Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 19 Tidak Enak


__ADS_3

Dokter Safir terus menjalankan stetoskopnya di bagian dada Sam, dan terus melakukan pemeriksaan lainnya. Dokter Safir menyimpan kembali stetoskopnya. Apa yang Anda rasakan Tuan Sam?" Tanya dokter Safir.


"Kepala saya mendadak pusing dok, terus dari tadi pagi saya juga mual terus," keluh Sam.


Dokter Sam menoleh kearah Ramida. "Tidak ada yang aneh, dari pemeriksaan dasar ini, untuk lebih lanjutnya, lebih baik bawa tuan Sam, ke Rumah Sakit," usul dokter Safir.


"Iya dok," jawab Ramida.


Dokter Safir nampak mencoret sesuatu di atas kertas, dia merobek kertas itu dan memberikannya pada Ramida. "Ini, resep sementara buat Sam, kalau keadaanya masih seperti ini, langsung bawa ke Rumah Sakit," seru dokter Safur.


Ramida mengangguk dan tersenyum. Setelah melakukan tugasnya, dokter muda dan tampan itu langsung pergi, Ramida mengikuti langkah dokter itu, merasa ada yang mengintil di belakangnya, Ramida, menghentikan langkahnya. "Resa, tolong jaga Sam sebentar," pinta Ramida.


Resa terpaksa merubah arahnya, dia berjalan kembali kearah Sam. Sedang Ramida pergi dari kamar tersebut, dengan dokter yang barusan memeriksa Sam. Ramida dan dokter itu menghilang di balik pintu.


Deraan napas Sam sangat jelas terdengar. Membuat Resa merasa tidak enak hati, dia memandang kearah Sam. Terlihat Sam, terus memijat bagian alisnya. Resa memberanikan diri untuk mendekat.


"Mau saya pijit?" Tanya Resa.


Sam perlahan bangkit dari posisinya, dia duduk di tempat tidur, dengan posisi membelakangi Resa. "Lakukan," Sam menepuk bagian punggungnya.


Resa segera mendekat, dan mendaratkan kedua telapak tangannya, di bahu Sam. Jemari tanganya mulai bergerak-gerak dan sambil menekan lembut di bagia bahu itu.


"Terima kasih." Kata itu keluar begitu saja dari mulut Sam.


Resa tidak menjawab, dia terus memijat punggung Sam.


"Baru pertama kali, aku sakit seperti ini," rengek Sam.


"Lebih baik Tuan istirahat, tubuh Tuan pasti sangat lelah, karena pekerjaan Tuan, bisa juga karena pikiran," ucap Resa.


"Hem, tadi pagi aku sarapan hanya dengan sepotong roti, itupun tidak habis, aku tidak bisa makan, kamu ada ide makanan apa yang enak? Aku lagi pengen yang asin-asin," ucap Sam.


"Apa ya? Saya juga kurang tau tuan."


"Huh!" Dengus Sam.

__ADS_1


Ceklakkkk! Pintu terbuka, terlihat Ramida datang bersama seorang pembantu yang membawa nampan yang berisi makanan. Dia tersenyum melihat pemandangan di depan matanya, sedang Resa langsung berhenti memijat Sam. Dia berdiri di samping tempat tidur.


"Maaf lama, tadi ibu menelepon Tony, dia ibu suruh memberitahu Vania, aneh istri kamu itu, sangat sulit di telepon, walau di nomer pribadi dia," gerutu Ramida.


"Itu bukan hal baru, bu." jawab Sam.


"Bagaimana? Apa yang kamu rasa saat ini?" Tanya Ramida.


"Masih pusing, dan kadang-kadang aku juga mual," rengek Sam.


"Ya sudah, kamu makan dulu walau sedikit," pinta Ramida. Dia melirik kearah pelayan.


"Bi, taruh di sana," pinta Ramida


"Baik, Nyonya." Jawabnya. Dia segera menaruh nampan di nakas yang dekat dengan tempat tidur.


