Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 9 Kursi Roda


__ADS_3

Mendengar suara ketukan pintu, yang terus terdengar berulang kali, memaksa Sam harus membuka kedua matanya. "Dasar! Belum apa-apa, dia sudah merepotkan!" Gerutunya. Dia segera melangkah menuju pintu.


Ceklakkk!


Pintu terbuka. Terlihat laki-laki yang tidak asing di mata Sam. Laki-laki yang berdiri di depan pintu, tersenyum. Melihat Sam hanya mengenakan handuk, yang melingkar di pinggangnya.


"Tony?" Sam sangat terkejut melihat pengawal ibunya, ada di villa ini.


"Ini, kunci mobil Anda, Tuan." Tony memberikan kunci mobil pada Sam.


Sam masih mematung, dia heran melihat kehadiran pengawal ibunya.


"Nyonya Ramida mengutus kami, untuk meminta Tuan pulang, ponsel Tuan terus berdering, Nona Vania terus menelepon Anda."


Sam langsung meraih kunci mobil tersebut. "Baiklah, aku akan langsung pulang."


"Kami duluan pergi, Tuan. Karena ibu, dari istri muda Tuan, mencarinya," ucap Tony.


Sam menganggukkan kepalanya, menanggapi ucapan Tony.


"Tuan, Nyonya sudah mengirim pesan, pada Nona Vania, kalau ponsel Tuan tertinggal di rumah. Semoga Tuan memakai alasan--"


"Aku mengerti, cepat pergi sana! Aku juga mau segera pergi dari sini," ucap Sam.


Tony segera merubah arah tubuhnya, dia melangkah menuju pintu.


Terlihat dari dalam sana, temannya bernama Tony, itu berjalan kearahnya. "Bagaimana?" Sapa Mawan.


"Selesai, ayo kita ke Rumah Sakit, mengantar wanita itu."


Kedua pengawal setia itu, langsung menuju mobil mereka. Tony duduk di belakang setiran, dia yang akan mengemudi mobil itu.


Tony mengintip Nona mereka yang duduk di kursi belakang, lewat spion yang ada di depannya. "Pasang sabuk pengaman anda Nona," pintanya.


Resa segera melingkarkan sabuk pengaman, tanpa menjawab.


"Nona, ini ponsel buat Nona, di dalam ponsel ini ada nomer telepon Nyonya Ramida, nomer telepon Tini, dia yang akan menemani ibu Anda di rumah baru kalian nanti, dan Ayla, perawat yang menjaga ibu Anda saat ini," Mawan memberikan benda pipih persegi itu pada Resa.


"Terima kasih," hanya kata itu yang keluar dari mulut Resa


Tony segera menghidupkan mesin mobil, perlahan mobil itu melaju, meninggalkan halaman Villa tersebut.


*****

__ADS_1


Di dalam kamar yang ada dalam Villa itu.


Sam terlihat begitu tergesa-gesa, setelah selesai membersihkan dirinya, dia langsung mengenakan setelan jas yang baru. Sambil melangkah menuju pintu, dia melingkarkan dasi, di lehernya.


"Siapa Anda?" Sam sangat terkejut, melihat seorang laki-laki tua, duduk santai di kursi yang ada di teras rumah tersebut.


"Saya Sadam, Tuan. Selama ini, saya yang menjaga villa ini, tadi Nyonya Ramida menelpon saya, untuk---"


"Bagus! Saya pergi dulu." Sam memotong ucapan laki-laki tua itu, dia melangkahkan kakinya begitu cepat menuju mobilnya. Jika ber urusan dengan Vania, Sam sungguh tidak mengenal kata sabar dan nanti. Sam melajukan mobilnya perlahan, meninggalkan villa itu, saat mobil itu membelah jalanan, Sam memacukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


*****


Dalam mobil yang Resa, tumpangi, hanya dua orang yang berada di depannya itu yang asyik mengobrol, sedang dirinya diam seribu bahasa. Melewati jalanan sepi, kiri dan kanan hanya hutan. Hanya Pohon-pohon yang terlihat di sisi kiri dan kanan jalan. Keadaan mulai gelap, karena matahari sudah tenggelam di ufuk barat sana.


Lama membelah jalanan, akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit, tempat Ibu Resa di rawat. Perlahan mobil itu parkir di tempat yang tepat.


"Nona, jangan turun, tunggu saya akan ambilkan kursi roda, biar anda sapai lebih cepat di ruangan ibu Anda," ucap Mawan.


"Tidak mau! Aku malu," rengek Resa.


"Dengan berjalan seperti bebek, Anda sudah mempermalukan diri Anda sendiri," sela Tony.


Wajah Resa terlihat manyun, mendengar ledekan orang yang berada di depannya.


