
Mendapat kabar Ibu Hayati meninggal, Haris langsung melajukan kendaraannya ke rumah sakit. Begitu juga dengan Pak Bagus yang berada di dalam mobilnya. Sampai di rumah sakit, di sana sudah ada Ibu Liana, Pak Maiman suami Ibu Hayati sendiri, ada Widuri dan Cici.
"Ngapain Ayah di sini?." Adi yang melihat Pak Maiman datang ke rumah sakit langsung marah."Pergi dari sini, Ayah tidak hak melihat jasad Ibu" ucap Adi dengan rahang mengeras dan kedua tangannya pun terkepal.
"Ayah minta ma...."
"Aku tidak akan pernah memaafkan Ayah!" teriak Adi tiba tiba."Ini semua gara gara Ayah!. Penderitaan kami berasal dari Ayah!. Ayah tega meninggalkan Ibu yang lagi sakit sakitan. Membuat Kak Marya harus menanggung beban berat, sampai dia harus menjual dirinya untuk membayar hutang Ayah!" teriak Adi marah berapi api, sampai tubuhnya gemetar.
"Adi" tegur Kanzo, melepas pelukannya dari tubuh Marya, lalu menarik tubuh Adik iparnya itu ke dalam pelukannya.
Meski mereka tidak pernah akur, Kanzo tau sebenarnya Adi tidak begitu membencinya. Adi hanya ingin melindungi Kakaknya, supaya tidak di sakiti lagi.
"Pergi dari sini, atau aku akan membunuh Ayah" geram Adi dari pelukan Kanzo.
"Tenanglah, jangan membuat Ibu kamu bersedih karna melihatmu marah marah" ujar Kanzo mengusap kepala anak remaja itu, memperlakukannya seperti anak kecil.
"Laki laki itu sudah menelantarkan kami. Dan juga dia sudah tidak ada hubungan dengan Ibu. Untuk apa dia ke sini?."
"Pak Maiman, pergilah. jangan membuat anakmu tambah marah" usir Pak Bagus, tak ingin mereka menjadi pusat perhatian pengunjung rumah sakit. Setelah tadi mereka harus menanggung malu di acara resepsi pernikahan Kanzo dan Marya.
Pak Maiman menunduk sedih, lalu memutar tubuhnya meninggalkan tempat itu.
Hari itu juga, Marya dan Kanzo beserta keluarga Keluarga, menerbangkan Jenazah Ibu Hayati ke kampung halaman untuk di makamkan di sana.
Selesai pemakaman, mereka pulang ke rumah Ibu Hayati di kampung itu. Rumah yang di bangun Marya untuk Ibu dan Adiknya. Pak Bagus, Ibu Liana dan Widuri akan ikut menginap di sana. Sedangkan Haris dan Cici langsung kembali ke kota. Untuk sementara mereka yang akan mengurus perusahaan, dan masalah yang menimpa Marya.
"Marya, kamu makan dulu ya" bujuk Kanzo, dari semalam Marya belum makan apa pun, Marya kebanyakan diam dan menangis.
Marya menoleh ke arah Kanzo, lalu menggelengkan kepalanya. Ia tidak selera makan sama sekali.
"Nanti kamu sakit, sayang." Kanzo meletakkan sepiring makanan di tangannya di atas meja nakas, lalu menarik Marya yang duduk bersandar di atas kasur ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Sedikit saja" bujuk Kanzo lagi, namun Marya tetap menggeleng, membuat Kanzo menghela napas.
"Marya, kamu makan ya, Nak!."
Suara Ibu Liana yang masuk ke kamar itu, berhasil mengalihkan pandangan Marya ke arah wanita itu. Dan Marya malah menangis terisak mendengar Ibu Liana memanggilnya, Nak.
Ibu Liana menyentuh bahu Kanzo, meminta Kanzo menyingkir. Setelah Kanzo melepas pelukannya, Ibu Liana mendudukkan tubuhnya di depan Marya, dan menarik tubuh Marya ke dalam pelukannya.
"Apa yang kamu sedihkan? Selama ini kamu sudah mengurus Ibumu dengan baik. Kamu sudah berbakti kepadanya, sampai kamu rela mengorbankan dirimu" ucap Ibu Liana mengusap usap lembut kepala menantunya itu." Ikhlaskan kepergiannya supaya Ibumu juga tenang di alam sana. Boleh kita bersedih tapi jangan berlebihan dan berlarut larut. Ingat kamu masih punya Adik yang harus kamu jaga, yang harus kamu perjuangkan. Kalau kamu sakit, bagiamana dengan Adi?. Siapa yang akan mengurusnya?. Adikmu juga butuh kamu sebagai sandarannya. Adikmu juga pasti sangat bersedih. Kamu harus tabah dan kuat demi Adikmu" bujuk Ibu Liana.
