malik.
"Ibu bisa membacanya, kalau begitu saya permisi, Bu" pamit Pak Malik. Tugasnya hanya di suruh mengantar surat itu. Soal isinya, itu bukan urusannya dan haknya untuk berbicara.
"Kalau begitu Trimakasih, Pak" Marya tersenyum hambar.
"Sama sama" Pak Malik pun melangkahkan kakinya ke arah motornya yang terparkir di pinggir jalan gak perumahan.
Sedangkan Marya, melangkahkan kakinya .aduk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu rumah itu, Marya langsung membuka amplop berukuran besar di tangannya, lalu mengeluarkan isinya yang berupa map berwarna kuning.
"Surat apa ini?" gumam Marya, menelan air ludahnya bersusah payah. Jantungnya terasa degdegan. Entah kenapa keringat dingin tiba tiba membasahi keningnya.
Perlahan Marya pun membuka map kuning itu, dan membaca isi surat di dalamnya. Yang ternyata surat resmi perceraiannya dari kantor pengadilan Agama. Kanzo mengurus perceraian mereka sah secara hukum.
Dengan tangan gemetar, Marya menutup kembali map di tangannya dan memasukkannya ke dalam amplop. Pria bernama Kanzo itu, sudah benar benar melepasnya, dan tidak mengharapkannya lagi. Pantas saja pria itu tidak pernah datang setelah malam dimana Ia menemani Baim ke acara reunian. Berarti malam itu, benar Kanzo akan datang ke rumahnya.
'Aku pikir Pak Kanzo sangat mencintaiku.'
Marya membatin sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Ada kalanya orang lelah menunggu Marya."
Refleks Marya menghentikan langkahnya, mendengar suara Widuri berbicara.
"Cara Pak Kanzo menikahimu dan cara memperlakukanmu dulu memang salah. Tapi lihatlah hikmah di balik kesalahannya. Kamu bisa seperti ini sekarang. Kamu bisa sukses karena Pak Kanzo. Bahkan di balik kesalahannya, kamu lebih banyak mendapat keuntungan dari pada kerugian" ujar Widuri berdiri di kusen pintu kamarnya, memandang Marya yang berdiri terdiam dengan posisi membelakanginya.
"Dia membebaskan mu dua Tahun, berharap kamu akan kembali kepadanya setelah luka hatimu sembuh. Ternyata setelah kamu menggapai apa yang kamu inginkan, kamu malah melupakannya. Kamu pergi berkencan dengan pria lain padahal statusmu masih istri."
"Padahal kamu tau sendiri, Pak Kanzo menjadikanmu selingkuhannya, karna sakit hati dengan Ibu Bella yang suka berkencan dengan pacar di masa lalunya. Sekarang, kamu malah jalan sama cowok lain."
Marya membalik badannya ke arah Widuri dengan mata berkaca kaca.
"Aku harus sukses Wid, supaya aku di pandang orang berharga. Kamu gak tau bagaimana rasanya di beli Wid. Tubuhmu di hargai dengan uang. Kamu gak tau bagaimana rasanya di abaikan Wid. Gak tau rasanya di jadikan simpanan. Gak tau rasanya di ancam. Gak tau rasanya bagaimana berbagi suami. Gak tau rasanya di jadikan pemuas nafs* saja. Gak tau rasanya menanggung malu. Gak tau rasanya hamil tanpa suami. Gak tau rasanya ketakutan menghadapi kelahiran. Gak tau rasanya melahirkan tanpa di dampingi suami. Aku berjuang di antara hidup dan mati Wid. Kamu gak tau rasanya mencintai orang yang tidak peduli sama kamu Wid. Kamu gak tau perasaanku sama Pak Kanzo Wid!. Bahkan sampai sekarang aku masih mencintainya! tapi aku takut memulai semuanya dari awal!. Aku takut Wid, bahkan aku trauma dengan yang namanya pernikahan!" teriak Marya di akhir kalimatnya.