Mawan membuka pintu mobil di dekat Resa. "Ayo Nona, ibu anda sudah lama menunggu," ucap Mawan.


Resa meraih tasnya, dan mulai beringsut dari posisinya, setelah keluar dari mobil, dia pasrah, medudukkan dirinya, di kursi roda. Melihat Nona nya sudah duduk, Mawan segera mendorong kursi roda itu.


Tangan Resa, memegang kuat pegangan kursi roda itu, laki-laki yang medorong kursi roda ini sungguh bernafsu, dia berjalan cepat, membuat Resa sedikit khawatir. Sedang Mawan, dengan entengnya, mendorong kursi Roda, tanpa mengetahui apa yang di rasakan orang yang duduk di kursi roda itu.


Setelah memasuki lift, Mawan menekan tombol angka lima, sedang Resa hanya diam dan memandangi apa yang bisa dia lihat.


Pintu lift terbuka, Mawan kembali mendorong kursi roda tersebut, hingga dia berhenti di depan pintu sebuah kamar." Ini kamar perawatan ibu Anda, apakah anda ingin saya mengantar Anda sampai kedalam?" Tanya Mawan.


Tanpa menjawab, Resa segera turun dari kursi Roda tersebut. Setelah menegakkan tubuhnya, Resa memastikan kerapian pakaiannya. "Terima kasih," ucapnya pada pengawal itu.


Mawan hanya memberikan senyuman kecil, dia segera pergi dari hadapan Resa.


Resa masih mematung berdiri di depan pintu itu, berulang kali menarik begitu dalam napasnya, dan melepas secara perlahan, mengumpulkan keberanian untuk bertemu ibunya. Sambil mengingat kembali apa kata-kata Ramida, jika ibunya bertanya banyak hal tentang pekerjaannya.


Resa memutar gagang pintu tersebut, perlahan dia membuka pintu itu, terlihat sosok perempuan yang sangat dia sayangi, tengah makan di suapi seorang perawat. Resa menarik kedua ujung bibirnya, hingga senyuman tampak di wajahnya, melihat ibunya sadar, dia sungguh bahagia. "Mama …." Pekiknya, dia berlari kecil menuju Hayati, ibunya.


Dia melupakan penderitaanya yang satu itu, dia langsung memeluk ibunya. "Maafin Resa, mah. Karena bekerja, Resa tidak menemani mama, maaf mama …." Pekiknya.

__ADS_1


Hayati mengusap punggung putrinya. "Harusnya mama yang minta maaf, kamu harus bekerja keras untuk mama."


Resa melepaskan pelukannya. "Aku menjaga orang lain, tapi aku meninggalkan mama, anak macam apa aku ini." Gerutunya.


"Kamu anak yang terbaik," ucap Hayati.


"Kamu Ayla kan? Sini mangkuk buburnya, biar aku yang suapi mama, terima kasih, sudah menjaga mamaku," ucap Resa, lembut.


"Iya Nona," perawat itu memberikan mangkuk yang berisi bubur pada Resa.


"Ayoo mamaku sayang, makan yang benar," seru Resa.


Hayati tersenyum, melihat kasih sayang yang sangat besar dari putrinya.


"Darimana kamu dapat uang sebanyak ini? Kamar ini tidak murah, biaya operasi mama juga tidak sedikit, belum lagi perawat cantik itu," Ramida mengisyarat pada Ayla yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Deggg!


Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Mamanya.


"Sayang, darimana kamu dapat uang sebanyak itu, apa kamu menjual diri kamu?" Tanya Hayati.


Doarrrrr!


Serasa sebatang kayu besar menghantam dada Resa. Tapi, dia tetap mengukir senyuman di wajahnya.


"Majikan aku baik banget loh mah, aku di kasih pinjaman tanpa bunga, untuk biaya operasi mama kemaren, aku hanya perlu bekerja merawat mertua majikan aku mama ... jadi maafkan aku, nanti setelah mama sembuh, aku akan ninggalin mama, karena bekerja 24 jam di rumah malaikat penolong kita mama, apa mama keberatan?"


Hayati sedikit lega, walau masih tidak percaya, mengingat ada perawat lain, Hayati menahan pertanyaannya. "Mama tidak keberatan kamu tinggal sayang. Tapi, mama keberatan kamu bekerja keras buat mama." Hayati membelai lembut wajah putrinya.


Resa sangat senang, akhirnya ibunya, bisa menghabiskan bubur yang ada di mangkuk itu.


"Jangankan bekerja keras, andai bisa, nyawaku pun, aku berikan agar mama sehat kembali," seru Resa.


Sedang Ayla, hanya diam menyaksikan dan menyimak pembicaraaan ibu dan anak itu.


***


Bersambung,


****


Mohon maaf, untuk karya ini, up nya agak lama, karena ada kegiatan lain, 🙏

__ADS_1


__ADS_2