
"Tante Marya...!" teriak gadis kecil itu berlari ke arah Marya dan langsung memeluk Marya.
Marya tersenyum, lalu menurunkan tubuhnya untuk mengangkat tubuh Areta. Sudah sekali, tubuh gadis kecil itu lumayan berisi.
"Sayang, dia itu berat, gak usah di gendong." Kanzo berdiri dari sofa melangkah mendekati Marya yang masih berdiri sambil menggendong Areta. Kanzo mengambil Areta dari gendongan Marya. Namun Areta malah memeluk leher Marya dan melingkarkan erat kedua kakinya ke pinggang Marya, sambil tertawa tawa.
"Areta, nanti pinggang Tante Marya nya bisa patah, tubuhmu besar sayang" ucap Kanzo.
"Mana ada, tubuhku kecil" ujar Areta.
"Kecil bagaimana? Hm!. Ini besar sekali." Marya menaikan sedikit tubuh Areta yang melorot di gendongannya.
"Tante, mau ya jadi Mamanya Areta?" tanya gadis kecil itu mengangkat wajahnya yang bersembunyi di leher Marya.
Marya tidak menjawab, malah mengarahkan pandangannya ke wajah Kanzo yang berdiri di depannya.
"Aku gak mengajarinya sayang" jawab Kanzo menjawab pertanyaan yang tersirat di kening mantan istrinya itu.
"Areta gak punya Mama" gadis kecil itu menatap teduh ke wajah Marya." Mamanya Areta jahat Tante. gara gara Mamanya Areta, adik Ezio meninggal" ucap gadis itu lagi.
Meski tidak tau apa sebenarnya yang terjadi, tapi gadis kecil itu sudah bisa memahami apa yang dia lihat dan yang dia dengar, meski itu tidak sepenuhnya.
"Mamanya Areta dulu sering marah marah sama Papa" ucap gadis kecil itu lagi.
Marya dan Kanzo sama sama diam dan saling bertatapan.
"Areta" tegur Kanzo mengambil anak gadisnya itu dari gendongan Marya. Lalu mengusap usap kepala putrinya itu.
"Semua teman Areta punya Mama Pak. Setiap hari mereka di antar jemput sama Mama mereka ke sekolah." Akhirnya Areta menangis terisak di gendongan Kanzo."Areta juga pengen seperti teman teman Areta Pa. Di antar jemput sama mamanya ke sekolah."
"Maafin Papa ya sayang" ucap Kanzo menghapus air mata putrinya itu dari pipinya, lalu mendekapnya erat, dan mengecup ujung kepalanya.
"Tante akan menjadi Mama Areta, tapi Areta nya jangan nangis lagi ya !." Marya mengusap pinggang Areta dari belakang.
"Benaran Tante mau?." Gadis kecil itu tidak langsung percaya, bisa aja orang dewasa itu hanya membujuknya aja, pikir Areta.
Marya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
__ADS_1
"Trimakasih sayang" ucap Kanzo, ikut mengulas senyumnya. Lalu menarik lengan Marya membawanya ke arah sofa untuk duduk.
"Nanti Tante eh! em... Mama Marya tidur di sin kan?" tanya Areta dengan senang.
"Iya sayang" Kanzo yang menjawab.
"Nanti Areta tidur sama Papa sama Mama Marya ya!."
Kanzo dan Marya kembali saling berpandangan. Mereka belum di nikahkan lagi, bagaimana bisa mereka tidur satu ranjang?.
"Areta nanti malam tidurnya sama Mama Marya aja ya. Papa lagi banyak kerjaan, Papa harus lembur" ucap Kanzo beralasan. Kalau Kanzo sih maunya tidur bersama, tapi Kanzo tau, kalau Marya tidak akan mau.
" Iya Marya, mulai sekarang tinggallah di sini. Sebentar lagi kalian juga akan menikah lagi." Ibu Liana tiba tiba datang menyambung pembicaraan mereka.
Marya diam berpikir.
"Aku akan tidur di kamar lain" ujar Kanzo.
Marya menghela napasnya, tidak punya alasan untuk menolak keluarga dari mendiang anaknya itu.
Areta yang berada di pangkuan Kanzo, langsung berpindah ke pangkuan Marya, lalu mencium kedua pipi Marya bergantian.
"Sekarang Areta punya Mama lagi" ucap gadis kecil itu, lalu mencubit kedua pipi Marya gemas.
"Awu! sakit" keluh Marya.