"Bibi boleh pergi, kalau Mawan datang, suruh dia langsung kemari," ucap Ramida.


"Baik Nyonya." Pelayan itu segera pergi dari kamar Sam.


"Tattt---"


"Cepatlah, aku lapar!" Rengek Sam. Terlihat Sam nampak nyaman dengan posisinya, dia duduk di atas tempat tidur, dengan menyandarkan punggungnya, di sandaran kasur itu.


"Maaf, lebih nyaman jika anda menaruh dua bantal di bagian punggung Anda," sela Resa.


Resa meraih dua bantal, dan menempatkannya di belakang punggung Sam. Resa membantu Sam bersandar, memastikan posisi Sam Nyaman. Kedua mata itu beradu pandangan. Bagai magnet yang menarik besi, kedua bibir itu bertemu, dan mulai saling absen.


"Katakan pada Vania! Kalau suamimya sakit!"


Suara Teriakan itu membuyarkan kegiatan hangat Sam dan istri keduanya.


Resa dan Sam tersadar, keduanya menarik diri. Sam membetulkan posisinya, sedang Resa segera menjauh dari Sam.


"Maaf, Tuan.

__ADS_1


"Terima kasih, posisi ini sangat nyaman," ucap Sam.


Resa meraih tisu yang ada di atas nakas, lalu mengusap bagian bibirnya yang basah karen ulah Sam. Dia berusaha santai, walau detakkan jantungnya sangat tidak beraturan. Resa mulai menyuapi Sam.


Ramida kembali ke kamar Sam. Dia tersenyum sendiri, dia sengaja mengulur waktu, agar Resa melayani Sam. Terlihat di sana Resa terus menyuapi Sam. Sedang laki-laki itu nampak memejamkan matanya, hanya membuka mulutnya ketika merasa sentuhan makanan di bibirnya, lalu menerima sendok yang berisi bubur masuk kedalam mulutnya. Dia nampak menikmati bubur yang masuk kedalam mulutnya.


Resa mendekatkan kembali, sendok yang berisi bubur ke bibir Sam, laki-laki itu langsung membuka mulutnya kembali. Sedang matanya terus berpejam.


Ramida menepuk lembut bahu Resa, Resa langsung berdiri, dan menyerahkan mangkuk bubur pada Ramida. Ramida mulai menyendok bubur dalam mangkok, dan langsung mendekatkan sendok itu pada bibir Sam. Sam langsung membuka mulutnya. Saat bubur itu masuk kedalam mulutnya, seketika Sam membuka kedua matanya.


Sam meraih beberapa lembar tisu, dia mengeluarkan bubur yang terlanjur masuk kedalam mulutnya. "Kenapa rasanya aneh? Tadi rasanya tidak seperti ini!" Gerutu Sam.


"Aneh bagaimana, sendok yang sama, mangkok yang sama, hanya saja tangan yang berbeda, tadi Resa yang menyuapi, sekarang ibu," jawab Ramida.


Sam nampak bingung.


"Resa! Kamu suapi dia," pinta Ramida.


Dengan tangan yang gemetaran Resa meraih sendok bubur, menyendok bubur itu, lalu mengarahkannya ke mulut Sam. Sam langsung membuka mulutnya. Dia nampak menikmati bubur itu.


Ramida meminta sendok yang Resa pegang, dia juga melakukan hal yang sama, Sam membuka mulutnya, menerima suapan dari ibunya. Hal yang sama terulang. Dia mengeluarkan kembali bubur yang sudah masuk kedalam mulutnya.


"Tidak enak!" Gerutu Sam.


Ramida dan Resa saling pandang.


Sial! Sepertinya dia ingin mengerjaiku!


Gerutu hati Resa.


Wait! Apakah ini tanda-tanda? Ramida menerka-nerka dalam hati.


*****


Bersambung.

__ADS_1


****


__ADS_2