Marya langsung berhenti menangis dan menghapus air matanya. Terlalu meratapi kesedihannya dan masalah yang menimpanya, Marya sampai lupa memikirkan Adiknya. Jika dia masih punya Kanzo dan Ibu Liana untuk menjadi tempatnya bersandar, lalu bagaimana dengan Adiknya?.
"Adi" gumam Marya melepas pelukan Ibu Liana, lalu turun dari atas kasur mencari Adiknya keluar kamar.
"Adi!" Panggil Marya lagi mengetok pintu kamar Adi.
"Dia ada di belakang" ucap Kanzo mendekati Marya, lalu membawa wanita itu ke halaman belakang rumah.
"Adi!" panggil Marya melangkahkan kakinya ke arah Adi, dan langsung memeluk Adiknya itu.
"Tetaplah di sini menemaniku Kak, Ibu sudah gak ada" lirih Adi dengan pandangan lurus ke depan.
Marya menganggukkan kepalanya tanpa berpikir jika ada Kanzo yang harus di sampingnya. Mungkin Marya sedang lupa, jika sekarang ini statusnya sudah sah menjadi istri Kanzo kembali.
Sedangkan Kanzo yang mendengarnya terdiam. Apakah mereka akan berpisah lagi?. Apakah Marya tidak ingin hidup bersamanya lagi?.
"Beri mereka waktu, setelah kesedihan mereka menghilang, mereka pasti bisa berpikir dengan jernih" ucap Ibu Liana mengusap lembut lengan Kanzo.
Kanzo menarik napasnya dalam, lalu mengangguk.
"Untuk sementara aku akan tinggal di sini menemani mereka" ucap Kanzo mencoba untuk tabah. Yang penting Marya sudah menjadi istrinya kembali.
__ADS_1
**
Hari pun terus berganti.
Seperti waktu Zion anak mereka meninggal, Kanzo pun memilih tinggal di kampung untuk menemani Marya dan Adi. Sesekali Kanzo kembali ke kota jika ada pertemuan penting saja. Gak apa apa lelah, demi istri tercinta, Kanzo rela.
Kanzo turun dari dalam mobil yang menjemputnya ke bandara. Kepalanya terasa pusing sekali, sepertinya pria itu kecapean. Banyangkan saja, perjalanan dari kota ke kampung itu menempuh waktu kurang lebih sepuluh jam dengan perjalanan udara dan darat. Dan selama seminggu ini, Kanzo harus bolak balik dua kali ke kota.
"Sayang!" panggil Kanzo saat masuk ke dalam rumah, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
Marya yang sedang memasak di dapur, langsung mematikan kompornya, dan bergegas ke ruang tamu karena mendengar suara Kanzo.
"Pak Kanzo" ucap Marya langsung mendekati Kanzo yang terbaring di sofa, dan menempelkan tangannya ke kening Kanzo, karena melihat wajah pria itu sedikit pucat.
Kanzo yang sempat memejamkan matanya, membukanya kembali, lalu memandangi wajah Marya yang terlihat khawatir menatapnya. Kanzo mengulas senyumnya, lalu mengulurkan tangannya menyentuh pipi Marya.
"Kalau ingin bermesraan jangan di tempat umum" cetus Adi yang baru keluar dari dalam kamarnya.
" Siapa yang bermesraan?" balas Kanzo tidak kalah cetus.
"Itu tadi apa?, ngelus elus pipi. Nanti tangannya bisa pindah ke bibir."
Kanzo mendudukkan tubuhnya enggan meladeni Adik iparnya itu. Kemudian langsung mengangkat tubuh Marya, membawanya ke dalam kamar.
"Kak Marya!" teriak Adi lalu tertawa cekikikan dan melangkah ke arah dapur. Bisa menduga pasti kakaknya itu belum selesai memasak.
Di dalam kamar, Kanzo meletakkan tubuh Marya dengan sangat hati hati di atas kasur, lalu ikut membaringkan tubuhnya di samping wanita itu.
"Maaf ya, Pak Kanzo harus capek bolak balik ke kota demi aku dan Adi" ucap Marya merasa bersalah.
"Sampai kapan kamu harus memanggilku Pak Kanzo?."
__ADS_1
*Bersambung