Gadis kecil itu mencubit pipinya tidak nanggung nanggung.
"Sayang, kok di cubit pipi Mama nya?." Kanzo mengulurkan tangannya mengelus elus pipi marya bekas cubitan Areta.
Areta menyengir sambil menggaruk leher belakangnya.
"Ternyata kamu anak nakal ya." Marya pun membalas mencubit kedua pipi Areta, tapi tidak kuat.
Ibu Liana mengulas senyumnya melihat keharmonisan Areta dan Marya. Mudah mudahan kali ini Kanzo tidak salah pilih istri lagi. Ibu Liana berharap Marya adalah wanita yang baik untuk cucu dan anaknya.
**
__ADS_1
Selesai makan malam di rumah itu, Kanzo membawa Marya ke dalam kamarnya, hanya untuk sekedar melepas rindu yang belum sembuh terobati, karna Marya terlalu lama meninggalkannya.
"Aku sudah gak sabar menunggu waktu tiga Bulan ini" ucap Kanzo memeluk Marya dari belakang.
"Pak Kanzo keluar lah" usir Marya, melepas tangan Kanzo yang melingkar di perutnya.
"Aku gak mau sayang, sebentar aja. Jangan kawatir, aku masih bisa menahan diri. Kalau gak tahan nanti aku bisa ke kamar mandi." Kanzo mengeratkan pelukannya ke tubuh Marya.
Marya mengerutkan keningnya. Apa urusannya gak tahan, dengan kamar mandi?, pikir Marya. Setelah merasakan sesuatu yang bergerak di belakangnya, Marya langsung memahaminya. Wajah Marya pun langsung merona saat otaknya traveling ke masa lalu. Dimana benda yang semakin mengeras di belakangnya pernah memanjakannya.
"Dia juga sangat merindukanmu" ucap Kanzo mengulum senyumnya.
"Aku gak mau, sekarang Pak Kanzo keluar. Atau aku pulang sekarang" ancam Marya tiba tiba panik di dalam pelukan Kanzo.
Kanzo malah tertawa cekikikan," tenanglah, semakin kamu banyak bergerak, dia akan semakin marah."
Refleks Marya langsung terdiam, membeku dengan tubuh menegang. Kanzo pun melepas pelukannya lalu mengangkat tubuh Marya membawanya ke atas tempat tidur.
"Istirahatlah" ucap Kanzo saat meletakkan tubuh Marya dengan hati hati. Setelah mengecup kening wanita itu, Kanzo langsung keluar, masuk ke salah satu kamar yang berada di lantai dua rumah itu.
Marya yang di tinggalkan, kembali mendudukkan tubuhnya bersandar di kepala ranjang. Marya menghela napasnya memikirkan keputusannya untuk menikah kembali dengan Kanzo. Hatinya masih ragu, tapi Marya harus berusaha menerimanya. Mencoba berpikir positif, jika Kanzo tidak akan mengabaikannya lagi. Karna kalau di pikir pikir, jika membuka lembaran baru dengan pria lain, belum tentu juga Marya mendapatkan laki laki yang baik. Bisa jadi lebih baik dari Kanzo, dan bisa jadi lebih buruk.
Melihat kedua orang tua Kanzo yang menerimanya dengan tangan terbuka, di pikir pikir tidak ada salahnya jika Marya memberi Kanzo kesempatan kedua.
'Zion, apa kamu bahagia sayang?. Mama kembali kepada Papa kamu' batin Marya.
Sedangkan Kanzo yang berada di kamar lain, menghela napasnya saat keluar dari dalam kamar mandi.
'Ya Tuhan, cepatlah tiga Bulan. Aku sudah gak tahan. Kalau bisa besok langsung tiga Bulan aja' batin Kanzo.
Padahal selama dua Tahun ini, ia tidak pernah bergairah dengan perempuan. Tapi semenjak bertemu Marya kembali, jiwa lelakinya sering meronta ronta.
'Huh! bagiamana bisa Bella mengatakan kalau dia tidak puas dengan Kanzo. Padahal menurut Kanzo dia sangat gagah. Memang dasar wanita ja***, gak punya iman' maki Kanzo salam hati.
Meski sempat sakit hati di selingkuhi, tapi kini Kanzo sangat bersyukur. Dengan selingkuhnya Bella, Kanzo mendapat gantinya. Wanita yang lebih cantik, lebih seksi, lebih baik, dan bahkan lebih renyah dari rempeyek yang baru di goreng.
*Bersambung
__ADS_1