Widuri terdiam
Wajar saja Marya trauma menjalin hubungan pernikahan. Setelah dia dan keluarganya di telantarkan Ayahnya, sampai dia harus menjadi tulang punggung keluarga, dan berakhir menjadi istri di atas ranjang. Ia juga merasakan di terlantarkan suaminya.
"Marya" Widuri mendekati sahabatnya itu, lalu memeluknya."Aku minta maaf, karna tidak memahami berada di posisi itu" ucapnya menyesal.
"Aku trauma Wid, aku takut untuk memulainya" ucap Marya terisak.
Widuri mengusap usap punggung Marya dari belakang, untuk menenangkan sahabatnya itu. Kalau seseorang mengalami trauma, sangat sulit untuk mengobatinya, butuh waktu bertahun tahun belum tentu rasa trauma itu bisa hilang.
"Aku takut Wid, aku takut Pak Kanzo mengecewakanku Wid."
"Iya iya iya, aku minta maaf. Tapi Marya, kamu tidak boleh terlalu berpikir negatif, kamu juga harus berpikir positif. Kamu sedang berputus asa Marya. Itu tidak boleh. Kamu harus percaya Takdir baik itu ada" nasihat Widuri.
__ADS_1
"Kalau di katakan trauma, Pak Kanzo juga pasti merasakan trauma. Dia mengalami dua kali gagal berumah tangga. Pak Kanzo juga pasti sangat terpukul dengan musibah yang menimpanya, tapi dia harus kuat demi kamu Dan Areta."
"Coba bayangkan berada di posisi Pak Kanzo. Dia kehilangan anak yang diperjuangkannya dari dalam kandungan. Dan kehilangan anak yang di korbankannya. Dan Pak Kanzo juga kehilangan kamu."
"Perasaannya juga sangat hancur." Widuri menjeda kalimatnya." Kenapa kalian tidak mencoba untuk saling menguatkan saja. Dari pada membiarkan kalian sama sama larut dalam kepedihan."
"Pak Kanzo sangat mencintaimu, Marya. Jika tidak, mungkin Pak Kanzo sudah menikah lagi. Tapi lihatlah, dia memilih sendiri, karna masih mengharapkanmu."
Widuri terus menasihati Marya, sampai Widuri sendiri kehabisan kata kata untuk menyadarkan sahabatnya itu. Supaya tidak terlalu larut dalam rasa sakit dan kecewa.
**
Sedangkan Kanzo yang berada di ruang kerjanya, duduk termenung dengan mata berkaca kaca. Memikirkan Marya yang hatinya sudah membeku, dan kini sudah ia lepaskan secara sah.
Ceklek!
Refleks Kanzo menoleh ke arah Haris yang masuk ke ruangannya tanpa mengetok pintu terlebih dahulu.
"Sudahlah Kanzo, jangan terlalu memikirkannya lagi. Kamu bisa mencari wanita lain untuk kamu jadikan istri. Seperti Cici contohnya" gurau Haris di ujung kalimatnya, melihat Kanzo masih terus galau merana selama dua Tahun terakhir ini. Itu semua karena Marya penyebabnya.
"Cici menyukaimu, buak aku. Lagian usiamu sudah berapa? Sudah sepantasnya kamu menikah" cibir Kanzo.
Haris mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di depan meja Kanzo. Lalu memutar rekaman suara yang berada di dalam handphonnya, dan memberikannya kepada Kanzo.
"Seharusnya dulu kamu memikirkan resiko tindakanmu. Jika hanya menjadikannya objek balas dendam, seharusnya kamu tidak mengambil masa depannya. Cukup Bella tau kamu selingkuh tanpa mengorbankan perasaan wanita lain. Sampai membuat Nona Marya trauma menikah" ujar Haris kepada Kanzo yang mendengarkan rekaman suara Marya menangis sambil mengoceh, mengeluarkan semua yang mengganjal di dadanya.
Dulu Haris pernah menasihati sahabatnya itu supaya tidak bermain api. Tapi sahabatnya itu tidak mendengarkannya.
__ADS_1
"Aku menyukainya, sehingga aku tak ingin dia mudah lepas dariku."
*Bersambung